Menunjukkan Taring
Nien tersentak ketika ponsel dalam sakunya bergetar. Segera ia matikan getaran yang sempat membuat Lena melirik ke arahnya. Diintipnya siapa gerangan yang sudah meneleponnya di waktu jam pelajaran seperti ini. Om Hendrik! Ada apa Om genit itu meneleponku jam segini? Apa dia lupa kalau aku ini anak sekolah? gerutunya.
Semenjak ia memberikan nomor ponselnya pada Om Hendrik, sering sekali lelaki itu meneleponnya tak kenal waktu. Bahkan Mang Didin pernah curiga padanya sewaktu ia menerima telepon dari Om Hendrik di rumah. Mang Didin juga pernah menanyakan perihal ponsel itu, tapi Nien berkelit dengan mengatakan kalau Hp itu pemberian temannya yang baik hati. Bi Titin pun ikut heran melihat Nien membagikan uang pada anak-anaknya. Lagi-lagi Nien mengelak dengan mengatakan kalau ia dapat uang dari yayasan.
Nien mulai berubah. Kebohongan demi kebohongan sudah mewarnai hidupnya. Benar yang dikatakan Ambunya. Sekali melakukan kebohongan maka kebohongan selanjutnya akan mengikuti. Dan aku sudah melakukannya, Ambu, desah Nien.
“Sssuts… siapa yang telepon?” tanya Lena sambil melirik pada Nien. Gadis itu hanya balas dengan lirikan. Di depan kelas Pak Jono tengah menjelaskan pelajaran fisika dengan tatapan yang tajam ke arah Nien dan Lena.
Nanti aja gue kasih tahu. Tuh Pak Jono lagi perhatiin kita!
Tulis Nien pada secarik kertas yang ia sodorkan pada Lena. Gadis itu langsung menatap lurus ke depan. Ia baru sadar kalau guru yang super galak itu tengah memperhatikannya dari tadi. Bel ganti pelajaran berbunyi. Lena segera merapatkan kursinya ke dekat kursi Nien.
“Telepon dari siapa tadi?” tanyanya penasaran. Nien mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya Dicarinya panggilan tak terjawab. Di sana tertera nama Om Hendrik.
“Om Hendrik!” jawab Nien.
“Emang ada apa?” tanya Lena mengerutkan keningnya.
“Mana gue tahu, kan tadi nggak gue jawab?” sahut Nien. Lena hanya mengangguk.
“Mungkin dia mau ngajak lo jalan?” tebak Lena. Nien hanya mengangkat bahunya. Tangannya memainkan ujung rambut yang tergerai. Penampilan Nien sudah banyak berubah. Rambutnya tak lagi dikuncir dua. Ia terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Gaya bicaranya pun sudah seperti teman-temannya yang lain.
“Coba lo telepon balik!” suruh Lena pada Nien.
“Iya, nanti jam istirahat aja!”
“Rezeki tuh! Pasti lo mau diajak jalan-jalan. Lo ajak belanja aja sepuasnya. Eh ya, lo udah terima belum tawarannya?” Lena menatap Nien tanpa kedip.
Nien terdiam. Ia teringat tawaran Om Hendrik yang memintanya untuk jadi pacarnya, dengan begitu semua kebutuhannya akan terpenuhi. Asal ia bersedia menjadi pacar lelaki yang pantas menjadi Abahnya itu. Apa pun kebutuhanmu akan Om penuhi asal kamu mau jadi pacar Om, kalimat Om Hendrik terngiang lagi di telinganmya.
“Gue belum kasih jawaban!” kata Nien.
“Mikir apa lagi sih lo? Udah terima aja, dengan begitu hidup lo akan senang dan lo nggak akan di-bully sama Sisi dan Riana lagi!” papar Lena.
“Mereka pasti curiga dengan perubahan gue?” Nien melirik pada Lena.
“Itu sih gampang! Nanti gue yang bikin skenario soal perubahan lo, yang penting terima aja dulu Om Hendrik. Jangan sampai dia berpaling dari lo. Banyak cewe-cewe yang ngantri tahuu!!” sahut Lena menggebu-gebu.
