Suffer Alone In Emptiness

Reads
956
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
suffer alone in emptiness
Suffer Alone In Emptiness
Penulis L.d Lustikasari

5. Teddy Bear Yang Malang

Bagaimana mungkin satu jiwa dapat terbelah hingga setidaknya lima bagian? Menjadi dua bagian saja itu amat sulit dan barang tentu menyakitkan tiada terkira.
Ketika terbangun dan mengerjapkan mata, Esa tidak merasakan sessasi silau cahaya apapun yang menembus ke lensa mata. Indera penglihatannya butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan penglihatan dengan suasana cahaya temaram.
Ketika ia telah menguasai diri dan keadaan,sensasi pengap dan gelap seketika mengerayap. Sebuah ruang kamar minimalis yang cat temboknya tidak terdeteksi akibat minimnya cahaya. Yang Esa tahu, single bednya yang terletak di salah satu sisinya amat berantakan.
Pada momen ini barulah Esa sadar bahwa kini diirnya tergeletak di atas lantai berkarpet yang berdebu tipis tepat dibelakng pintu. Badannya terasa kaku dan ngilu ketika hendak bangun. Demi bangun dan duduk bersandar tembok saja ia harus mengerang kesakitan.
Ia gunakan sebelah yangannya untuk memijat kening yang terasa berat dan pusing. Esa tidak tahu itu kamar siapa, tapi jika ditelisik dari furniture berstiker beberapa tokoh kartun Disney dan beberapa mainan anak berserakan, remaja laki-laki itu menebak bahwa pemiliknya anak-anak berusia kisaran sepuluh tahun.
Tidak ada yang aneh dengan kamar itu, kecuali pada sebuah boneka tedy bear yang sepenglihatan Esa berwarna cokelat, tergantung pada seutas tali yang menjuntaidari atas plafon. Esa tidak terbayang bagaimana menancapkan sebuah paku pada langit-langit kamar yang tinggi itu.
Kondisi boneka yang lehernya terhubung tali serupa orang sedang gantung dii itu amat mengenaskan. Terlebih salah satu kancing yang berfungsi sebagai mata telah terlepas dengan isian boneka berwarna putih yang terburai dari lubang kecil itu. Amat mengerikan.
Esa baru akan meraih daun pintu ketika menyadari sepasang mata menatap awas padanya. Nyaris saja jantung Esa copot dan menggelinding ke lantai demi melihat ada orang lain di dalam ruang kamar itu selain dirinya. Bersembunyi di bawah meja belajar dan tertutup kursi.
“S-s-siapa kamu?” tanya Esa memaksa berani, namun tidak bisa menutupi getaran pada pita suaranya.
Diraihnya kursi belajar beroda yang menutupi tubuh pemilik sepasang mata itu. Melalui cahaya temaram, Esa melihat anak itu mengenakan terusan baby doll bermotif polkadot tanpa lengan yang tampak kekecilan dan mengatung.
Di luar dugaan Esa, anak itu justru meringkuk lebih dalam lagi. Seolah sedang menyatukan dirinya pada bilah-bilah kayu meja tempat persembunyiannya. Gadis itu terisak persis seperti anak balita yang habis terjatuh saat bermain sepeda.
Mata Esa membalak tak percaya ketika menyadari siapa tubuh berbalut baju kekecilan itu. Orang yang sama dengan sosok yang mengenakan pakaian dan high hells serba merah. Orang yang sama dengan yang menolongnya saat di UKS sekolah tempo hari.
Ya Tuhan, drama macam apa lagi ini! Bisiknya dalam hati.
“Apa yang kamu lakukan di bawah sana Shion? Keluarlah.” Jengah.
Menyadari daun pintu yang terkunci membuat Esa kembali mnenaruh perhatian pada sosok Shion yang kini terisak sembari membenamkan wajah diantara kedua lututnya.
