7. Interogasi Part 1
Masih hari ketiga di Korea, pukul 21.00.
Detektif Tiga Serangkai selama ada di Korea tinggal satu apartemen bersama Devi dan Dimas. Tentu saja Devi dan Dimas tak keberatan dengan hal itu. Mereka justru senang, karena mereka yakin tim Detektif Tiga Serangkai bisa membuat suasana apartemen menjadi ramai.
Sedangkan Om Dhanu begitu mengantar Devi, Dimas dan detektif Tiga Serangkai ke apartemen, dia langsung berpamitan pulang ke Indonesia. Katanya masih banyak pekerjaan lain di Indonesia.
Hari sudah semakin larut, jarum jam yang menempel di dinding ruang tamu apartemen telah menunjukkan pukul sembilan malam waktu Korea. Namun tak ada satu pun di antara Devi, Dimas, dan detektif Tiga Serangkai yang tidur. Mereka lagi asyik mengobrol.
Taufiq, sang ketua detektif menceritakan awal mula terbentuknya Detektif Tiga Serangkai. Awal mula terbentuk tim detektif ini karena Taufiq mengidolakan Kapten Kosasih dan Polisi Gozali, tokoh di novel S Mara GD, maka dari itu ia ingin menjadi polisi sekaligus detektif seperti Kapten Kosasih. Untung ia memiliki sahabat seperti Hambali dan Ilham, cita-cita mereka pun sama dengan dirinya. Sejak saat itu tercetuslah nama’detektif tiga serangkai’ sebagai tim detektif mereka.
Di tengah perjalanan, Detektif tiga serangkai bertemu dengan Letnan Arif. Letnan Arif membutuhkan detektif untuk membantu menganalisa kasus yang ia tangani. Sebagai ketua tim, Taufiq merasa tertarik bekerja sama dengan Letnan Arif. Ia bersedia membantu Letnan menganalisa kasus-kasus kriminal.
Tepat di usia 3 tahun berjalannya ‘Detektif Tiga Serangkai’, ayah Taufiq meninggal dunia. Ayahnya ingin Taufiq menjadi atlet bulu tangkis saja. Demi mewujudkan impian terakhir ayahnya, Taufiq bersedia mundur dari Detektif Tiga Serangkai.
Tapi satu tahun kemudian ada berita di TV tentang penemuan mayat, hal itu membangkitkan hasratnya lagi untuk kembali menangani kasus. Alhamdullilah, sudah sepuluh tahun detektif Tiga Serangkai masih tetap eksis.
Devi dan Dimas menceritakan awal mula mengapa mereka bisa sampai ke negeri ginseng ini. Bukan hanya itu saja, Devi dan Dimas juga menceritakan perjalanan meliput 7 tempat misteri di Korea.
“Aku jadi penasaran gimana sih kronologis kejadiannya sebelum kakak berdua ditahan polisi?” tanya Taufiq.
“Kemarin pagi kami mengunjungi gerbang Sungnyemun bersama Han Jie Eun untuk meliputnya, konon tempat tersebut menyimpan misteri. Setelah Han Jie Eun selesai menceritakan sejarah dan kejadian mistis tentang gerbang Sungnyemun, dia pamit ke toilet karena tak tahan buang air kecil. Satu jam kemudian Jie Han Eun tidak kembali, kami akhirnya memutuskan untuk menyusulnya. Sampai di toilet kami telah menemukan Han Jie Eun dalam kondisi sudah tak bernyawa. Eh, tiba-tiba datang polisi dan menuduh kami sebagai pembunuhnya,\" Devi menceritakan kronologis yang sebenarnya tanpa ada yang dikurangi atau ditambahi.
“Kakak sudah menceritakan hal itu pada polisi?” kali ini Hambali yang bertanya.
“Tentu saja sudah, tapi Lee Young Jae, kekasih Han Jie Eun tiba-tiba datang ke kantor polisi, dia mengatakan pada polisi bahwa dia melihat dengan kepala mata sendiri bahwa kami membunuh kekasihnya itu.”
Taufiq berpikir keras. “Mendengar cerita kalian aku jadi curiga dengan Lee Young Jae, jangan-jangan dia sendiri yang membunuh kekasihnya, terus dia melemparkan kesalahan ke kalian?” ucap Taufiq.
“Aku juga berpikiran sama sepertimu, Fiq…” Dimas menyahut ucapan Taufiq.
Taufiq mengedarkan pandangan ke arah Ilham. Namun Ilham terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan buku tulis dan bolpen, lalu ia menuliskan sesuatu di buku itu. Ilham itu tunawicara alias bisu, cara Ilham berkomunikasi dengan orang adalah dengan menulis kata-kata di buku atau kertas.
Dalam kasus pembunuhan, siapapun bisa jadi pembunuh. Kita tidak boleh dengan mudahnya mengklaim Lee Young Jae pembunuh Han Jie Eun. Kita harus selidiki dulu.
“Benar juga apa yang dikatakan Ilham. Gimana kalau esok kita mulai menginterogasi beberapa sahabat atau orang terdekat Han Jie Eun? Interogasi part 1 alias orang pertama yang kita interogasi adalah Lee Young Jae,” Hambali memberikan usul.
“Setuju,” ucap Devi, Dimas dan Taufiq secara bersamaan.
“Kak Devi, Kak Dimas… kalian punya nomor Lee Young Jae?” tanya Taufiq.
“Punya, kamu mau aku menghubungi dia?” tanya Devi balik.
“Biar aku saja yang menelepon dia, soalnya kalau Kak Devi yang nelepon bisa-bisa dia langsung menolak ketemu.”
Devi kagum dengan kecerdasan Taufiq, dia bisa berpikir ke arah sana. Dia pun meraih smartphone-nya di laci meja. Lalu dia telusuri buku telepon di nomornya, begitu menemukan nomor Lee Young Jae, dia menyerahkan smartphone-nya pada Taufiq. “Nih, nomornya.”
Taufiq menekan nomor sesuai yang tertera di smartphone, ketika dirasa nomor sudah komplit, dia langsung menekan tombol yes/oke.