Nien menatap Lena seolah mencari pembenaran dari ucapannya. Kehidupan makmur telah terhampar di hadapannya jika ia menjadi pacar Om Hendrik. Lelaki itu juga sepertinya serius dengan bukti semua pemberiannya. Sisi dan Riana pasti akan berpikir ulang untuk mem-bully-nya lagi. Tapi untuk menjadi pacar Om Hendrik tak pernah terbayang dalam benaknya.
Apa yang ia harus lakukan jika menjadi pacar Om Hendrik? Hanya menemaninya jalan atau juga menemaninya sampai ke tempat tidur? Nien menghela napas panjang. Tak pernah terbayang sedikit pun kalau ia bisa melakukan hal gila seperti itu. Lalu bagaimana mungkin ia bisa melakukannya?
Inikah kehidupan Jakarta yang sesungguhnya? Mereka hanya memandang orang yang berduit. Menghormati orang yang sederajat. Lalu bagi dia dan sederet orang yang tak mampu maka tak ada perlakuan yang baik selain hinaan dan celaan.
******
Nien berjalan tergesa-gesa. Langkahnya begitu cepat menuju taman sekolah. Lalu ia berhenti di balik pohon besar itu. Dikeluarkannya ponsel yang sedari tadi berdering di saku bajunya.
“Ya, halo…” sapanya sambil melirik untuk memastikan sekelilingnya aman dari pantauan orang.
“Halo cantik, kok lama sekali angkat teleponnya?” sapa suara di ponsel. Suara berat milik Om Hendrik membuat dadanya berdebar kencang.
“Ini kan di sekolah Om dan aku nggak bisa jawab telepon sembarangan?” jawab Nien sedikit berbisik.
“Ouw… iya ya, Om lupa. Sorry kalau gitu. Gimana, pulang nanti sopir Om jemput kamu di sekolah, ya?”
“Hemm… apa harus dijemput ya, Om?” tanya Nien bingung.
“Ya, kalau kamu mau datang sendiri ke kafé juga nggak apa-apa. Tapi kan lebih enak dijemput sama sopir Om?” jelas Om Hendrik.
“Hemm… iya deh nggak apa-apa jemput aku aja. Tapi sopir Om parkir mobilnya agak jauh dari sekolah, ya? Nggak enak kalau dilihat teman-temanku!”
“Oke cantik, nanti Om kasih tahu sopirnya. Oh ya, kamu dandan yang cantik ya dan pakai baju yang sexy, he he he…” ucap Om Hendrik diakhiri tawa genitnya.
Nien hanya mengiyakan ucapan Om Hendrik dan segera mengakhiri telepon dengan Oom genit itu. Dada Nien masih berdebar. Ia berusaha menarik napas sedalam mungkin untuk menetralisir debaran di jantungnya.
“Nien!” teriak suara yang entah dari mana datangnya. Jantung Nien serasa berhenti berdetak saat suara lantang itu memanggilnya. Ia khawatir ada orang yang mendengar percakapannya dengan Om Hendrik di telepon tadi.
“Nien! Wooyy, gue di sini!” teriak Lena dari balik rimbunan pohon soka. Nien membuang napas lega. Rupanya suara itu milik Lena yang entah dari mana tahu keberadaannya.
“Lena? Bikin kaget gue aja, lo!” sahut Nien.
“Sorry, gue dari tadi lihat lo buru-buru gitu, terus gue ikutin sampai taman ini. Terima telepon dari Om Hendrik, yah?”
“Iya, nanti gue mau dijemput sopirnya terus disuruh ke kafé Tebet tunggu Om Hendrik di sana. Lo ikut gue yah?” pinta Nien.
“Nggak ah ! Ini kan kencan lo, masa gue mau ikutan?”
“Tapi kan, gue cuma ke kafé doang, kok!”
