3. Rumah Mewah Berpagar Legam
Sungguh, dia amat dekat dengan kita. Bahkan lebih dekat dari jarak nyawa dan nadi. Tapi sayang tidak ada yang peduli. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Layaknya ikan koi di dalam akuarium. Padahal jika mereka mau peduli barang sedikit saja, satu nyawan akan terselamatkan. Tanpa perlu bersembunyi pada alternya.
Esa mengusap keringat yang terasa mengalir dari dahinya menggunakan pungung tangan. Meskibus rapid trans yang ia tumpangi lengang penumpang dan air conditioner-nya tampak berfungsi dengan baik, anak laki-laki itu sedang menahan gugup yang teramat sangat. Sehingga adrenalinnya memuncak hingga membuatnya bersimbah peluh.
Bocah laki-laki itu benar-benar tidak percaya bahwa secarik sticky note yang ia genggam itu akan membawanya menuju rumah Shion. Paling membuatnya tidak percaya adalah, ia benar-benar menuruti saran Bu Endang untuk mendatangi rumah gadis aneh itu.
Iseng saja dia masuk ke ruang bagian tata usaha sekolah, lalu mengutarakan maksud dan tujuannya pada seorang ibu paruh baya bertubuh tambun di mana pada meja kerja bertuliskan sekertaris. Awalnya si ibu sekertaris sempat ragu, tapi mendengar Esa menyebut nama Bu Endang, dirinya hanya diminta untuk menunggu sang ibu mengetikan sesuatu di komputernya.
Voila!
Kertas bertuliskan alamat rumah Shion kini sudah berpindah ke tangan Esa. Ditepuk-tepuknya saku kemeja yang menyimpan alamat tersebut dengan perasaan yang Esa sendiri sulit menterjemahkan. Antara senang. Penasaran. Khawatir yang membaur menjadi satu. Ia akan mendatangi rumah si Aneh Shion hanya untuk keperluan mengembalikan ipod.
Entah apa yang akan dikatakan teman-temannya jika mereka tahu aoa yang Esa lakukan. Sakit jiwa. Idiot. Otak kopong. Apapun itu, yang jelas Esa akan berangkat.
Bus Rapid Trans yang trayeknya baru kali ini Esa tumpangi menurunkan remaja itu tepat di halte sisi gerbang sebuah perumahan mewah di daerah teluk kotanya. Peta perumahan menunjukan bahwa blok rumah Shion tidak terlalu jauh dari gerbang.
Esa lebih memilih berjalan kaki menuju ke sana sembari melihat-lihat. Pada perumahan itu tidak ada hunian yang didesain serupa atau mirip. Semuanya memiliki karakteristik arsitektur masing-masing. Didominasi gerbag-gerbang menjulang dan halaman luas. Keren sekali.
Sejujurnya itu kali pertama Esa masuk ke kompleks perumahan elit yang berisi jajaran rumah-rumah mewah. Sebuah fakta yang amat mencengangkan, bahwa ternyata si aneh Shion yang tampak biasa saja di sekolah ternyata anak orang kaya yang mampu membangun rumah di kawasan elit itu.
Pasti teman-teman perempuannya yang beberapa kali kepergok sedang membicarakan keanehan Shion tidak akan percaya dengan apa yang Esa lihat kini.
Langkah Esa terhenti tepat di depan rumah besar berpagar hitam legam. Sangat kontras berpadu dengan taman yang ditumbuhi bunga-bunga cantik aneka warna pada halanmannya. Dari rerumputan yang tersusun dan terpangkas rapi, kombinasi tanaman dan warna bunga yang bermekaran, Esa dapat memastikan bahwa taman itu amat terawat oleh ahlinya.
Rumah bercat kuning gading dengan dua buah pilar besar menjulang hingga lantai dua. Jendela-jendela kaca super besar dengan kayu berukir menghiasi nyaris seluruh sisi bagian depan. Tapi rumah itu tampak sepi dan lengang. Bahkan tidak ada kendaraan yang terparkir di depan garasi yang tertutup.
