2. Gelas Plastik Bertutup Biru
Seorang bayi terlahir dalam keadaan polos dan bersih. Layaknya selembar kertas putih tanpa goresan tinta. Layaknya sehelai kain putih tanpa ada goresan motif. Yang kemudian memberi coretan dan memberi motif adalah lingkungannya. Bukan dirinya sendiri, tapi orang-orang yang ada di sekeliling. Sebab dari merekam perilaku merekalah si bayi memperoleh semacam inspirasi untuk bertindak.
Shion berjalan ke luar kamar dengan masih bersetelan piyama tidur lengkap. Rambut sebahu yang kusut masai menghiasi wajahnya yang masih mengantuk. Sesekali gadis itu menguap tanpa suara. Lantas berjalan berjingkat-jingkat sembari mengawasi keadaan. Ia merasa amat haus dan hendak mengambil segelas air di dapur yang ada di lantai bawah.
Entah sudah pukul berapa saat itu, Shion tidak tahu dan gadis itu tidak peduli. Yang jelas seluruh lampu penerangan di rumah itu mati. Sementara pancaran sinar dari luar rumah tidak terlalu bisa menjelaskan keadaan. Seluruh ventilasi pula jendela-jendela kaca besar di rumah itu tertutup oleh gorden berlapis.
Shion terus berjalan perlahan-lahan sambal berusaha keras tanpa menimbulkan sedikitpun suara. Yang terdengar hanyalah desingan air conditioner yang terletak hampir di seluruh sudut ruangan. Melewati tangga spiral menuju ruang tengah yang lengang. Hanya susunan sova besarberlapis kulit tampak kokoh di tempat.Seolah tidak peduli pada kehadiran sosok kecil Shion.
Gadis itu membuka pintu geser yang memisahkan ruangan itu dengan lorong menuju dapur. Perlahan-lahan tanpa suara hingga membentuk celah sempit yang hanya cukup ia lewati dengan posisi menyamping. Tidak ada yang boleh terkejut akibat kegaduhan yang ia timbulkan. Itu yang selalu tertanam di alam bawah sadar Shion.
“Anak nakal! Sudah berapa kali Mama bilang jangan bikin gaduh! Mama pusing, tidak bias berkonsentrasi!”
“Menangis terus! Menangis terus! Kamu cengeng sekali Shi. Berapa kali Mama bilang jangan berisik! Mama tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan nih!”
“Kenapa?Mau menangis lagi! Kalau Shi tidak bisa diam, sana tidur di teras!”
Langkah Shion berhenti tepat di depan lemari pendingin. Sebelumnya ia sempat membuka pintu kulkas itu, tentu dengan amat hati-hati tanpa menimbulkan suara. Tapi gadis itu urung mengambil botol kaca yang berisi air mineral dingin di dalamnya. Tidak peduli betapapun dahaganya sudah berada di titik puncak.
Ia beralih membuka bufet di mana barang pecah-belah tersimpan rapi, namun tidak mengambil apapun. Lalu beralih menuju rak di sisi tempat cuci piring, tapi ia tetap tidak menemukan apa yang dicari. Kepanikan dan rasa takut seketika menjangkit dirinya. Menyadari sebuah pertanyaan mengganjal di benaknya. Di mana gelas plastik yang biasa ia gunakan untuk minum?
Membuat pikirannya memutar scene-scene kisah yang membuat gadis itu begidik ngeri. Ia harus segera menemukan gelas plastik bertutup birunya itu, atau mama akan memarahinya. Lagi untuk kesekian kali.
Dicari oleh Shion sekali lagi gelas yang ia maksud diantara aneka rupa gelas cantik dengan berbagai bentuk dan ukuran yang tersusun rapi pada bufet perabotan. Beberapa di antaranya masih bertengger pada rak cuci piring. Tapi pada akhirnya Shion memutuskan untuk menadahi air mineral dari dispenser menggunakan tangan kanannya, kemudian diminum langsung.
Ia melakukannya dengan amat hati-hati dan teliti. Perlahan-lahan supaya ceruk yang ia bentuk dari telapak tangan kanannya tidak meneteskan air. Sebelum ia dekatkan tangan kecil itu pada bibirnya sesegera mungkin.Dan meneguk cepat-cepat. Alih-alih menyegarkan, air mineral itu justru berasa asin.Akibat campuran keringat yang selalu membuat telapak tangannya lembab.
