Berdamai Dengan Luka
Dalam pertarungan Kirana melawan kerasnya hidup, ia kembali harus menelan duka. Sosok yang selama ini paling menggores luka, akhirnya pergi tanpa pesan. Sejak kepergian sang ibu, Kirana mulai berdamai dengan sosok ayah yang kini menjadi orang tua tunggal bagi Kirana dan saudaranya. Jauh di lubuk hati Kirana yang terdalam, ia menyalahkan sang ayah atas kepergian sang ibu. Kekerasan fisik dan psikis yang dialami sang ibulah yang membuat penyakit stroke dan Alzheimer menyerang wanita lembut itu hingga akhirnya ia harus kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
Namun, kepergian sang ibu jugalah yang membuat Kirana melihat sang ayah sebagai orang tua tunggal bagi mereka. Beberapa tahun setelah kepergian sang ibu, ayah Kirana juga menderita stroke ringan hingga mengalami komplikasi jantung dan diabetes yang membuat kesehatan sang ayah menurun dengan drastis hanya dalam beberapa tahun.
Kirana dan sang ayah tetap berhubungan via telepon atau pun pesan walau frekuensinya jarang bila dibandingkan dengan saudara Kirana yang lain. Kirana hanya tidak ingin menjadi anak durhaka walau ia sangat membenci ayahnya. Rasa kasihan juga terbit di hati Kirana, saat melihat kondisi kesehatan sang ayah yang mulai menurun. Bagaimana pun bagi Kirana, sang ayah juga berjasa memberikan mereka kehidupan yang layak dan pendidikan yang baik selama ini.
Ayah mereka adalah sosok yang sangat otoriter dan tak pandang bulu. Ia tak pernah ragu untuk menghukum anak-anaknya dengan hukuman fisik. Kirana hanya mengingat sosok ayah menakutkan hingga akhirnya ia bisa melihat sosok yang menghantuinya selama ini, menjadi lebih manusiawi dalam kesakitan yang ia alami.
Kirana pada akhirnya berusaha berdamai dengan luka masa lalunya. Walau saat sang ayah kembali berulah, kilatan masa lalu dengan cepat menghantam ingatan Kirana dan membuat kebenciannya kembali mencuat.
Sang ayah berpulang saat Kirana hamil anak kedua, yang membuat jiwa Kirana lagi-lagi harus mengalami guncangan yang menyebabkan Kirana mengalami pendarahan di masa kehamilannya. Kirana cukup terkejut dengan reaksi yang ia tunjukkan. Ia ternyata sangat kehilangan sosok sang ayah yang selama ini begitu ia benci. Bahkan sang ayahlah yang ia salahkan untuk banyak kepahitan yang ia alami semasa hidupnya.
Bagaimana dulu karena sang ayah, ia harus merelakan pendidikan yang masih sangat ingin ia jajaki karena takut meninggalkan sang ibu sendirian di kampung halaman mereka. Ia takut, ia tidak akan bisa membela sang ibu bila wanita itu mendapat kekerasan fisik dari sang ayah. Ia juga merelakan masa muda dan impiannya menjadi seorang sastrawan atau hakim karena sang ayah memutuskan agar Kirana melanjutkan pendidikan di bidang ekonomi.
Banyak hari, Kirana tenggelam dalam penyesalan panjang yang tak berujung. Ia menyesali sebagian besar hari dalam kehidupannya. Kata "seandainya dulu..." terus bergaung dalam dirinya. Jika ia bisa memilih untuk mengambil opsi untuk dilahirkan lahir, Kirana pasti akan mengambil kesempatan itu dengan cepat. Namun, hidup realitanya tak seperti harapan dan impian yang ada di cerita fantasi.
Kepergian ayah Kirana tak pelak membuat Kirana tersadar akan satu hal, bahwa dalam hati sanubarinya, ia menyayangi ayahnya. Ia hanya haus akan kasih sayang dari sang ayah, ia merasa tak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya. Kirana lupa bahwa sokongan secara finansial dari sang ayah adalah bentuk kasih sayang yang bisa lelaki tua itu berikan selama ini. Kebencian membuat Kirana tak menyadari bahwa ada hari dimana sang ayah cukup hadir dalam kehidupan mereka. Walau hanya singkat, ia berusaha ada.
Perbuatan baik sang ayah, tertutupi oleh keburukan yang terlalu pekat yang dilakukan oleh lelaki itu. Hujaman perih yang sering kali diterima oleh ibu, Kirana dan saudaranya membuat Kirana dibutakan oleh dendam kepada ayahnya. Bahkan, ia pernah mendoakan agar lelaki itu lenyap saja dari dunia ini, agar kehidupan mereka tak lagi menderita. Namun, kenyataannya sang ibulah yang lebih dulu pergi.
