BAB 8: TARIKAN NAFAS KEDUA
Mentari pagi sudah menampakkan diri. Kondisi dermaga sudah ramai lagi. Perahu-perahu nelayan berderet, burung camar menukik rendah, dan anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Di tengah riuh itu, Selia berdiri dengan tubuh tegap, rambutnya diikat seadanya, wajahnya penuh konsentrasi.
Di sampingnya, Maheisa kembali berdiri. Kedua kalinya ia berada di sini. Rasa gugup masih ada, tapi tidak sekuat kemarin. Setidaknya, kini ia sudah tahu apa yang akan dihadapi: laut, sunyi, dan tarikan napas terakhir.
Arman- salah satu rekan Selia dalam komunitas penyelam menghampiri dengan senyum lebar. “Eh, datang lagi, Bro? Kukira kemarin sudah kapok.”
Maheisa hanya tersenyum tipis. “Belum.”
Selia melirik sekilas, lalu berkata pada Arman, “Kamu pikir semua orang gampang menyerah?”
Arman mengangkat bahu sambil terkekeh. “Jarang ada orang luar yang tahan dua kali. Biasanya habis sekali coba, sudah tidak mau balik lagi.”
Anak-anak kecil yang kemarin menonton ikut mendekat, menyoraki Maheisa. “Mas, coba lebih lama, ya! Jangan buru-buru ke atas lagi!”
Selia menahan senyum, tapi ekspresinya tetap tegas. “Sudah, jangan ganggu. Biar dia fokus.”
Di tepi dermaga, mereka bersiap. Selia duduk bersila, memandang Maheisa yang sedang menarik napas panjang.
“Ingat latihan kemarin?” tanyanya.
Maheisa mengangguk. “Tenangkan tubuh. Fokus ke ritme jantung.”
“Bagus,” jawab Selia. “Hari ini kita turun sedikit lebih dalam. Jangan memaksa, tapi jangan juga cepat menyerah. Laut tidak suka orang ragu-ragu.”
Ia memberi contoh, menarik napas perlahan, menahan, lalu melepas. Gerakannya tenang, seolah tubuhnya sudah menyatu dengan udara dan air.
Maheisa menirukan. Tarikan napasnya masih kaku, tapi lebih terkendali daripada kemarin.
Mereka menyelam. Laut menyambut dengan dingin. Tubuh Selia meluncur anggun, sementara Maheisa mengikutinya dengan gerakan lebih mantap. Ia bisa merasakan paru-parunya memberontak, tapi kali ini ia tidak langsung panik.
Selia menoleh ke belakang, memberi tanda dengan tangan: tenang, teruskan.
Mereka melewati karang yang lebih dalam, ikan-ikan berenang di sekeliling. Waktu terasa memanjang, dunia menjadi hanya suara denyut nadi di telinga.
Akhirnya mereka naik ke permukaan. Maheisa menghirup udara keras, tapi kali ini tidak selelah kemarin.
“Hhhah—” ia terengah, tapi ada senyum samar di wajahnya.
Selia menatapnya sambil menahan senyum. “Lebih baik. Kamu bisa menahan lebih lama.”
Arman yang duduk di atas buoy bersiul. “Naik level, Bro. Lumayan!”
Anak-anak desa bertepuk tangan kecil-kecilan, seolah menonton atraksi.
“Mas kuat juga!”
“Besok harus lebih dalam lagi, ya!”
Maheisa mengusap wajah, setengah malu, setengah lega.
Mereka duduk di dermaga setelah latihan. Matahari sudah naik tinggi, laut berkilau seperti kaca.
Selia meneguk air dari botol, lalu menatap Maheisa. “Kamu tahu? Tidak semua orang bisa nyaman di dalam laut dalam waktu singkat. Ada yang butuh berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun.”
Maheisa menoleh. “Mungkin karena aku terbiasa menahan napas. Bermain piano, kadang rasanya juga begitu. Kamu harus menahan sebelum melepaskan, menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke nada berikutnya.”
Selia memandangnya lama. Kata-kata itu membuatnya berpikir. Ada sesuatu yang tidak biasa dari pria ini. Bukan sekadar keras kepala, tapi juga ada kedalaman lain.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Hanya berkata singkat, “Kalau begitu, jangan berhenti di sini. Besok kita coba lagi.”
Maheisa mengangguk pelan.