Tapi itu lebih dari cukup untuk membasahi tenggorokan Shion yang kerontang. Ia lantas memeriksa lantai sembari mengelap tangannya menggunakan ujung piyama tidur. Ia merasa lega, sebab tidak ada satu pun tetesan air yang jatuh ke ubin dapur. Kini ia bisa membuktikan pada Mama bahwa dirinya bukan lagi anak kecil yang nakal.
Shion sekarang sudah besar. Sudah bisa lebih hati-hati dan cermat dalam bertindak. Sudah amat mengerti dengan apa yang diinginkan sang mama darinya. Ia harus meyakinkan mama, bahwa Shion kini sudah berubah. Menjadi anak baik seperti apa yang mama inginkan.
Ia tidak lagi membuat berantakan apa pun di rumah. Ia tidak menyibak gorden dan mengembalikannya pada posisi yang salah. Ia tidak lagi memecahkan gelas, piring, mangkuk atau apapun yang terbuat dari kaca. Sebab Shion tidak menggunakan benda-benda itu untuk makan dan minum lagi. Ia juga tidak lagi menyenggol taplak meja yang akan membuat vas bunganya jatuh dan pecah.
Bahkan ia sudah terbiasa berjalan dan membuka pintu tanpa menimbulkan gesekan yang bersuara gaduh hingga memecah keheningan.Shion tidak lagi membuat buku-buku dan alat tulisnya berantakan. Majalah dan tabloid yang telah ia baca, ia kembalikan lagi di tempatnya dengan posisi yang sama persis. Ia tidak lagi memainkan boneka barbie dan rumah-rumahan yang membuat lantai berantakan.
Shion sudah besar, dan mengerti pentinggnya menjaga kerapihan seperti yang mama ajarkan.
“Bahkan aku tidak meneteskan air saat min—” Kalimat Shion terhenti seketika. Mendadak badannya panas-dingin dan kepalanya pusing luarbiasa.
Gadis itu lupa menaruh gelas minum plastik biru bertutupnya. Mengingat-ingat di mana terakhir ia menaruh benda itu membuat nyeri di kepalanya semakin hebat. “Bagaimana ini?” Hingga membuat gadis itu limbung dan jatuh dengan posisi terduduk di lantai. “Mama pasti marah! Mama pasti marah!”
***
Wanita karir itu selalu sibuk bekerja. Bekerja dan bekerja. Tidak peduli siang tidak peduli malam, seluruh waktunya didedikasikan untuk pekerjaan dan jabatan. Hingga ia abai pada keluarga kecilnya. Padahal kala itu keluarganya amat sempurna setelah Tuhan menitipkan janin yang kelak akan terlahir sebagai bayi perempuan yang gemuk sehat dan amat lucu.
Hingga pada suatu hari sang suami yang amat sayang padanya, memberi saran agar dirinya resign dan fokus mengurusi urusan rumah tangga. Menimbang pula kondisi perutnya yang semakin hari semakin membuncit. Sedangkan keluarga itu tidak memiliki masalah pada perekonomian. Kondisi keuangan mereka tergolong amat stabil dan amat berkecukupan.Sekalipun yang bekerja hanya si kepala keluarga saja.
Serasa dipukul godam besar. Bagi si wanita karir, permintaan sang suami benar-benar mencidrai ambisinya. Wanita karir itu merasa harga dirinya dilecehkan dan diinjak-injak. Tentu saja ia menolak mentah-mentah saran sang suami.
Bagaimana mungkin laki-laki yang mencintainya dan berjanji akan hidup bersama dalam susah maupun senang, berjanji untuk sehidup-semati itu, tidak mendukung karir yang telah ia rintis susah payah dari minus?
Bayi mungil nan polos yang diharapkan menjadi semacam malaikat di tengah keluarga kecil yang kondisinya segersang Gurun Sahara itu, mendadak serupa musim kemarau yang tak berujung.Mendadak tampak seperti batu sandungan untuk dua orang egois yang memaksakan diri bersatu dalam ikatan pernikahan. Bertahun-tahun percekcokan selalu terjadi. Berulang-ulang dan membuat siapapun muak.