Tuuuut… Tuut
“Aduh, siapa nih? Ganggu orang tidur aja nelepon malam-malam,” orang di seberang telepon mengomel.
“Maaf, mengganggu waktu tidur Anda. Saya dari kepolisian, besok bisakah saya bertemu dengan Anda? Saya ingin meminta keterangan Anda sebagai saksi pembunuhan Han Jie Eun.”
“Tentu bisa.”
“Oke, kapan dan di mana kita ketemu?”
“Gimana kalau di kampus saya saja, University of Seoul? Soalnya besok seharian full tak ada di rumah.”
“Oke, baiklah.”
Taufiq memutuskan sambungan telepon.
“Nah, sekarang lebih baik kita tidur, biar besok kita lebih fit dalam interogasi part 1.”
“Kali ini aku setuju lagi dengan idemu.”
Hari keempat di Korea
Pagi-pagi sekitar jam sembilan waktu Korea, Devi, Dimas dan Tim Detektif Tiga Serangkai sudah tiba di University of Seoul, tempat Lee Young Jae kuliah. Universitas of Seoul adalah sebuah universitas terkemuka di Korea Selatan. Terletak di Seoul, universitas ini didirikan pada 22 Agustus 1946 dengan menggabungkan 10 perguruan tinggi di sekitar wilayah Seoul dan sering dianggap sebagai perguruan tinggi paling prestisius di Korea Selatan. Lebih dari 30.000 mahasiswa belajar di Universitas Nasional Seoul, sementara jumlah staf universitas mencapai 1.900. Mottonya adalah Veritas lux mea, bahasa Latin artinya, \"Kebenaran adalah cahaya saya.\"
Begitu memasuki gerbang kampus mereka berpencar. Tim Detektif Tiga Serangkai ke arah kanan menemui sosok Lee Young Jae, sedangkan Dimas dan Devi ke arah kiri.
Mereka menyusuri kampus untuk meliput kampus ini yang konon berhantu. Devi merasa ada yang berbeda dengan liputannya kali ini. Tanpa adanya pemandu wisata. Mau tak mau untuk mengetahui misteri apa yang ada di kampus ini, Devi langsung menanyakannya pada mahasiswa, mahasiswi atau dosen di kampus ini.
Devi celingak-celinguk mencari orang yang tepat untuk diwawancarai. Akhirnya matanya tertuju pada seorang gadis yang duduk di bawah pohon beringin sambil membaca buku. “Sepertinya dia orang yang tepat buat kuwawancarai.”
“Dim, aku ke sana dulu ya. Ingin mewawancarai gadis itu,” ucap Devi minta izin pada suaminya.
“Oke, nanti kalau wawancaranya selesai, sms aku ya.”
“Sip.”
Devi melangkahkan kaki mendekati gadis itu. Begitu sudah berada di depannya dia menyapa gadis itu dengan ucapan, “Annyeong Haseyo.”
“Annyeong Haseyo,” jawab gadis itu membalas sapaan Devi.
“Do you speak English?\"
“Yes, little by little I could.\"
\"Thank goodness. I\'m from Arsha Magazine, curious about this campus. Can I interview you?\"
\"Yes, it should. Please sit down,\" Gadis itu mempersilakan Devi duduk di sebelahnya. Devi pun memenuhinya.
\"I hear this campus a lot of ghosts? Really?\"
\"Yes, that is so.\"
\"Can you tell me the history of this campus so many spirits?”
\"If I do not know the story of its history, but certainly this campus is an old building that was built since colonial times.\"
\"There is a mystical events what often happens on this campus?\"
“Not least also the student or the student who often accosted by spirits. Sometimes also occur poltergeist phenomena or goods that move by themselves. But not all ghosts here is an evil ghost. For example, in several rooms of the campus that often signifies a fragrant smell good ghosts are all around us. But there is also in some campus room smell rancid blood disturbing occupants. Interestingly, treatment of these ghosts terhapa the students depending on the nature of his students. If the recalcitrant student, then the ghost would like to bully them. But if the good student, ghost also not hesitate to help them.”
Devi merasa wawancaranya cukup sampai di sini. Dia pun bangkit dari tempat duduk lalu mengucapkan terima kasih banyak pada gadis itu menggunakan bahasa Korea. “Gamsahamnida.” [2]
“Cheonmaneyo.”[3]
Sesuai janjinya ketika selesai wawancara, Devi mengirimkan sebuh SMS untuk Dimas.
Sayang, aku sudah selesai mewawancarai mahasiswi nih. Kamu sudah selesai belum memotret?
Baru beberapa menit smsnya terkirim, smartphone-nya sudah bergetar. Ternyata ada satu pesan diterima. Dia menyentuh icop amplop pada layar smartphone untuk membaca pesan tersebut
2= terima kasih
3=Sama-sama
From : My Husband Dimas
Iya, aku sudah selesai kok. Oke, aku segera ke sana sambil menunggu kedatangan tim Detektif Tiga Serangkai kembali.
***
Tugas meliput University of Seoul dan menginterogasi Lee Young Jae semua berjalan dengan lancar. Tak ada hambatan apapun. Devi, Dimas dan Detektif Tiga Serangkai merasa tak perlu berlama-lama di kampus ini, jadi mereka memutuskan langsung pulang saja.
Sebelum pulang ke apartemen, mereka mampir ke restoran Agra dulu untuk mengisi perut, kebetulan sekarang sudah jam makan siang. Agra merupakan perpaduan restoran India dan China. Restoran ini pun dilengkapi dengan design aksesori nan cantik yang makin menambah semangat keinginan untuk makan.
Jenis makanan yang terkenal di sini ialah The Tandoori Chiken dan menu makanan terbuat dari kari. Agra Berlokasi di Itewon 1-dong, Yongsan-gu, Seoul. Ketika memasuki restoran, mereka memilih duduk di kursi bagian tengah paling depan.
“Taufiq, Hambali… aku penasaran deh kalian bertiga menginterogasi Lee Young Jae itu seperti apa?” tanya Dimas.
“Iya, nih aku juga penasaran akan hal itu. Ceritain dong kalian ngomongin apa aja! Oh iya saat kalian interogasi Lee Young Jae, dia ada jelek-jelekin aku dan Dimas nggak?” tanya Devi bertubi-tubi.
