Akibat Salah Gaul

Reads
2.6K
Votes
1
Parts
19
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Menganalisa Calon Tersangka

Pukul 4 sore, Letnan Arief dan tim Detektif Tiga Serangkai telah berada di sebuah rumah lama milik Lena. Rumahnya sih nggak sebesar dan semewah rumah baru milik Lena, tapi bagi mereka itupun sudah cukup. Cukup buat ditempati sementara selama mereka tinggal di Jakarta, mengusut kematian Nindy.
Mereka membersihkan rumah ini dulu, terus mereka memasukkan barang-barang milik mereka ke kamar. Setelah semua beres, mereka duduk santai di halaman belakang rumah ini.
“Setelah kita menginterogasi Lena, menurut kalian gimana?” tanya Letnan Arief pada tim detektif.
“Gimana apanya?” tanya Taufiq.
“Maksudku apa kalian sudah menangkap calon tersangka kasus Nindy dari ucapan Lena?”
“Dari ucapan Lena aku menyimpulkan ada 3 orang calon tersangka pembunuh Nindy, mereka adalah Sisi, Riana, dan Om Hendrik. Tapi dari ketiga nama yang kusebutkan, aku yakin Om Hendrik lah pembunuh Nindy yang sebenarnya,” sahut Hambali.
“Apa yang membuatmu yakin bahwa Om Hendrik adalah pembunuh Nindy?”
“Kan tadi kata Lena, Nindy wanita simpanan Om Hendrik. Nindy rela jadi wanita simpanan karena ingin kaya biar nggak di-bully Sisi dan Riana lagi. Bisa aja kan Nindy minta uang dengan jumlah yang sangat besar sama Om Hendrik, tapi Om Hendrik enggan memberi dan akhirnya membunuh Nindy,” Hambali menuturkan analisanya secara panjang lebar.
Taufiq sedang berpikir keras. “Perkataan Hambali ada benarnya juga. Tapi entah mengapa hatiku justru mengatakan Lena lah pembunuh Nindy yang sebenarnya.”
“Apa yang membuatmu mencurigai Lena sebagai pembunuh Nindy? Rasanya nggak mungkin Lena pelakunya, Lena kan sahabat Nindy,” Hambali menimpali perkataan Taufiq.
“Aku sendiri juga nggak tahu mengapa hatiku yakin Lena yang membunuh Nindy. Dalam kasus pembunuhan siapapun bisa jadi pembunuh. Entah jadi pembunuh karena disengaja ataupun tidak.”
“Jika Lena yang membunuh Nindy, apa motifnya? Dan mengapa pula ia meminta kita untuk menyelidiki kasus kematian Nindy?”
“Bisa jadi itu hanya taktik Lena agar tidak dicurigai sebagai pembunuh.”
Tiba-tiba Ilham menarik lengan baju Taufiq. Taufiq menoleh ke samping. “Ada apa Il? Apakah kamu ingin menyampaikan sesuatu pada kami?”
Ilham melakukan gerakan bahasa isyarat yang artinya, “Tunggu sebentar!”
Ilham mengeluarkan handphone canggih keluaran terbaru dari tas kecil yang selalu melingkar di pinggangnya. Mata Taufiq melotot, “Il, sejak kapan kamu ganti HP?”
Ilham menuliskan sebaris kata-kata pada kertas kecil.
Ini bukan HP-ku. Aku nemuin HP ini di rumah Lena. Aku ingin menunjukkan HP ini pada kalian, makanya aku bawa pulang.
Mata Taufiq berbinar. HP yang dibawa Ilham pasti bisa memberikan petunjuk tentang pembunuh Nindy. Taufiq menyambar HP itu kemudian coba membukanya, ternyata kuncian HP itu tidak terlalu rumit.
Di layar HP tertulis Hendrik Prakoso. “Ini pasti HP-nya Om Hendrik.”
“HP Om Hendrik kok bisa ada di rumah Lena ya?” tanya Letnan Arief.
“Coba deh Fiq, kamu baca sms-sms yang ada di HP Om Hendrik itu!” perintah Hambali.
Taufiq segera menuruti perintah Hambali. Pesan paling atas itu dari Nindy, pada jam 19.00, 11 jam sebelum Nindy meninggal.
Ia membaca pesan dari Nindy.
Nindy : Om, aku lagi perlu duit 500 juta bisa nggak transfer ke atmku malam ini juga?”
Hendrik Prakoso : Kayaknya nggak bisa transfer deh. Bisa nggak kalau nemuin aku untuk mengambil uang cashnya?
Nindy : Oke, di mana kita ketemu?
Hendrik Prakoso : Di Apollo Bar Jakarta jam 8 malam.
“Tuh, kan bener feeling gue, Nindy itu minta uang sama Om Hendrik dalam jumlah yang besar. Tapi dia enggan memberinya, makanya Nindy dibunuh dengan cara ngajak ke diskotik. Di sana Nindy disuruh minum-minuman keras sampai mabok,” ujar Hambali menepuk dada bidangnya.
Tapi Taufiq masih belum yakin pembunuh Nindy adalah Om Hendrik. Hatinya tetap meyakini bahwa pembunuh Nindy yang sebenarnya itu Lena.
“Belum tentu. Untuk memastikan Om Hendrik itu pembunuh Nindy atau bukan, kita datang ke Apollo Bar sekarang juga! Aku yakin di sana akan menemukan petunjuk yang lebih kuat,” ucap Letnan Arief bersemangat.
Taufiq melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore. “Let, jam segini kayaknya Bar belum buka deh. Biasanya kan bar, diskotik itu bukanya malam hari.”
Letnan Arief hanya menyengir memamerkan giginya yang putih sambil menepuk jidatnya sendiri. “Oh iya aku lupa. Ya udah kita ke bar ntar malam aja sekitar jam 9.”
“Sekarang lebih baik kita tidur dulu aja. Hari ini kita belum tidur sama sekali. Badanku pegel semua akibat perjalanan dari Kalsel ke Jakarta,” timpal Taufiq
“Setuju gue apa yang dikatakan Taufiq!”
Taufiq geleng-geleng kepala, Hambali nggak di Kalsel atau pun di Jakarta sama saja nggak bisa dengar kata tidur. Bawaan dari lahir kali ya doyan tidur.
Akhirnya tim detektif masuk ke kamar masing-masing. Di rumah lama milik Lena ini ada 4 kamar. Jadi mereka tidur nggak perlu berdesak-desakan.

Other Stories
Jjjjjj

ghjjjj ...

The Ridle

Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Download Titik & Koma