Rumah mewah dengan taman berisi bebungaan yang terawat, dengan perabotan mewah minimalis, dilengkapi interior yang presisi mendadak jadi sebeku gunung es di Atlantis. Sedikit pun tidak ada api kehangatan yang memercik di sana. Semua orang sibuk dengan pekerjaan dan mempertahankan ego masing-masing.
Tanpa orang-orang dewasa di sekitarnya sadar, malaikat yang sempat dikirim Tuhan kini telah tumbuh besar. Satu-persatu kelakuan orang-orang dewasa itu terlihat oleh kedua mata polos si malaikat itu. Satu-persatu pembicaraan yang lebih banyak mengandung diksi kasar orang-orang dewasa itu, terdengar oleh kedua telinganya.
Bahkan hatinya yang suci tanpa dosa kini ternodai olehperasaan-perasaan keji. Atmosfer ketegangan dan percekcokan yang tercipta di rumah itu, benar-benar telah menggoreskan tinta merah pada rapor yang awalnya kosong.
Waktu terus bergulir tanpa terasa, semua inderanya yang tumbuh dan berfungsi sempurna telah melakukan pekerjaan dengan semestinya. Memaktub jelas seluruh momen yang ia alami ke dalam memori otak yang tersimpan abadi di loker-loker alam bawah sadarnya.
Ah, jika saja Tuhan menciptakan malaikat kecil nan polos itu lengkap dengansemacam alat canggih penyaring informasi negatif dan positif untuk otaknya. Pasti kemungkinan terburuk ini tidak akan terjadi.
Manusia hanya bisa berandai-andai sembari memohon. Sang pencipta yang menentukan takdir. Sementara si pemilik takdir hanya mampu menjalani dan bertahan sebelum akhirnya menyerah pada Sang Pemberi Takdir itu sendiri.
Jadilah malaikat itu tumbuh dan besar dengan informasi-informasi campuran baik-buruk tanpa sentuhan tangan-tangan sayang dan pelukan penuh cinta dari orang-orang dewasa terdekat.
***
Seperti pelajaran kimia biasanya, Pak Setianto lebih banyak berbicara face to face pada papan tulis ketimbang pada anak-anak didiknya di kelas XI IPA 2. Esa dan teman-teman sekelasnya pernah bereksperimen dengan diam-diam meninggalkan kelas satu-persatu, dan ajaibnya hingga habis muridnya di kelas, Pak Setianto tetap tidak sadar. Sehingga sampai akhir jam pelajaran kimia, beliau tetap mengajar di dalam kelas yang keadaannya kosong melompong.
Tidak pada siang hari ini, siswa kelas XI IPA 2 tidak sedang dalam keadaan iseng. Jadilah mereka mendengarkan apa yang Pak Setianto jelaskan pada papan tulisnya. Meski menyambi memainkan gawai, terkantuk-kantuk, atau yang lebih ekstrem, membuka salon dadakan. Tentu yang terakhir khusus cewek-cewek penggila efek beauty pada kamera gawainya.
Sedangkan Esa, anak laki-laki itu sedang melamun serius. Amat serius menerawang lurus ke arah papan tulis tanpa menyimak materi yang tertulis di sana. Punggunya bersender nyaman pada kursi dengan kedua tangan terpangku yang memainkan ipod. Ya, itu adalah ipod kepunyaan Shion.
Ia mengetahui nama gadis itu setelah stalker database siswa-siswi di website sekolahnya. Ia kini mengingat sosok anak perempuan itu sepenuhnya. Sulit dipercaya bagi Esa sebab ternyata ia dan Shion selalu berada di sekolah yang sama sejak jenjang Sekolah Dasar. Namun karena keduanya tidak pernah berada dalam kelas yang sama, jadi hal yang wajar kalau Esa tidak tahu namanya. Mungkin juga sebaliknya.
Selepas tragedi pertolongan pertama pada lukanya kemari di ruang UKS, Esa tidak bisa untuk tidak memikirkan gadis itu. Terlebih kini ia mengetahui fakta bahwa nyaris sebelas tahun mereka berada pada lingkup sekolah yang sama. Sepanjang malam ia habiskan untuk mengingat-ingat apa yang ia lakukan selama SD dan SMP sampai tidak mengenal Shion.