“Kalian mau tau aja apa mau tau banget nih?” Taufiq menggoda Devi dan Dimas dengan menirukan gaya bicara anak-anak alay zaman sekarang.
“Ih, nyebelin deh ditanya serius jawabnya gitu,” ujar Devi sambil memanyunkan bibirnya. Itu artinya lagi mengambek.
Hambali angkat bicara. “Kak Devi dan Kak Dimas, kalau kalian penasaran dengan apa yang kami omongin sama Lee Young Jae, kalian tak perlu khawatir. Aku sudah merekam pembicaraan tadi di smartphone. Kalian mau dengar?”
“Mau bingit, mau bertubi-tubi,” giliran Devi menirukan gaya bicara anak-anak alay zaman sekarang.
Hambali merogoh saku celananya, tak lama kemudian dia mengeluarkan smartphone. Benda itu langsung diserahkannya pada Devi, “Rekaman pembicaraan dengan Lee Young Jae, ada di folder rekaman. Nama file rekamannya interogasi part 1 with Lee Young Jae.”
Devi menerima smartphone itu, lalu tangannya menari lincah mengotak-atik isi smartphone mencari file yang dimaksud Hambali. Akhirnya menemukannya, dia klik play.
“Permisi, apakah kau yang bernama Lee Young Jae?”
“Iya, betul. Kalian Detektif Tiga serangkai?”
“Yups, boleh interogasinya langsung mulai saja untuk menghemat waktu.”
“Baiklah.”
“Pertanyaan pertama sebenarnya kau siapanya Han Jie Eun?”
“Pacar sekaligus calon suami. Aku baru saja melamarnya, kami akan menikah sebentar lagi, eh Han Jie Eun keduluan diambil Tuhan.”
“Berapa lama kau menjalin cinta dengannya?”
“Sekitar delapan tahun.”
“Apa pekerjaan kau?”
“Pemandu wisata, sama seperti Han Jie Eun. Ke mana-mana kami selalu berdua.”
“Jadi saat Han Jie Eun menghembuskan napas terakhir, kau ada di dekatnya?”
“Tidak. Waktu itu saya sakit, tapi ketika siang hari perasaan saya tak enak, maka saya memutuskan menyusul Han Jie Eun. Eh pas tiba di sana saya melihat Devi dan Dimas dengan sadisnya membunuh kekasih saya.”
“Apakah kau punya barang bukti?”
“Tidak. Sebelum polisi datang pasti mereka sudah terlebih dahulu menyembunyikan atau membuang barang barang tersebut.”
“Kapan kau terakhir kali bertemu dengan kekasihmu?”
“Kemarin lusa.”
“Satu pertanyaan terakhir, apakah di Korea, Han Jie Eun mempunyai sahabat terdekat? Kalo ada, Siapa namanya?”
“Choi Hanna.”
Smartphone Hambali tak ada suaranya lagi, itu artinya rekaman sudah habis, “Gimana, kalian puas mendengar percakapan kami dengan Lee Young Jae?” tanya Hambali.
“Belum. Dari percakapan itu kami sama sekali tak menemukan petunjuk bahwa Lee Young Jae pembunuh Han Jie Eun,” jawab Dimas.
“Menemukan pembunuh yang sebenarnya itu nggak bisa langsung. Harus step by step. Walaupun sekarang kami tak menemukan petunjuk bahwa Lee Young Jae pembunuh Han Jie Eun, setidaknya kami sudah mendapatkan informasi tentang sahabat terdekatnya Han Jie Eun. Besok rencananya kami akan mendatangi rumah sahabatnya itu untuk melakukan interogasi part 2,” jelas Taufiq.
Ilham tiba-tiba menarik lengan baju Devi, sontak dia menoleh ke Ilham. Ilham menyerahkan selembar kertas. “Hey, kalian ini dari tadi ngobrol saja. Kapan kita makan? Aku sudah lapar tau,” ujar Devi membaca tulisan di kertas yang diberikan Ilham.
“Oh iya, saking asyiknya ngobrol kita sampai lupa pesen makanan. Kita pesen makan sekarang ya,” ucap Dimas.
Dimas melambaikan tangan. “Waiters.”
Restoran ini berbeda dari restoran lainnya. Waiters di restoran ini bisa berbahasa Indonesia. Tak lama kemudian waiters datang menghampiri meja mereka. Dan waiters itu menyerahkan buku menu pada Devi, Dimas dan Detektif Tiga Serangkai.
Selain ada menu The Tandoori Chiken, di restoran ini juga menyajikan menu Gimbap, Bulgogi, Ramyeon, dan semua makanan khas Korea ada. “Kalau aku pesen Gimbap dan es teh aja,” ucap Devi.
“Kalau aku pesen Bulgogi dan es jeruk,” ucap Dimas.
“Kalian bertiga pesan apa?” tanya Devi pada Detektif Tiga Serangkai.
“Kami pesan makanan yang sama kayak Kak Devi dan Kak Dimas aja,” ucap Taufiq dan Hambali bersamaan.
“Jadi pesanannya Bulgogi, Gimbap, es teh, es jeruk semua serba 5 buah kan ya?” tanya waiters.
“Yups, benar sekali.”
“Baiklah, tunggu sebentar.”
Gerbang Sungnyemun
Namdaemun atau Sungnyemun itu sebuah pintu gerbang bersejarah yang berlokasi di jantung Kota Seoul, ibu kota Korea Selatan. Bangunan ini disebut juga dengan nama Sungnyemun, yang berarti Gerbang Upacara Agung, yang tertulis pada papan gerbang.
Penyebutan Namdaemun secara luas digunakan karena letaknya yang berada di bagian selatan dari gerbang-gerbang yang melindungi Hanyang (nama Seoul pada waktu itu). Namdaemun berarti \"Gerbang Besar Selatan\".
Gerbang ini terletak di wilayah Jung-gu, Namdaemun St 4-Ga 29, antara Stasiun Seoul dan Plaza Kota Seoul. Di dekatnya adalah pasar Namdaemun, sebuah pasar tradisional 24 jam yang sejak berabad-abad telah beroperasi.
