Kecurigaan Riana Terhadap Lena
“Huft, akhirnya gue berhasil juga masuk ke kamar ini tanpa sepengetahuan mereka,” ucap Riana senang.
Sebelum masuk ke kamar, Riana melihat di ruang tamu Sisi sedang berbicara dengan seorang polisi dan 3 anak laki-laki. 3 anak laki-laki itu sepertinya detektif. Riana sempat mendengar pembicaraan mereka yang membahas kematian Nien. Seorang polisi dan 3 detektif itu mencurigai Sisi dan dirinya. Maka dari itu ia memilih untuk masuk ke kamar secara sembunyi-sembunyi lewat jendela, sebab ia tak ingin diinterogasi.
Membicarakan soal kematian Nien, ia jadi teringat peristiwa sehari sebelum kematiannya. Memang hari Minggu-Senin dirinya ada di rumah, namun pada pukul 3 sorenya, ia disuruh mama ke toko kue buat melengkapi makanan tahlilan neneknya. Di toko kue itulah ia melihat Lena sedang asyik berbicara dengan seorang wanita.
“Friezka, gue mau minta bantuan lo!”
“Bantuan apa?”
Lena membisikkan sesuatu ke telinga Friezka. Friezka terlihat manggut-manggut.
“Kalau soal itu, beres. Lo tenang aja, yang penting ada fulusnya, semua urusan mulus.”
“Soal fulus gampang, yang penting kerjaan lo dulu kelar.”
“Sip. Esok hari lo sudah bisa melihat kematian Nien di berita-berita yang di televisi.”
Itulah pembicaraan Lena dan Friezka yang sempat ia dengar. Ia yakin 100% kematian Nien disebabkan oleh Lena.
“Kalau Lena terbukti membunuh Nien, berarti gue dan Sisi akan terbebas dari tuduhan pembunuhan Nien. Tapi gimana caranya ya untuk membuktikan kalau Lena-lah pembunuh Nien sebenarnya?”
Riana mulai mondar-mandir, otaknya berpikir keras untuk menemukan cara itu. Namun hanya dalam waktu beberapa menit, wajahnya kembali cerah. Ia menemukan caranya.
Dia baru ingat, di toko kue ia tidak hanya melihat dan mendengar pembicaraan Lena, tapi ia juga menemukan secarik kertas yang berisi nomor handphone. Ia bergegas mengambil tas yang kemarin ia pakai saat pergi ke toko kue.
Ternyata benar secarik kertas bertuliskan nomor handphone itu memang masih ada di tasnya.
“Untung gue kemarin menyimpan kertas ini, kertas ini bisa gue jadiin senjata buat menjebloskan Lena ke penjara. Sudah lama gue benci sama lo, Len. Gue tunggu lo membusuk di penjara hahaha…” batin Riana girang.
Dengan segera ia menelepon nomor yang ada di kertas itu.
Tuuut… tutt
Panggilan belum juga tersambung. “Ayo dong angkat. Penting nih…” Riana mulai mengomel kesal. Untungnya kekesalan itu tak berlangsung lama.
“Halo, selamat siang…” terdengar suara merdu seorang wanita di seberang telepon.
“Selamat siang juga. Apa benar ini nomor handphone-nya Friezka?” tanya Riana berbasa-basi.
“Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”
“Kenalin gue Riana, saat ini polisi dan 3 detektif ada di rumah gue. Mereka mengusut kematian Nien. Gue yakin lo terlibat dalam pembunuhan Nien.”
“Eh, jangan sembarangan lo. Gue itu cewek baik-baik, jadi nggak mungkin terlibat kasus pembunuhan.”
“Cewek baik-baik? Gue nggak yakin tuh. Soalnya gue punya video rekaman pembicaraan lo dan Lena di deket toko kue waktu itu. Apa lo mau gue serahin video itu ke polisi?”
“Jangannn!”
“Rahasia lo aman asal lo penuhi permintaan gue!”
“Oke, apa mau lo?”
“Ntar gue kasih tau lewat sms.”
Tut… tut… tut
Riana memutuskan sambungan telepon. Ia menyunggingkan senyum licik dan senyum kemenangan. “Hahaha… Friezka gampang banget gue bodohi. Gue kan nggak pernah merekam pembicaraan dia dan Lena. Kalaupun gue sempat merekam, pasti langsung gue kasih ke polisi rekaman itu.”
Tak lama kemudian ia mengetik sebuh pesan untuk Friezka.
Friez, lo sekarang ke rumah Lena. Lo pancing agar Lena ngasih tau motifnya membunuh Nien. Jangan lupa rekam semua yang dibicarakannya ke hp lo. Kalau itu nggak berhasil, lo cari barang apa kek di rumah Lena. Yang jelas barang itu bisa membuktikan bahwa Lena adalah pembunuh Nien.
Send
Bruk!
Riana menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Senyum licik masih tepancar di bibirnya. Hatinya saat ini benar-benar senang sebab satu per satu orang yang ia benci di sekolah menjauh dari hidupnya. Pertama Nien, dia sudah pergi ke neraka. Dan bentar lagi Lena yang akan membusuk di penjara.
“Hahaha… rasain lo, Len... Ini akibat lo dari dulu nggak pernah mau nurut sama gue dan Sisi!”
Other Stories
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...