“Iya, awalnya ke kafé, nanti kalau Om Hendrik mau ngajak lo ke tempat lain gimana? masa gue mau ikutin!”
Ke tempat lain? Ke mana? Apa maksud Lena? Benarkah Om Hendrik akan mengajaknya ke tempat lain? Apa yang dimaksud Lena tempat lain itu adalah hotel? Ya ampun, benarkah?! tanya Nien dalam hati. Beribu pertanyaan bermunculan dalam benaknya. Antara maju dan mundur. Mau atau tidak saling berteriak dalam hatinya.
“Kenapa bengong sih, lo?” suara Lena mengejutkan Nien yang masih berperang dalam batinnya.
“Kira-kira Om Hendrik bakal ngajak gue ke mana, yah?” tanya Nien lugu.
“Paling ke hotel,” bisik Lena di telinga Nien. Gadis itu terperangah. Benar dugaannya.
“Apa lo sama Om Danu juga begitu?” tanya Nien sambil menatap wajah temannya itu. Lena hanya mengangguk cepat.
“Setelah gue resmi jadi pacar Om Danu, baru deh gituan. Sejak itu hidup gue ditanggung sama Om Danu!” jawab Lena, enteng. Sahabatnya itu menceritakannya tanpa beban. Tanpa malu dan tanpa takut. Nien menarik napas dalam. Ada keraguan yang mengganjal di hatinya.
“Tapi kan gue belum terima tawaran Om Hendirk?”
“Ya lo cepat terima deh! Nggak usah mikir kelamaan. Percaya deh sama gue, hidup lo bakal senang. Dan lo nggak bakal di-bully lagi sama Sisi dan Riana. Nanti apa yang mereka punya. lo juga bakal punya!”
“Gue takut, Len,” jawab Nien lirih.
“Takut apa sih? Pertamanya doang takut, udah ke sananya lo pasti bakal ketagihan!” sahut Lena dengan senyum nakalnya.
Benarkah yang dikatakan Lena? Apa aku harus menyerahkan keperawananku pada Om Hendrik? Nien kembali berperang batin. Ia menggigit bibirnya penuh kegetiran. Tiba-tiba wajah Sisi dan Riana muncul di hadapannya. Bayangan saat ia dipermalukan setiap hari di depan teman-temannya.
Nien menelan ludah pahit. Rasa malu dan sakit ini terus membekas dalam benaknya. Harga dirinya terinjak-injak hanya karena ia tak memiliki apa-apa. Kebebasannya terpenjara dan selalu di bawah perintah mereka yang berkuasa. Aku harus berani! Aku nggak boleh takut! Akan kuterima tawaran Om Hendrik. Nien menghela napas. Tekadnya masih hilang tenggelam. Apapun yang kamu mau akan Om Penuhi, asal kamu mau jadi pacar Om. Rayuan Om Hendrik kembali terngiang di telinganya.
******
Ini kali kedua Nien dijemput sopir Om Hendrik di sekolahnya. Kali ini Nien akan diantar sopir Om Hendrik untuk menemuinya di Hotel Centrum, bilangan Pasar baru. Jantung Nien berdebar ketika tadi Om Hendrik memintanya untuk datang ke hotel itu.
Bayangan gadis itu kacau balau. Dalam pikirannya sudah dapat mengira kalau Om Hendrik akan meminta menemaninya tidur. Pertemuan di kafé beberapa hari yang lalu adalah untuk memberi jawaban atas tawaran Om Hendrik untuk jadi pacarnya.
Om Hendrik saat itu begitu senang dan langsung memberikan Nien sejumlah uang untuk keperluannya selama seminggu. Dan mulai saat itu, Nien difasilitasi dengan mobil beserta sopirnya untuk antar jemput ke sekolah. Nien masih canggung dengan perubahannya yang sedikit mencolok. Ia tetap menyuruh sopir Om Hendrik untuk memarkir mobilnya jauh dari sekolah.
