Semua Mata Tertuju Pada Nien
Mobil sport itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Sisi dan Riana menatap dari kejauhan. Kedua gadis itu mencoba menebak siapa yang akan keluar dari mobil yang terlihat masih baru itu. Pintu mobil Ford merah itu terbuka. Satu kaki terlihat menapaki tanah.
Seorang cewek keluar dari dalam mobil itu. Penampilannya menarik semua perhatian murid-murid di halaman sekolah. Kakinya yang jenjang berjalan gemulai dengan rambut yang tergerai panjang. Kacamata besar menutupi matanya. Pandangannya lurus ke depan seolah tak peduli pada semua mata yang menatap ke arahnya.
“Siapa sih? Anak baru, yah?” bisik Riana di dekat Sisi.
“Kayaknya gue kenal deh!” sahut Sisi.
“Iya, kayaknya gue juga pernah lihat, tapi siapa yah?” Riana semakin penasaran.
Mereka saling pandang. Mencoba mengingat di mana mereka pernah melihat cewe cantik itu. Anak baru dengan sepatu dan tas yang bermerek. Mobil Ford keluaran terbaru. Sisi dan Riana terus merinci segala yang dipakai cewe itu.
“Nien?!” teriak mereka berbarengan.
“Nggak… nggak mungkin itu, Nien!” ucap Sisi sambil menggelengkan kepalanya.
“Iya, itu Nien!” teriak Riana lagi.
“Nggak, gue nggak percaya. Pasti itu anak baru di sini!” bantah Sisi lagi.
“Emang itu, Nien!” sahut Lena yang tiba-tiba sudah muncul di antara mereka. “Lo berdua nggak usah kaget segitunya kalee…”
“Sumpah lo, itu benar Nien?” tanya Riana.
“Mulai sekarang jangan panggil gue Nien lagi, tapi harus manggil gue Nindy!”
“Yee… ngapain juga gue bohong sama lo berdua? Nih, gue kasih tahu yah, kalau dia itu sebenarnya anak orang kaya di kampungnya. Cuma dia nggak pamer aja!” jelas Lena.
“Gue nggak percaya!” teriak Sisi.
“Terserah lo deh. Siapa juga yang suruh lo percaya gue. Lo lihat aja sendiri!” jawab Lena meninggalkan Sisi dan Riana.
Lena menyusul langkah Nien yang memasuki kelas. Satu skenario telah ia jalankan. Senyumnya mengembang penuh kemenangan. Dihampirinya Nien yang sudah duduk di kursinya.
“Kita berhasil!” bisik Lena. “Lo lihat nggak tadi Sisi dan Riana melongo kayak kambing ompong?” ucap Lena masih dengan tawa kecilnya. Nien mengangguk.
Gadis ini tahu kalau dirinya masih menjadi perhatian teman-temannya di kelas. Perubahan dirinya yang mendadak ini membuat mereka bingung. Diletakkannya sebuah Hp mahal pemberian Om Hendrik minggu lalu.
“Eh, lo udah dengar belum kalau Sisi mau adain acara ulang tahun?” tanya Lena. Nien hanya menggeleng. “Katanya sih yang diundang orang-orang tertentu aja.”
“Ouw… gitu, yah?” jawab Nien cuek.
“Eh, lihat tuh, Sisi dan Riana masuk kelas. Matanya terus aja mandang kita,” bisik Lena. Nien melirik sebentar. Matanya beradu dengan tatapan Sisi yang sinis padanya. Namun Nien tak peduli seolah ia tak tahu kalau Sisi memperhatikannya.
“Tuh, lihat Si. Handphone yang di meja. Gilaa… itukan harganya sekitar delapan jutaan! Lihat juga sepatu dan tasnya, semua bermerek! Ckckckck…” Riana terus memperhatikan Hp Nien yang tergeletak di meja.
“Gue masih nggak percaya kalau si cupu itu udah benar-benar berubah!”
“Sekarang dia nggak cupu lagi, Si! Dia cantik dan fashionable!” jawab Riana.
“Ah, bisa aja itu semua barang pinjaman supaya kita percaya kalau dia anak orang kaya! Mungkin ini akal-akalan Lena aja supaya kita nggak mem-bully dia lagi!”
“Lo kenapa sih nggak percaya? Udah jelas-jelas dia sekarang udah berubah. Lo takut kesaing, yah?” goda Riana.
“Gue kesaing sama dia? Nggak banget deh! Dia itu tetap anak kampung yang baru melek!” bantah Sisi. Riana tersenyum tipis melihat sahabatnya itu tidak bisa menerima keadaan Nien sekarang. Ia paham betul kalau Sisi paling tidak suka jika ada yang menyainginya.
Nien masih berbicang dengan Lena, Mereka tahu kalau Sisi dan Riana terus memperhatikan. Sekarang lo tahu Si, kalau gue nggak bisa di-bully lagi seperti dulu. Apa yang lo punya, gue juga bisa dapatkan. Kalian harus terima balasan dari apa yang pernah kalian lakukan pada gue. Bukan gue dendam. Ini hanya sekedar pelajaran supaya kalian sadar dari kesombongan kalian, bisik Nien sambil matanya melirik pada Sisi.
******
“Ssssuts… tuh lihat OKB datang!” bisik Riana sambil menyenggol siku Sisi. Gadis itu menatap sinis Nien yang lewat di depan mereka dengan acuh. Nien berlenggok bak peragawati di atas catwalk. Rambutnya yang panjang dimainkan angin.
“Nien!” panggil Lena yang berlari kecil mengejar Nien. Langkah Nien terhenti menunggu Lena menghampirinya. “Makin cantik aja, lo! Tadi lo lihat nggak Sisi dan Riana melotot mandangi lo?”
Nien hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu mereka berjalan menuju kelas. Masih saja mata murid-murid menatap mereka penuh heran. Terlebih lagi pada Nien yang begitu banyak perubahan drastis.
“Gue dapat undangan nih dari Sisi. Acara ultahnya malam Minggu nanti. Lo ikut gue yah?” pinta Lena. Nien mengerutkan keningnya menatap Lena.
“Lo nggak salah ngajak gue?” tanya Nien.
“Emang kenapa? Di sana nanti lo bisa tunjukin kalau lo emang anak orang kaya!”
“Buat apa gue datang kalau nggak diundang? Malas banget deh! Lo aja yang datang sendiri!” sahut Nien dengan suara keras.
“Gue rasa lo juga diundang, soalnya tadi dia cariin lo! Tau deh mau apa.”
“Kalau diundang, baru gue mau datang!” jelas Nien.
“Nien!” langkah Nien berhenti ketika ada suara yang memanggilnya. Lena dan Nien menengok ke belakang arah suara. Di sana ada Sisi dan Riana yang berdiri tak jauh dari mereka. Lena dan Nien saling pandang.
“Gue cabut duluan yah, paling dia mau kasih lo undangan!” bisik Lena yang meninggalkan Nien sendirian.
Sisi dan Riana mendekati Nien. Sebenarnya amat pantang bagi gadis sombong itu untuk mendekati Nien yang dianggapnya masih anak kampung. Nien tersenyum tipis saat Sisi dan Riana sudah di hadapannya.
“Ada apa, Si?” tanya Nien manis.
“Gue cuma mau kasih lo undangan. Datang yah, acara ultah gue malam Minggu nanti!” ucap Sisi sambil menyerahkan sebuah undangan warna pink pada Nien.
“Semoga gue bisa datang, yah?” jawab Nien sambil meninggalkan Sisi dan Riana.
Sisi dan Riana saling pandang. Jelas di wajah Sisi terlihat kemarahan atas sikap Nien yang cuek. Riana menatap wajah sahabatnya itu. Dia tahu kalau Sisi masih saja tak bisa menerima perubahan Nien.
“Tuh lihat, gayanya sok banget! Dibaikin malah begitu, pengen muntah gue lihatnya!”gerutu Sisi. Riana merangkul Sisi untuk menenangkan gadis itu.
“Tenang aja sih, kita bikin kejutan untuk dia di acara ultah lo!” sahut Riana.
Kelas fisika hari ini kosong. Sebagian murid-murid hanya mengisinya dengan duduk-duduk santai. Lena dan Nien nampak tersenyum yang sesekali pandangan mata mereka melirik ke arah kursi Sisi.
“Lo mau kasih kado apa untuk si pem-bully?” tanya Lena
“Gue belum tahu mau kasih apa?” jawab Nien.
“Gimana kalau lo kasih liontin berlian aja biar si Sisi melotot dan tambah yakin kalau lo emang anak orang kaya?” Nien malah melotot pada Lena.
“Liontin berlian? Kebagusan banget! Lo kira harganya murah ya?”
“Yah, lo tinggal minta sama Om Hendrik kok, pasti dibeliin!”
Nien kembali melirik ke arah Sisi. Dilihatnya gadis itu tengah memperhatikan setiap geraknya. Nien tersenyum tipis, ia tahu sedang diperhatikan kedua gadis itu.
“Lihat aja nanti, kado apa yang gue mau kasih buat si borju Sisi!” senyumnya kembali mengembang ke arah Sisi.
******
Bergelimang uang dan kebebasan adalah milik Nien kini. Semua impiannya untuk memiliki apa yang Sisi dan Riana miliki sudah terwujud. Bak putri raja, Nien pun sekarang sudah tinggal di sebuah apartemen mewah milik Om Hendrik. Apartemen yang sengaja dibeli lelaki itu untuk dapat berduaan dengan kekasihnya.
Nien juga terpaksa berbohong pada Mang Didin dan Bi Titin. Apartemen itu diakuinya milik Lena dan ia tinggal bersama dengan Lena di sana. Keluar masuk mal mewah, kafé dan hotel sudah menjadi hal biasa bagi Nien. Ia tak canggung lagi jika jalan berduaan dengan Om Hendrik sambil mesra. Baginya Om Hendrik adalah pahlawannya yang telah banyak mewujudkan sebagian impiannya.
Mak Entin sampai kini pun tak tahu apa yang Nien lakukan. Wanita setengah baya yang lugu itu hanya tahu kalau anaknya bekerja keras hingga mendapatkan banyak uang. Setiap bulan Nien dapat membantu Ambunya dengan mengirimkan sejumlah uang untuk keperluan adiknya. Namun malam ini Nien bimbang hatinya setelah siang tadi ia menerima telepon dari Ambunya. Adikmu sakit, Nien. Ambu ingin kamu pulang dulu akhir minggu ini untuk menengok adikmu, itu yang dikatakan Ambu di telepon siang tadi.
Nien mendesah napas panjang. Dilihatnya Om Hendrik yang tengah asyik membaca surat kabar dengan serius. Mana mungkin Om Hendrik mengizinkannya pulang ke kampung? Setiap akhir minggu adalah waktunya bersama lelaki itu. Keluarga Om Hendrik semuanya tinggal di Bali, itu yang membuat Om Hendrik selalu pulang pergi Jakarta-Bali. Ragu ia untuk mengatakan semua ini padanya.
“Om…” panggil Nien lirih. Om Hendrik hanya melihat Nien sekilas lalu ia kembali membaca surat kabar.
“Ada apa, Nien?” tanya lelaki itu yang melihat Nien gelisah. “Kamu mau bilang apa? Apa uang sakumu kurang atau kamu mau beli sesuatu?”
“Tadi siang Ibuku telepon dan bilang kalau adikku sakit,” jawab Nien terbata.
“Kalau begitu suruh rawat saja dan kirimkan uang untuk biayanya. Kamu nggak bisa pulang, kan? Kamu harus sekolah dan menemani Om di sini,” jelas Om Hendrik.
Nien hanya mengangguk. Ia sudah yakin kalau Om Hendrik tak akan mengizinkannya pulang. Sekarang kebebasannya tergantung pada lelaki itu yang sudah memberikan segalanya. Tak ada yang bisa ia perbuat jika Om Hendrik bilang ‘tidak’. Nien pun tak dapat membantah karena ia tak pernah dilarang Om Hendrik untuk melakukan apa pun.
Oom Hendrik menarik tangan Nien. Didekapnya gadis itu erat. Dalam pelukannya Nien tak dapat berkutik menerima ciuman Om Hendrik yang penuh nafsu. Lelaki itu mulai membuka kancing baju Nien satu-satu. Dicumbunya tubuh gadis itu hingga ke belahan dadanya. Jemarinya mulai merayap di paha Nien yang mulus. Nien pasrah. Ia kini menikmati apa yang Om Hendrik lakukan padanya. Sebuah kenikmatan yang seharusnya belum ia lakukan di usianya yang masih belia.