Atas dasar keyakinan bahwa itu benar-benar rumah Shion dan ditopang dengan kenyataan gerbang besarnya tidak terkunci, Esa memberanikan diri untuk masuk, lalu menyebrangi halaman rumah itu dan menekan bel di sisi pintu rumah. Tentu setelah mengagumi setiap detail nuansa seni yang ditojolkan oleh arsitek bangunan itu.
***
Masih lekat diingatan Shi saat gadis kecil itu berumur sekitar enam tahun. Usia enam lebih dari cukup untuk seorang anak merekam dan memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dialaminya dalam hidup. Shi paham, amat paham bahwa sang mama tidak suka kebisingan. Bahkan suara jarum jam berdetak pun wanita itu tidak suka.
“Itu akan memecah konsentrasi Mama pada pekerjaan, Shi!” Begitu katanya dengan ucapan pedas dan galak. Itu khas mama dan Shi amat paham.
Lalu sang mama akan melanjutkan omelannya. “Mama butuh fokus pada pekerjaan. Mama harus membuat klien perusahaan puas. Shi tidur saja, dan jangan menganggu Mama. Mengerti, kan!”
Sembari memeluk boneka tedy bear kesayangan, Shi lantas pergi meninggalkan mama. Menutup dan mengunci pintu kamarnya sendiri. Membesarkan angka pada remote air conditioner-nya sendiri, supaya ketika malam semakin larut tubuh kecilnya tidak menggigil kedinginan. Menyelimuti tubuh ringkinya sendiri. Dan yang terakhir membaca buku dongeng untuk dirinya sendiri hingga jatuh terlelap.
Terkadang, Shi kecil membayangkan dirinya menjadi Princess Belle. Meski hidup Bersama Beast yang buruk rupa dan kejam, tapi Beast pada akhirnya luluh dan jatuh cinta pada sang Princess. Beast memang tampak sadis dan jahat, tapi makhluk itu sebenarnya memiliki hati nurani yang lembut dan penyayang. Hanya saja selama hidup Beast kurang kasih sayang.
Tapi Shion gagal membayangkan bagaimana rasanya memiliki ayah yang amat menyayanginya seperti Princess Belle. Bahkan Shi tidak lagi mengingat kapan terakhir kali dirinya berjumpa papa. Papa selalu sibuk dengan urusan kantor yang memaksa laki-laki itu harus berangkat pagi sebelum Shi bangun. Dan pulang larut malam setelah gadis kecil itu terlelap.
Mama memang sering tampak di rumah. Sebelum matahari terbenam, wanita itu pasti sudah ada di rumah dan berangkat kerja setelah Shi diantar Mang Ujang sopirnya. Tapi wanita itu juga tidak ada bedanya dengan papa. Ia hanya memindahkan pekerjaan dan berkas-berkas kantornya ke ruang kerja di rumah. Wanita itu tetap saja tidak peduli pada Shi.
Kecuali jika gadis kecil itu menciptakan kegaduhan yang menganggu fokus kerjanya. Kadang Shi merasa heran hingga titik bingung melihat tingkah laku kedua orang tuanya. Mama selalu marah jika Shi menciptakan kegaduhan. Sekecil suara game dari tabletnya. Namun di tengah malam, Shi selalu terbangun dari lelapnya akibat ulah dua pasangan suami-istri itu.
Shi tidak terlalu mengerti apa yang dua orang dewasa itu bicarakan. Suara Mama dan Papa saling menyahut dengan nada tinggi dan amat cepat. Shi tidak bisa mendengar dengan jelas. Semakin Shi mencoba mendengarkan semakin terasa sakit kepalanya. Tak jarang adu mulut mereka diwarnai dengan jeritan sekaligus isak tangis Mama bahkan suara barang-barang dijatuhkan hingga suara kaca pecah.
Kalau sudah begitu yang bisa gadis kecil itu lakukan adalah menutup kedua telinga dengan benda apapun demi meredam suara. Lalu meringkuk di atas ranjangnya sembari mematikan seluruh lampu kamar. Jangankan melihat langsung, mengintip saja Shi tidak berani. Ia takut mama akan marah. Mengira bahwa Shi lah yang menciptakan kegaduhan.
