Bab 6 - Konfrontasi
Langit di Puncak gelap lebih cepat malam itu. Udara dingin menusuk, namun tak ada yang lebih dingin dari suasana di dalam vila keluarga Vania. Meja makan panjang telah ditata rapi. Lilin-lilin kecil menyala, menambah kesan elegan sekaligus mencekam.
Satu per satu mereka datang.
Nadya datang lebih dulu. Gaun hitam panjang dengan mantel cokelat, rambut ditata rapi. Matanya tajam, penuh siaga. Lalu Tari, mengenakan blouse putih dan jeans gelap, wajahnya gugup tapi matanya tak bisa berbohong—ia siap berperang.
Tak lama, Sheila masuk dengan langkah ringan. Ia mengenakan batik biru tua, senyum tipis mengambang di bibirnya. Riri datang terakhir, paling mencolok. Dress merah menyala dan lipstik senada. Tapi senyum di wajahnya palsu. Semua tahu.
Mereka duduk, saling pandang tanpa bicara. Sampai akhirnya Reza muncul. Mengenakan setelan formal, wajahnya bingung saat melihat siapa saja yang hadir di ruang itu.
"Apa ini?" tanyanya, kening mengernyit.
Vania berdiri dari ujung meja. Elegan. Tenang. Memegang segelas anggur.
"Selamat datang di kenyataan, Reza."
Reza masih berdiri di ambang pintu. "Kamu... undang mereka semua?"
"Bukan hanya mereka. Aku undang kejujuran juga malam ini. Sudah lama nggak mampir di hidup kita."
Nadya berdiri. "Berapa lama kamu pikir bisa mempertahankan ini semua?"
Tari melempar amplop ke atas meja. Isinya: tiket bioskop, bukti transaksi, foto tangkapan layar.
Riri mengangkat ponsel dan memutar rekaman voice note Reza yang sama persis ia kirimkan ke empat orang berbeda. Hanya nama yang berubah. Kata-katanya sama. “Aku kangen kamu. Nggak sabar ketemu malam ini.”
Sheila, yang paling tenang, hanya menatap Reza dan berkata, "Aku percaya kamu. Sampai aku lihat sendiri kamu gandeng wanita lain di rumah yang bukan rumahku."
Reza mengangkat tangan. "Tunggu, semua ini bisa dijelaskan."
"Jangan mulai kalimat itu, Reza," potong Vania. "Aku muak jadi istrimu yang pura-pura tidak tahu. Aku muak melihat semua orang di ruangan ini terluka karena kamu."
Reza terdiam. Dadanya naik turun. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain. Semua wajah itu dulu mencintainya. Kini mereka bersatu dalam luka yang ia ciptakan.
"Kamu menghancurkan lebih dari satu hati," Vania melangkah mendekat. "Kamu menghancurkan kepercayaan. Dan lebih parahnya, kamu merasa itu bisa dimaklumi."
Nadya menamparnya.
Tari melempar gelas ke lantai. Pecahannya menyebar seperti emosi yang tak bisa lagi dikendalikan.
Riri menunduk, menangis dalam diam.
Sheila berjalan keluar. Tak ada air mata. Tapi langkahnya membawa beban bertahun-tahun.
Reza terduduk di kursi. Tangan di rambut. Nafas tak beraturan. Ia ingin bicara, tapi tak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menyelamatkannya.
Vania kembali duduk di ujung meja. Ia menatap Reza dengan pandangan kosong. "Kamu pikir kamu kendalikan semuanya. Tapi malam ini, kami yang mengendalikan akhir ceritamu."
Other Stories
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...