Akibat Salah Gaul

Reads
2.6K
Votes
1
Parts
19
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Rencana Kabur Berjalan Lancar

Sepulang dari sekolah, tim Detektif Tiga Serangkai dikejutkan oleh kehadiran Letnan Arif yang tiba-tiba ada di teras rumah Taufiq. Di satu sisi mereka heran dan bertanya-tanya untuk apa Letnan Arief datang ke rumah Taufiq? Tapi di sisi lain mereka senang, karena mereka tak perlu repot-repot datang ke kantor Letnan Arief untuk menyampaikan berita yang tadi pagi mereka bicarakan di sekolah.
Kehadiran Letnan Arief membuat Hambali dan Ilham mengurungkan niat untuk langsung pulang ke rumah masing-masing, kebetulan rumah mereka berdua dekat dengan rumah Taufiq. Mereka pun memutuskan mampir dulu di rumah Taufiq, sambil ngobrol-ngobrol sama Letnan Arief.
“Let, tumben kamu ke sini, ada apa?” tanya Taufiq.
Jika biasanya seorang anak berbicara pada polisi memakai bahasa Anda-saya. Tapi Taufiq berbicara pada Letnan Arif menggunakan bahasa aku-kamu. Hal itu karena Letnan Arif sendiri yang meminta Taufiq seperti itu. Kata Letnan sih umurnya masih muda sekitar 27 tahun. Ia ingin percakapan lebih akrab. Taufiq langsung menyetujuinya. Taufiq sudah menganggap Letnan seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kedatanganku ke sini untuk membujukmu kembali lagi menjadi ketua tim Detektif Tiga Serangkai. Aku memerlukan jasa detektif saat ini, ada kasus baru yang sangat menarik.”
Taufiq tersenyum simpul. “Tanpa Letnan membujuk pun aku sudah memutuskan untuk kembali lagi jadi detektif. By the way kasus apa nih yang sedang Letnan tangani?”
“Kalian tadi pagi nonton berita tentang mayat yang ditemukan warga di Sungai Ciliwung nggak?”
“Nonton dong, emang ada apa dengan kasus itu?”
“Gini, tadi aku di telepon sahabat korban yang berinisial N itu, dia minta aku mencari tahu siapa pembunuh gadis berinisial N. Dia sangat yakin sahabatnya itu meninggal bukan karena mabuk, tapi dibunuh. Kalian bisa nggak ikut aku ke Jakarta untuk mencari tahu pelakunya?”
“Tentu bisa, Let. Malah nanti sore kami berencana ke kantor Letnan untuk ngajakin ke Jakarta, eh ternyata Letnan ngajakin kami duluan,” sahut Hambali.
“Wah, syukurlah kalian setuju. Kalau begitu sekarang aku pesan tiket pesawat.”
“Kira-kira kapan kita berangkat ke Jakarta?”
“Besok.”
“Oke, kalau gitu aku pamit dulu ya?” Letnan Arif pun pergi meninggalkan rumah Taufiq.
“Fiq, gue sama Ilham juga pamit pulang ya? Kami mau mengemasi barang-barang buat dibawa ke Jakarta esok.”
“Sip, sampai jumpa esok ya. Dah…” ujar Taufiq sambil melambaikan tangan melepas kepergian 2 sahabatnya itu.
Baru beberapa menit kepergian Hambali dan Ilham, pak pengacara datang. Dahi Taufiq berkerut bingung dengan kedatangan pak pengacara. Biasanya beliau datang itu akhir bulan, tapi kali karena untuk memberikan uang bulanan pada Taufiq.
“Om, tumben datang? Ini kan baru tanggal 15, belum akhir bulan?”
“Kedatangan saya ke sini ingin memberitahumu bahwa nanti malam Om berangkat ke luar negeri karena ada kerjaan di sana. Kamu nggak apa-apa kan Om tinggal ke luar negeri?”
“Nggak apa-apa, Om.”
Dalam hati Taufiq gembira karena dengan kepergian pak pengacara ke luar negeri, itu artinya rencana kabur semakin berjalan lancar. Benar kata orang, niat baik pasti didukung Allah dan dimudahkan jalannya.
