Suffer Alone In Emptiness

Reads
956
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
suffer alone in emptiness
Suffer Alone In Emptiness
Penulis L.d Lustikasari

1. Ipod & Earphone Tosca

Semacam telah menjadi rahasia sang Semesta; Tentang pada siapa atau pada orang seperti apa kita akan jatuh cinta. Dan, ketika kita telah jatuh ke pusara badai cinta logika tak lagi berguna, yang ada hanya rasa penasaran pada sosoknya. Lalu berharap akan terseret pada jati dirinya lebih jauh dan lebih dalam lagi. Tanpa peduli akibatnya Sang Kematian beralih mengintai dan nyaris menikam.
Dia hanya melihat. Ibarat tempat duduk, ia ada di bangku tribun penonton. Jauh, amat jauh. Dan tidak tergapai. Menyaksikan tanpa mampu merasakan. Mata bulat pekatnya hanya menonton peristiwa yang kebetulan datang bersamaan dengan seberkas cahaya yang tertangkap oleh retina. Tanpa diiringi hati yang perasaannya tersentuh. Sekali lagi, gadis itu hanyalah seorang penonton. Tidak lebih. Sayangnya itu terjadi dalam kurun waktu yang amat lama. Membuatnya jengah.
“Pinkaaa!” Teriak seorang wanita sesaat setelah jendela mobil merek Honda Jazz berwarna putih terbuka.
“Apalagi sih, Ma?” Seorang gadis berseragam putih abu-abu menghentikan langkah seketika. Kesal.
“Ini bekalmu terlupa Pumpkin,” sahut sang mama yang tampaknya wanita kantoran dengan usia pertengan tiga puluh.
Pinka memutar balik langkah kakinya menuju sang mama yang pasti akan mengomel jika panggilannya tidak dipedulikan. Mengambil tas tupperware ungu yang dimaksud mama.
“Cium lagi, jangan?” Goda sang mama dengan senyum dan tatapan penuh kasih sayang, khas seorang ibu yang cinta dan kasih pada buah hatinya sepanjang jalan itu.
“Ishhh—, Ma! Lagi!” Dengus Pinka sedikit kesal. Tapi tidak mampu menolak.
“Ampun deh, anak Mama. Sekarang sudah besar ya, udah malu kalo dicium Mamanya,” goda wanita itu. Lalu mengulang ritual sayangnya lagi. Padahal belum genap lima menit ia mencium pipi kanan dan kiri Pinka sebelum turun dari mobil.
Pinka tidak punya pilihan. Atau wanita yang susah-payah melahirkan itu akan mengutuknya menjadi batu layaknya cerita rakyat Malin Kundang. Membayangkan saja sudah membuat Pinka begidik ngeri.
“Ya sudah, anak Mama tersayang belajar yang serius. Biar pinter yah. Nanti sore Mama jemput sehabismeeting.”
“OK!” Sahut Pinka sembari menempelkan jempol dan telunjuk kanan hingga menyisakan tiga jari lainnya tepat di depan wajah.
“Love you,Pumpkin.”
“Love you too, Mooommm!”
Sekali lagi kuingatkan, ia hanya menyaksikan. Matanya menangkap kejadian dan memori otaknya merekam. Hatinya diam, tak tersentuh apalagi bergetar. Gamang saja. Tapi rekaman yang ada pada otaknya tersimpan rapi dan abadi tanpa ia sadari. Sebab kejadian itu terekam berulang-ulang tanpa ia sendiri pernah merasakan barang sekali.
***
Shiona Prameswari, murid sekolah SMA dari kelas XI IPA 3.Selalu mengenakan seragam sekolah yang kebesaran untuk menutupi tubuhnya yang mungil. Jika tidak ingin disebut dengan istilah kurus dan kecil. Tingginya memang di bawah rata-rata sebayanya lengkap dengan tubuh yang nyaris hanya tulang berbalut kulit saja. Tubuh putihnya selalut tampak pucat dengan aksen garis-garis nadi yang tercetak jelas.
Bukan tipikal anak SMA populer, bukan pula tipikal anak SMA kutu buku berprestasi, apalagi tipikal anak SMA yang penuh sensasi layaknya kaum milineal. Sejarah tidak akan mencatatnya sebagai sosok yang cukup berpengaruh di sekolah. Kecuali teman sekelas dan segelintir siswa dari kelas lain yang pernah terpaksa berkomunikasi langsung dengannya, tidak akan ada lagi teman sekolah yang mengenalnya.
