6. Sepasang Patung Lilin
Cara terbaik untuk mengabadikan orang yang tersayang adalah dengan menyimpannya. Entah itu menpimpan potretnya. Menyimpan memori indah bersamanya. Bahkan menyimpan raganya agar selalu bersama kita. Selamanya.
Pinka tidak tahu kendaraan jenis apa yang ia naiki. Kesadarannya tidak dalam keadaan prima. Yang jelas tingkat kebisingannya lebih tinggi dari mesin pesawat ulang-alik. Pergerakannya lebih cepat dari roket nuklir yang pernah manusia ciptakan. Sensasi membelah anginnya menciptakan semacam ribuan jarum yang ditusuk-tusuk ke seluruh permukaan kulitnya dalam waktu bersamaan.
Gadis remaja itu merasa mual semual-mualnya. Dengan kepala sakit dan sesasi berputar yang tidak berkesudahan. Bahkan mungkin gadis itu masih belum sadar bahwa ia sudah tergeletak lemah pada sebuah ruangan sempit dengan lantai yang dingin, lembab dan berdebu.
Bayangan sosok mama berbalut dress putih yang menjuntai Panjang seolah berkata lembut pada Pinka. Seperti sedang megucapkan kalimat perpisahan.
“Pinka sayang, Mama sayang sekali pada Pinka. Sayang sekali. Lebih dari apapun yang ada di dunia ini.”
“Pinka sayang, kamu anak yang kuat Nak. Kamu akan baik-baik saja, bahkan tanpa Mama. Satu hal yang harus Pinka ingat Mama menyayangim. Selalu.”
“Pinka sayang, Kamulah harta paling berharga yang pernah Mama. I love you Sweetheart. To the moon and back!”
***
Esa yang terkejut karena kehadiran Shion dalam bentuk alter—yang ia duga Tante Elsa—tidak dapat berbuat banyak. Sebab melawan pun percuma. Wanita itu sangat kuat, saat menyeretnya menuju kamar saja tanpa merasa kesulitan. Lagipula saat ini pintu utama itu telah dikunci dengan teliti oleh wanita itu.
Pasrah saja ketika wanita itu membimbing Esa menuju ruang bawah tanah melalui Lorong-lorong sempit dan lembab dengan cat tembok yang berjamur dan mengelupas. Yang laki-laki itu lakukan adalah menghapalkan rutenya untuk ia kabur saat Shion lengah nanti. Entah bagaimana rumah itu dibangun menyerupai labirin-labirin rumit.
Kejanggalan lain yang membuat Esa heran adalah. Shion yang mungkin Tante Elsa ini tidak banyak bicara. Hanya melangkah tegap dan matap. Mengenakan kaus merah yang kebesaran.
Esa dibuat terkesima ketika memasuki ruang bawah tanah itu. Pasalnya ruang itu benar-benar tidak seperti penjara bawah tanah atau semacamnya. Seperti yang Esa bayangkan. Sebab ruangan yang cukup luas itu lebih menyerupai galeri seni.
Patung perunggu berwujud dewa cupid, patung lilin, dan berbagai macam lukisan terpajang dan tertata amat presisi di dalam sana. Bahkan pencahayaan dan cat temboknya dibuat persis seperti sebuah pameran karya seni.
Shion membiarkan Esa terkesima dan mengamati lukisan-demi lukisan yang ada. Masih tanpa berkata apapun, ia melangkah menuju sebuah lukisan yang belum rampung sepenuhnya. Mengambil cat air dan kuas dan mulai kembali melukis.
Ketika Esa sedang berdiri di depan sebuah lukisan seorang anak kecil yang menagis darah sembari memegang kepala boneka yang buntung, Esa yakin ada yang tidak beres dengan galeri masterpiece itu.
“Makhluk itu sudah keluar. Tidak ada yang mampu mencegahnya. Tidak ada yang bisa menahannya. Makhluk itu sudah menemukan buruannya.” Mendadak Shion berkata dengan suara bariton khas laki-laki dewasa dalam posisi berhadapan dengan lukisan yang masih digarap.
Demi mendengar dengan baikapa yang Shion bersuara berat katakana, Esa sampai mendekat dan memicingkan mata. Betapa terkejutnya remaja itu ketika melihat jakun yang naik turun di lehernya seiring suara yang keluar dari mulut.
Mustahil seorang gadis memiliki jakun yang menonjol serupa laki-laki.
“Nak, jika kau bertemu dengannya. Lawan. Habisi dia. Jangan beri kesempatan. Sebab dia tidak akan memberi kesempatan pada siapa pun termasuk kamu. Dan pastikan kau sudah mengambil apa yang bukan miliknya.”
