Jatuh Untuk Tumbuh

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Kotak Pandora

Pukul 21:39 malam ini, ada yang diam-diam penasaran untuk dibuka ulang. Beberapa folder atas namamu memanggil jemariku untuk membukanya kembali.
Bak kotak Pandora, semua rekam jejakmu seakan menyeruak dengan ramai dalam sepinya malamku. Sisa-sisa peninggalanmu menyajikan bahagia pada awalnya. Menarik semua sebab gelak tawa, lewat foto-foto nostalgia yang lebih banyak bercerita tentang bahagia daripada luka.
Ada satu foto yang menarik perhatianku, dimana terlihat jelas gurat kebahagiaanmu saat duduk berdua di pelataran bersamaku. Tepat 3 tahun lalu saat tawa kita membuncah, di kota tempat berdirinya istana yang penuh sejarah.
Lalu jemariku pindah membuka foto yang ke dua, dimana tawanya yang terabadikan masih menjadi sebab utama senyumku dalam malam yang gulita.
Hingga aku tiba di bagian… yang perlahan-lahan menarik satu per satu luka. Raga tak menyangka, bahwa akhirnya akan ada luka yang menganga setelah tawa itu terlontar, penanda kebahagiaan kita akan pudar. Saat itu, bayangan kehilanganmu sukses membuka mimpi buruk bagiku.
Kulihat lagi foto berikutnya, tak ada tawa yang tersisa di sana. Hanya ada potret awan kelabu, yang berhari-hari tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Kemudian tangis pecah, saat kau memutuskan untuk berpisah.
Gambarnya sudah hampir berakhir. Dari semua memori, kita sudah tahu bahwa kita mustahil akan jadi satu. Ya, bagaimana bisa kepingan menjadi utuh dalam sekali waktu? Namun aku salah, maaf mulai keluar dari mulutmu yang terbata. Akhirnya kau menemukan jalan untuk kembali pulang setelah lama hilang.
Kupikir akan mudah menerimamu yang pada masa itu menempati hampir seluruh imajiku. Namun, maaf ternyata tak sepaket dengan lupa. Hatiku menolak lupa untuk setiap luka yang kau goreskan hingga menyebabkan lara.
Luka itu membuatku banyak belajar, bahwa saat wanita menjadi pintar dia akan sadar, mana yang sungguh-sungguh berjuang untuknya dan mana yang hanya membodoh-bodohinya.
Sekarang kita sudah sampai pada akhir gambar. Dimana sudah tidak ada lagi luka yang mengakar. Rangkuman tawa pada masanya, tangis yang pecah saat purnama, luka yang lama sembuhnya sudah kulihat semua. Dan dari semuanya aku pun belajar, bahwa tidak ada yang abadi untuk bahagia ataupun luka. Semua berputar pada porosnya, yang sewaktu-waktu bisa berganti untuk memberikan hikmah pada setiap kejadiannya.

Other Stories
Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma