8. Semua Telah Berakhir
Ada dua anak remaja yang perlahan-lahan melupakan sesuatu yang tidak pantas diingat. Menjalani terapi demi terapi untuk memulihkan kejiwaan yg sempat turut kehilangan titik kalibrasinya.
Beberapa tahun berselang, Esa akhirnya memperoleh kehidupannya yang kembali pada titik normal. Beberapa momen saat dirinya SMA hilang dari dalam memorinya akibat hipnoterapi dan beberapa terapi kejiwaan yang ia jalani. Salah satunya adalah sosok Pinka yang pernah berjuang mempertahankan hidup bersamanya.
Gadis itu dan Mamanya benar-benar pergi sejauh-jauhnya tanpa meninggalkan jejak selepas kejadian traumatik itu.Memulai hidup baru, dengan suasana baru dan lingkungan yang juga baru.
Memang tidak ada yang salah dengan kasih sayang luar biasa besar yang dicurahkan oleh orang tua pada anaknya. Sebab memang seperti itulah seharusnya orang tua. Tapi siapa sangka perbuatan baik yang tidak merugikan atau bahkan menganggu keberlangsungan hidup orang lain itu dapat menjadi bumerang.
Akibat rasa iri yang ditumpuk bertahun-tahun lamanya. Akibat keinginan yang tidak pernah terpenuhi yang terus menumpuk seiring bergulirnya waktu. Seorang anak yang polos tanpa dosa mampu membentuk sebuah alter ego dengan keyakinan tak tergoyahkan untuk mencuri objek kesayangan orang lain.
Bukan perhiasan mahal atau benda berharga. Tapi seorang anak manusia yang bernyawa. Ya, tidak ada yang boleh melupakan bahwa harta yang paling berharga bagi orang tua adalah buah hatinya.
Esa tidak akan merubah takdir. Bukan sebab ia tidak bisa. Tapi dari takdir yang diberikan padanya, Esa yakin Tuhan menginginkan laki-laki itu memetik sebuah pelajaran.Tuhan yang memberi takdir. Sementara manusia yang menjalankan takdirnya sembari memanjatkan doa dan harapan.
Dari sosok Shion ia belajar menjadi kuat. Dari shion ia belajar untuk menerima takdir yang telah ia peroleh dan menjalani dengan segenap hati hingga titik kritis waktu yang ditentukan.
Seberapapun atau apapun yang Shion lakukan Esa tetap menyangkal jika itu dikategorikan sebagai tindakan kejahatan. Yang Maha Adil itu Tuhan. Yang Maha Netral itu Sang Pencipta. Manusia tidak berhak mengadili dan menimbang dosa sesamanya. Semua manuisia pasti akan memperoleh pembalasan pada porsinya masing-masing.
Ibarat di medan perang, gadis itu telah menjaga bentengnya dengan optimal. Shion telah bertempur dengan gagah berani. Bahkan ia sudah menyerang lawan hingga titik darah penghabisan. Tentu setimpal jika Esa terus memanjatkan doa agar Shion selalu damai bersama para malaikat di surga.
Terlepas dari terapi apapun yang Esa jalani, terlepas dari tim psikolog dan timm medis sehebat apapun yang mengadapi laki-laki itu. Bahkan secanggih apapun alat dan teknologi terapis masa kini, tidak akan pernah mampu menghapus ingatan tentang Shion di dalam deep memory laki-laki itu.
Sebab memang Esa-lah yang ingin terus menghidupkan sosok gadis itu di dalam pikirannya. Sebab dari gadis itu Esa tahu bahwa ada satu hal pada diri manusia yang tidak terukur. Satu hal yang tidak ada parameternya. Semacam lorong gelap yang amat luas tak terhingga.Ya, kekuatan otak manusia.
Segala hal yang ada pada diri Shion merupakan hal yang ada di luar nalar dan logika manusia. Anak remaja dengan cacahan alter ego yang jauh berbeda. Gadis bertubuh kecil dan ringkih yang pada suatu waktu bisa memiliki kekuatan yang luar biasa. Gadis lemah dan penakut yang pada malam purnama mampu memunculkan alter ego keji yang mampu mencuri dan melesat cepat serupa tokoh ninja di film-film.
Sayangnya belum ada terapi yang mampu membantu seseorang dengan cacahan alter ego itu mampu mengendalikannya. Pengobatan yang ia tahu selama ini hanya mengembalikan pias-pias itu menjadi utuh dan menghapus piasan yang tidak bisa disatukan. Lalu menguatkan ego yang telah menjadi satu agar tidak lagi terberai.
Satu hal yang Esa sesali. Seandainya ia tahu bagaimana menghadapi alter kepribadian itu. Pasti Shion saat ini masih ada bersamanya. Pasti Shion berkesempatan untuk menikmati indahnya matahari yang terbit malu-malu dari balik pegunungan yang masih basah oleh embun dengan disambut cicitan burung-burung yang hendak memulai hari.
Semburat jingga dengan sulur keemasan yang megah di atas lanskap laut yang biru. Menikmati embusan angina laut sembari menyaksikan sang mata dewa tergelincir di kaki langit. Surga dunia yang amat memesona yang patut Shion nantikan sebelum dipanggil ke surga sesungguhnya.
Sayangnya saat itu Esa hanya sesosok anak remaja ingusan yang sekolah saja malas-malasan. Jangankan belajar banyak ilmu pada bidang yang ia minati, cita-cita saja tidak pernah Esa remaja pikirkan.
Ia saja yg sempat mengalami masa trauma telah sembuh. Masa-masa sulit pasca tragedi traumatis itu telah berlalu.Semesta memberi kesempatan pada dirinya dan Pinka, tapi ternyata Tuhan lebih memilih untuk memberi hadiah spesial untuk Shion.
Pada akhirnya menerima keadaan memang jauh lebih baik ketimbang menyangkalnya. Dan sepanjang proses penyembuhan dirinya sendiri, Esa selalu memikirkan kesempatan untuk Shion. Apabila memang benar-benar tidak ada kesempatan untuk gadis itu, maka Esa sendiri yang akan menciptakan kesempatannya.Bukan untuk sosok Shion yang pernah ia kenal, tapi untuk alter selemah Shi-Shi yang lain di luar sana.
***
Other Stories
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...