Bahkan sang wali kelas atau guru pelajaran yang saban hari mengabsen dan menyebut namanya belum tentu sanggup mengingat dengan baik sosok gadis itu. Sebagian besar teman sekelasnya pun enggan berbicara langsung pada Shion yang pendiam. Shion yang tidak punya teman. Shion yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kecuali pada situasi dan kondisi yang amat mendesak.
Semua orang memang sibuk pada dunianya masing-masing. Sibuk dengan lingkaran pergaulan masing-masing, bersama orang yang menurut mereka membikin nyaman dan asik. Bagi mereka Shion tidak ada di dalam lingkaran itu. Pula sebaliknya, dunia Shion benar-benar tentang dirinya dan pikirannya sendiri. Tidak ada orang lain di sana.
Shion yang tidak pernah berbicara pada orang lain, Shion yang membikin kaku sebuah obrolan hangat, dan Shion yang tidak asik untuk tergabung dalam sebuah grup selfie di sela-sela mengumpul di jam istirahat. Sudah lebih dari cukup untuk membuat teman-teman sekelas untuk merentangkan jarak sejauh-jauhnya.
Belum lagi sikap yang tidak biasa gadis itu yang didukung dengan tampilan fisiknya.Shion yang selalu menatap tanah dan sepasang sepatu lusuhnya saat berjalan. Shion yang nyaris tidak pernah menatap mata lawan bicara. Shion yang bersuara amat pelan nyaris tak terdengar. Tidak menjadi korban bullying di sekolah saja itu sudah amat bagus. Sebab sekolah Shion memiliki peraturan yang amat tegas mengenai tindakan kekerasan fisik antar murid.
Sehingga pengetahuan teman sekelas tentang diri Shiona Prameswaripun amat minim. Sebab gadis itu memang super irit bicara, diajak berbicara pun belum tentu gadis itu menjawab. Tidak memiliki teman dekat,lebih tepatnya tidak ada yang mau berteman dengannya. Ah, siapa pula yang mau berteman pada gadis kurus, kecil dan pendek yang tidak pernah bersosialisasi dengan sesamanya. Selalu sibuk menyendiri diantara keramaia. Aneh.
Seolah semua orang yang pernah sekelas dengan Shiona Prameswari atau minimal mengenal gadis itu, mencari aman saja. Ketimbang turut memperoleh predikat aneh. Lalu tidak ada orang yang mau berteman lagi, lebih baik tidak berteman dengan orang aneh itu sendiri, bukan?
Bahkan tidak ada satupun murid yang mau menjadi teman sebangku Shiona. Jika berkelompok untuk mengerjakan tugas guru, Shiona menjadi orang terakhir yang memperoleh kelompok. Itupun dengan diiringi ekspresi anggota kelompok lain yang serupa ketiban sial.
Sungguhpun mereka tidak peduli:Ada apa, kenapa, atau apa yang terjadi pada gadis antisosial itu?
***
Selepas jam istirahat ke dua, ketua kelas XI IPA 3 yang tergopoh-gopoh berjalan dari arah koridor, mengumumkan bahwa Ibu Ida guru yang mengampu mata pelajaran biologi di kelas mereka berhalangan masuk. Langsung disambut oleh sorak-sorai gembira seisi kelas. Apa yang lebih menyenangkan dari pelajaran kosong di jam terakhir?
Kecuali satu orang yang duduk di deretan pojok belakang sebelah kanan. Ya Shiona Prameswari. Seperti biasa gadis itu memilih diam dan acuh. Hanya mengamati keadaan kelas sesaat melalui ekor mata, tanpa sedikitpun terseret arus selebrasi. Bahkan tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan pada wajahnya.
Shion benci jam kosong. Tanpa adanya sosok semacam guru yang menjadi titik pusat. Shion benci berada di tengah-tengah hingar-bingar yang tak terkendali. Sebab saat itu semua orang memiliki waktu untuk menatap sinis kepadanya. Sebab saat itu semua orang memiliki waktu untuk mencibirnya sembari berbisik-bisik ke orang lain.
Namun kali ini Dewi Fortuna sepertinya tengah berpihak pada Shion. Buktinya, sebelum selebrasi murid-murid kelas IX IPA 3 selesai, si ketua kelas segera memecah keriuhan, “Shuuut Up!!! Pengumuman belum selesai!” dengan suara amat melengking. “Ibu Ida memang tidak masuk. Tapi kita tetap praktikum di lab-bio didampingi asisten lab, ya teman-teman.”
Kurang dari sepersekian detik, kelas kembali riuh dengan nada kecewa yang tak kalah kompak. Lagi-lagi Shion tetap diam dengan ekspresi datar. Lebih memilih menyiapkan jas laboratorium dan alat tulisnya dari dalam tas dengan gerakan perlahan. Memilih sebagai orang terakhir yang keluar dari dalam kelas menuju laboratorium, meski dirinya orang pertama yang siap.
Shion lebih tampak seperti sedang berjalan mengekor anak-anak kelas IX IPA 3 yang bergerombol berjalan menyebrangi lapangan basket sekolah menuju laboratorium, ketimbang menjadi bagian dari mereka. Meski dalam posisi kepala menunduk, gadis itu mampu memindai satu-persatu wajah berpeluh beberapa anak laki-laki yang tengah memaksakan bermain bola di lapangan basket yang ia lewati. Ekor mata Shion seolah telah terseting untuk itu. Awas dan siaga.
Praktikum siang itu mengajak anak kelas IX IPA 3 untuk mengamati organ dalam katak sebagai hewan percobaan. Beruntung anak kelas IX IPA 3 sebab asisten laboratorium tidak membagi peserta praktikum menjadi beberapa kelompok. Sebab baik Shion maupun anak kelas yang lain sudah pasti enggan berada dalam satu kelompok. Mereka hanya perlu memerhatikan Ibu as-lab yang membedah tubuh katak lalu memerhatikan organ-organ dalamnya sembari menyimak penjelasan yang dipaparkan.
Pada momen di mana si katak percobaan mulai dihilangkan nyawanya sebelum dibedah untuk diamati organnya, Shion mulai merasa panas dingin yang menjalar naik turun di aliran darahnya. Ia merasakan tubuhnya mulai gemetaran dengan dada yang berdegup kencang. Meski yang melakukan pembedahan bukan dirinya, namun ia benar-benar tidak sanggup untuk menyaksikan.
Beberapa anak kelas juga tampak berekspresi ngeri menyaksikan pisau tajam menyayat tubuh si katak, namun sepertinya tidak ada yang berekspresi seberlebihan Shion. Gadis itu bahkan kini merasa lututnya lemas dengan keringat sebesar biji jagung menetes di dahinya.
Ketika seorang anak menyeletuk, “Wah, lihat kakinya bergerak-gerak. Lagi sekarat dia.” Shion benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk mengikuti praktikum itu.
Maka, sebelum orang lain menyadari perubahan sikap Shion. Sebelum dirinya yang sudah memiliki cap aneh, menjadi pusat perhatian. Sebelum ada mulut jahil, yang menyeletukan cibiran. Gadis itu memilih untuk sadar diri dan menyingkir perlahan. Sesegera mungkin. Berusaha agar tidak ada orang yang menyadari.
Gadis itu menutup perlahan pintu laboratorium biologi dari luar dengan perlahan. Lalu melangkah gesit dengan kepala menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap mata satu orangpun yang berpapasan dengannya sembari menggenggam erat ujung jas laboratorium yang ia kenakan. Fokusnya terkunci hanya pada satu titik, petak-petak ubin lantai yang akan membawanya pergi sejauh mungkin.
“Woy! Jalan pake mata!” Komentar seorang anak laki-laki yang hampir saja bertabrakan dengan si aneh Shion.
Tapi Shion tidak peduli. Memilih semakin merapatkan genggaman jemarinya lebih erat, hingga buku-buku jarinya memutih sembari terus berjalan. Jemari yang senantiasa basah oleh keringat terasa licin dan lembab.
Ia sudah biasa menjadi bulan-bulanan mulut nyinyir di kelas. Yang perlu ia lakukan hanya tidak peduli. Tapi kali ini ia tidak bisa mengenyahkan bayang-bayang katak hidup yang meronta-ronta di genggaman tangan Ibu As-lab. Katak yang terbujur lemas setelah mendapatkan suntikan kematian atau semacamnya. Dan katak yang sempat bergerak-gerak kakinya akibat sakaratul maut.
