Akibat Salah Gaul

Reads
2.6K
Votes
1
Parts
19
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Di Kediaman Sahabat Korban

 Perjalanan dari Kalimantan Selatan ke Jakarta hanya memakan waktu sekitar 60 menit. Begitu Letnan Arief dan Detektif Tiga Serangkai tiba di Bandara Soekarno Hatta, mereka langsung menaiki taksi argo untuk sampai di kediaman sahabat korban. Sahabat korban itulah yang mengundang mereka untuk menyelidiki kematian gadis berinisial N.
Sepanjang perjalanan, Taufiq hanya diam sambil mendengarkan musik melalui earphone yang menempel di telinganya. Matanya terus terpaku pada pemandangan indah yang ada di balik kaca mobil taksi. Ia kagum dengan Kota Jakarta, kota yang selama ini hanya ia lihat dilayar kaca, kini bisa ia lihat langsung melalui matanya sendiri. Jakarta memang benar-benar keren, dipenuhi gedung-gedung bertingkat.
Tanpa terasa mobil taksi yang ditumpangi Taufiq bersama Letnan Arief dan 2 sahabatnya itu berhenti.
“Pak, kok berhenti?” tanya Letnan Arief.
“Sudah sampai tujuan, Pak.”
Taufiq tercengang ketika taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah mewah, seperti rumah-rumah di sinetron Indonesia. Rumah ini adalah rumah terbesar yang dilihat Taufiq selama hidupnya. Jelas saja, di Martapura rumah penduduk kebanyakan masih rumah panggung, rumah kayu.
“Pak, Anda yakin di sini alamat yang saya tuju?” lagi-lagi Letnan Arief bertanya pada sopir taksi.
“Ya, di sini tempatnya. Noh, liat tulisan di pagar Jl. Sindang Lorong M No. 306 Jakarta Utara,” jawab sopir taksi sambil menunjuk tulisan yang ada di pagar rumah itu.
Mereka semua manggut-mangut lalu turun dari taksi. Untung barang-barang yang mereka bawa nggak banyak, hanya berupa 1 tas ransel saja, maka saat turun dari taksi nggak repot nurunin barang dari bagasi. Letnan Arief menyerahkan uang selembar seratus ribuan.
Sopir taksi pun kembali melajukan mobil taksinya.
Ting… tong!
Terdengar suara bel setelah Letnan Arief memencetnya. Namun si empunya rumah belum muncul juga untuk membukakan pagar. Taufiq celingak-celinguk di sekitar rumah mewah itu, dari tadi ia tak lihat satpam. Biasanya kan rumah mewah pasti ada satpamnya, minimal 2 orang. Wah, patut dicolongi. Eh, curigai ding.
Setengah jam telah berlalu, si empunya rumah belum juga muncul dan membukakan pintu. Ya, udah deh Taufiq jongkok aja. Capek berdiri terus. Ia melirik ke arah Hambali, dia lagi sibuk mondar-mandir nggak jelas bikin dirinya tambah puyeng aja.
Tak lama kemudian muncullah seorang gadis cantik sekitar umur 17 tahunan dan berambut pendek dari luar pagar. Taufiq langsung sujud syukur menirukan gaya finalis-finalis di tivi di ajang pencarian bakat karena lolos. Sujud karena bersyukur akhirnya ada juga yang muncul.
“Maaf, kalian siapa ya?” tanya gadis itu setelah membukakan pagar.
“Perkenalkan saya Letnan Arief, dan mereka bertiga tim Detektif Tiga Serangkai. Mereka yang akan menyelidiki kasus kematian gadis berinisial N. Apakah Anda Lena, sahabat korban.”
“Ya betul, saya Lena. Mari silakan masuk!”
Taufiq menatap gadis cantik itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Waw, bodinya langsing banget, wajahnya putih, bersih dan cantik. Terbersit pertanyaan di hati Taufiq, “Cewek itu udah punya pacar belum ya?”
Pertanyaan itu urung diutarakan Taufiq. Ia sadar tujuannya ke Jakarta adalah menyelidiki kasus kematian, bukan untuk mencari cinta sejati.
Hambali mengibaskan tangannya di depan mata Taufiq. “Woy, ngelamun aja lo. Tuh, kita disuruh masuk!” teriak Hambali. Taufiq langsung tersadar dari lamunannya.
Lena melangkah kakinya untuk memasuki rumah. Letnan Arief dan Tim Detektif Tiga Serangkai mengekor di belakang Lena. Halaman rumahnya cukup luas, jadi untuk sampai ke dalam rumah memakan waktu yang cukup lama. “Huft, bakal pegel deh kaki gue. Siap-siap ke tukang urut habis dari sini,” batin Taufiq mengeluh dalam hati
Akhirnya mereka sampai juga di dalam rumah Lena. Waw, hanya satu kata yang mampu terucap dari mulut Taufiq. Dalam rumahnya sangat menakjubkan. Dindingnya dilapisi emas dan perabotannya merek ternama.
“Mari silakan duduk!”
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu.
“Mbak Lena… waktu kami di Jakarta nggak banyak, jadi bolehkah kami langsung nanya-nanya tentang korban pada Anda?”
“Oh, silakan. Saya ingin kasus ini cepat selesai dan pembunuh Nindy ditangkap.”
Taufiq mengedipkan sebelah matanya saat memandang Letnan Arief. Itu artinya Taufiq memberikan isyarat kepada Letnan Arief, bahwa Letnan duluan yang menginterogasi Lena.