Nien bingung saat memasuki Hotel Centrum. Baru sekali ini ia masuk ke hotel, apalagi untuk menemui seorang lelaki. Rok mini dan sepatu high hells yang dipakainya tak memberinya nyaman. Wajahnya terpoles make up tipis dengan rambut yang tergerai.
Nien melangkah perlahan setelah receptionist memberi tahu letak kamar yang harus Nien datangi. Kamar 203 lantai 2, Nien memperhatikan angka di depan pintu kamar itu. Ragu ia mengetuk pintu kamar. Jantungnya berdebar hebat saat ia mengetuk pintunya.
Tok tok tok…
Satu tangannya mengetuk pelan. Ditariknya napas dalam-dalam untuk mengurangi gemetar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Pintu kamar terkuak sedikit. Nien makin gemetar. Wajah Om Hendrik menyembul dari balik pintu.
“Niendi!” sapa Om Hendrik. “Ayo, masuk!”
Gadis itu tersenyum tipis. Langkahnya ragu memasuki ruangan kamar itu. Kamar yang mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Ayo, sini duduk!” pinta Om Hendrik sambil menarik tangan Nien agar gadis itu duduk di sampingnya. Nien memperhatikan isi kamar yang tertata rapi. Ada tempat tidur besar di sudut sana. Dinginnya AC yang menjalar lewat bajunya yang sexy malah membuatnya semakin menggigil ketakutan.
“Jangan takut, Nien. Om nggak akan berbuat kasar padamu. Santai aja, yah!” ucap Om Hendrik seperti tahu kegelisahan Nien.
Nien hanya menatap lelaki itu sesaat. Betapa ia bingung harus melakukan apa. Seulas senyum tipis selalu tampak di wajahnya hanya untuk menutupi kegelisahannya.
“Om, kita mau makan siang, kan?” tanya Nien dengan suara yang agak gemetar.
Om Hendrik hanya tersenyum kecil. Kini ia menatap Nien dengan pandangan tajam. Di perhatikannya gadis itu tepat pada paha Nien yang sedikit tertutup rok mininya. Nien risih dengan tatapan nakal Om Hendrik. Duduknya semakin gelisah karena mata lelaki itu selalu tertuju pada paha putihnya.
“Yah, kita makan siang di sini. Tuh, sudah disiapkan!” ucap Om Hendrik sambil menunjuk pada meja makan di ujung sana yang sudah dipenuhi makanan. “Lalu, setelah itu kita bisa bersenang-senang sebentar sebelum Om pergi rapat sore nanti,” jawab Om Hendrik dengan mengerlingkan matanya pada Nien.
“Tapi Om, aku…”
“Tapi apa, Sayang?” wajah Om Hendrik begitu dekat pada wajah Nien. Desah napasnya terdengar jelas.
“Aku belum…”
“Jangan takut, Nien. Om akan dengan lembut melakukannya. Om jamin kamu nggak akan merasa sakit,” Jawab Om Hendrik memotong ucapan Nien.
“Apa harus sekarang, Om?” tanya Nien ketakutan. Om Hendrik terdiam. Matanya tajam menatap Nien. Lalu lelaki itu mendengus seolah menahan kesal.
“Baiklah, Nien. Om nggak mau memaksa kamu. Tapi lain kali jangan seperti ini yah? Sekarang kamu sudah jadi pacar Om. Dan akan Om penuhi semua kebutuhan kamu. Tapi kamu juga harus mengerti apa yang Om mau dari kamu,” jelas Om Hendrik seraya satu tangannya menggenggam tangan Nien.
Nien menggangguk perlahan. Om Hendrik kian mendekat ke sebelah Nien. Satu tangannya merangkul gadis itu hingga rapat dalam pelukannya. Lalu secepat kilat bibir Om Hendrik melumat penuh nafsu bibir mungil Nien. Lelaki itu tahu kalau Nien gelagapan dengan ciumannya yang tiba-tiba.
“Kamu pasti akan merasa nikmat kalau sudah sering melakukannya,” bisik Om Hendrik.