Namun ternyata tempat ini menyimpan misteri. Sebelum menceritakan misteri gerbang ini, terlebih dahulu kami menceritakan tentang sejarah gerbang ini.
Namdaemun adalah bangunan kayu tertua di Seoul. Dengan arsitektur dari kayu dan batu dengan atap 2 tingkat, gerbang ini diselesaikan tahun 1398 dan dipergunakan sebagai pintu masuk ke pusat kota, juga untuk penyambutan tamu-tamu negara, serta untuk melindungi kota dari harimau Korea yang sejak lama punah dari Korea Selatan. Konstruksi dimulai pada tahun 1395 selama tahun ke-4 masa pemerintahan Raja Taejo dan diselesaikan tahun 1398. Strukturnya dibangun lagi tahun 1447 dan direnovasi beberapa kali sejak itu. Pada awalnya Namdaemun adalah salah satu dari 3 buah gerbang utama, yang lainnya adalah Dongdaemun (Gerbang Timur), dan Seodaemun (Gerbang Barat) yang sudah lama hancur.
Pada awal abad ke-20, tembok kota yang mengelilingi Kota Seoul dihancurkan oleh pemerintah kolonial Jepang dengan dalih untuk melancarkan aliran lalu lintas di wilayah tersebut. Kunjungan putra mahkota dari Kekaisaran Jepang diduga menjadi alasan penghancuran tersebut. Pada saat putra mahkota tersebut melewati gerbang, penyambutan yang dilakukan sangat berlebihan. Namdaemun tertutup untuk publik pada tahun 1907 setelah pemerintahan kolonial Jepang membangun jalur tream listrik di dekatnya. Pada masa perang Korea, Namdaemun rusak berat dan diperbaiki secara besar-besaran pada tahun 1961, dengan upacara penyelesaian pada 14 Mei 1963. Namdaemun dijadikan sebagai Harta Nasional Korea Selatan nomor 1 pada tanggal 20 Desember, 1962.
Pada sekitar pukul 20:50 tanggal 10 Februari 2008, api membakar Namdaemun dan meluluhlantakkan atap dan struktur kayunya, namun struktur temboknya masih utuh. Api terus berkobar tak terkontrol sehingga sampai tengah malam menghancurkan atapnya, walaupun telah dikerahkan 360 pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan apinya.
Sejak saat itu masyarakat yang lewat gerbang ini di malam hari sering mendengar suara tangisan, jeritan minta tolong bahkan mencium bau gosong. Mungkin kebakaran itu memakan korban jiwa. Namun, kisah mistis tersebut hanya terjadi di masa lalu, Akhirnya Sungnyemun dibuka pada tanggal 4 Mei 2013 oleh Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye dengan diiringi tradisi Cheondo, parade militer, musik, penari dan upacara doa. Setelah itu tak ada lagi kejadian-kejadian aneh.
University of Seoul
Universitas of Seoul adalah sebuah universitas terkemuka di Korea Selatan. Terletak di Seoul, universitas ini didirikan pada 22 Agustus 1946 dengan menggabungkan 10 perguruan tinggi di sekitar wilayah Seoul dan sering dianggap sebagai perguruan tinggi paling prestisius di Korea Selatan. Lebih dari 30.000 mahasiswa belajar di Universitas Nasional Seoul, sementara jumlah staf universitas mencapai 1.900. Mottonya adalah Veritas lux mea (Latin untuk \"Kebenaran adalah cahaya saya\").
Universitas of Seoul termasuk tempat paling angker. Tempat ini jadi angker karena kampus ini bangunnnya sudah tua. Tak sedikit juga mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini yang sering disapa oleh makhluk halus. Kadang juga terjadi fenomena poltergeist atau barang-barang yang bergerak sendiri.
Tapi tak semua hantu di sini adalah hantu yang jahat. Misalnya di beberapa ruangan kampus yang satu sering tercium bau wangi yang menandakan hantu baik berada di sekitar kita. Namun ada juga di beberapa ruangan tercium bau darah anyir yang mengganggu penghuninya. Uniknya, perlakuan hantu-hantu ini tergantung pada sifat mahasiswa atau mahasiwi. Kalau mahasiswa itu mahasiwi bandel, maka si hantu pun akan suka menjahili mereka. Tapi kalau mahasiswa atau mahasiwi baik, si hantu juga nggak segan-segan nolong mereka.
Devi memandangi tulisan artikel yang baru saja diketiknya. “Nggak kerasa, sudah enam tempat misteri yang aku liput.”
Harusnya dia senang karena sebentar lagi tugasnya selesai. Tapi yang dirasa Devi justru sedih. Air mata pun keluar dengan sendirinya. Dimas, sang suami, tiba-tiba terbangun. Dia bingung. “Sayang, malam-malam kok nangis? Ada apa?”
“Nggak kerasa, sudah enam tempat misteri yang kita liput. Harusnya besok kita sudah pulang ke Indonesia, tapi gara-gara kasus ini kepulangan kita tertunda.”
Dimas membelai rambut Devi. “Sayang, selalu ada hikmah di balik kejadian. Nah, hikmah di balik kasus ini adalah kita bisa lebih lama Di Korea, jadi kita bisa jalan-jalan ke tempat wisata yang indah.”
“Iya, juga ya,” batin Devi. Tangisnya mereda, hatinya pun sudah tak sedih lagi.
“Nah, sekarang sudah malam. Kamu tidur gih, biar besok makin fit jalani aktivitas.”
“Oke, aku matiin laptop dulu ya?” ucap Devi.
Devi, Dimas dan Detektif Tiga Serangkai sudah siap melakukan interogasi part 2, yaitu menginterogasi Choi Hanna, sahabat terdekat Han Jie Eun. Choi Hanna tinggal di Kampung Rakyat Hahoe atau Hahoe Folk Village, sebuah kampung tradisional yang terletak di Andong, Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan. Lokasinya berada di sisi anak Sungai Nakdong yang membentuk huruf S, terdiri dari rumah-rumah tradisional Korea (hanok). Terdapat 130 buah hanok yang berusia antara 300 – 500 tahun. Dikategorikan sebagai tradisional karena masyarakat kampung ini masih mempertahankan cara hidup dan tradisi khas Dinasti Joseon.
