Bangkitnya Kembali Detektif Tiga Serangkai
Kringgg…!
Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. Ia panik mencari-cari sebuah benda berbentuk panjang dan di atas permukaan tersebut ada tombol bulat-bulat. Benda itu adalah remote TV.
Benda tersebut ternyata ada di kolong tempat tidur, kemungkinan besar remote itu ketendang Taufiq. Susah payah ia meraihnya. Begitu remote ada di tangan, cepat-cepat Taufiq memencet tombol POWER, dalam hitungan detik TV menyala. Taufiq mengganti channel TV yang khusus menayangkan berita ter-udapet di dunia.
Inilah kebiasaan Taufiq, setiap bangun tidur bukannya langsung mandi tapi malah nonton berita dulu.
“Pemirsa, sekitar pukul 4 dini hari ada seorang warga menemukan mayat terapung di Sungai Ciliwung. Dari identitas yang berhasil ditemukan polisi, mayat tersebut seorang perempuan berinisial N dan umur perempuan itu 17 tahun. Saat ini polisi menduga korban terjatuh ke sungai gara-gara mabuk, terbukti mulut korban bau minuman keras,” ujar reporter berita di televisi.
“Kasihan gadis itu, umurnya nggak beda jauh sama gue, masa depannya masih cerah, namun sayang kisah hidupnya berakhir tragis,” gumam Taufiq.
Entah mengapa tiba-tiba feeling Taufiq mengatakan gadis di berita tersebut meninggal bukan karena terjatuh akibat mabuk, melainkan dibunuh oleh seseorang. Dan di lubuk hatinya muncul keinginan menyelidiki siapa pelaku pembunuhan terhadap gadis itu.
Taufiq Hidayat, itulah namanya. Ia adalah anak yang baru beranjak dewasa, bahasa kerennya anak ABG. Umurnya 16 tahun, dan ia saat ini merupakan siswa di SMU Bakti Nusa Martapura. Ia juga ketua geng detektif yang bernama “Detektif Tiga Serangkai”.
Awal mula terbentuk tim detektif ini karena Taufiq mengidolakan Kapten Kosasih dan Polisi Gozali (Tokoh di novel S Mara GD) maka dari itu ia ingin menjadi polisi sekaligus detektif seperti Kapten Kosasih. Untung ia memiliki sahabat seperti Hambali dan Ilham, cita-cita mereka pun sama dengan dirinya. Sejak saat itu tercetuslah nama’Detektif Tiga Serangkai’ sebagai tim detektif mereka.
Di tengah perjalanan, Detektif tiga serangkai bertemu dengan Letnan Arif. Letnan Arif membutuhkan detektif untuk membantu menganalisa kasus yang ia tangani. Sebagai ketua tim, Taufiq merasa tertarik bekerja sama dengan Letnan Arif. Ia bersedia membantu Letnan menganalisa kasus-kasus kriminal.
Tepat di usia 3 tahun berjalannya ‘Detektif Tiga Serangkai,’ ayah Taufiq meninggal dunia. Ayahnya ingin Taufiq menjadi atlet bulu tangkis saja. Demi mewujudkan impian terakhir ayahnya, Taufiq bersedia mundur dari Detektif Tiga Serangkai.
Tapi berita di TV barusan membangkitkan hasratnya lagi untuk kembali menangani kasus. Ia bingung bagaimana caranya menangani kasus tersebut, sebab ia berada di Banjarmasin, sedangkan lokasi pembunuhan di Jakarta. Pak pengacara tidak mungkin mengizinkannya pergi ke Jakarta. Ya, Taufiq saat ini diurus oleh pengacara kepercayaan ayahnya, ibunya sudah pergi meninggalkannya sejak bayi.
Tiba-tiba ia teringat akan dua sahabatnya, Hambali dan Ilham. “Ya, gue harus menemui mereka. Siapa tau mereka bisa menemukan cara agar bisa pergi ke Jakarta. Menemui mereka hanya di sekolah.”
Mata Taufiq melirik ke arah jam weker. Jarum jam menunjukkan pukul 06.45. “Astaga, mampus bentar lagi jam 7. Gue bisa telat nih ke sekolah!” pekik Taufiq.
Tanpa banyak cincong, Taufiq langsung beranjak dari tempat tidur dan cepat-cepat ia menyeret langkahnya menuju kamar mandi.
***
Sesampai di sekolah, Taufiq bernapas lega, karena guru pelajaran jam pertama berhalangan hadir. Tentu saja hal ini membuat seluruh siswa di kelas senang. Taufiq takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia memanfaatkan jam kosong untuk ngobrol bersama 2 sahabatnya, Hambali dan Ilham. Kebetulan mereka sekelas dengan Taufiq, bahkan tempat duduk mereka tepat di belakang bangku Taufiq.