Esa tidak mengerti dengan apa yang Shin bicarakan. Namun dari suara baritonnya saja laki-laki itu sebenarnya tidak yakin kalau ia sedang berada satu ruangan bersama Shion apalagi Tante Elsa.
Demi mengerti dan menelan topik yang Shion bicarakan Esa sampai berdiri mematung di sisinya sembari mengamati lamat-lamat lukisan yang sedang Shion kerjakan. Ia menggoreskan cat hitam di atas kanfas putih di ujung kiri bingkai yang terbaca Papa Jhonson. Saat itu pula, Esa menyadari kalau yang Shion lukis adalah sepasang patung lilin yang berdiri horizontal dari posisi keduanya.
“Dengar!” Bentak Papa Jhonson yan tiba-tiba menghadap ke arah Esa. “Purnama ini ia akan kembali. Ia pasti kembali. Sebab tidak ada yang bisa mencegahnya. Kau harus pergi sebelum purnama datang. Selamatkan pula dia yang bernyawa!”
Lantas ia berdiri dan menghampiri sebuah lukisan burung hantu di sisi lain dinding. Ketika patung itu terlepas, tampak sebuah loker meminta tuannya memasukan beberapa digit angka. Dari dalam sana Papa Jhonson mengambil sebuah pistol dan diserahkan pada Esa.
Esa ingin menginterupsi namun, Alter lain dari Shion itu sudah terlebih dahulu memotong. “Ia makhluk jahat dan amat keji. Mengenakan topeng hitam untuk menutupi cacat di wajahnya. Ia bisa bergerak secepat desingan angin. Jika kau bertemu dengannya, kau tidak akan selamat. Kau harus memiliki sesuatu untuk bertahan anakku.”
Papa Jhonson kemudian bergerak lagi menuju patung lilin yang bersisian. Seperti sepasang kekasih yang berpeluk mesra lengkap dengan pakaian pengantin. Amat nyata hingga Esa merasa itu manusia sungguhan.
Papa Jhonson mengeluarkan beberapa butir peluru dari dalam saku jas patung lilin serupa laki-laki dan menyerahkan kembali pada Esa. Masih sembari mengocehkan tentang makhluk bernama beast yang serupa ninja, ia lalu duduk dan kembali menekuni lukisan yang masih belum rampung.
Esa yang masih saja tidak mengerti dan merasa penasaran reflex medekat pada sepasang patung lilin itu. Mengelus permukaannya yang licin dan kesat sembari memerhatikannya lamat-lamat. Demi mengingat wajah paptung perempuan yang tampak tidak asing itu, Esa hingga memejamkan mata rapat-rapat.
Ayo, Sa. Wanita ini tidak asing. Kamu pasti tahu ini siapa! Batinnya gemas.
Sebuah memori yang datang dari ingatan masa kecil Esa mendadak menelusup ke dalam kepalanya. Seperti sebuah pita kaset lawas yang diputar cepat. Meski tersendat-sendat dan buram namun cukup menjelaskan semuanya. Esa sampai mundur beberapa langkah, hingga berjarak ketika mengingat sosok perempuan itu.
Mustahil! Batinnya.
Detik itu juga Esa merasa jantungnya tidak hanya lepas dari tempatnya tapi juga menggelinding jauh entah ke mana. Sosok patung lilin itu adalah Ibu Shion yang dulu saat mereka masih berseragam putih merah acap kali mengantarkan gadis itu ke sekolah.
Saat itu Esa memang tidak mengenal Shion. Namun sebab selama hampir sebelas tahun mereka berada di sekolah yang sama, ingatan yang tidak sengaja dan terus menerus terulang itu justru terpatri di dalam alam bawah sadar remaja laki-laki itu.
Sudah cukup jelas untuk Esa berstatmen bahwa patung lilin itu adalah sosok Ibu Shion sendirilah yang sengaja diawetkan atau semacamnya dengan lilin. Jika statmen itu benar, maka berarti patung lilin lainnya yang berwujud laki-laki brasal dari bahan yang sama.
Mayat manusia.
“Hey, Nak! Kau hendak ke mana?” Suara bariton Papa Jhonson membuat Esa terlonjak ketika menyadari laki-laki itu hendak pergi.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian sembari berdehem, Esa Menjawab. “Kau ingin aku pergi secepatnya sebelum sosok itu datang. Kau bilang, aku harus menyelamatkan diri. Bukankah ini waktu yang tepat untuk pergi?”