Kampung ini merupakan kampung asal beberapa kelompok marga utama sejak periode Dinasti Joseon, seperti Pungsan Yu.
Berbagai pertunjukan kesenian dan permainan tradisional diadakan di sini, antara lain Hahoe Byeolsin-gut Talnori dan Seonyujul Bulnori. Hahoe Byeolsin-gut Talnori adalah sendratari topeng yang berasal dari zaman Dinasti Goryeo (918-1392) yang sebagai warisan budaya.
Devi, Dimas, dan Detektif Tiga Serangkai berdiri di depan rumah model hanok bercat warna putih namun tiang dan atapnya warna merah.
Hanok adalah sebutan untuk rumah tradisional Korea yang dipakai untuk membedakannya dengan rumah gaya Barat. Arsitektur Korea memperhitungkan lokasi rumah dari lingkungan sekelilingnya, khususnya mempertimbangkan keadaan geografi dan musim. Struktur interior juga dirancang berdasarkan lokasi rumah. Prinsip yang disebut Baesanimsu secara harfiah mengatur rumah ideal untuk dibangun membelakangi gunung, dan sungai berada di depan rumah. Hanok dibangun menghadap ke timur atau selatan agar cukup mendapat sinar matahari.
Rumah tradisional Korea dibangun dari bahan-bahan alami seperti kayu, tanah, batu, jerami, genting, dan kertas. Tiang-tiang dan kerangka hanok dibuat dari kayu. Tembok pengisi kerangka rumah dibangun dari bata yang dibuat dari campuran tanah dan rumput. Kertas tradisional Korea dipasang di rangka jendela, rangka pintu, dan pelapis dinding. Lantai dibuat dari tanah yang dikeraskan atau batu.
Pinggiran atap yang melengkung ke atas disebut cheoma. Panjang cheoma menentukan jumlah sinar matahari yang masuk ke dalam hanok.
“Fiq, kamu yakin rumah yang ada di depan kita ini rumahnya Choi Hanna?” tanya Devi.
“Dari tulisan di kertas yang diberikan Lee Young Jae sih bener rumah Choi Hanna yang ini. Untuk memastikannya kita ketuk pintu aja yuk!”
Hambali yang mengetuk pintu. “Annyeong Haseyo, apa ada orang di dalam?” sapa Hambali.
Pintu pun terbuka, terlihatlah seorang gadis tingginya sekitar 170 cm, kulitnya putih bersih, rambut panjang, bulu matanya lentik, pipinya tirus, dan memiliki lesung pipi. Gadis itu seketika membuat mata Taufiq, Dimas, dan Hambali tak berkedip.
Devi keki melihat tingkah mereka. “Dasar cowok nggak bisa liat cewek bening dikit aja langsung deh melotot matanya,” batin Devi kesal.
Dia mencubit pinggang Dimas. “Au, sakit tau,” Dimas mengaduh kesakitan.
“Rasain, katanya aku cewek paling cantik tapi liat cewek yang lebih bening melotot,” ujar Devi mengambek.
Dimas yang diomelin Devi hanya menyengir kuda. “Hehehe… maaf.”
“Annyeong Haseyo, kalian mencari siapa?” gadis itu bertanya.
“Kami mencari Choi Hanna,” sahut Devi, sebab tim detektif Tiga Serangkai masih melongo kayak sapi ompong.
“Saya sendiri Choi Hanna, kalian siapa ya?”
“Kami dari Arsha Magazine majalah kriminal. Kriminal yang lagi hangat dibicarakan di Seoul adalah kasus pembunuhan Han Jie Eun. Kami mendapat kabar bahwa Anda sahabat terdekat Han Jie Eun. Benar kah?”
“Ya, benar. Han Jie Eun sahabat terdekat saya.”
“Kalau begitu bolehkah kami mewawancarai Anda?”
“Tentu. Mari silakan masuk!”
“Woy, sampai kapan bengong? Ayo masuk!” teriak Devi. Taufiq dan Hambali pun tersadar dari lamunannya. Lalu mereka berjalan mengekor di belakang Devi dan Dimas memasuki rumah Choi Hanna.
Devi terkagum-kagum melihat bagian dalam rumah Choi Hanna. Ini pertama kalinya dia memasuki rumah hanok. Rumah ini memanjang menyerupai huruf I agar angin mudah keluar masuk.
Di ruang tamu sama sekali tak ada sofa atau kursi, hanya ada ondol. Ondol itu sejenis karpet yang berfungsi untuk menghangatkan lantai rumah selama musim dingin. Beranda lebar penghubung ruangan satu dengan ruangan lainnya disebut daecheong, ruangan terbuka dengan lantai dari kayu yang dibangun untuk menjaga rumah tetap sejuk di musim panas.
“Jadi, kalian mau wawancarai apa nih sama aku?” tanya Choi Hanna membuka percakapan.
Soal mewawancarai orang itu tugasnya Taufiq dan Hambali. “Pertanyaan pertama, berapa lama kamu kenal Han Jie Eun?”
“Sudah lama banget, sekitar sepuluh tahunan lah. Sejak kami masih SMA dan tinggal di Indonesia.”
Dimas kaget dengan penuturan Choi Hanna. “Loh, jadi Han Jie Eun orang Indonesia.”
“Iya, dia asli Indonesia. Bapaknya Jakarta, Ibunya orang Surabaya. Dia dulu tinggal di Surabaya, pernah sekolah di SMAN 05 Surabaya. Setelah lulus SMA kami sama-sama dapat beasiswa ke Korea.”
“Kalau Han Jie Eun asli Indonesia, tapi kok wajahnya orang Korea banget ya?”
“Sejak semester 2 dia memutuskan operasi plastik, karena dia terobsesi ingin main drama Korea. Sejak wajahnya berubah jadi cantik kayak orang Korea, dia juga memutuskan ganti nama.”
“Memang nama asalnya siapa?”
“Desa Az-zahra.”
Deg!