Nien menatap Om Hendrik dalam jarak yang sangat dekat. Bibirnya masih merasakan ciuman penuh nafsu dari Oom Hendrik. Pun setelah ia berada di mobil dalam perjalanan pulang. Sesekali tangannya mengusap bibir mungilnya. Tak percaya ia melakukan itu untuk pertama kali dengan lelaki yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Dalam genggamannya ada sebuah kartu ATM dengan budget 20 juta rupiah di dalamnya. Kamu bisa membeli semua kebutuhanmu, Nien. Kamu harus kelihatan lebih cantik dan sexy agar Om semakin bergairah. Kalimat Om Hendrik di kamar hotel tadi kembali terngiang. Nien tersenyum getir. Sekarang apa pun yang ia mau dapat dibelinya. Dan ia bisa sederajat dengan teman-temannya di sekolah. Terutama dengan Sisi dan Riana.
******
Nien cepat menjawab SMS Om Hendrik yang masuk ke Hp-nya.
Maaf Om, hari ini aku nggak bisa menemui Om dulu yah. Soalnya aku lagi banyak tugas sekolah.
Kling! SMS Nien terkirim. Terpaksa ia menjawab SMS Om Hendrik dengan hati-hati karena masih berada di jam pelajaran.
Nien, ini sudah yang kedua kali lho kamu menolak bertemu dengan Om?
SMS balasan Om Hendrik kembali masuk ke Hp-nya.
Iya Oom, suwer deh aku lagi banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan.
Kling ! kembali SMS jawaban dari Nien terkirim.
Oke, kali ini Om mengerti, tapi lain kali Om nggak mau kamu menolak ajakan Om untuk bertemu. Kamu kan sudah jadi pacar Om dan kamu harus ngerti gimana caranya untuk membuat Om senang.
SMS Om Hendrik kali ini membuat Nien berpikir. Ia mengerti maksud SMS Om Hendrik barusan.
Iya Om, lain kali aku pasti akan turuti semua yang Om mau.
Itu kalimat terakhir SMS Nien yang terkirim untuk Om Hendrik. Nien menarik napas panjang. Entah bagaimana caranya lagi untuk menghindar dari ajakan lelaki itu. Pasti saja Om Hendrik akan marah besar kalau sekali lagi ia menolak ajakannya. Sepertinya lelaki itu tahu kalau dirinya hanya menghindar. Tapi Nien tak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk selanjutnya ia harus menuruti ajakan Om Hendrik.
******
Akhir pekan yang mendebarkan. Ini pertama kalinya Nien berbohong pada Mang Didin dan Bi Titin untuk pamit pergi menginap bersama Lena. Alasan yang klise mereka buat atas nama tugas sekolah yang harus mereka selesaikan. Kenyataannya Nien diajak menginap Om Hendrik di Hotel Duta, di bilangan Kuningan. Lelaki itu memintanya untuk menemaninya selepas rapat kantornya besok malam.
Nien mengumpulkan segenap keberaniannya untuk melayani Om Hendrik malam ini. Ia tak mungkin terus mengelak permintaan lelaki itu. Om Hendrik telah memenuhi segala kebutuhannya. Dan Nien tak mau disebut sebagai orang yang tak tahu diri.
Mau tak mau. Suka ataupun tidak, ia harus menyerahkan keperawanannya pada lelaki itu malam ini. Walau di hatinya bergumul rasa gundah dan ketakutan yang memenuhi seluruh rongga dadanya.
“Nien…” panggil Om Hendrik lembut. Nien tersenyum manis pada Om Hendrik. Sepertinya ia sudah terbiasa berdekatan dengan lelaki itu, walau di dadanya bergemuruh ketakutan yang luar biasa.
Om Hendrik menarik lembut tangan Nien, mengajaknya ke tempat tidur. Gadis itu hanya mengikuti langkah Om Hendrik. Dipeluknya tubuh Nien hingga menindih seluruh tubuh gadis itu. Dalam remang lampu kamar, Om Hendrik mencumbu Nien penuh gairah.