“Ah, ayolah Shion. Di mana kamu meletakkan kuncinya. Aku ingin pulang. Ada apa dengan rumah ini. Kenapa tidak ada orang dewasa di sini? Dan kenapa kamu berpakaian aneh-aneh. Kamu pikir kita sedang bermain peran boneka barbie, atau apa?”
Esa menghentikan omelannya pada Shion ketika gadis itu turut berceloteh. Bukan tipe celotehan yang merespon keluhan Esa. Tapi tipe perkataan dengan nada yang memelas dan memohon dengan amat sangat. Membuat siapapun yang mendengarkan merasa teriris hatinya.
Yang lebih mencengangkan lagi, suara Shion amat polos serupa anak taman kanak-kanak yang lepas dari gandingan tangan orang tuanya di tengah pasar malam dan amat ketakutan.
“Ja-jangan. Jangan sa-sakiti Shi lagi.” Omongannya terpatah-patah oleh isakan yang tidak terbendung. “Shi mohon. A-ayahh—,” Suaranya terpenggal oleh isakan panjang. “Shi a-akan menurut. Ja-jangan lukai tangan Shi—.”
Demi mendengar lebih jelas lagi apa yang sedang gadis itu bicarakan. Esa melangkah mendekat dan berjongkok di hadapannya.
Mengakibatkan gadis itu terkejut dan memekik. “Jangan! Jangan Ayah! Jangan lakukan itu! Shi mohon!” Sembari meronta-ronta.
Ayah! Shi! Piker Esa mencoba menelaah. “Hey, tenang Shi. Aku Esa teman sekolahmu. Bukan Ayahmu. Tenanglah.”
Entah sudah berapa lama Esa meyakinkan gadis itu kalau dirinya bukan Ayah—yang ia maksud. Gadis itu tetap saja membenamkan wajah pada kedua lututnya, enggan melihat keadaan sekitar. Dan melemparkan tinju kesegala arah setiap Esa membuka suara. Tanpa peduli tubuhnya akan terantuk kaki-kaki meja.
Gerakan tangan yang mengepakkan tinju dan kaki yang menendang ke segala arah si gadis semakin menjadi-jadi setiap kali Esa menyebutkan kaya Ayah. Mungkin sosok ayah itu sangat jahat hingga gadis itu takut sampai titik trauma.
“Dengar! Aku Esa. ESA! Teman satu sekolahmu!” Teriak anak laki-laki itu frustasi.
Secara ajaib dan membingungkan, gadis itu akhirnya mau mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Esa. “E-saa?”
Esa mengangguk sembari menatap matanya, meyakinkan. Ia cukup tercengang mendapati bola mata Shi yang bulat dan legam. Dari sana aura kepolosan seorang anak-anak memancar. Serupa jendela surga. Untuk sesaat ia membeku dalam posisinya.
Sesaat kemudian ia seperti terlempar dari alam mimpi ketika mengingat bahwa bola mata Shion yang tidak sengaja bersitaap dengannya di UKS itu memiliki bola mata cokelat.
Bersender pada salah satu kaki meja dekat Shi, entah sudah berapa alam mereka berbagi kebisuan seperti itu. Isak tangis dari Shi telah mereda, hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Ini lebih baik ketimbang Esa harus bertemu dengan sosok Tante Elsa yang galak dan tempramen lagi.
Tidak ada kunci pintu dan lebih parah lagi tidak ada jendela di kamar itu. Cahaya hanya dating dari kisi-kisi sempit di atas pintu. Berkali-kali Esa mencoba bertanya tentang kunci, tapi gadis itu hanya menggeleng kebingungan. Menggeledah seluruh penjuru ruang kamar itupun sepertinya hal yang sia-sia.
Entah sekarang sudah pukul berapa, atau Esa sudah berapa lama terjebak di rumah itu bersama Shion yang—gilanya—dapat berubah-ubah menjadi orang lain. Mungkin jika saat ini Esa pulang, ibunya tidak akan membukakan pintu sebab sudah terlampau larut.