Choi Hanna menyebut nama Desa Azzahra, membuat jantung Dimas berdegup kencang. “Desa Azzahra? Pernah sekolah di SMA 05 Surabaya? Oh, My god. Kebetulan yang tak terduga,” batin Dimas.
Desa Az-Zahra itu cinta pertamanya Dimas. Dimas menjalin cinta dengan Desa sejak kelas 1 SMA, namun hanya bertahan satu tahun. Ketika naik kelas dua, Desa Az-Zahra beserta keluarganya pindah ke luar provinsi, jadi komunikasi terputus.
“Kamu kenal dengan pacarnya Han Jie Eun yang bernama Lee Young Jae?” Taufiq melempar pertanyaan kedua.
“Kenal, tapi nggak kenal banget.”
“Apa yang kamu ketahui tentang Lee Young Jae?”
“Lee Young Jae sama seperti Han Jie Eun, melakukan operasi plastik. Kata Han Jie Eun, Lee Young Jae itu waktu di SMA 05 Surabaya sering ngejar dia tapi dia tolak. Ketika semester 2 mereka bertemu lagi tapi wajah Lee Young Jae sudah super ganteng, makanya Han Jie Eun mau menerima cinta Lee Young Jae.”
“Nama asli Lee Young Jae siapa?” tanya Dimas penasaran.
“Agus Junaidi.”
Lagi-lagi Dimas kaget. Agus Junaidi dulu musuh buyutan dia di SMA, sama-sama mengejar Desa Az-zahra. Dunia memang sempit. Dua belas tahun dia tak berkomunikasi dengan mereka berdua, eh dipertemukan lagi saat di Korea.
“Kalau sifat Lee Young Jae gimana menurutmu?” giliran Hambali yang bertanya.
“Dia super pendiam. Han Jie Eun nggak pernah cerita sama aku tentang sifat-sifat cowoknya.”
“Kapan terakhir kamu ketemu Han Jie Eun?”
“Seminggu yang lalu. Dua hari sebelum kematian Han Jie Eun aku ke rumah dia pengen curhat, tapi nggak jadi karena di rumahnya ada bos tempat dia kerja. Terus aku pulang, takut ganggu mereka.”
“Boleh kami minta alamat rumah dan nomor telepon bosnya itu?”
Choi Hanna menyebutkan alamat lengkap dan nomor telepon bosnya Han Jie Eun. Taufiq mengetik dengan cepat apa yang dikatakan Choi Hanna di smartphone-nya.
“Baiklah, saya rasa wawancaranya cukup sampai di sini. Kalau begitu kami mohon pamit dulu. Terima kasih banyak atas kesediaan waktunya. Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu Anda.”
“Iya, sama-sama. Saya senang dengan kedatangan kalian, kalau kalian ke Korea lagi, jangan lupa mampir ke sini lagi.”
***
Setelah pulang dari rumah Choi Hanna, Devi, Dimas dan Detektif Tiga Serangkai mendatangi Yeongwol. Yeongwol adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Gangwon, Korea Selatan. Kabupaten ini dikelilingi oleh rangkaian Pegunungan Taebaek dan menjadi tempat bertemunya dua buah aliran sungai, Donggang dan Seogang.
Ada dua alasan mengapa Devi memilih Yeongwol sebagai tempat persinggahan terakhirnya hari ini. Yeongwol merupakan daerah yang dikenal sebagai tujuan wisata karena pemandangan pegunungan dan hutannya yang indah. Keduanya sekalian mau mewawancarai warga sekitar Pengunungan Taebaek, konon katanya di Pegunungan Taebaek menyimpan kisah misteri.
Wilayah Yeongwol dibatasi oleh kabupaten Jecheon dan Danyang di Provinsi Chungcheong Utara serta kabupaten Yeongju dan Bonghwa di Provinsi Gyeongsang Utara. Luas wilayahnya adalah 1.127 km² dengan jumlah penduduk 45.000 jiwa (2004).
“Kak Devi dan Kak Dimas, perutku laper nih. Kita makan di sana yuk!” ujar Hambali, tangannya menunjuk ke arah dua restoran yang berada di sisi Pengunungan Taebaek.
“Ngga, ah. Di sana mahal, mending kita makan di situ aja!” Devi menunjuk tepi sungai Donggang.
Donggang merupakan salah satu anak sungai yang menjadi hulu Sungai Han. Mata air Donggang (harfiah: \"Sungai Timur\") bermula dari lembah pegunungan di Jeongseon dan Pyeongchang dan mengalir sepanjang 51-60 km ke Yeongwol dan bertemu dengan aliran Seogang. Seogang atau \"Sungai Barat\" mengalir dari sebelah barat. Donggang yang memiliki aliran deras merupakan area permainan arung jeram yang paling terkenal di Korea Selatan. Namun, pada pertemuannya dengan Seogang, ia mulai melambat dan dalam. Karena mengalir di daerah pegunungan yang bebas polusi, Donggang adalah salah satu sungai terbersih di Korea dan masih memiliki habitat fauna yang masih alami.
Warga setempat mengganggap Donggang sebagai laki-laki dan Seogang sebagai wanita. Daerah wisata yang terkenal adalah Eorayeon. Eorayeon berada di sisi Donggang yang memiliki pemandangan bebatuan dan hutan pinus. Daerah ini dikenal sebagai objek wisata pendakian serta aliran air yang jernih.
“Makan siang di situ pasti jauh lebih nikmat daripada di restoran, karena bisa menyatu dengan alam dan sambil mendengar percikan air sungai,” jelas Devi.
“Kalau kita makan di situ, terus beli makanannya di mana?” tanya Taufiq.
“Tenang, aku bawa makanan dari rumah kok. Tadi pagi sebelum berangkat nyiapin bekalnya.”
“Di mana bekalnya? Terus kakak bawa karpet juga gak?”
“Karpet dan bekal makanannya ada di bagasi mobil. Ambil gih terus gelar karpetnya di sana!”
Detektif Tiga Serangkai mematuhi perintah Devi untuk mengambil karpet dan bekal makanan di bagasi mobil. Sembari menunggu kedatangan mereka, Devi celingak-celinguk mencari sosok orang yang tepat buat diajakin wawancara.