Kirana memilih berdamai dengan luka saat ia kembali kehilangan sosok orang tuanya. Ia menyadari bahwa ayah dan ibunya hanyalah manusia biasa. Tak ada yang sempurna, bahkan seorang yang bernama Kirana.
Namun, kepergian sang ibu jugalah yang membuat Kirana melihat sang ayah sebagai orang tua tunggal bagi mereka. Beberapa tahun setelah kepergian sang ibu, ayah Kirana juga menderita stroke ringan hingga mengalami komplikasi jantung dan diabetes yang membuat kesehatan sang ayah menurun dengan drastis hanya dalam beberapa tahun.
Kirana dan sang ayah tetap berhubungan via telepon atau pun pesan walau frekuensinya jarang bila dibandingkan dengan saudara Kirana yang lain. Kirana hanya tidak ingin menjadi anak durhaka walau ia sangat membenci ayahnya. Rasa kasihan juga terbit di hati Kirana, saat melihat kondisi kesehatan sang ayah yang mulai menurun. Bagaimana pun bagi Kirana, sang ayah juga berjasa memberikan mereka kehidupan yang layak dan pendidikan yang baik selama ini.
Ayah mereka adalah sosok yang sangat otoriter dan tak pandang bulu. Ia tak pernah ragu untuk menghukum anak-anaknya dengan hukuman fisik. Kirana hanya mengingat sosok ayah menakutkan hingga akhirnya ia bisa melihat sosok yang menghantuinya selama ini, menjadi lebih manusiawi dalam kesakitan yang ia alami.
Kirana pada akhirnya berusaha berdamai dengan luka masa lalunya. Walau saat sang ayah kembali berulah, kilatan masa lalu dengan cepat menghantam ingatan Kirana dan membuat kebenciannya kembali mencuat.
Sang ayah berpulang saat Kirana hamil anak kedua, yang membuat jiwa Kirana lagi-lagi harus mengalami guncangan yang menyebabkan Kirana mengalami pendarahan di masa kehamilannya. Kirana cukup terkejut dengan reaksi yang ia tunjukkan. Ia ternyata sangat kehilangan sosok sang ayah yang selama ini begitu ia benci. Bahkan sang ayahlah yang ia salahkan untuk banyak kepahitan yang ia alami semasa hidupnya.
Bagaimana dulu karena sang ayah, ia harus merelakan pendidikan yang masih sangat ingin ia jajaki karena takut meninggalkan sang ibu sendirian di kampung halaman mereka. Ia takut, ia tidak akan bisa membela sang ibu bila wanita itu mendapat kekerasan fisik dari sang ayah. Ia juga merelakan masa muda dan impiannya menjadi seorang sastrawan atau hakim karena sang ayah memutuskan agar Kirana melanjutkan pendidikan di bidang ekonomi.
Banyak hari, Kirana tenggelam dalam penyesalan panjang yang tak berujung. Ia menyesali sebagian besar hari dalam kehidupannya. Kata "seandainya dulu..." terus bergaung dalam dirinya. Jika ia bisa memilih untuk mengambil opsi untuk dilahirkan lahir, Kirana pasti akan mengambil kesempatan itu dengan cepat. Namun, hidup realitanya tak seperti harapan dan impian yang ada di cerita fantasi.
Kepergian ayah Kirana tak pelak membuat Kirana tersadar akan satu hal, bahwa dalam hati sanubarinya, ia menyayangi ayahnya. Ia hanya haus akan kasih sayang dari sang ayah, ia merasa tak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya. Kirana lupa bahwa sokongan secara finansial dari sang ayah adalah bentuk kasih sayang yang bisa lelaki tua itu berikan selama ini. Kebencian membuat Kirana tak menyadari bahwa ada hari dimana sang ayah cukup hadir dalam kehidupan mereka. Walau hanya singkat, ia berusaha ada.
Perbuatan baik sang ayah, tertutupi oleh keburukan yang terlalu pekat yang dilakukan oleh lelaki itu. Hujaman perih yang sering kali diterima oleh ibu, Kirana dan saudaranya membuat Kirana dibutakan oleh dendam kepada ayahnya. Bahkan, ia pernah mendoakan agar lelaki itu lenyap saja dari dunia ini, agar kehidupan mereka tak lagi menderita. Namun, kenyataannya sang ibulah yang lebih dulu pergi.
Kirana memilih berdamai dengan luka saat ia kembali kehilangan sosok orang tuanya. Ia menyadari bahwa ayah dan ibunya hanyalah manusia biasa. Tak ada yang sempurna, bahkan seorang yang bernama Kirana.
Other Stories
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...