Dalam keheningan, Esa berusaha mengingat-ingat dan menggambarkan visual denah lokasi rumah itu di dalam ingatan. Itulah yang biasanya laki-laki itu lakukan jika sedang melamun. Ia menyebutnya dengan mengasah ingatan.
Mengasah ingatan membuat optimisme dalam diri Esa melambung tinggi. Ia yakin bahwa kunci yang mampu membawanya keluar adalah Shion sendiri. Bukan sebuah benda yang berjodoh dengan lubang kunci saja. Diperkuat pula dengan fakta bahwa ia terjebah di dalam sana hanya berdua Shion meski gadis itu beganti-ganti kepribadian yang tidak Esa mengerti.
Maka Esa mulai mengajak gadis itu berbicara. Tentang kesukaan Shi. Siapa Shi. Tentang pemilik rumah itu. Tentang lokasinya. Tentang penghuninya.Tentang Tante Elsa. Shion. Dan masih banyak lagi.
Betapa mencengangkannya ketika Shi mengaku dengan yakin dan polos bahwa dirinya seorang murid kelas tiga SD yang sedang ditinggalkan mamanya dinas ke luar kota dan tinggal bersama ayah tirinya di rumah itu.
Hal bodoh kedua yang Esa lakukan hari itu selain nekat masuk ke rumah Shion perkara ingin mengembalikan ipod adalah membahas lebih jauh sosok ayah tiri Shi. Rasa penasaran benar-benar membuatnya lupa kapan waktu yang tepat untuk menarik tuas rem di mulutnya.
‌Gadis itu kembali ketakutan berlebihan hingga mendekati titik buas ketika bola matanya berputar. Seperti sedang memikirkan sosok ayah. Kemudian berteriak-teriak dan meronta seperti orang kesurupan. Terlebih ketika ia melihat boneka tedy bear yang mengantung pada seutas tali itu.
Ia segera melompat dan menyergap boneka yang tidak memilik kesalahan apa-apa. Menggigit sebelah matanya yang masih utuh hingga terlepas. Lalu mengigiti tangannya sembari meronta dan berteriak-teriak. Wajahnya yang sebelumnya kacau semakin kacau lagi.
Esa yang berusaha menangkap sosoknya untuk menenangkan justru terlempar karena kepalanya terkena hantaman tangan Shi yang ternyata cukup kuat juga. Membuat bumi seketika berputar dalam pandangan Esa. Ia limbung dan jatuh terjerembab pada lantai di sisi lain ranjang.
‌Detik berikutnya, melalui kesadaran yang nyaris menghilang, Esa menyaksikan alter Shi sudah berubah. Entah bagaimana, yang jelas gadis itu meninggalkannya seorang diri.
***
“Ayo Ma, jadi tidak sih?” Dengus Pinka kesal. Sembari mengentak-entakkan kaki. Khas anak manja yang selalu dikucuri kasih sayang berlebihan oleh orang tuanya.
“Iya sayang, sabar. Mama lupa di mana menaruh ponsel nih.” Satu sang mama sembari menyibak selimut dan meneliti barang-barang di depan cermin rias. Memastikan benda yang dicarinya terselip di sana.
“Ish Mama! Dasar pelupa. Keburu telat nih. Keburu Adam sudah potong kue dulan sebelum kita dating,” cibir Pinka masih dengan nada bicara yang amat manja dan menggemaskan. Membicarakan perihal kedatangan mereka pada acara ulang tahun sepupu Pinka.
“Baik! Baik! Maafkan Mama. Sudah ketemu nih. Ternyata sudah masuk ke dalam tas,” kekeh mama merasa konyol dan merasa bersalah karena membuat gadis kesayangannya kesal.
Lalu keduanya berjalan bersisian menuju garasi. Seperti biasa mama menyetir mobil sementara Pinka duduk manis di sisinya sembari menyeletuk apapun yang bisa menjadi bahan obrolan perjalanan mereka. Tak jarang celetukan gadis itu membuat mama menepuk jidat untuk kemudian mengusap pucuk kepala Pinka.
