Pada Jarak Yang Sengaja Ku Lipat
Dia tersenyum dalam ranum senja yang mulai menjingga. Lengkung tipis bibirnya, bak Tuhan mengukir semesta dalam bingkai manusia. Lalu Dia membuat matanya secemerlang air laut yang tersorot sinar surya.
Pada detik-detik ini, kuingat dengan jelas bagaiman Tuhan membawa semesta beriring dengan gelak tawanya. Teringat beberapa tahun ke belakang saat dia berjalan dengan lapang. Busung dadanya dan tegap badannya membuat semua mata terpana. Pada saat itu, kami belum mengenal cukup lama. Dia sosok yang asing, namun mampu memberi warna pada setiap makhluk yang bernyawa.
Sifat ramahnya pada sesama membuat sebagian wanita jatuh hati padanya. Namun, aku cukup bersyukur bahwa aku yang jadi pemenangnya. Dari semua wanita, akulah yang juara. Dan dari semua pria, dialah yang paling setia. Dengannya, semua air mata seolah diubah menjadi canda suka ria. Akankah suatu masa masih dia yang menemani hingga tutup usia.
Namun tanyaku dijawab cepat oleh semesta, si ramah itu mengidap gemophobia. Saat itu yang kurasakan hanya semestaku tidak lagi beredar dalam orbitnya. Bagaimana aku harus bersikap untuk ke depannya? Perasaan ingin meninggalkan berputar-putar di kepala. Aku terdiam cukup lama, hingga membuat air matanya jatuh pada penghujung senja.
Dia membebaskanku untuk memilih apa pun yang kumau, namun aku bisa melihat di dasar matanya bahwa dia sama sekali tidak ingin aku berlalu. Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?
Trauma masa lalu membuatnya semakin kelabu. Teriakan itu menggema keras dalam kepalanya. Jerit ibunya dan kisah ayahnya membuatnya tak ingin mengenal cinta.
Dia bersandar lesu di pundakku. Tetes-tetes air matanya membasahi bahuku. Jika biasanya wanita yang butuh pundak pria untuk menghilangkan sesaknya, hari ini priaku yang bersandar pada dasar pundakku dalam sedu. Pada jarak yang coba kulipat, aku berhenti memaksa perasaanku dan membiarkanya terbang bersama awan. Kubiarkan ia menemukan kembali kepercayaannya pada seseorang. Lalu biarkan ia menemukan kepercayaan dirinya. Aku tidak akan memaksa lagi, maka dari itu aku akan berlalu pergi. Pergi sebagai wanita yang mengasihinya dan tetap menemani sebagai sahabat yang paling menyayanginya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...