Esa juga menyesal, sebab membiarkan anak perempuan yang sudah menolongnya itu pergi begitu saja sebelum berterima kasih dengan layak. Paling tidak Esa sekali, ia tahu ipod Shion tertinggal namun alih-alih segera menyusul gadis itu untuk mengembalikan, Esa justru pergi begitu saja dengan cueknya. Bahkan ia tidak menunggu si gadis sadar dan kembali dengan sendirinya.
Seharusnya Esa segera mengembalikan benda itu pada pemiliknya. Bukannya malah penasaran dengan playlist yang biasa didengarkan oleh gadis yang belum ia kenali. Lalu dengan tidak sopannya, mencoba menebak-nebak pribadi si gadis. Jika saja Esa bisa mengendalikan rasa penasarannya, pasti perasaan bersalah tidak akan membebani pikirannya.
Sepanjang masa remajanya, Esa tidak pernah melakukan hal sia-sia seperti memikirkan perasaan seorang anak perempuan dan hal setidak penting menebak-nebak sifatnya. Hidupnya terlalu sibuk untuk tidur, bermain game, bolos sekolah, main futsal dan sesekali mengerjakan PR. Hari ini Esa merasa seperti menjadi pribadi yang lain.
Parahnya, sudah tahu apa yang ia lakukan sia-sia, namun pikirannya menolak untuk berhenti memikirkan gadis kurus bernama Shion yang sekarang ipodnya ia pegang.
“Bodoh! Bodoh! Kamu bodoh Sa!”Batin Esa mengutuk diri sendiri. Apa sulitnya mengembalikan benda milik orang lain, atau jangan-jangan sebenarnya Esa takut.
Tapi, apa pula yang laki-laki itu takuti? Toh, ia juga selama ini tidak mengenal gadis itu secara langsung. Demi mengetahui nama gadis itu, Esa harus membuka laman database siswa-siswi di situs web sekolahnya semalam. Sebab sulit memperoleh akun sosial media anak perempuan itu.
Shion, ya. Shiona Prameswari, batinnya sembari terbayang pas foto anak perempan itu dengan berlatar belakang biru yang bersanding dengan foto murid kelas XI IPA 3 lainnya di database siswa sekolah.
Padahal maksud dan tujuan Esa hanya mengembalikan ipod saja. Tidak lebih. Jadi apa yang sebenarnya ia khawatirkan? Kali ini, Esa merasa sedang ketangkap basah memata-matai orang dan sedang mecari pembelaan untuk hal yang ia lakukan.
Kenapa urusan mengembalikan barang menjadi sepelik ini? Ia ingat kemarin nyaris satu jam lebih dirinya mondar-madir di lorong koridor dekat UKS hanya demi menunggu gadis itu kembali.Namun pada kenyataannya hingga sekolah sepi gadis itu tidak kembali.
Esa yang terlalu berharap atas kesadaran sang gadis, atau memang Shion tidak sadar bahwa pemutar musik yang isinya penuh dengan playlist musik kasik itu tertinggal.
“OK! OK! Esa, kamu lelaki. Di mana kejantananmu kalau mengembalikan ipod saja tidak bernyali!” Bisiknya untuk diri sendiri sembari memasukan oksigen ke kedua paru-parunya banyak-banyak.
Selepas pelajaran kimia, Esa tidak langsung menuju ke kantin atau ke lapangan untuk bermain bola bersama teman-teman sekelasnya seperti biasa. Ia memilih untuk berdiri merapat tembok di koridor dekat pintu kelas XI IPA 3 sembari mengetuk-etukan sebelah sepatunya. Sepasang bola mata legamnya serupa mata elang yang tajam mengawasi sekitar. Memastikan keadaan aman-aman saja.
Padaha bel tanda jam istirahat telah berdering lebih dari lima menit yang lalu. Tapi Bu Endang guru pelajaran Fisika kelas XI masih saja berbicara sembari menggeser slide-slide presentasi. Esa terkekeh geli melihat wajah-wajah kesal dari penghuni kelas itu.
Beberapa menit berlangsung, guru yang gigih mengemban misi mencerdaskan bangsa itu mengakhiri kelasnya.Tepat setelah Ibu Endang mengucap salam, seluruh siswa kompak membubarkan diri untuk keluar kelas. Menimbulkan desak-desakan pada pintu yang sudah didesain berpintu dua. Esa tahu bagaimana kesalnya mendapati jam istirahat terpotong untuk mata pelajaran serumit Fisika.