Mama Pinka adalah seorang single mother yangmemiliki masa lalu cukup rumit dengan mantan suaminya. Banyak pasangan suami-istri yang mengalai hal serupa. Namun sayangnya tidak banyak di antara mereka yang mampu melanjutkan hidup dengan menerima dan bahagia serupa Mama Pinka.
Kesalahan akan masa lalunya itu justru semakin memupuk rasa sayang wanita yang berusia akhir tiga puluhan tahun itu pada gadis sematawayangnya. Harta paling berharga yang pernah tuhan kirimkan padanya. Membuat keduanya amat kompak meski sejatinya keluarga kecil mereka berjalan pincang dan tertatih-tatih.
Tapi keadaan selalu kalah dengan kesabaran dan kasih sayang. Disokong dengan sang waktu yang terus berputar, keadaan seburuk apapun dapat mereka kalahkan.
Singkat kata Pinka amat bahagia hidup bersama Mama tanpa figure seorang Ayah, sebab peran Mama di dalam hidup Pinka sudah mengisi segala peran di dunia ini dan amat cukup. Begitu pula sebaliknya Mama amat bahagia memiliki anak yang sekoperatif Pinka. Yang tidak pernah mengeluh atau pun mempertanyakan hal-hal yang membuat mama mengingat masa lalu kelam yang berujung kesedihan.
Di antara suara deru mesin kendaraan yang keduanya tumpangi, dan sebelum mobil Mama melaju wanita itu sempat-sempatnya menggoda Pinka. “Ah, Mama lupa!”
“Apa!” Seru Pinka ikut panik melihat ekspresi Mama. Namun merasa kesal juga.
“Hari ini Pinka belum kiss Mama, kan!”
Jika saja yang barusan berbicara bukan Mama, Pinka pasti sudah mengepalkan tinjunya untuk menampol orang tersebut. Sebab itu ulah sang mama maka Pinka hanya mendengus kesal. Bagaimana mungkin wanita itu masih sempat bercanda di tengah situasi dan kondisi mereka yang terburu-buru?
Sebab itu perkataan Mama, maka walaupun kesal Pinka tetap melakukan apa yang Mama harapkan. Ya, nendaratkan dua buah kecupan cinta pada pipi kanan dan pipi kiri wanita yang amat dikasihinya. Tanpa sadar dua bola mata tajam dari arah pohon manga yang amat rimbun di depan rumahnya dua manik matamemerhatikan dengan awas ke arah mereka. Nyaris tanpa berkedip.
Sosok yang seluruh tubuhnya hingga wajahnya tertutup pakaian serba hitam itu benar-benar tak terlihat di antara rimbunya dedaunan yang berselimut gelapnya malam. Meski di langit bulan purnama bersinar benderang, namun kenyataannya benda langiti itu hanya memantulkan berkas cahaya dari matahari. Bukan milik sendiri. Hal yang wajar jika berkas cahaya yang sempat singgah di bumi hanya berupa temaram.
Hal itu membuat siapapun tidak akan sadar akan kehadiran sosok pemilik dua manik mata tajam. Lagipula sosok itu amat peka pada keadaan. Perubahan gestrus sekecil apapun dapat ia rasakan. Kalau sudah begitu, ia sigap untuk bergerak melompat dari satu tempat ke tempat lainnya dengan kecepatan setara dengan rambatan cahaya. Secepat kemampuan manusia melakukan satu kedipan.
Sosok bermanik mata tajam itu turut bergerak tanpa menimbulkan suara maupun jejak ketika mobil yang Mama Pinka bawa mulai keluar dari halaman rumah. Amat cepat serupa embusan angina. Sinar yang terpancar dari bluemoon seolah melipat gandakan kekuatan yang dimiliki sosok itu.
