Mengenal Om Hendrik
Lena dan Nien keluar dari toilet mal besar. Tempat yang megah di bilangan Sarinah itu selalu ramai pada jam makan siang seperti ini. Bukan suatu rahasia lagi jika tempat makan ini menjadi ajang rendevouz dari kalangan eksekutif sampai para pelajar. Entah hanya sekedar untuk pertemuan atau hanya untuk kencan makan siang saja.
Kalangan eksekutif ini dipenuhi orang dari berbagai tempat. Mereka tanpa sungkan memperlihatkan apa yang mereka mau lakukan. Tak peduli pada banyak mata yang melihat. Semua sibuk pada urusan masing-masing. Tak malu juga mereka memperlihatkan kemesraan. Ada seorang wanita yang duduk mesra dengan seorang anak muda yang pantas jadi anaknya. Ada pria yang berpeluk hangat dengan gadis muda belia, bahkan ada sesama jenis yang tak malu beradegan mesra di depan orang banyak.
Lena berlenggok dengan rok mini dan baju tanktop yang baru digantinya. Rambutnya dibiarkan terurai. Gincu merah muda menghias bibir seksinya. Nien mengekor Lena dari belakang. Gadis ini mengenakan rok mini dan baju berleher amat rendah hingga terlihat belahan dadanya. Ia terpaksa memakai baju Lena karena menurut Lena bajunya itu norak dan kampungan.
Mereka berdua duduk di sudut ruangan yang menghadap jendela. Nien terlihat gelisah. Hatinya terus menebak apa yang harus dilakukannya nanti. Lena asyik memoles wajahnya dengan bedak dan merapikan rambutnya.
“Halo cantik, sudah lama menunggu?” sapa suara bariton yang langsung mendaratkan ciuman di pipi Lena. Dan yang lebih parah lagi merek berciuman dengan mesra di depan orang banyak. Nien bengong melihatnya. Lena hanya tersenyum seolah ia sudah terbiasa dengan adegan seperti tadi.
“Eh Om Danu ! Nggak apaa-pa kok Om, kami baru aja sampai!” sahut Lena tersenyum centil. “Oh ya Om, kenalkan ini temanku!”
Om Danu tersenyum genit pada Nien dengan mengulurknan tangannya. Nien tersenyum tipis. Lelaki setengah baya itu hampir seumuran Mang Didin, sepupu Ambunya. Tapi penampilan dan tingkahnya persis seperti ABG. Nien menyebut namanya pelan. Om Danu terus menatapnya dan melirik ke arah leher bajunya yang memperlihatkan belahan dadanya. Nien agak kikuk. Ia tak terbiasa dengan mata liar Om Danu yang menyiratkan suatu maksud.
“Oya Om, kita mau makan di sini atau langsung?” tanya Lena.
“Kita langsung aja deh, disini terlalu rame!” jawab Om Danu.
“Oke deh, tapi sebelumnya teman Om suruh cepat datang ke sini ya untuk temani Nien?”
“Oke beres, sebentar Om telepon dia dulu!”
Om Danu berjalan ke dekat jendela sambil asyik bicara di telepon dengan seseorang. Sesekali matanya melirik pada Lena dan Nien. Lelaki itu mengerlingkan matanya saat Nien tak sengaja menoleh pada Om Danu. Nien cuma tersenyum kecil dengan mengalihkan pandangannya.
“Oke, sebentar lagi teman Om akan datang. Namanya Hendrik. Orangnya tinggi, putih, dan agak besar,” jelasnya pada Nien.
“Oke Nien, gue tinggal yah. Santai aja di sini ambil nunggu Om Hendrik. Gue ada urusan dulu sama Om Danu!” sambung Lena.