Seberapapun Shi mengatakan. “Bukan Shi, Ma. Itu bukan ulah Shi. Sumpah demi Tuhan, bukan Shi.” Mama tidak akan percaya dan tetap menghukum gadis kecil itu.
Kejadian itu berlangsung nyaris tiap malam. Dan berjalan dalam kurun waktu yang cukup lama. Hingga Shi nyaris berganti seragam putih merah ke putih biru.
***
Pada suatu momen Papa berjanji pada Shi akan pulang lebih cepat demi merayakan ulang tahun ke sepuluh gadis itu. Mama bahakan sudah membelikan kue tart untuk keduanya tiup lilin. Sebab mama kala itu harus terbang ke luar kota untuk urusan kantor. Tak apa merayakan ulangtahun tanpa Mama, Shi sudah biasa. Bahkan merayakan ulang tahun sedirian pun gadis kecil itu sudah pernah mengalaminya.
Shi ingat saat itu malam supermoon, di mana bulan tampak lebih besar, lebih dekat dan lebih terang dari bulan purnama biasanya. Gadis kecil itu duduk memeluk boneka Tedy di balkon kamarnya yang menghadap ke arah gerbang menanti mobil Papa muncul. Dinginnya malam tidak lagi Shi kecil rasakan, sebab saat itu ia sedang sangat senang dan bulan seolah tersenyum menemani Shi sembari menghangatkan tubuh gadis itu melalui sinarnya.
Hingga mendekati pukul dua dini hari, sebuah taksi berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Shi yang seumur hidupnya tidak pernah terkunci. Sang Papa tampak pulang. Menyebrangi halaman rumah bersama seorang wanita. Shi tidak dapat melihat jelas apakah itu mamanya atau bukan sebab meski sedang supermoon cahaya bulan hanya berefek temaram saja di halaman besar rumahnya. Terlebih Shi menyaksikan dari balkon lantai dua.
Shi sudah tidak sabar menanti Papa mengetuk pintu kamar sembari menyodorkan kue ulang tahun ke hadapannya. Lantas disaksikan lilin-lilin yang bercahaya cantik ia akan make a wish. Tidak apa tidak bersama kedua orang tuanya. Tak apa hanya dengan Papa. Asalkan Mama tidak suka marah dan menghukum Shi lagi. Terlebih jika gadis kecil itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat gaduh dan menganggu Mama bekerja.
Tapi sayangnya saat itu Shi hanya seorang gadis kecil biasa. Dengan tubuh kurus, ringkih dan cengeng. Bahkan ketika seorang teman mendorongnya hingga terjungkal di paritan sekolah pun Shi tidak berani melawan. Ah, jika saja dia adalah sang Dewa yang mampu merubah nasib dan kejadian di muka bumi. Pasti cerita ini tidak akan terjadi.
Maka tidak ada tiup lilin bersama Mama-Papa pula tidak ada kado spesial untuk ulangtahunnya yang ke sepuluh. Sebab beberapa saat kemudian taksi kedua menyusul. Berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Disusul dengan bunyi sepatu hak tinggi yang melangkah cepat di atas ubin dan pintu rumah yang dibanting keras.
Rumah Shi dini hari itu benar-benar hingar-bingar. Jika biasanya saat Papa-Mama bertengkar hanya terdengar suara bariton tertahan papa dan tangisan melengking Mama, kini ada tambahan suara jeritan dari suara perempuan lain. Dentingan benda berbahan kaca yang pecah, debuman benda-benda tumpul mengantuk lantai semakin menambah mencekam suasana.
Semua itu berbaur menjadi satu. Memaksa masuk dan menelusup ke relung-relung indera perasa dan pendengaran Shion. Betapa gadis kecil itu menolak. Seberapa pun banyak bantal serta boneka yang Shi gunakan untuk menutupi telinganya. Gadis itu benar-benar tak kuasa menahan. Jika saja ada doa yang lebih baik dari meminta Tuhan untuk mengambil saja indera pendengarnya. Shi ikhlas. Sebab Shi sudah tidak tahan.