Satu sedang diikuti sementara yang lainnya mengikuti sembari mengawasi. Keduanya bergerak menuju arah hutan kota yang jika malam begini sepi dengan lalu-alang kendaraan. Tapi mama Pinka tidak punya pilihan sebab itu satu-satunya akses menuju lokasi gelar pesta ulang tahun sepupu gadis remaja itu. Di perumahan pinggiran kota yang penduduknya belum sepadat perumahan pusat kota milik keluarganya.
Jika keluatan bluemoon dapat melipat gandakan kekuatan yang sosok bermanik mata tajam itu miliki. Maka suasana sepi dapat meningkatkan keberanian sosok itu hingga puncak tertinggi. Membuatnya tidak memiliki keraguan sedikitpun untuk melancarkan misi.
Brak!
Dentuman keras bersumber dari arah atas mobil yang dikendarai Mama pinka membuat dua orang di dalamnya menjerit bersamaan. Sesuatu serupa benda tumpul berat dan besar seperti dijatuhkan langsung ke atas mobil itu. Membuat membuat besi rangkanya sedikit penyok dan membuat mama seketika menginjak rem sedalam-dalamnya.
Melihat bayangan hitam bergerak dan tanpa sengaja bersitatap dengan bola mata tajam itu membuat mama dan Pinka refleks saling memeluk erat sembari berteriak dengan kekuatan maksimal. Sayang jalan itu selalu sepi kendaraan kala malam tiba. Maka teriakan keduanya berakhir sia-sia tanpa ada satupun orang yang mendengarnya.
Sinar bluemoon menjadi saksi bahwa seseorang telah direnggut dari pelukan orang lain yang paling menyayanginya. Tanpa ampun dan hanya dalam sekali hentakan. Sekencang dan serapat apa keduanya saling mengaitkan tangan untuk merengkuh, kekuatan manusia itu tetap kalah jauh dibandingkan dengan si sosok bayangan hitam.
Satu kubu telah menyusun strategi dengan matang semntara kubu lainya berada dalam posisi keterkejutan dan ketakutan.
Lengkingan suara teriakan Pinka seolah menjadi suara terakhir yang bisa didengar Mama dengarkan sebelum semuanya berubah menjadi gelap dengan sensasi jutaan kunang-kunang hinggap di kedua matanya.
Bersamaan dengan rengkuhan tangan wanita itu yang terlepas dari badan buah hatinya, sejarah akan mencatat bahwa telah terjadi kecelakaan tunggal akibat rem blong oleh seorang wanita paruh baya berusia sekitar tiga puluhan. Sementara takdir memaktubkan tulisan yang berbeda.
Harta yang paling berharga milik seorang ibu, telah dicuri. Direnggut paksa dari seorang wanita yang selama enam belas tahun terakhir ini menjaganya dengan amat hati-hati.
***
‌Ketika Esa kembali sadar, laki-laki itu tidak tahu sudah kali keberapa dirinya pingsan. Masih terkurung di ruangan yang sama, Esa benar-benar tidak ada informasi mengenai keadaan di luar. Siang atau malam. Terik atau hujan. Rumah itu, tepatnya kamar itu seperti memiliki ruang dan waktu sendiri.
Esa merasa sangat lemas. Pikiran dan tenaganya telah tercurah sepenuhnya untuk bertahan hidup. Menghadapi Shion yang bergonta-ganti peran, ternyata amat menguras jiwa dan pikirannya. Sembari menahan rasa lapar dan haus yang kian menjadi-jadi remaja itu harus bertahan hidup.
‌Melalui sisa-sisa tenaga dan tenggorokan yang kering kerontang, Esa memberanikan diri untuk menguji pita suaranya. Berteriak sekeras-kerasnya. Persetan dengan siapapun yang mendengarnya, ia harus menyelamatkan diri dari belenggu rumah terkutuk itu.
Sebelum mulai menghelai napas Panjang dan membuka mulut selebar-lebarnya, Esa terlebih dahulu mengambil posisi kuda-kuda dan mengenggam erat kursi yang akan ia gunakan untuk melawan dan mepertahankan diri.