Ia berjalan cepat menujuruang UKS. Ibu Devi yang biasa bertugas di sana sedang cuti melahirkan. Jadi ia bisa menggunakan ruangan itu sepuasnya tanpa ada yang menganggu. Sebab ruang UKS itu selalu terkunci dan hanya Shion lah yang tahu bagaimana membuka ruang kesehatan itu tanpa bantuan kunci master.
Ruang UKS terletak di ujung koridor yang menghubungkan deretan ruang guru dan perpustakaan. Menyempil dan kecil di pojokan. Persis seperti posisi bangku Shiona di kelas. Gadis itu hanya perlu berjalan cepat menyebrangi sisi lapangan basket. Lalu berjalan mengikuti koridor kelas X yang tampak sepi sebelum berakhir di depan pintu UKS.
Dengan sedikit teknik memainkan kecerdasan, memadukan piranti berupa bilah-bilah jendela kaca yang bersebelahan dengan pintu yang terkunci, Shion dapat masuk ke ruang UKS dengan sukses dalam tempo kurang dari dua menit.
Hal pertama yang gadis itu lakukan adalah menuang air dari dispenser ke gelas lalu menghabiskannya dalam sekali tegukan. Menahan rasa aneh dan tidak tidak nyaman di tengah keramaian saja selalu membuatnya dehidrasi. Apalagi menahan rasa tidak nyaman melihat makhluk selemah katak percobaan itu meregang nyawa. Gadis itu nyaris pingsan.
Maka ia isi sekali lagigelas pelastik yang telah kosong di tangannya dan menghabiskan dalam sekali tegukan.
Sebelum memasang earphone berwarna toska di telinga dan menghubungkannya pada ipod yang selalu tersimpan di saku rok abu-abunya, gadis itu melangkah dan menjatuhkan diri pada lorong sempit yang tercipta diantara dua ranjang UKS.
Duduk nyaman di atas ubin lantai sembari bersender ke tembok, Shion mulai memejamkan mata sembari mulai mengatur ritme napas yang tersengal. Di tempatnya bersandar, kecil kemungkinan untuk dirinya terlihat dari arah luar.
Ketika Ode to Joy milik Ludwig Van Beethoven bergema di telinga, Shion mulai menghelai napas panjang dan konstan demi merilekskan indera perasanya yang sejak tadi sigap, awas dan ketakutan pada orang-orang di sekeliling.
Masih dalam posisi terpejam, ia merasakan dinginnya ubin lantai dan tembok yang sama-sama berwarna putih meresap ke kulitnya.Seolah menyatu dengan alunan musik klasik dari earphone-nya.Kalau sudah begini, Shion bisa lupa waktu.
Ia tidak akan ingat sudah berapa jam bertahan pada posisi itu. Mengingat seumur hidupnya, memperoleh ketenangan jiwa dan keheningan suasana seperti ini adalah hal yang langka. Amat langka. Sesungguhnya yang gadis itu inginkan hanya terus seperti ini. Amat sederhana bukan?
Tidak berselang lama, tepatnya kala terdengar suara ketukan pintu dari luar, Shion tersentak hingga tubuhnya merapat erat ke tembok. Segera gadis itu melepaskan earphone sembari menatap ke arah jendela tanpa berkedip. Mendadak sensasi déjà vu seperti hinggap di kepalanya.
Sebuah kepala mendadak muncul di balik gorden jendela yang sedikit tersibak akibat ulah Shion yang lupa menutupnya kembal saat membuka pitu UKS tadi. “Woy, siapapun di dalem. Buka dong, urgent nih!” Suara berat anak laki-laki yang belum lama puber.
Sebab bayangan amarah yang penuh kemurkaan dari sosok yang selalu membayangi hidupnya dan kejadian yang baru saja ia alami,Shion seketika terkesiap. Melenting saat itu juga dari posisinya demi melangkah menuju pintu tanpa sadar. Melakukan apa yang anak laki-laki itu perintahkan tanpa membantah. Membuka pintu.
Jika saja Shion lebih cermat sedikit, tidak akan ada orang yang menyadari keberadaanya di UKS. Dan tentu saja tidak ada orang yang akan menganggu me time-nya. Itulah salah satu sifat bodoh gadis itu yang membuat mama selalu marah.
“Betadine, betadine. Tolongin gue!” Kata anak laki-laki itu panik mencari-cari sesuatu kesana-kemari, sembari memegangi siku yang berdarah.