Nien hanya mengangguk. Pandangannya tak lepas menatap Lena dan Om Danu yang berjalan keluar. Mereka berjalan mesra seperti sepasang kekasih. Tepatnya mereka lebih pantas disebut sebagai ayah dan anak. Hati Nien kembali gelisah. Entah seperti apa Om Hendrik yang akan dijumpainya nanti.. Mungkin saja lebih genit dari Om Danu atau bahkan berwajah sangar dan menyeramkan. Nien menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Selamat siang, apa kamu yang bernama Niendi?” sapa suara di depannya. Nien perlahan menurunkan kedua tangannya. Dilihatnya seorang lelaki setengah baya berdiri di depannya. Persis dengan ciri-ciri yang disebutkan Om Danu tadi. Senyumnya ramah, tapi tak segenit Om Danu.
“Iy… iya aku Nien… di,” jawabnya terbata. Tak habis pikir bagaimana para lelaki ini sampai mengubah namanya menjadi Niendi.
“Cantik ya kamu?” pujinya. “Kenalkan, saya Hendrik, teman Pak Danu. Dia menyuruh saya menemui kamu di sini.”
Nien ragu mengulurkan tangannya. Ia berdiri dengan kaki yang agak gemetar. Di ukirnya senyum semanis mungkin seperti pesan Lena. Keringat dingin mulai menetes dalam bajunya.
“Kamu kelihatan tegang sekali?” tanya Om Hendrik memperhatikan Nien. “Santai aja yah, saya nggak seperti pria lain kok yang main santap! He he he…”
Santap? Apa maksudnya? tanya Nien kaget. Jantungnya berdebar, ia semakin bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Lelaki itu kini duduk di sebelahnya. Matanya tak lepas dari memandang belahan bajunya yang terlalu rendah.
“Mau makan di sini atau kita ke tempat lain?” tanya Om Hendrik lagi.
“Di sini aja Om!” jawab Nien cepat.
“Baiklah, kamu kelihatan belum terbiasa, yah? Tapi lain waktu kita ke tempat lain aja, di sini terlalu banyak orang. Kita nggak bisa leluasa, kan?” ucap Om Hendrik dengan senyum ramahnya.
Nien hanya mengangguk. Tak banyak yang bisa ia ucapkan. Sesungguhnya hatinya begitu takut berhadapan dengan Om Hendrik. Lelaki ini mendekati Nien. Sepertinya ia sudah terbiasa berhadapan dengan situasi ini.
“Berapa nomor ponselmu ?” tanya Om Hendrik. Nien bengong. Seumur-umur belum pernah ia punya handphone, walau yang murah sekali pun.
“Aku nggak punya Hp, Om,” jawab Nien polos.
“Nggak punya Hp? Masa nggak punya? Bercanda kamu?” tanya Om Hendrik tak percaya.
“Benar Om, aku nggak pernah punya Hp!” Nien menampakkan wajah polosnya.
“Lalu bagaimana saya bisa hubungi kamu?” Om Hendrik mengerutkan keningnya. Ia masih tak percaya di zaman modern seperti ini masih saja ada orang yang tak punya barang canggih seperti itu. “Hemm… oke, gini aja. Kamu saya kasih Hp!”
Om Hendrik mengeluarkan sebuah ponsel kecil dari dalam saku jasnya. Diletakkannya benda itu di meja. Nien terpaku melihat sikap Om Hendrik.
“Ini memang Hp jadul, tapi kondisinya masih bagus. Saya pakai untuk darurat saja. Sekarang kamu yang pakai. Kamu tinggal beli simcard dan setelah itu telepon saya biar saya tahu nomor Hp-mu,” jelas Om Hendrik sambil memberikan Nien sebuah kartu nama.
Tak lama ponsel Om Hendrik yang lain berdering. Ia berdiri dan berjalan sambil menjawab telepon. Nien memperhatikan lelaki itu yang serius bicara di telepon. Seperti Om Danu tadi, mata lelaki itu sesekali melirik ke arahnya sambil melemparkan senyum genitnya.
“Nien, saya harus pergi sekarang. Ada klien yang harus saya temui,” ucap Om Hendrik yang duduk dekat sekali di samping Nien. Lalu Om Hendrik membuka dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu
“Ini untuk kamu, Nien. Ambillah!” pinta Oom Hendrik. Nien hanya bengong memandang lembaran uang yang tergeletak di atas meja.