Keesokan pagi, Shi mendapati rumahnya serupa kapal yang baru saja dilempari bom nuklir. Terutama pada lantai bawah. Set sova kulit yang robek di beberapa bagian. Vas-vas dan guci hiasan pecah dengan serpihan kaca yang bertaburan di lantai. Bingai foto keluarga lukisan dan segala hiasan dinding yang jatuh berserakan. Meja terbalik dan lain sebagainya.
Berjalan ke arah dapur yang berada tepat di sisi ruang tengah, membuat Shi lebih terkejut lagi. Merasa sakit hati yang teramat sangat. Kue ulang tahunnya yang semalam bahkan terlalu sayang untuk ia cicipi bagaimana rasa creamnya, kini ia dapati terjatuh di lantai dan berceceran ke mana-mana?
Mendapati lilin berbentuk angka satu yang tidak utuh lagi terpental dekat kakinya berdiri membuat sakit hatinya semakin menjadi-jadi. Membuat dadanya sesak dan kepalanya berputar. Bahkan Shion belum sempat melihat nyala api harapan dari benda itu. Setetes air mata menetes ke pipinya, bahu gadis kecil itu bergetar tanpa suara maupun isakan.
Sakit hati terdalam dari seorang anak Adam telah Shi alami di usianya yang baru saja genap sepuluh tahun. Menjadi saksi atas kejadian keluarga yang tercerai-berai membuat trauma fisik maupun mental Shi semakin menekan jiwanya. Semakin membuat gadis itu kebal terhadap rasa nyeri. Semakin membelah keutuhan dirinya menjadi etintas yang berbeda-beda.
***
Sekali lagi rumah mewah berpagar legam yang catnya tidak pernah diganti belasan tahun lamanya itu menjadi saksi. Warnanya semakin eksotis terkulum waktu dan didera cuaca tropis perkotaan. Jika saja dia bukan benda mati, mungki sudah menyusul Shi ke surga sejak dahulu kala.
Esa masih berdiri di depan pintu rumah jati berukir rumit yang menurut alamat petunjuk adalah rumah Shion. Total sudah lima kali anak laki-laki menekan bel. Namun tidak ada respon dari siapapun, sepertinya memang rumah itu sedang kosong. Membuat Esa semakin yakin bahwa keluarga Shion benar-benar super tajir. Buktinya mereka pergi tanpa mengunci pintu gerbang rumah, seolah tidak khawatir tempat tinggalnya akan didatangi oleh komplotan maling.
Esa sadar siang semakin berarak, ditambah dengan awan kelabu semakin menggeser warna langit yang membiru. Ia harus segera pulang, atau bunda akan mengomel. Mungkin sebaiknya ipod milik Shion ia tinggalkan saja di meja set kursi tunggu teras rumah itu.
“Ah!” Refleksnya sembari menjentikan jemari. Esa mungkin bisa menuliskan semacam memo untuk Shion sebelum benar-benar meninggalkan ipod milik itu.
Ia lantas duduk dan mengeluarkan buku catatan kimianya yang tadi tidak terpakai di sekolah. Merobek selembar kertas dan mulai menulis. Tulisan Esa memang bukan tipikal tulisan bagus, tapi ia bisa memastikan Shion dapat membacanya. Diletakkan kertas itu di bawah ipod setelah sebelumnya diselipkan pada vas bunga supaya tidak terbang.
“Beres!” Esa merasa cukup puas dengan hasilnya. Siap untuk beranjak dan pulang ke rumah. Lagipula Esa tidak bisa bertahan di sana lebih lama lagi. Sebab ia sudah sangat lapar.
Baru saja remaja laki-laki itu hendak melangkah menuruni undakan teras rumah Shion. Mendadak terdengar suara pintu di buka dari arah belakang. Membuat Esa refleks berbalik untuk melihat siapa yang bergabung dengannya.
“Cari siapa?” Kata seseorang yang kepalanya menyembul dari celah pintu.
Esa nyaris terjengkang saking terkejutnya melihat sosok itu. Jika saja tangannya tidak sigap berpegangan pada salah satu pilar besar rumah itu, ia pasti sudah jatuh terjerembab.
***
Other Stories
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...