Siapa Wanita Itu?
Sopir taksi menghentikan laju mobil tepat di depan rumah mewah yang di samping pagar tertulis “Jalan Jenderal Sudirman, 12190.”
“Maaf Pak, sudah sampai di alamat yang sampean tuju!” ujar sopik taksi berbicara dengan logat Jawa yang kental.
Taufiq kembali membaca SMS yang dikirimkan Lena untuk memastikan alamat rumah yang di depannya ini sama seperti alamat yang dituliskan Lena. Dan ternyata sama. “Kayaknya rumah itu memang rumahnya Om Hendrik deh. Nih, tulisan yang ada di samping pagar rumah itu sama seperti alamat yang di-SMS Lena,” ucap Taufiq seraya mengacungkan HP-nya di depan Letnan Arief.
“Berarti rumah Hendrik dekat dengan rumah yang kita tempati dong?” tanya Letnan Arief.
“Oh iya ya.”
Taufiq baru menyadari bahwa rumah Om Hendrik dekat dengan rumah lama Lena, rumah yang saat ini mereka tempati selama di Jakarta.
“Ya udah yuk kita turun!” kata Hambali.
Taufiq setuju. Detektif tiga serangkai duluan yang turun dari mobil taksi sebab Letnan Arief harus membayar taksi terlebih dahulu.
“Waw, menakjubkan,” gumam Taufiq. Taufiq terpaku ketika melihat rumah yang ada di depannya. Harus ia akui rumah yang ada di depannya ini 3 kali jauh lebih besar dan lebih mewah dibandingkan rumah Lena.
“Hmmm… pantesan Nindy rela jadi wanita simpanan Om Hendrik, Om Hendrik sangat kaya raya. Lagi-lagi harta dapat membuat akal sehat tidak berfungsi,” batin Taufiq.
Letnan Arief yang sudah turun dari taksi segera memencet bel yang menempel di pagar rumah mewah ini.
Ting… tong!
Tak perlu menunggu waktu lama, pintu pagar sudah terbuka. Orang yang membuka pagar adalah seorang bapak berusia sekitar 40 tahunan berbadan besar dan memakai topi dengan tulisan SECURITY.
“Maaf kalian siapa dan mencari siapa?” tanya bapak yang juga berkumis tebal itu.
“Apa benar ini rumah Hendrik Prakoso?” Letnan Arief bertanya balik ke security itu.
“Iya, benar. Kalian siapa?”
“Saya Letnan Arief dari kepolisian dan mereka tim detektif. Kami mencari Hendrik Prakoso. Apakah dia ada di rumah?”
“Wah, sayang sekali Pak Hendrik sedang pergi ke luar negeri. Ada perlu apa kalian mencari beliau?”
“Kami sedang menyelidiki kematian gadis berinisial N, Pak Hendrik beserta istrinya kami curigai sebagai tersangka pembunuhan gadis tersebut. Maka dari itu kedatangan kami ke sini ingin menginterogasi mereka.”
Letnan Arief bernapas sejenak, kemudian ia kembali melanjutkan ucapannya. “Kalau istri Pak Hendrik ada di rumah? Kapan Pak Hendrik pergi ke luar negeri?”
Dahi security itu berkerut. Beliau tampak bingung dengan pertanyaan Letnan Arief. “Dia juga tidak ada di rumah. Pak Hendrik pergi ke luar negeri dari hari Jumat siang.”
“Hari Jumat siang? Berarti Pak Hendrik pergi ke luar negeri sebelum kematian Nindy? Terus kenapa HP Hendrik ada di rumah Lena?” beberapa pertanyaan berkecamuk di otak Letnan Arief.
“Wah, sayang sekali. Kalau begitu bisakah Anda memberikan keterangan tentang Pak Hendrik kepada kami? Keterangan Anda sangat membantu penyelidikan kasus ini.”
Security itu tampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Letnan Arief, “Hmmm… gimana ya? Saya takut…” ucapannya menggantung.
Letnan Arief tersenyum simpul. Ia paham dengan apa yang dirasakan bapak security itu. “Bapak tenang aja. Keterangan yang Bapak sampaikan pada kami akan kami rahasiakan.”
