Akibat Salah Gaul

Reads
2.6K
Votes
1
Parts
19
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bukan Sisi Dan Riana

Hari kedua, Detektif Tiga Serangkai dan Letnan Arief berada di Jakarta Selatan, mereka mendatangi kediaman Sisi dan Riana. Mereka ingin menginterogasi keduanya, sebab menurut keterangan yang diberikan oleh Lena, Sisi dan Riana adalah 2 kakak beradik yang membenci Nindy. Ada kemungkinan Sisi dan Riana-lah tersangka pembunuh Nindy.
Rumah Sisi dan Riana sama mewahnya dengan rumah Lena. Namun sayang rumah Sisi dan Riana berada di dalam gang dan sulit ditemukan. Tadi saja waktu mereka menuju rumah ini sempat nyasar. Gara-gara sopir taksi yang membawa mereka tidak tahu alamat yang disebutkan oleh Lena. Tapi untungnya sopir taksi bertanya pada seorang wanita paruh baya, wanita itulah yang memberitahukan di mana letak rumah Sisi dan Riana.
Tangan Taufiq langsung memencet bel yang menempel di pagar rumah.
Teng… tong!
Seorang gadis cantik membukakan pagar. Mata Taufiq tak berkedip melihat wajah gadis itu. Ya, ia terpesona akan kecantikannya. Gadis itu berwajah oval, matanya sipit, memiliki tahi lalat di dekat mata, alisnya tebal, hidungnya mancung, kulitnya putih, tanpa ada jerawat sama sekali dan memiliki lesung pipi yang membuat gadis itu terlihat sangat manis jika tersenyum.
Ketika mata Taufiq melihat bagian bawah, ia langsung beristigfar. Gadis itu hanya mengenakan tengtop warna pink dan celana pendek sehingga dada dan paha gadis itu sangat terlihat jelas. Mata Taufiq kembali melihat ke atas, memandangi wajah cantik gadis itu.
“Maaf kalian siapa dan mencari siapa ya?”
Taufiq masih bengong, sehingga Letnan Arief lah yang menjawab pertanyaan gadis itu. “Kami dari kepolisian, kami ingin menginterogasi Sisi dan Riana. Apa betul di sini rumah Sisi dan Riana?”
“Iya, benar. Saya sendiri yang namanya Sisi. Ada perlu apa kalian menginterogasi saya dan Riana? Riana sedang ke mal bersama teman-temannya.”
“Ini ada hubungannya dengan kematian Nindy.”
“Oh, mari silakan masuk!”
Hambali menginjak kaki Taufiq, ia meringis kesakitan, namun hal itu justru membuat Taufiq tersadar dari lamunannya. Tak mau ketinggalan, Taufiq pun langsung mengikuti langkah Letnan Arief, Ilham dan Hambali.
Meskipun rumah Sisi dan Riana sama mewahnya dengan rumah Lena, namun rumah Sisi halamannya tidak seluas rumah Lena. Hal itu justru menguntungkan karena mereka bisa cepat sampai di ruang tamu.
Setelah mereka semua duduk, Letnan Arief menyenggol lengan Taufiq. Letnan Arief mengedipkan mata sebelah kiri, kedipan matanya itu seolah mengatakan, “Fiq, lo aja deh yang menginterogasi Sisi.”
Taufiq mengerti apa yang dimaksud Letnan Arief. Maka dari itu ia langsung melempar pertanyaan pertama pada Sisi. “Saudari Sisi, apakah Anda mengenal Nindy?”
“Tentu, Nindy adalah teman sekelas saya,” Sisi menjawab pertanyaan Taufiq dengan tenang.
“Menurut keterangan Lena, awal Nindy masuk sekolah, Anda sering mem-bully Nindy. Apa alasan Anda?”
“Alasan saya karena saya tidak suka dengan penampilan Nindy yang udik dan ndeso.”
“Yakin cuma itu?”
“Ya iyalah cuma itu. Memangnya Lena bicara apa saja tentang saya pada kalian?” nada bicara Sisi mulai meninggi.
“Cuma memastikan saja.”
“Denger ya, meskipun saya sangat tidak suka dengan Nindy, tapi saya sama sekali nggak ada niat buat membunuhnya. Apa untungnya coba saya membunuh Nindy?”
Hati Taufiq mengatakan bahwa apa yang diucapkan Sisi itu benar. Ia menatap bola mata Sisi dengan saksama. Mulut bisa saja bohong, tapi yang namanya mata nggak akan bisa bohong sedikitpun. Di bola mata Sisi tersirat sebuah kejujuran.
“Saudari Sisi, saat malam Senin sekitar pukul 8-12 malam, Anda berada di mana?” kali ini Letnan Arief yang melempar pertanyaan pada Sisi.
“Tumben Letnan Arief langsung ngajuin pertanyaan? Biasanya juga ngasih isyarat dulu ke gue, apa gue terlalu merhatiin mata Sisi ya jadi gue nggak lihat isyarat yang diberikan Letnan Arief?” batin Taufiq bertanya-tanya.
“Saya sejak hari Minggu siang sampai Senin pagi di rumah saja,” lagi-lagi Sisi menjawab pertanyaan dengan tenang, tanpa ada nada gugup ataupun tingkah gelisah. Biasanya jika seseorang menjawab pertanyaan dengan tenang, tanpa ada nada gugup ataupun gelisah, itu berarti apa yang diucapkannya benar.
“Apakah ada orang lain yang dapat menguatkan pernyataan Anda?”
“Ada, sayalah orangnya. Saya saksi bahwa Sisi pada hari Minggu siang sampai Senin pagi berada di rumah,” sahut seorang wanita berumur sekitar 45 tahunan namun masih tetap cantik, wajahnya mirip dengan Sisi. Wanita itu tiba-tiba muncul dari ruangan yang ada di sebelah ruang tamu.
“Maaf, Anda siapa ya?” tanya Letnan Arief.
“Perkenalkan saya Mona, saya Mama kandung Sisi dan Riana.”
Mamanya Sisi pun duduk di sofa, bersebelahan dengan Sisi.
“Apa yang membuat Anda yakin bahwa Sisi pada hari Minggu siang sampai Senin pagi berada di rumah?”
“Karena pada malam Senin kami mengadakan tahlilan 100 hari meninggalnya Neneknya Sisi dan Riana. Hari Minggu siang, Sisi dan Riana membantu saya memasak. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda tanya keluarga saya yang lain.”
“Baiklah, kalau begitu kami pamit undur diri dulu. Terima kasih atas keterangan yang kalian berikan, maaf jika kedatangan kami mengganggu. Selamat siang!”
Letnan Arief dan Detektif Tiga Serangkai pun pulang dengan sedikit kecewa. Mereka hanya menemukan jawaban bahwa bukan Sisi dan Riana pembunuh Nindy. Mereka berdua otomatis sekarang tercoret dari daftar calon tersangka. Pembunuh Nindy masih menjadi misteri. Namun mereka yakin, cepat atau lambat mereka akan menemukan pembunuh itu

Other Stories
Love Of The Death 2

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Download Titik & Koma