Tiba-tiba pandangan mata Devi menangkap sosok yang dia cari. Sosok tersebut adalah seorang kakek-kakek lagi duduk santai di bawah pohon. Wah, kebetulan banget. Semoga kakek itu asli orang sekitar pengunungan Taebaek, jadi beliau pasti tahu tentang kisah misteri di Pegunungan Taebaek.
Sebelum mendekati kakek itu, dia terlebih dahulu membuka tas. Dia ingin mengambil peralatan wawancara. Biar enak, begitu sampai di depan kakek itu tinggal klik tombol perekamnya saja.
Diambilnya benda tersebut. Alat untuk wawancara sudah ada di tangan, jadi tinggal mendekati kakek itu.
Tap…Tap… Tap!
Terdengar suara langkah kakinya sebab dia masih memakai sandal kayu. Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, dia sudah berada di depan kakek tua.
“Selamat Siang, Kek!” ujarnya menyapa kakek tersebut.
“Siang juga.”
“Apakah kakek asli orang sekitar Pegunungan Taebaek?”
“Iya, rumah saya dekat sini.”
“Kek, saya Devi. Saya wartawan dari majalah Arsha, saya datang ke tempat ini ingin meliput tentang Pegunungan Taebaek, bolehkah saya wawancara dengan Anda?”
“Wawancara apa?”
“Gini Kek, saya dengar-dengar Pegunungan Taebaek punya kisah misteri juga ya? Kakek tahu nggak cerita kisah misteri tersebut?”
“Jelas tahu lah. Orang asli sini masa nggak tahu kisah misteri di pegunungan Taebaek?”
“Kek, bisa diceritakan nggak kisah misteri tersebut ke saya?”
Sebelum beliau bercerita, Devi klik tombol perekam di smarthphone-nya dulu.
“Di pegunungan Taebaek terdapat sebuah lereng terkenal yang bernama lereng Il wol san. Ternyata di lereng ini terdapat sebuah cerita tentang hantu seorang wanita bernama Hwang Ssi Buin yang merupakan istri Wang-ssi. Sang istri selalu mendapat perlakuan buruk dari keluarga suaminya hingga akhirnya ia tidak tahan dan melarikan diri ke lereng Il wol san. Di sana, sang istri akhirnya bunuh diri dan menjadi hantu gentayangan dengan hati yang masih dipenuhi rasa marah dan duka.”
“Pengunjung atau warga sekitar sini pernah mengalami kejadian mistis apa saja?”
“Konon, jika pengunjung yang datang membawa sifat-sifat yang buruk maka arwah sang istri akan membawa kesialan bagi mereka. Namun, jika pengunjung memiliki sifat-sifat baik, maka ia juga tak segan-segan untuk memberkatinya. Akhirnya masyarakat sekitar membangun sebuah kuil dengan harapan agar arwah Hwang Ssi Buin tenang dan mengabulkan semua doa-doa mereka.”
Devi menaikkan satu alis. Jawaban kakek itu tak nyambung dengan pertanyaannya. Tapi tak memedulikan, toh apa yang dikatakan kakek itu lumayan menambah wawasan tentang pegunungan Taebaek.
“Krk, saya rasa wawancaranya cukup. Terima kasih atas waktunya, maaf jika mengganggu,” ucap Devi berpamitan pada kakek.
Dia kembali ke tepi sungai Donggang. Ternyata karpet telah digelar dan makanan pun sudah tertata rapi di karpet itu. Tak mau buang waktu, dia langsung duduk di karpet.
“Benar kata Kak Devi, Makan siang di sisni pasti jauh lebih nikmat daripada di restoran, karena bisa menyatu dengan alam dan sambil mendengar percikan air sungai,” ucap Taufiq sambil makan.
“Makan di tepi sungai kayak gini, aku jadi inget masa kecil dulu yang sering makan di tepi Sungai Martapura. Terus abis makan nyebur ke sungai. Hahaha…” Hambali tertawa menceritakan kisah masa lalunya.
Devi hanya tersenyum simpul mendengar celotehan mereka. Namun tiba-tiba dia merasa ada yang aneh, yang aneh itu dari tadi dia tak mendengar suara Dimas. Dia melirik ke samping, Dimas ada di sampingnya. Tapi ekspresi wajahnya sedang memikirkan sesuatu.
“Dim, kamu kenapa dari tadi diem aja? Kamu sakit?” tanya Devi.
“Aku nggak apa-apa kok,” ucap Dimas singkat.
Devi semakin heran, pasalnya Dimas itu orangnya kalau dah ngomong pasti panjang kayak rel kereta api. Jika ngomong singkat pasti ada apa-apa dengannya. Firasatnya mengatakan bahwa Dimas lagi menyembunyikan sesuatu darinya. “Oke, aku akan cari tahu tentang sesuatu itu,” tekad Devi dalam hati.
Dimas mengangguk, dia paham isyarat yang diberikan istrinya. “Our afternoon visiting the gate Sungnyemun to cover where it suddenly Eun Han Jie said goodbye to the toilet. An hour later Jie Han Eun not go back, we finally decided to catch up. Up in the toilet we\'ve found Jie Han Eun in a lifeless condition.”
“They lie, sir. I saw with my own eyes that they were killed Han Jie Eun,”sahut seorang pria di sebelah Devi. Sontak Devi menoleh ke samping, matanya membulat ketika melihat pria yang di sampingnya. Dia benar-benar tak menyangka pria di sampingnya bisa mengucapkan kalimat seperti.
“That is slander. Lee Young Jae, you do not talk nonsense! You were not at the scene. We never kill Han Jie Eun,” Devi mulai geram.
“Where no thief would admit. Never mind just put them into a prison cell. I\'m not ready to let the man who killed my beloved roam free.”
Wajah Dimas memerah mendengar ucapan Lee Young Jae. Dia bangkit dari tempat duduk, lalu mengepalkan tangannya. Kini dia siap meninju mulut busuk Lee Young Jae. Namun sial, belum sempat Dimas meninju mulut busuk Lee Young Jae, dua orang polisi di belakangnya menahan aksinya.
“Take them to a cell!”perintah polisi yang ada di depan mereka.