Shion jelas hafal mampus di mana letak benda yang dimaksud. Gadis itu segeramenghampiri lemari penyimpanan dan mengeluarkan kotak P3K dari dalamnya.Ia serahkan pada anak laki-laki yang mengenakan jearsey dengan nomor punggung 05 itu. Wajahnya sangat familiar, namun Shion tidak tahu namanya. Dan gadis itu tidak pernah peduli dengan nama orang.
Ia hanya mengamati. Kau milik si anak laki-laki yang nyaris basah oleh keringat. Dan yang mengucur deras dari dahinya, itu juga buliran keringat. Setetes keringat bahkan jatuh ke lantai. Membuat Shion begidik menyaksikannya. Entah hukuman apa yang akan mama berikan padanya kalau Shion sampau berani melakukan hal semacam itu.
Memosisikan diri duduk di atas ranjang dengan memangku kotak P3K, anak laki-laki itu tampak kebingungan harus melakukan apa. Terlalu banyak alat-alat yang mengisi kotak itu dan sayang semuanya tampak asing di mata si laki-laki. Sedangkan betadine yang ia bayangkan tidak tampak di sana.
Sedang Shion justru merasabulu kuduknya meremang akibat pengamatannya berhenti pada siku si anak laki-laki yang berdarah. Luka goresan kurang lebih sepanjang jari telunjuk yang tercetak dari batas siku hingga lengan bawahnya tampak menganga dengan hiasan darah segar. Terlebih luka itu bercampur kotoran berupa pasir dan keringat.
Shion sudah tahu bahwa melihat luka orang lain jauh lebih mengerikan ketimbang melihat luka di tubuh sendiri. Tapi karena seringnya ia mendapatkan luka-luka serupa dan melihat si anak laki-laki yang kebingungan memperlakukan lukanya membuat Shion berinisiatif untuk bertindak.
Gadis itu bukan anak ekskul PMR, bahkan belum pernah belajar tentang pertolongan pertama. Feeling saja. Dan semoga apa yang ia lakukan adalah tindakan yang tepat. Sebab selama ini luka-luka di tubuhnya membaik setelah ia lakukan hal serupa.
Pertama ia menuangkan alkohol pada kapas untuk membersihkan sisian luka dan pasir yang menempel. Bercak-bercak darah perlahan berpindah ke kapas di tangan Shion. Dan anak laki-laki itu bersikap cukup kooperatif dengan tidak memprotes tindakan yang dilakukan Shion.
Si anak laki-laki itu hanya meringis dan mengepalkan tinju.Setengah mati menahan erangan seiring dengan gerakan tangan Shion yang tengah membersihkan lukanya.
Setelah memastikan lukanya bersih, Shion mengganti dengan kapas baru yang sudah ia bubuhi betadine sebelumnya. Gadis itu tampak piawai menutup luka si anak laki-laki dengan kasa dan membebatnya dengan perban. Ia dapat menyelesaikan pekerjaannya itu kurang dari 10 menit.
Fakta yang cukup mencengangkan, sebab ia melakukannya tanpa rasa panik. Sangat kontra dengan apa yang terjadi di laboratorium sebelumnya. Padahal ia saat itu hanya menyaksikan, bukan melakukan.Apa sebab gadis itu terlampau sering mendapat luka serupa atau luka lebam.Bagi Shion, luka serupa hanyalah luka kecil yang tidak terlalu dipusingkan.
Tentu dua hal yang berbeda bukan, melihat luka dan menyaksikan kematian?
“Terimakasih. Aku Esa. Mahaesa,” kata si anak laki-laki itu sembari tersenyum tulus pada Shion dan mengulurkan tangan.
Bagi Esa, ini kali pertama dirinya dirawat lukanya oleh teman sebaya. Terlebih teman perempuan. Sebagai anak laki-laki yang amat mengandrungi olahraga sepak bola dan futsal, ia sudah biasa memperoleh luka-luka goresan. Namun ini kali pertama dirinya memperoleh luka yang cukup lebar dan dalam. Menyaksikan darah kental yang merembes dari kulitnya ternyata cukup ngeri dan mebikin panik juga.
Hingga ia tidak ada ide untuk melakukan pertolongan apa pada lukanya. Siapa pun anak perempuan yang menolongnya itu, Esa harus berterima kasih. Minimal ia tahu nama dan kelasnya, agar esok ia bisa mentraktir lemon tea di kantin sebagai tanda terima kasih serta pertemanan.