Nien tak menolak setiap gerakan tangan Om Hendrik ke sekujur tubuhnya. Gadis polos itu hanya pasrah pada perlakuan lelaki itu.
“Jangan tegang, yah, Om akan dengan pelan melakukannya. Kamu nikmati saja, pasti kamu suka,” bisik Om Hendrik.
Nien hanya tersenyum tipis. Dalam samar ia masih dapat melihat wajah lelaki itu yang penuh nafsu. “Kamu sudah minum pil itu, kan?” tanya Om Hendrik. Nien hanya mengangguk, Pil yang diberikan Lena tadi siang memang telah diminumnya sebelum ia bertemu dengan Om Hendrik.
Nien mendesah lirih saat Om Hendrik sampai pada puncaknya. Tangannya meremas seprai untuk menahan sedikit rasa sakit. Teriakan kecil suara Nien semakin membuat Om Hendrik bergairah.
Tak lama itu berlangsung, mereka pun terlelap dalam kelelahan setelahnya. Nien terbangun dari pejaman matanya. Ditengoknya Om Hendrik yang terlentang kelelahan dalam tidurnya. Nien terduduk dalam balutan selimut di samping Om Hendrik. Sesungguhnya hatinya menjerit dengan peristiwa malam ini. Bagaimana mungkin ia dengan sukarela menyerahkan selaput suci yang seharusnya diperuntukkan bagi suaminya nanti. Bagaimana kalau Ambunya tahu apa yang ia telah lakukan bersama dengan lelaki itu?
Nien menelan ludah pahit. Ditengoknya lagi Om Hendrik yang menggeliat dari tidurnya. Tubuhnya yang masih berbalut selimut terkulai lemas di tempat tidur.
“Ada apa, Nien? tanya Om Hendrik yang sudah duduk di sampingnya. Nien hanya menoleh sebentar. “Om masih mau satu ronde lagi nih?” bisik lelaki itu di telinga Nien.
Lalu Om Hendrik memeluk dan melepas selimut Nien. Kembali mereka bergumul dalam nafsu. Om Hendrik seperti tak kenal lelah. Ia terus menjamah tiap lekuk tubuh Nien. Seolah tak puas pada apa yang dilakukannya pertama kali.
Nien tetap pasrah. Ia mulai menikmati perlakuan Om Hendrik yang memburu tubuhnya. Hanya jeritan-jeritan kecil dan desahan nafas mereka yang terdengar. Nien semakin larut dan melupakan ketakutan yang selama ini merajainya.
Apa yang dikatakan Om Hendrik memang benar. Ia hanya merasakan sedikit sakit saat pertama kali melakukannya. Dan yang kedua ini, Nien seakan menikmati dan berperan dalam tiap gerakan Om Hendrik. Nien sadar ini adalah suatu kesalahan. Tapi ini terpaksa ia lakukan hanya untuk membeli sebuah martabat walau harus menjual harga dirinya.
******
“Gimana kemarin?” tanya Lena seraya mengikuti langkah Nien di depan gerbang sekolah. “Sakit nggak? Enak kan?” sambung Lena dengan pertanyaan beruntun.
Nien masih tak menjawab. Langkahnya dipercepat karena di ujung sana ia melihat Sisi dan Riana memandang ke arahnya. Dua cewe itu terus memperhatikan dirinya dan Lena. Nien tahu, Sisi dan Riana akan mem-bully-nya lagi. Namun kali ini ia tak akan membiarkan itu terjadi lagi.
“Nien!” teriak Lena. “Kok diam aja sih, lo? Lo baik-baik aja, kan?” tanyanya cemas melihat Nien hanya membisu.
“Cerewet lo!” bentak Nien. Lena terbelalak. Beraninya Nien sekarang membentak dirinya?
“Lo kenapa sih, kok jadi sensi gini?” tanya Lena lagi penasaran.
“Gue udah ngelakuinnya sama Om Hendrik kemarin!” jawab Nien setengah berbisik.
“Oh ya? Gimana rasanya? Dag dig dug, yah? Tapi enak, kan?” goda Lena dengan tersenyum centil.