Keheningan di antara mereka bukan lagi canggung. Justru ada rasa tenang, seolah laut sudah menjadi bahasa yang sama—meski mereka belum benar-benar mengenal isi hati satu sama lain.
Di sampingnya, Maheisa kembali berdiri. Kedua kalinya ia berada di sini. Rasa gugup masih ada, tapi tidak sekuat kemarin. Setidaknya, kini ia sudah tahu apa yang akan dihadapi: laut, sunyi, dan tarikan napas terakhir.
Arman- salah satu rekan Selia dalam komunitas penyelam menghampiri dengan senyum lebar. “Eh, datang lagi, Bro? Kukira kemarin sudah kapok.”
Maheisa hanya tersenyum tipis. “Belum.”
Selia melirik sekilas, lalu berkata pada Arman, “Kamu pikir semua orang gampang menyerah?”
Arman mengangkat bahu sambil terkekeh. “Jarang ada orang luar yang tahan dua kali. Biasanya habis sekali coba, sudah tidak mau balik lagi.”
Anak-anak kecil yang kemarin menonton ikut mendekat, menyoraki Maheisa. “Mas, coba lebih lama, ya! Jangan buru-buru ke atas lagi!”
Selia menahan senyum, tapi ekspresinya tetap tegas. “Sudah, jangan ganggu. Biar dia fokus.”
Di tepi dermaga, mereka bersiap. Selia duduk bersila, memandang Maheisa yang sedang menarik napas panjang.
“Ingat latihan kemarin?” tanyanya.
Maheisa mengangguk. “Tenangkan tubuh. Fokus ke ritme jantung.”
“Bagus,” jawab Selia. “Hari ini kita turun sedikit lebih dalam. Jangan memaksa, tapi jangan juga cepat menyerah. Laut tidak suka orang ragu-ragu.”
Ia memberi contoh, menarik napas perlahan, menahan, lalu melepas. Gerakannya tenang, seolah tubuhnya sudah menyatu dengan udara dan air.
Maheisa menirukan. Tarikan napasnya masih kaku, tapi lebih terkendali daripada kemarin.
Mereka menyelam. Laut menyambut dengan dingin. Tubuh Selia meluncur anggun, sementara Maheisa mengikutinya dengan gerakan lebih mantap. Ia bisa merasakan paru-parunya memberontak, tapi kali ini ia tidak langsung panik.
Selia menoleh ke belakang, memberi tanda dengan tangan: tenang, teruskan.
Mereka melewati karang yang lebih dalam, ikan-ikan berenang di sekeliling. Waktu terasa memanjang, dunia menjadi hanya suara denyut nadi di telinga.
Akhirnya mereka naik ke permukaan. Maheisa menghirup udara keras, tapi kali ini tidak selelah kemarin.
“Hhhah—” ia terengah, tapi ada senyum samar di wajahnya.
Selia menatapnya sambil menahan senyum. “Lebih baik. Kamu bisa menahan lebih lama.”
Arman yang duduk di atas buoy bersiul. “Naik level, Bro. Lumayan!”
Anak-anak desa bertepuk tangan kecil-kecilan, seolah menonton atraksi.
“Mas kuat juga!”
“Besok harus lebih dalam lagi, ya!”
Maheisa mengusap wajah, setengah malu, setengah lega.
Mereka duduk di dermaga setelah latihan. Matahari sudah naik tinggi, laut berkilau seperti kaca.
Selia meneguk air dari botol, lalu menatap Maheisa. “Kamu tahu? Tidak semua orang bisa nyaman di dalam laut dalam waktu singkat. Ada yang butuh berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun.”
Maheisa menoleh. “Mungkin karena aku terbiasa menahan napas. Bermain piano, kadang rasanya juga begitu. Kamu harus menahan sebelum melepaskan, menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke nada berikutnya.”
Selia memandangnya lama. Kata-kata itu membuatnya berpikir. Ada sesuatu yang tidak biasa dari pria ini. Bukan sekadar keras kepala, tapi juga ada kedalaman lain.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Hanya berkata singkat, “Kalau begitu, jangan berhenti di sini. Besok kita coba lagi.”
Maheisa mengangguk pelan.
Keheningan di antara mereka bukan lagi canggung. Justru ada rasa tenang, seolah laut sudah menjadi bahasa yang sama—meski mereka belum benar-benar mengenal isi hati satu sama lain.
Other Stories
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...