“Untuk apa, Om?” tanyanya lugu.
“Ini untuk kamu. Untuk uang jajanmu. Buat beli simcard dan pulsa. Saya kasih segini dulu yah, nggak apa-apa, kan?” mata Om Hendrik terus menatap Nien.
Gadis lugu ini tertunduk. Ia masih tak mengerti. Om Hendrik dengan mudah memberikannya uang padahal ia tak melakukan apa pun untuk lelaki itu.
“Tapi aku nggak memberi Om apa pun?” jawab Nien seraya melirik Om Hendrik malu-malu.
“Kamu sudah menemani saya di sini. Saya senang bisa kenalan dengan kamu. Apalagi kalau kamu mau jadi pacar saya? Saya akan berikan apa pun yang kamu mau,” ucap Om Hendrik setengah berbisik ke telinga Nien. Wangi parfumnya menyengat hidung Nien. “Apa pun yang kamu mau akan saya penuhi, Nien. Asal kamu jadi pacar saya! Oke, saya tunggu jawaban kamu. Jangan lupa hubungi saya setelah kamu beli simcard, yah!” lanjut Om Hendrik.
Secepat kilat pria paruh baya itu mendaratkan ciuman ke pipi Nien. Gadis itu tersentak kaget. Tak menyangka Om Hendrik begitu berani menciumnya di tempat ramai. Nien masih terpaku memandang Om Hendrik yang meninggalkannya pergi.
Sebelah tangannya masih memegang pipinya yang dicium Om Hendrik tadi. Kini matanya tertuju pada lembaran uang yang tergeletak di meja dan sebuah ponsel. Separuh hatinya merasa gembira mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Tapi separuh hatinya lagi gamang karena permintaan Om Hendrik.
******
“Sssuts… Nien!” panggil Lena sedikit berbisik menyusul langkah Nien di halaman sekolah. “Gimana kemarin sama Om Hendrik? Berhasil nggak?” tanya Lena ingin tahu.
“Berhasil apa?” jawab Nien heran.
“Jangan pura-pura bego lo! Kemarin lo jalan kan sama Om Hendrik? Dia itu tajir banget tahu, nggak pelit lagi!” jelas Lena.
Nien hanya diam. Pikirannya kembali saat Om Hendrik mencium pipinya. Ada rasa kesal yang terselip di hatinya. Namun ia teringat juga kebaikan Om Hendrik yang telah memberikan uang dan Hp padanya.
“Heh, lo kok malah bengong sih?” bentak Lena.
“Nih, aku dikasih Hp!” sahut Nien seraya mengeluarkan Hp dari dalam tasnya. “Katanya sih Hp jadul tapi masih lumayan bagus kondisinya!”“Gila! Ini mah bukan Hp jadul! Lo tahu nggak harga sekennya aja masih dua jutaan! Terus lo dikasih apa lagi?”
Nien melirik Lena. Temannya ini seperti menyelidik begitu detail. Nien masih diam. Ia membiarkan Lena penasaran. Ia melirik Lena yang masih menanti jawabannya.
“Aku dikasih uang tiga ratus ribu sama Om Hendrik,” bisik Nien.
“Oya? Tuh kan gue bilang juga apa, dia nggak pelit!” sahut Lena lagi.
“Dia minta aku jadi pacarnya dan dia bakalan kasih apa pun yang aku mau!” sambung Nien lagi.
“Beruntung banget lo? Gue aja baru ditawarin Om Danu jadi pacarnya dua bulan yang lalu. Lo malah baru kenal udah ditembak!” Lena menatap wajah Nien. Ia sempat heran tak ada ekspresi gembira di wajah cantik temannya itu. “Lo kenapa sih?” tanya Lena heran.
“Aku bingung,” Nien menarik napas dalam.
“Bingung kenapa? Lo tinggal bilang ‘ya’ dan semua yang lo mau bakal dipenuhi. Dan dengan begitu lo nggak bakal lagi diremehin sama Sisi dan Riana,” Lena terus mengikuti Nien sampai di lorong kelas. “Apa lo mau di-bully terus sama mereka?”