Nien masuk kelas tanpa satu pun menjawab pertanyaan Lena. Gadis ini mendesah resah, dari wajahnya terlihat kegusaran yang nyata. Ditariknya napas dalam. Lena memperhatikan Nien dari kursinya.
“Gue takut hamil, Len!” ucapnya lirih.
“Ya nggak mungkinlah! Lo minum pil itu, kan?” tanyanya sambil menarik kursinya mendekati kursi Nien. “Terus, kenapa lo takut?”
“Gue takut pil itu nggak berfungsi. Gue nggak mau hamil, Len?” jawabnya berbisik di telinga Lena.
“Ha ha ha…” Lena menertawakannya. Temannya ini benar-benar polos, pantas saja Sisi dan Riana dengan seenaknya mem-bully-nya.
“Lo kenapa ketawa, sih ?” tanya Nien kesal.
“Iyalah gue ketawa! Lo itu polos apa bego sih? Kalau udah minum pil itu bagaimana mungkin bisa hamil, kecuali lo begituan dulu baru minum pil. Nah, itu baru bisa melendung!” papar Lena.
Nien menarik napas lega. Keresahannya semalam kini terjawab sudah. Kalau sampai itu terjadi, apa yang harus ia katakan pada keluarganya? Betapa malunya ia pada orang-orang dusun? Dan lagi belum tentu Om Hendrik mau bertanggung jawab padanya. Lelaki itu sudah memperingatkan Nien untuk memakai alat kontrasepsi. Dan kalau sampai kebobolan, pastilah Om Hendrik lepas tangan tak mau peduli. Jangan sampai itu terjadi! jerit Nien dalam hati.
“Udah, lo tenang aja deh, nggak bakalan melendung! Gue kan udah pengalaman. Kalau pun lo hamil, gue tahu gimana cara selesainnya!” ucap Lena menenangkan Nien.
“Emang gimana, Len?” tanya Nien dengan wajah serius.
“Sini gue bisikin!” Nien mendekatkan telinganya ke bibir Lena.
“Apa? Lo emang udah pernah lakuinnya?” teriak Nien.
“Sssuts… berisik lo!” jawab Lena membekap mulut Nien. “Gue belum pernah, tapi teman gue banyak yang begitu. Daripada pusing mending yah begitu. Emang lo mau hamil apa?!” tanya Lena seraya ekor matanya melirik sekeliling.
Nien hanya menggeleng. Sungguh ia tak mau itu terjadi. Apalagi sampai melakukan abortus seperti yang dibisikkan Lena tadi. Melakukan persetubuhan dengan Om Hendrik saja sudah suatu kesalahan besar, apalagi sampai melakukan abortus? pikirnya.
“Sssuts… lihat tuh, Sisi dan Riana terus melirik ke arah kita. Udah saatnya lo tunjukin taring lo, Nien!” bisik Lena.
Nien sempat melirik dari ekor matanya. Benar Sisi dan Riana tengah menatap ke arahnya. Lena benar, sudah saatnya ia menunjukkan pada kedua temannya itu kalau ia bukanlah Nien yang dulu. Bukan untuk menyombongkan diri tapi untuk sekedar memberi pelajaran pada mereka berdua bahwa setiap manusia punya hak untuk diperlakukan dengan baik, bagaimana pun keadaannya. Nien mengangguk seraya tersenyum pada Lena.
“Show time!” ucap Lena tersenyum tipis.
“Yup! Sudah saatnya sekarang gue kasih lihat apa yang gue punya pada mereka. Besok saatnya gue perlihatkan,” jawab Nien dengan senyum sinisnya.
Sudah waktunya Sisi dan Riana berhenti mem-bully-nya. Tak ada lagi episode yang bercerita tentang kesedihan akibat ulah Sisi dan Riana. Tak ada lagi si cupu dan anak kampung. Kini yang ada hanya Nien yang baru yang juga memiliki semua yang mereka punya.
Other Stories
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Percobaan
percobaan ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...