“Nindy? Apakah temanmu yang meninggal itu bernama Nindy?”
“Iya, Pak.”
“Berapa lama Anda mengenal Nindy?”
“Sekitar 3 bulanan.”
“Bisakah Anda menceritakan awal pertemuan Anda dengan Nindy sampai akhirnya Nindy meninggal?”
“Begini ceritanya…”
Lena mulai bercerita, Letnan Arief dan Taufiq mendengarkan perkataan Lena dengan saksama, bahkan Hambali merekam ucapan Lena melalui handphone-nya.
“Begitu Pak, ceritanya.”
Mulai dari Nindy masuk ke sekolahnya dengan penampilan cupu, di-bully sama Sisi dan Riana, curhatan Nindy yang ingin jadi orang kaya, sampai dirinya mengenalkan Nindy pada Om Hendrik semua sudah diceritakan Lena secara jelas dan detail.
Taufiq manggut-manggut, otaknya sudah bisa menangkap siapa saja orang yang masuk dalam daftar calon tersangka pembunuhan Nindy. Letnan Arif mengedipkan mata sebelah kiri pada Taufiq. Ia mengerti apa yang dimaksud Letnan. Kalau Letnan Arif sudah mengedipkan mata, itu artinya dia kehabisan pertanyaan dan meminta Taufiq untuk menginterogasi Lena.
“Sebelum kematian Nindy, apakah Anda merasakan firasat buruk terjadi pada Nindy?”
Lena hanya menggeleng. Taufiq menarik napas sejenak lalu ia mengembuskannya secara perlahan. Kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya. “Anda mengetahui kematian Nindy dari mana?”
“Saya nonton berita pagi-pagi di tv, eh ternyata ada berita tentang warga menemukan mayat di Sungai Ciliwung, begitu tim cameramen menyorot gambar mayat itu, hati saya teriris pilu dan yakin bahwa mayat itu Nindy. Saya langsung datang ke TKP, dan ternyata apa yang saya yakini itu benar.”
Butiran bening keluar dengan sendirinya dari pelupuk mata Lena. “Saya benar-benar nggak nyangka, Nindy pergi secepat ini,” ujar Lena terisak.
Entah mengapa hati Taufiq mengatakan air mata yang dikeluarkan Lena itu hanya air mata buaya, alias menangisnya itu pura-pura aja.
“Malam sebelum Nindy meninggal, Anda berada di mana?”
“Saya ada di rumah, kok.”
Dari tatapan mata Taufiq tahu bahwa Lena saat ini sedang berbohong. Hati Taufiq ingin sekali memotret wajah Lena melalui HP-nya. Dengan meminta izin sebelumnya, Taufiq lalu memfoto Lena dengan kamera HP-nya.
“Bolehkah saya minta alamat Sisi dan Riana?”
Lena menyebutkan alamat lengkap.
Taufiq mengetik dengan cepat apa yang dikatakan Lena di HP-nya.
“Saya rasa interogasi cukup sampai di sini. Terima kasih atas kesediaan Anda memberikan keterangan pada kami. Kalau begitu kami mohon undur diri.”
“Oke, terima kasih kembali. Oh ya, selama kalian di Jakarta, kalian akan tinggal di mana?”
“Kalau soal itu gampang, kami bisa menyewa losmen atau penginapan kecil yang ada di dekat TKP.”
“Daripada kalian menyewa losmen, lebih baik kalian menginap di rumah saya yang lama aja. Rumahnya masih kosong kok. Tunggu sebentar!”
Lena pun pergi ke belakang, tak lama kemudian kembali ke ruang tamu dengan membawa kunci dan secarik kertas. Kertas itu diberikannya pada Letnan Arief. “Ini kunci rumah saya yang lama. Alamatnya ada di kertas ini.”
“Nggak usah, terima kasih,” Letnan Arief menolak tawaran dari Lena.
“Yang mengundang kalian datang ke Jakarta itu kan saya, jadi saya mohon dengan sangat tolong terima ini,” Lena memohon..
Letnan Arief jadi tak tega melihatnya. Hati Letnan Arief masih bimbang memutuskan menerima tawaran Lena atau tidak.
Taufiq menyenggol lengannya. Letnan Arief menoleh ke arah Taufiq, lalu Taufiq membisikkan sesuatu ke telinga Letnan Arief, “Udah, terima aja tawaran dari Lena, lumayan tahu. Penginapan di Jakarta itu mahal-mahal. Dengan tinggal di rumah lama Lena, kita tak perlu mengeluarkan uang untuk biaya penginapan.”
“Benar juga ya apa yang dikatakan Taufiq,” batin Letnan Arief.
Atas saran dari Taufiq akhirnya Letnan Arief memutuskan untuk menerima tawaran Lena. “Baiklah, saya dan tim detektif bersedia tinggal di rumah lama Anda selama kami di Jakarta. Terima kasih banyak.”
Letnan Arief menerima kunci dan kertas yang diberikan oleh Lena.
Mereka pun berdiri dan melangkah keluar rumah. Namun sampai di halaman rumah mereka berpapasan dengan seorang ibu cantik dan berpakaian modis. Ia berpikir ibu itu adalah mamanya Lena. Taufiq mengedarkan pandangannya pada Letnan Arif mengisyaratkan “Apakah kita perlu menginterogasi Ibu itu?” namun Letnan Arif menggeleng cepat sambil memegang perutnya.
Ia mengangguk tanda mengerti, Letnan memegang perut itu tandanya sudah lapar. Lebih baik cari makan dulu.
***

Other Stories
Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Download Titik & Koma