******
Nien terburu-buru turun dari mobil Ford merah Om Hendrik. Diliriknya arloji mewah bertakhta mata berlian pemberian Om Hendrik. Beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Ia kesiangan karena semalam Om Hendrik tak henti mencumbunya hingga larut.
“Nien!” panggil Lena. Dengan lari kecil Lena menghampiri Nien dan mengiringi langkahnya. “Buru-buru benar lo?”
“Bentar lagi kan masuk, lo nggak lihat jam apa?” tanya Nien.
“Tenang aja sih, jam pertama kosong kok. Pak Jono nggak ada tuh!” jawab Lena.
“Yakin lo?” Nien mengerutkan keningnya. Lena hanya mengangguk sambil menaruh tasnya di atas meja. Nien bernapas lega mendengar penjelasan Lena. Tubuhnya bersandar lemas pada kursi.
“Gue pengen pulang kampung, Len…” ucap Nien dengan wajah sendu.
“Ada apa?” tanya Lena.
“Adik gue sakit. Tapi Om Hendrik nggak izinin gue. Dia bilang kirimin uang aja dan adik gue disuruh rawat di rumah sakit,” jawab Nien lemas.
Lena hanya diam tak dapat memberi jawaban apa pun. Dilihatnya wajah Nien yang muram. Ia mengerti perasaan Nien saat ini. Tak dapat dibayangkannya seandainya keluarganya tahu tentang apa yang dikerjakannya di Jakarta ini. Tentang asal uang yang selalu dikirimnya setiap bulan.
“Eh ya, sudah beli kado buat Sisi nanti malam?” tanya Lena mengalihkan pembicaraan. Nien hanya mengangguk. “Apa kadonya?”
“Cincin berlian!” jawab Nien singkat.
“What! Cincin berlian? Gue juga mau kalau ultah kadonya itu?” sahut Lena begitu semangat.
“Itu sih emang maunya lo!” bentak Nien dengan mata yang melotot pada Lena.
“Nyantai aja kali… nggak pakai melotot gitu!” sahut Lena sambil satu tangannya menutup wajah Nien. Mereka berdua tertawa. Nien menarik napas panjang. Hanya Lena yang begitu baik padanya selama ini. Mengajarinya banyak hal walau yang buruk sekalipun. Hingga perubahan Nien sekarang ini juga karena andil gadis itu.
Sampai pada malam Minggu ini, Nien sudah seperti upik abu yang berubah menjadi Cinderella. Ia datang ke pesta Sisi diantar sopir Om Hendrik dengan Ford merahnya. Gaun yang anggun berwarna biru membungkus tubuhnya. Sepatu high hells menapaki tiap langkahnya. Om Hendrik membelikannya sewaktu lelaki itu ke Paris minggu lalu.
Nien berjalan perlahan memasuki teras rumah mewah keluarga Sisi. Di dalam sana terdengar suara riuh para tamu yang sudah datang. Dilangkahkannya kaki jenjangnya dengan anggun ke ruang tengah di mana para tamu berkumpul. Semua mata tertuju padanya. Seakan melihat seorang putri datang. Nien tersenyum ramah pada semua tamu. Dari jauh Sisi dan Riana melihatnya penuh keheranan. Mereka mencoba menebak siapa tamu yang datang.
“Nien!”sahut Sisi dan Riana berbarengan.
“Beneran itu Nien? Cantik sekali!” puji Riana.
“Apanya yang cantik? Biasa aja kali, tetap aja cupu!” jawab Sisi yang tetap tak mau mengakui perubahan Nien.
“Dia Nien… bukan si cupu lagi sekarang!” bantah Riana.
“Berisik lo! Tuh dia kemari!” bisik Sisi.
Nien berjalan menghampiri Sisi dan Riana. Dua cewe ini masih terpukau dengan penampilan Nien. Dihampirinya Sisi dan Riana.
“Selamat ya, Si. Semoga panjang umur!” ucapnya dengan menyalami Sisi dan memberikan sebuah kotak kecil.
“Ya, thanks Nien,” jawab Sisi singkat dengan senyum yang dipaksakan.