“Fine.”
Dua orang polisi di belakang langsung meringkus mereka. Mereka meronta-ronta. “Hey, what the fuck you? You have no right to arrest us because you do not have strong evidence,” ujar Dimas sengit.
Lee Young Jae menyunggingkan senyuman licik. “The proof is not there, but I eyewitness strong that you two kill Han Jie Eun.”
“That is slander. Sir, please do not listen to the words of Lee Young Jae, he was a mental hospital patients newly blurred,” kali ini Devi yang angkat bicara.
Dua polisi tadi tak menggubris perkataan Devi, tetap saja menyeret langkah Devi dan Dimas untuk dimasukkan ke sel tahanan.
“Lee Young Jae, you need to know God never sleeps. God will reveal the truth. Truth will always prevail. Wait for the show, I will prove that we are innocent. You are going to rot in jail,” ujar Dimas, sebelum dia dimasukkan ke sel tahanan.
***
Sel tahanan di Indonesia berbeda dengan sel tahanan di Korea. Sel tahanan di Indonesia itu sempit, pengap, catnya kotor, tempat tidur hanya beralas tikar, tak boleh bawa handphone dan lebih parah lagi satu sel dihuni 10 tahanan.
Berbanding terbalik dengan sel tahanan di Korea yang tempatnya luas, catnya bersih, ber-ac, tempat tidurnya spring bed, boleh bawa handphone, dilengkapi fasilitas komputer dan satu sel hanya dihuni oleh dua orang.
Walaupun demikian tetap saja yang namanya di penjara itu menyedihkan. Devi menangis sesenggukan di pojok sel tahanan. Dimas, sang suami berusaha menenangkannya. Dielusnya pundak Devi. “Say, kamu yang sabar ya. Kita nggak akan lama kok di penjara ini. Om Dhanu pasti segera membebaskan kita.”
Bukannya tenang, tangis Devi justru semakin keras. Devi malah meninju-ninju bahu Dimas. “Ini semua gara-gara kamu.”
Dimas meringis kesakitan, sambil mengelus bekas tinjuan istrinya, “Loh kok gara-gara aku? Salahku apa coba?”
“Aku kan sudah bilang kita nggak usah ke Korea, aku pernah mimpi buruk tentang Korea tapi kamu tetap saja membujukku pergi ke negeri ginseng ini. Coba kalau kamu nurut sama aku, mimpi buruk itu nggak akan jadi nyata,” dia bernapas sejenak sambil menghilangkan ingus dulu memakai tissue.
“Mana janjimu yang katanya nggak akan membiarkan orang lain menuduhku sebagai pembunuh? Kenyataannya malah saat kita tertuduh sebagai pembunuh, kamu tak bisa berbuat apa-apa,” Devi kembali melanjutkan omelannya.
Dimas memasang ekspresi penyesalan. “Iya, maaf. Aku tak tau akhirnya jadi seperti ini.”
“Nasi telah jadi bubur. Maafmu nggak akan bisa membalikkan keadaan. Makanya lain kali kamu nurut apa kata aku, perlu kamu ketahui firasat wanita itu kuat, jadi kamu jangan nyepelein firasat wanita.”
“Iya, lain kali aku nurut sama kamu. Maafin aku dong, jangan lama-lama marahnya.”
“Tergantung, kalau kita bebas dari sini baru aku maafin kamu. Tapi jika kita nggak bebas-bebas, maka aku akan marah selamanya sama kamu.”
“Kamu tenang aja, aku yakin Om Dhanu sebentar lagi pasti bebasin kita.”
“Emang Om Dhanu tau kita ada di penjara?”
“Polisi pasti sudah menghubungi keluarga kita. Nah, keluarga terdekat kita kan Om Dhanu.”
Tiba-tiba dua orang polisi menghampiri sel, mereka berdua membuka gembok sel. “Brother and sister Devi, Dima…s you begin the second declared free, because there is someone who set you free on bail.”
Mata Devi dan Dimas saling berpandangan. “Free? Who gives bail to free us, sir?”
Muncullah orang yang membebaskan Devi dan Dimas. “Ya, tentu saja Om. Siapa lagi coba?”
“Tuh, kan… bener apa kataku. Om Dhanu nggak akan membiarkan kita lama-lama di penjara,” ucap Dimas bangga karena ucapannya kali ini benar.
Devi berlari keluar dari sel tahanan, lalu dia langsung memeluk Om Dhanu, “Terima kasih banyak ya, Om. Om telah membebaskan kami berdua.”
“Iya, sama-sama. Benar kata Dimas, Om nggak akan membiarkan ponakan Om lama-lama di sel tahanan.”
Tiba-tiba Devi melihat ada tiga orang cowok di belakang Om Dhanu. Tiga cowok itu seperti anak SMA. Dia pun melepaskan pelukan. “Om, tiga cowok itu siapa? Om ke Korea sekalian liburan sama keluarga Om?” tanya Devi heran.
Om Dhanu menepuk jidatnya sendiri. “Maaf, Om lupa memperkenalkan mereka ke kalian. Baiklah akan Om perkenalkan mereka satu pe rsatu. Cowok yang kulitnya hitam manis, tinggi, hidung mancung, dan berambut model mowhak itu namanya Taufiq. Kalau cowok yang cokelat, matanya belo, agak pendek dan rambut botak itu namanya Hambali. Dan cowok yang berkulit putih, mata sipit, pipinya chubby itu namanya Ilham. Mereka bertiga tim Detektif Tiga Serangkai. Merekalah yang akan membantu kalian mencari tahu siapa pembunuh Han Jie Eun yang sebenarnya.”
Devi mencium tangan Om Dhanu. “Ya ampun, Om baik banget sih. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Om.”
“Iya, sama-sama. Nah, berhubung sekarang urusan sementara sudah beres. Kita pulang ke apartemen yuk?” ajak Om Dhanu.
Walaupun status Devi dan Dimas belum bebas seutuhnya, tapi setidaknya mereka bisa menghirup udara segar sampai pelaku pembunuh Han Jie Eun sebenarnya terungkap. Karena sekarang sudah bebas, Devi tak lagi marah pada Dimas.
Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...