Kini giliran Nien menatap Lena. Ada kegetiran di hatinya saat mengingat Sisi dan Riana yang memperlakukan dirinya seenaknya.
“Tuh lihat, Sisi udah mandangin lo dari tadi!” bisik Lena yang meninggalkan Nien jalan sendiri. Dari jauh Nien sudah dapat melihat tatapan tajam Sisi dan Riana. Apalagi ulah mereka hari ini? pikir Nien.
“Heh cupu!” teriak Sisi. “Tumben rambut lo diriap, biasanya dikuncir dua kayak perawan desa?” celetuk Sisi dengan usil.
Nien hanya diam. Rambutnya memang sengaja ia gerai karena ia tak sempat menguncirnya. Tiba-tiba Lena menghampirnya dan memberikan Hp Nien yang tadi dipegangnya.
“Eh ya Nien, sorry gue lupa, nih Hp lo!”
Nien mengambil Hp dari tangan Lena. Pandangan Sisi dan Riana langsung tertuju pada ponsel yang beralih ke tangan Nien.
“Boleh juga nih anak sekarang udah pegang Hp. Dapat dari mana lo?” tanya Riana sinis.
“Ini pemberian Om-ku,” sahut Nien.
“Ooh… ternyata orang kampung punya Om juga, yah?” celetuk Sisi dengan nada menyindir.
“Bagus deh ada kemajuan si cupu udah punya Hp. Jadi lo nggak malu-maluin banget sekolah di sini!” sambung Riana seraya bibirnya mencibir pada Nien.
“Tapi sayang gaya lo tetap udik. Sekali udik ya tetap udik, nggak bakal lo bisa berubah! Ha ha ha…”
Tawa sisi dan Riana begitu menyayat hati Nien. Ia tertunduk lemas. Haruskah perlakuan ini selamanya ia terima? Hati Nien menangis. Begitu berat pengorbanan yang ia harus terima untuk sekolah di sini.
Nien berjalan lunglai menuju kelasnya. Tak pernah ia menerima penghinaan seperti ini di dusunnya dulu. Semua menghormatinya, bahkan ia selalu menjadi kebanggaan warga dusunnya. Namun di Jakarta, di sekolah elite ini ia selalu mendapat perlakuan tak baik dari teman-temannya. Nien mendesah lemah, hatinya hancur remuk redam.
Ada sesak yang tertahan tiap kali Sisi dan Riana mempermalukannya. Perlakuan yang tak pernah ia bayangkan sewaktu ia mengambil keputusan untuk sekolah di Jakarta. Kamu akan dapat semua yang kamu mau kalau jadi pacar Om, kalimat Om Hendrik kembali terngiang di telinganya. Apakah aku harus ambil tawaran Om Hendrik? tanya hatinya bimbang.
Nien mendesah panjang. Tak terbayang apa yang harus ia lakukan kalau ia menjadi pacar lelaki yang lebih pantas menjadi Abahnya itu. Lo harus membuatnya senang. Turuti aja apa yang Om Hendrik minta, gue jamin hidup lo bakal senang mendadak! itu yang Lena bilang. Tapi apa yang harus ia ikuti? Menemaninya jalan? Menemaninya makan? Atau bahkan menemaninya sampai ke ranjang? Nien menutup matanya. Haruskah sampai seperti itu? Haruskah ia menyerahkan keperawanannya untuk Om Hendrik?
Inikah jalan terakhirnya untuk merubah hidup? Nien terpaku. Matanya menatap langit seolah meminta jawaban. Sekelebat bayangan Sisi dan Riana yang selalu mem-bully-nya. Perih dan sakit yang ia rasakan. Mereka seperti tak punya hati dan menganggap dirinya begitu hina hanya karena ia tak sederajat dengan mereka. Tapi haruskah ia mengorbankan harga dirinya demi mendapat derajat yang sama seperti mereka?
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...