“Nien?” Lena tiba-tiba muncul di hadapan Nien. “Ya ampun, cantik banget! Gue sampai nggak kenalin lo,” sambung Lena lagi. Sisi dan Riana saling pandang. Jelas sekali di wajah Sisi rasa tidak sukanya pada Nien. “Gabung ke sana yuk?” ajak Lena.
“Si, gue gabung sama mereka dulu yah!” ucap Nien pada Sisi. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
Di lihatnya Nien dan Lena berjalan menghampiri teman-teman yang lainnya. Sepanjang pesta ini kepala Sisi jadi pusing. Telinganya hanya mendengar pujian semua tamunya pada kecantikan Nien, pada penampilan gadis itu yang bak putri raja. Pujian yang seharusnya dilontarkan untuknya sebagai tuan rumah pesta.
“Cantiknya si Nien,” puji Riana lagi. Sisi mendengus kesal.
“Saatnya kita kerjain si upik abu!” ucap Sisi sinis. Riana hanya tersenyum mengikuti langkah Sisi. Dua gadis itu berdiri di tengah ruangan dan memberi tahu semua tamu untuk berkumpul.
“Perhatian semuanya, harap berkumpul sebentar!” teriak Riana. Semua mata tertuju pada Sisi dan Riana.
“Teman-teman aku ingin membuka sebuah kado pemberian sahabatku, Nien. Kado yang amat istimewa bagiku. Dan teman-teman harus tahu apa kado itu!” ucap Sisi sambil melirik sinis pada Nien. Lena dan Nien hanya saling pandang dengan senyum penuh arti.
Sisi membuka perlahan kotak kecil pemberian Nien. Semua mata tertuju pada mereka. Seketika suasana pesta menjadi tegang. Nien menghampiri Sisi dan Riana.
“Sini Si… gue bantu buka, yah!” Nien mengambil alih kotak kecil dari tangan Sisi, Gadis itu bengong melihat Nien yang merebut kotak kecil itu dari tangannya. Disobeknya perlahan kertas yang membungkusnya. Lalu kotak kecil itu dibuka.
“Si, hanya ini yang bisa gue kasih buat kado ultah lo. Semoga lo suka yah,” ucap Nien dengan senyuman manisnya.
Mata Riana terbelalak saat melihat sebuah cincin berlian di dalam kotak kecil itu. Sisi hanya melongo melihatnya. Semua tamu pun terpukau melihat isi kotak itu.
“Waw… teman-teman, lihat apa yang diberikan Nien untuk Sisi. Sebuah cincin berlian!” teriak Lena. Semua berdecak kagum.
Nien meninggalkan Sisi dan Riana yang masih termangu menatap cincin dalam kotak kecil itu. Sementara Nien dan Lena asyik berfoto dengan yang lain dan saling memuji.
“Skak mat!” bisik Lena di telinga Nien.
Nien tersenyum puas. Dia sudah dapat menebak apa yang akan Sisi dan Riana perbuat padanya di pesta. Si, ini baru awal, masih ada yang lainnya yang akan lo terima. Sudah saatnya lo berhenti mem-bully gue. Ini bukan balas dendam, tapi hanya sebuah pelajaran buat lo agar lebih menghargai orang lain walau nggak sederajat dengan lo!
Nien menarik napas panjang. Ada sebuah kemenangan yang ia rasakan saat ini. Kemenangan kalau dirinya telah bisa menyamai Sisi. Apa pun yang Sisi miliki kini ia bisa miliki juga. Senyum kembali mengembang di sudut bibirnya yang mungil. Tak disadarinya sopir Om Hendrik tengah memperhatikannya sedari tadi.
Sopir yang sudah bekerja lama pada lelaki itu ikut tersenyum. Digelengkannya kepala melihat pacar bosnya itu. Baru kali ini ia melihat cewe majikannya begitu lugu dan tidak materialistis seperti cewe sebelumnya. Seorang gadis belia yang sesungguhnya pantas menjadi anak bosnya itu.
Nien tetap tak tahu kalau dirinya diperhatikan sopir Om Hendrik. Ia tengah asyik mengingat kejadian tadi di pesta Sisi. Ada senyum yang mengembang di bibirnya. Senyum kemenangan yang baru sekali ini ia dapatkan. Senyum yang menggantikan segala kesedihannya atas semua perlakuan yang ia terima dari Sisi dan Riana.
Other Stories
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...