Tak berselang lama dari kegaduhan yang Esa ciptakan, sebuah bayangan mendekat. Tanpa suara. Hanya tampak dari sela bawah pintu. Esa semakin mempererat gengaman kedua tangannya. Siap menyerang pada sosok yang dating. Siapapun itu.
Sebuah suara anak kunci yang diputar dengan amat perlahan membuat dada Esa berdegup semakin kencang. Setetes keringat dingin mengalir pada dahi laki-laki yang gampang berkeringat itu. Seperti inikah rasanya menjemput kematian?
Sosok Shion muncul ketika pintu terkuak. Mengenakan piyama tidur bermotif abstrak. Sebelum Esa melangkah maju dan siap menyerang, anak itu mendekatkan jari telunjuknya ke depan mulut dan berkata. “Psttt, jangan berisik. Tolong. Nanti mama marah. Please.” Dengan nada mengiba.
Esa yang siap menyerang amat terkejut. Sebab Shion yang ini adalah persis seperti Shion yang menolongnya membebat luka di UKS. Shion yang ipod dan earphone-nya ia bawa. Membuat pegangannya pada kursi mengendur.
Betapa terkejut sosok Shion yang mematung di ambang pintu, lantaran yang ia temukan terkunci di dalam kamarnya adalahseorang teman sekolahnya. “K-k-ka-kamu, ba-bagaimana? Bagaimana bisa ada di rumahku?” Tanyanya tak percaya.
‌“Tante Elsa. Kamu bermain peran Tante Elsa,” guman Esa Lemah. Entah bagaimana, menemukan Shion yang ini membuat lututnya seperti terasa amat lemah hingga menopang badannya saja ia tidak sanggup. Detik berikutnya remaja laki-laki itu meluruh jatuh terduduk.
Shion segera bergerak mendekat pada Esa, membantu teman sekolahnya itu bangun. “Ayo, kamu harus pergi dari sini. Tidak, kamu tidak boleh ada di sini. Kamu harus pergi.” Entah bisikan dari mana ia merasa Esa tidak akan aman berada di rumahnya.
“Tante Elsa. Bagaiman dengan Tante Elsa? Kenapa kamu mengigiti tedy bear? Shi, ada apa dengan rumah ini?” Kata Esa sembari menyenderkan kepala ke tembok.
Shi tampak kebingungan dengan pertanyaan bertubi-tubi yang Esa lontarkan. Hanya membuka mulut tanpa ada kata yang keluar padahal telah berpikir keras.
Pada momen itu, untuk kali pertama Esa menatap manik mata Shion meski sebentar dan tidak sengaja. Tatapan mata polos dan kosong. Dengan beberapa kerutan wajah di ujung mata yang tidak semestinya gadis remaja dapatkan. Ekspresi Shion seperti berkata ia amat kelelahan dan tertekan.
‌“Pukul berapa sekarang, Shi?” Esa mengganti pertanyaannya.
Shion masih berekspresi kebingungan. Melemparkan tatapan ke sana-kemari. Seperti meminta bantuan pada tembok yang sialnya berupa benda mati.
Ekspresi serupa masih saja Shion tampilkan saat Esa menanyakan perihal hari, tanggal, bahkan sampai pertanyaan kenapa tidak berangkat sekolah setelah menolongnya di UKS. Shion pun tidak mampu menjawab. Namun bukan tipikal ekspresi berdusta. Gadis itu benar-benar seperti tidak tahu.
Di tengah rasa frustasi akan pertanyaan Esa yang sesulit ujian fisika, gadis itu masih sempat mengisyaratkan agar Esa segera pergi dengan membimbing laki-laki itu bangun dan melangkah ke luar. Perlahan keduanya berjalan tertatih-tatih.
“Aku haus, Shi,” kata Esa menghentikan langkah mereka saat melintas area dapur setelah menuruni tangga lengkung dari lantai dua.
Merasa risi dengn panggilan Shi yang terus diulang-ulang. Gadis itu memprotes. “Aku Shion jangan panggil, Shi!” Sebab tidak ada yang memanggilnya begitu setelah Papa pergi dari rumahnya saat ia kelas tiga sekolah dasar.