“Baiklah, mari ikut saya!” pintanya.
Letnan Arief dan Detektif Tiga Serangkai mengikuti langkah security yang berkumis tebal itu. Mereka sendiri tak tahu akan dibawa ke mana. Namun akhirnya langkah mereka terhenti di depan pos security.
“Kita ngobrol di sini aja ya? Mari silakan masuk!”
Seperti biasa Letnan Arief menginterogasi orang. “Kalau saya boleh tahu, Bapak bekerja di rumah Pak Hendrik sudah berapa lama?” Letnan Arief memulai pertanyaan pertamanya.
“Sudah hampir delapan tahunan.”
“Apakah sejak awal Anda bekerja, Pak Hendrik sudah kaya raya?”
“Ya.”
“Apa Anda tahu pekerjaannya?”
“Yang saya tahu Pak Hendrik salah satu anggota DPR, dan beliau juga mempunyai perusahaan besar di berbagai kota di Indonesia, tapi saya nggak tahu perusahaan apa yang dikelolanya”
“Tadi Bapak mengatakan bahwa saat ini istrinya Pak Hendrik tidak ada di rumah, apakah ia ikut ke luar negeri juga?”
“Sebenarnya Pak Hendrik sudah tidak mempunyai istri. Beliau sudah lama bercerai dengan istrinya.”
Letnan Arief mengernyitkan dahi, “Kalau Pak Hendrik sudah lama bercerai dengan istrinya, siapa wanita yang datang ke Apollo Bar menemui Nindy?” hati Letnan Arief pun bertanya-tanya.
“Sudah berapa lama Pak Hendrik bercerai dengan istrinya? Dan apakah dia masih berhubungan sama istrinya sampai saat ini?”
“Sudah 5 tahun mereka bercerai. Setahu saya sih sudah tidak berhubungan lagi, soalnya setelah bercerai, istrinya Pak Hendrik pulang ke Amerika.”
Lengan Letnan Arief disenggol oleh Taufiq. Ia melihat Taufiq mengedipkan mata sebelah kanan. Letnan Arief paham kalau Taufiq ingin mengajukan pertanyaan untuk bapak security itu.
Taufiq memperlihatkan foto yang diambilnya sewaktu di Apollo bar tadi, “Pak, apakah foto istrinya Om Hendrik yang ini?” tanya Taufiq. Jari telunjuk Taufiq menunjuk foto wanita di sebelah Nindy.
“Bukan. Istrinya Pak Hendrik itu gendut, wajahnya kebule-bulean dan nggak tinggi.”
Senyum mengembang terpancar di bibir Letnan Arief dan tim detektif. Mereka sudah menemukan titik terang. Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di otak mereka sudah terjawab. Wanita yang datang ke Apollo Bar itu bukan istri sah Hendrik, melainkan wanita yang membenci Nindy. Wanita itu mengaku sebagai istri sah Hendrik agar lebih mudah membunuh Nindy. Tapi ada beberapa pertanyaan lagi yang mengganjal di otak Letnan Arief dan Taufiq, “Siapa wanita itu? Mengapa dia bisa membalas pesan Nindy dari HP Hendrik? Mengapa HP Hendrik ditemukan di rumah Lena? Apakah wanita itu ada hubungannya dengan Lena?”
Bapk security mengibaskan tangannya ke muka Taufiq dan Letnan Arief, “Kalian kok bengong?”
Mereka tersadar dari lamunannya. “Nggak apa kok.”
Letnan Arief melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jarum jam telah menujukkan pukul setengah 1 dini hari. “Hari sudah mulai malam, kami mohon undur pamit dulu. Terima kasih atas kesediaan Bapak memberikan keterangan pada kami. Keterangan Bapak sangat membantu penyelidikan ini.”
Letnan Arief dan security itu saling mengulurkan tangan. “Sama-sama, saya senang bisa membantu kalian.”
Mereka pun pergi meninggalkan rumah Hendrik Prakoso. Berhubung sekarang sudah hampir jam 1 dini hari, mereka memutuskan pulang ke rumah jalan kaki saja. Jam segini mana ada taksi lewat. Lagian rumah mereka dekat dengan rumah ini.
Other Stories
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...