Murni rasa terima kasih dari hati yang terdalam. Bukan modus semata. Ia bukan tipikal kacang yang lupa akan kulitnya. Sebab orangtuanya selalu mengajarkan pentingnya berterima kasih dan menjalin pertemanan dengan siapa saja.
Pada momen itu, untuk kali pertama si anak laki-laki itu melihat wajah Shion. Benar-benar memerhatikannya dari jarak dekat. Sangat dekat. Seorang gadis dengan matanya yang tampak kuyu dan dalam dengan hiasan alis yang sangat tipis.Tulang pipi dan tulang rahangnya tercetak tegas. Kulit kuning langsatnya tampak pucat.
Esa terkesima. Sulit dipercaya bahwa badan yang kecil dan kerempeng itu sengaja dibalut oleh seragam dengan ukuran kebesaran.
Shion seketika membeku. Menatap lekat uluran tangan Esa tanpa berkedip. Ini kali pertama seumur hidup seseorang mengulurkan tangan padanya dengan sukarela. Detik itu juga adrenalinnya memuncak hingga membuat detak jantung berdegup dua kali lebih cepat. Membuatnya gugup dan semakin tidak bernyali untuk balas menatap Esa.
Dari gestur tubuh, Esa merasa seperti tidak asing dengan sosok gadis di hadapannya itu. Tapi siapa? Batinnya.
Bukannya membalas uluran tangan Esa, gadis itu justru menggelengkan kepala kemudian berdiri dan mundur beberapa langkah. Tentu masih dalam posisi kepala menunduk menatap garis yang tercipta disela-sela ubin ruang UKS. Sesuatu berkelebat cepat dipikiran gadis itu. Layaknya scene-scene film yang diputar amat cepat.
Membuatnya merasa amat pusing tidak terkira. Sesuatu seperti mendesak-desak hati dan jiwanya. Berbisik amat riuh dan melengking membuat indera pendengarnya ngilu. Menuntut dibebaskan seberapapun ia mencoba bertahan.
Menyadari terjadi perubahan gestur pada wajah lawan bicara, Esa kembali membuka suara. “Hey, lo kenapa?”
Shion menggeleng cepat. Mengusap wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya yang basah oleh keringat. Saat gadis itu sedikit mengangkat wajah, siapapun dapat melihat bahwa telah terjadi perubahan yang terlalu cepat pada dirinya. Wajah pucat gadis itu semakin memucat.Bibirnya membiru dan bergetar.
Sebelum scene-scene film itu berputar semakin cepat, sebelum lengkingan suara itu merobek gendang telinganya. Sebelum rasa sakit yang teramat sangat memecah batok kepalanya. Sebelum semuanya berubah hingga Shion tidak memiliki kuasa lagi atas tubuhnya, kaki gadis itu sudah lebih dahulu bertindak.
Esa menduga bahwa gadis itu memiliki semacam phobia pada darah, luka atau semacamnya. Sebab setelah membebat luka milik Esa, si gadis tampak tidak stabil. Berjalan dengan gerakan agak terhuyung-huyung.Perasaan hutang budi membuat Esa mendadak berdiri, sigap menangkap lengan gadis yang nyaris terjerembab itu.
Tapi responnya malah sama sekali tak terduga oleh Esa. Gadis itu melepaskan pegangan tangan Esa dalam sekali hentakan keras lalu berjalan cepat keluar urang UKS dan menyusuri koridor dengan tergesa-gesa.
Gerakannya yang amat cepat membuat Esa kebingungan. “Hey, tungggu!” Esa berdiri salah tingkah, tidak tahu hendak berkata apa. Sulit dipercaya anak perempuan sekurus itu ternyata memiliki tenaga yang tak terduga.
Sebelum turut meninggalkan ruang UKS, tatapan mata Esa sempat menangkapsesuatu. Sebuah benda yang tergeletak di atas lantai. Membuatnya enggan untuk melangkah pergi. Berpikir sejenak sebelum meraih benda itu.Sebuahearphone dan ipod hijau toska yang Esa yakini milik gadis aneh itu.
Diraihnya benda itu untukdiselipkan pada saku celananya. Kini Esa tidak hanya memiliki hutang terimakasih pada gadis itu, tapi ia juga memiliki PR untuk mengembalikan barang milik orang yang sudah menolongnya.
***

Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Download Titik & Koma