Esa cukup terkejut dan bingung, inngin menanyakan perihal boneka tedybear yang digantung pada seutas tali dan pada sosok Shi yang amat ketakutan dengan sosok Ayah. Tapi sayangnya mereka sudah keburu berada di depan dispenser.
‌Esa sudah terlalu lelah untuk menginterupsi semua kejanggalan yang ia alami. Maka ketika Sion menyuruhnya menadahkan kedua tangan demi menampung air dari lubang dispenser untuk di minum, ia menurut saja. Padahal gelas berjajar pada kabinet kaca dan rak perabotan. Yang terpenting saat ini adalah dahaganya hilang dan ia memiliki energi tambahan untuk melepaskan diri dari belenggu Shion yang kepribadiannya dapan bergonta-ganti. Terlebih dapur itu memiliki pintu keluar menuju halaman belakang.
‌Pada saat itu Esa mengingat sesuatu dan segera mengeluarkan ipod dari tasnya.Berniat untuk mengembalikan pada pemiliknya. Tujuan awal ia datang ke rumah Shion.
Untuk kali pertama Shion mengingat apa yang ia alami. Seulas senyum terbit pada bibir tipisnya yang kering dan pecah-pecah. Ia ingat sempat mencari-cari benda kesayangannya itu. Lantas menimang-nimang benda itu sembari melangkah dan duduk pada sebuah ayunan di halaman belakang rumah.
Entah malaikat dari mana yang merasukinya, ia memiliki keberanian untuk memutar salah satu musik klasik dari playlist-nya lalu menyumpalkan sebelah earphone pada telinganya dan menyerahkan ujung yang lain pada Esa yang sudah duduk di sisinya.
Meski mereka kini ada di area belakang rumah, namun rumah itu seperti didesain utnuk tidak dimasuki cahaya matahari. Buktinya halaman belakang itu ditanami rumput sintetis dengan tembok menjulang tinggi dan beratap. Esa sangsi, apakah tikus mampu masuk ke rumah itu, mengingat rapatnya tembok dan langit-langit. Benar-benar tanpa celah.
‌Pada momen itu, Esa banyak melontarkan pertanyaan tentang siapa Shion sesungguhnya. Di mana orang tua shion. Juga tentang rumah itu, setidaknya jalan untuk ia keluar dari sana. Saat Esa kembali membahas tentang Tante Elsa yang sangat galak dan Shi yang selalu ketakutan. Shion seperti tidak mampu mengendalikan gejolak pada dirinya. Seperti terpukul, malu dan nelangsa. Lalu beranjak pergi tanpa sempat Esa cegah.
Esa hendak mengejar Shion untuk menuai jawaban. Tapi sebuah ide muncul di dalam kepalanya tiba-tiba. Ini waktu yang tepat untuk dirinya kabur. Mencari jalan yang sama saat ia masuk untuk ke luar. Ia tidak yakin bagian belakang rumah yang rapat itu mampu membawanya pergi. Maka ia kembali memasuki rumah dan menyebrangi ruang tengah yang amat luas. Terdapat tiga pintu geser di tiap-tiap sisi yang posisinya tertutup.
Random saja, ia memilih pintu geser di sisi kirinya, lalu melewati lorong-lorong gelap rumah itu. Hingga langkahnya membawa Esa pada ruang tamu di mana ia masuk bersama sosok Tante Elsa. Ia merasa seperti menemukan titik cahaya setelah melewati goa yang amat panjang.
Esa sudah menarik gagang pintu yang tidak terkunci ketika sadar seseorang sedang berdiri berkacak pinggang di belakangnya dengan Ekspresi galak. Sangat galak.
‌ “Ta-tante Elsa!” Esa tidak tahu ada kekuatan dari mana hingga gadis sekecil Shion mampu memegangi lengannya amat kencang dan menyeretnya masuk kembali ke rumah.

Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Download Titik & Koma