Sebenarnya kabur itu bukan niat baik, tapi tujuan Taufiq menyelidiki kasus kematian gadis berinisial N itu tulus ingin membantu orang. Mungkin itulah mengapa Allah melancarkan kepergiannya ke Jakarta.
Pak pengacara memberikan kartu atm pada Taufiq. “Fiq, nih kartu atm buat kamu. Kamu bisa menggunakannya selama Om pergi, tapi jangan boros! Oh ya kalau terjadi apa-apa sama kamu, jangan sungkan-sungkan telepon saya. Saya akan langsung pulang ke Indonesia.”
“Sip, bos!”
“Ya, sudah kalau gitu saya pulang dulu ya! Jaga dirimu baik-baik dan inget pesan yang Om sampaikan tadi.”
Usai berkata demikian, pak pengacara pergi meninggalkan rumah Taufiq. Taufiq melangkah riang menuju kamarnya. Ia ingin segera mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke Jakarta esok hari.
Drrrttt… drttt
HP di saku celana Taufiq bergetar, langkahnya terhenti lalu tangan kanannya merogoh saku celana untuk meraih benda tersebut. Di layar HP tertulis 2 pesan diterima.
From : Hambali
Fiq, gue ada kabar gembira. Bonyok gue pergi ke luar negeri selama 14 hari, jadi gak perlu susah payah kabur.
Membaca sms dari Hambali membuat senyum di bibirnya semakin mengembang. Jelas saja, rencana kaburnya berjalan dengan sempurna tanpa ada hambatan.
“Ya Allah… terima kasih karena telah mempermudah jalanku untuk pergi ke Jakarta.”
Ia kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya. Sesampai di kamar ia langsung menuju lemari pakaiannya. Ia mempertimbangkan pakaian yang mana harus dibawa ke Jakarta esok hari. Berhubung di Jakarta hanya sebentar, ia mengambil 5 kaos, 2 kemeja, 3 celana jeans, 7 lembar celana dalam, handuk kecil dan 4 celana pendek. Semua pakaian yang ia ambil itu dimasukkan di dalam tas ransel besar.
Tak lupa juga membawa sabun, sikat gigi, pasta gigi dan obat kumur-kumur. Ia memasukkan barang-barang itu ke plastik dulu sebelum dimasukkan ke tas ransel besar.
Usai mengemasi pakaian, Taufiq merebahkan tubuh ke pulau kapuk tercinta. Selama 7 hari nanti ia tak kan bisa tidur di pulau kapuknya ini. Ia tak pernah membayangkan akan pergi ke ibu kota Indonesia, Jakarta.
Drrrttt… drrrttt
HP Taufiq kembali bergetar. Secepat kilat ia menyambar HP dan membaca SMS yang masuk.
From : Letnan Arief
Fiq, aku sudah dapet 4 tiket pesawat untuk keberangkatan kita ke Jakarta esok hari. Jadwal keberangkatannya jam 8 pagi, jadi besok kalian bertiga langsung datang ke Bandara Syamsuddin Noor aja ya? Harus sampai di bandara jam 6 pagi.
Dengan segera Taufiq membalas SMS itu.
To : Letnan Arief.
Oke, sip. Beres. Sampai jumpa esok hari.
Kemudian ia mem-forward sms dari Letnan Arief untuk dikirim ke Hambali dan Ilham.
Tak sabar rasanya menunggu esok hari, menunggu tiba di kota metropolitan, kota yang selama ini dilihatnya melalui layar kaca.
“Jakarta, I’m Coming!” teriak Taufiq sekeras-kerasnya. Ia tak peduli teriakannya tersebut mengganggu tetangga atau tidak. Yang penting hatinya saat ini sangat bahagia. Tapi tiba-tiba ia teringat ayahnya.
“Ayah, maafkan aku yang kembali menjadi detektif. Jiwaku itu menjadi detektif, bukan menjadi atlet bulu tangkis.”
Ia mencoba memejamkan mata, siapa tahu bisa melihat Kota Jakarta dalam mimpi, jadi esok tak kaget lagi melihat melalui matanya sendiri.

Other Stories
Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Download Titik & Koma