***
Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, awal tahun ini bumi setidaknya mendapatkan malam purnama dua kali. Yaitu pada awal bulan dan akhir bulan. Beruntung lagi posisi bumi dan bulan sedang dekat-dekatnya sehingga makhluk bumi dapat melihat keindangan malam purnama jauh lebih terang, lebih besar dan lebih jelas dari purnama-purnama lainnya.
Namun tidak untuk Shion, gadis itu amat benci malam purnama. Terlebih jika ia harus menyaksikan dari arah balkon kamar secara tidak disengaja. Sebab malam bulan purnama itu adalah malam di mana ia dilahirkan enam belas tahun lalu. Sebab malam itu yang mengingatkan gadis itu pada momentum terpecahnya keluarga kecilnya.
Sejak peristiwa itu, Shi bahkan tidak pernah lagi merayakan hari ulang tahun. Sejak itu Shion memaksa memori otaknya melupakan hari bersejarah itu. Memang cukup sulit awalnya. Tapi hampir enam tahun berlalu gadis itu mulai terbiasa.
Ya, terbiasa. Berbagi fisik dengan belahan-belahan alternya. Kehilangan waktu dan nyaris selalu lupa dengan hari-hari sebelum hari ini. Jangan pernah menanyakan pada Shion hari ini tanggal berapa. Atau kemarin hari apa, sebab gadis itu nyaris tidak pernah mengingatnya dengan benar.
***
Esa masih merasakan adrenalinnya memuncak sebab dua buah mayat berselimut lilin di dalam galeri bawah tanah. Mempertanyakan bagaimana seorang gadis muda seusianya mampu menciptakan karakter nyata dalam hidupnya dengan lakon yang apik. Terlebih karakter itu benar-enar nyata dan hidup dalam satu tubuh.
Bahkan setiap karakter memiliki khasnya, lengkap dengan perlakuan keji yang benar-benar terjadi dan memakan korban jiwa.
Esa menyelipkan pistol yang Papa Jhonson berikan pada pinggangnya yang tertutup kemeja. Seragam sekolahnya benar-benar sudah tidak berbentuk lagi. Kemeja putih yang kumal kecoklatan dengan beberapa percikan noda darah yang mongering. Celana abu-abu yang robek di beberapa bagian. Esa tidak peduli. Sebab ia harus menyelamatkan diri.
Sepanjang perjalanan Esa setengah mati coba mengingat-ingat semua hal yang sempat ia dan alter Shi bicarakan.Alter yang paling komunikatif dari tubuh Shion. Bagkan ia secara terang-terangan meminta pertolongan pada Esa dan bercerita banyak hal. Namun sayang, saat itu Esa masih tiak mengerti.
Ketakutan terbesar gadis itu adalahTante Elsa. Esa butuh memancing sembari merayu agar gadis itu mau berbicara. Ia juga sempat membahas tentang beast.Bahka ia sangat ketakutan pada sosok yang memaksa mucnul dan menyeruak semua alter saat malam purnama itu. “Seseorang akan mati terbunuh saat malam supermoon! Bagaimana ini, bagaimana!”
Selain itu, Shi juga meminta agar Esa segera keluar dari rumah itu. Meski Shi sendiri tidak tahu caranya bagaimana. Sh yang polos kemudian berkata bahwa Beast akan datang malam ini dan membunuh siapapun yg ditemuinya.
Lalu gadis itu sempat memasukan sesuatu ke dalam tas Esa tanpa boleh laki-laki itu melihatnya. “Itu milik Tante Elsa. Akan membantumu menemukan jalan. Jangan di sia-siakan.”
Mengingat perkataan Shi yang polos dan baik membat laki-laki itu segera menggeledah isi tasnya. Betapa terkejut saat ia menekukan sebundel kunci yang Tante Elsa gunakan mengunci pintu utama saat ia hendak kabur.
Digenggamnya sebundel kunci aneka rupa itu dengan erat sembari memupuk optimisme. Apapun yang terjadi Esa harus bisa keluar dari rumah itu. Yang ia hadapi sesungguhnya adalah sosok seorang anak perempuan kecil dan kurus. Ia pasti bisa menang seandainya harus beradu fisik.
Mana mungkin ia menyerah tanpa perlawanan lalu berakhir mati konyol bersama dengan alter ego Shion yang hanya ilusi itu.
Esa terus melangkah melewati Lorong lembab dan pengap itu. Beberapa pintu yang entah menuju ke mana terlewati.
Ketika hendak melewati pintu terakhir sebelum berbelok, sesuatu menelusup inderawinya. Serupa suara pintu yang dipukul-pukul seiring dengan suara rintihan.
Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...