Taufiq membalikkan badan biar ngobrolnya enak. “Ham, Il… kalian tadi pagi lihat berita tentang ditemukan mayat seorang perempuan di Sungai Ciliwung, Jakarta nggak?” tanya Taufiq membuka pembicaraan.
“Nonton dong. Mayat itu inisialnya N kan? Saat ini polisi menduga kematian si N karena jatuh ke sungai itu gara-gara mabuk.”
“Feeling gue sih, gadis itu jatuh ke sungai bukan karena mabuk, tapi sengaja dibunuh.”
“Tadinya sih gue juga mikirnya gitu. Gue ingin menyelidiki kasus itu, tapi kan sekarang Detektif Tiga Serangkai udah bubar,” Hambali tertunduk lesu.
“Ah, kata siapa Detektif Tiga Serangkai bubar? Detektif Tiga Serangkai akan tetap ada sampai kita jadi kakek-kakek.”
“Maksud lo apa Fiq?”
“Kematian gadis berinisial N itu membangkitkan hasrat gue untuk gabung kembali di Detektif Tiga Serangkai. Kalian berdua masih mau kan menerima gue lagi?”
Senyum merekah dari bibir Hambali dan Ilham terlihat. “Tentu saja kami masih mau menerima lo. Lo itu ketua Detektif Tiga Serangkai, tanpa lo, Detektif Tiga Serangkai takkan bisa berjalan.”
Taufiq memeluk Hambali dan Ilham erat, sebagai ucapan terima kasih Taufiq pada mereka berdua. Ia sangat bersyukur Hambali dan Ilham menjadi sahabatnya. Mereka berdua baik, setia kawan, mempunyai visi dan misi sama dengannya, mereka juga memiliki jiwa pemaaf yang sangat tinggi.
Terbukti ketika Taufiq mengundurkan diri dari tim detektif, mereka tak mencari penggantinya, bahkan saat Taufiq kembali ingin gabung, mereka menyambut kehadiran Taufiq kembali dengan terbuka.
“Thanks ya bro. Nah, sekarang kita harus memikirkan gimana caranya agar kita bisa ke Jakarta untuk membantu penyelidikan kasus kematian gadis berinisial N itu.”
Taufiq, Hambali dan Ilham berpikir keras. Namun sesaat kemudian wajah Hambali cerah, “Aha, gue dapet ide!”
“Ide apaan?” tanya Taufiq penasaran.
“Gimana kalau kita kabur dari rumah terus kita ajakin Letnan Arief untuk ikut ke Jakarta juga. Gimana, keren nggak ide gue?”
Taufiq mengedarkan pandangan ke arah Ilham. Namun Ilham terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan buku tulis dan bolpen, lalu ia menuliskan sesuatu di buku itu. Ilham itu tunawicara, alias bisu, cara Ilham berkomunikasi dengan Taufiq dan Hambali adalah dengan menulis kata-kata di buku atau kertas.
Gue nggak setuju dengan kabur, yang ada nanti malah menambah kasus. Orang tua kita pasti kebingungan mencari kita.
Itulah kalimat yang ditulis Ilham.
“Gue setuju dengan apa yang dikatakan Ilham.”
“Kalau soal itu jangan khawatir, Bro! Sebelum kita pergi, kita ninggalin surat untuk orang tua kita, terus kita bilang kalo kepergian kita hanya untuk sementara dan jangan cari kita. Lagian kita pergi paling cuma seminggu, habis kasus kematian gadis berinisial N kelar, kita sudah balik lagi ke Banjarmasin. Kabur adalah jalan terbaik untuk pergi ke Jakarta,” Hambali mencoba meyakinkan hati Taufiq dan Ilham untuk menyetujui idenya.
“Terus sekolah kita gimana?”
“Lu lupa tiga hari lagi kan sekolah kita libur menjelang Ramadan. Daripada kita di sini nggak ada kerjaan, mending memanfaatkan libur dengan berpetualang di Jakarta.”
Taufiq manggut-manggut mendengar penjelasan Hambali. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Hambali, daripada kita di sini nggak ada kerjaan, mending memanfaatkan libur dengan berpetualang di Jakarta. Detik ini juga hatinya yakin untuk kabur dari rumah.
“Oke, gue setuju sama ide lo. Kalau lo gimana Il?”
Ilham hanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Hambali. Mereka bertiga pun saling berpelukan dan kemudian ke kantin bareng-bareng untuk merayakan bangkitnya kembali tim Detektif Tiga Serangkai.
Other Stories
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...