Gegas Esa masuk ke kelas itu, ketika pintunya telah sepi. Seisi kelas benar-benar telah keluar. Kecuali Bu Endang yang masih sibuk membereskan buku-buku dan mapnya. Esa mengedarkan pandangan ke penjuru kelas sekali lagi sembari meneliti.
Esa paham dan sangat hafal bagaimana postur tubuh kecil Shiona yang sepenglihatannya tadi tidak ikut kompak membubarkan diri bersama murid-murid yang lain. Tapi bagaimana bisa gadis itu tidak ada di dalam kelas. Pikirnya keheranan.
“Siang, Bu,” sapa Esa ramah pada guru Fisika yang juga mengajar di kelasnya.
Sang guru segera memasang ekspresi summringah. “Nah, ada Esa. Sini, Sa tolongin Ibu.”
Dengan sigap anak laki-laki itu segera menyusun buku-buku dan memeluknya di dada. Siap membawakan untuk sang guru tercinta. Namun masih dengan perasaan heran dan mata yang terus menatap kearah deretan bangku kelas yang telah kosong melompong.
“Kamu cari siapa, Sa?” Tanya Bu Endang dengan kedua dahi menyatu. Tanpa sadar ikut mengedarkan pandangan seperti apa yang dilakukan Esa.
“Emm—, itu Bu.” Esa menimbang-nimbang untuk berkata jujur atau tidak pada guru Fisikanya.
“Shion.” Katanya pelan. “Saya mencari Shion.”
“Oh, anak itu,” kata Bu Endang sembari memasukan item terakhir berupa dompet spidol ke dalam tasnya. “Dia tidak masuk.” Lalu membuka map absen bersampul merah. “Nih.” Memperlihatkan absensi siswa pada Esa.
Selasar rasa aneh mendadak menjangkit hati Esa. Semancam kecewa. Ia sudah berperang dengan hati dan harga dirinya. Tapi penyebabnya malah tidak masuk. “Kenapa tidak sekolah, Bu?”
Bu Endang mengangkat bahu sembari mulai melangkah meninggalkan kelas. “Tidak ada yang tahu, sebab tidak mengirim surat izin.”
Layaknya ajudan yang tanggap, Esa segera membuntuti di belakang sang guru dengan irama langkah yang mantap.
Sambil tetap berjalan melewati koridor yang sibuk lalu-lalang murid Bu Endang kembali bertanya. “Memangnya kenapa Sa, kamu berteman dekat dengan Dia?”
“Eng—enggak Bu. Bukan begitu. Saya hendak mengembalikan ipod-nya yang tertinggal di UKS kemarin.” Cepat-cepat Esa mengklarifikasi dugaan salah ibu gurunya sembari mempertanyakan dalam hati, apakah semenakutkan itu berteman dengan murid sekolah yang mendapa predikat aneh dan acap kali menjadi bulan-bulanan teman-teman seangkatannya.
“Antarkan saja ke rumahnya, Sa. Sekalian kamu beri tahu kalau jatah bolosnya sudah melampaui batas. Dia bias tidak naik kelas lho kalau masih saja sering bolos begini,” komentar Bu Endang.
“Hah! Begitu ya, Bu. Tapikan—.” Esa merasa ragu dan terkejut juga dengan informasi yang diberikan Bu Endang.
“Apa? Alamat. Kamu kan bisa minta pada bagian tata usaha. Bilang saja Ibu yang suruh.”
“Emm—, iya, Bu,” jawab Esa. Mempertimbangkan apakah akan mengikuti saran dari Bu Endang atau tidak.
Sejujurnya ia penasaran dengan apa yang terjadi pada anak perempuan itu. Mengingat sesaat setelah membantunya membebat luka, wajah gadis itu tampak pucat dengan keringat sebesar biji jagung menggenang di dahi seperti hendak pingsan. Tapi Esa benar-benar tidak sempat bertanya. Sebab Shion sudah keburu pergi meninggalkannya duluan.
Paling menyebalkan dari rasa penasaran itu adalah ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari jawabannya. Membuat remaja laki-laki itu bingung saja.
***
Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...