Prolog
Di sini, terbaring dengan tenang seorang gadis baik manis nan kuat.
SHIONA PRAMESWARI
Dunia ini terlalu kacau untuk ditinggali gadis sepolos dirimu, maka Tuhan mengirimu ke Surga, tempat di mana makhluk sesuci malaikat dan bidadari berkumpul bersama kedamaian.
Esa mengusap batu nisan abu-abu bercorak bintik-bintik legam dengan ukiran huruf berwarna keemasan itu sebelum meletakkan buket bunga lili putih di atasnya. Bunga yang bagi Esa dapat mewakili simbol ketulusan dan kesucian. Bunga yang dirasa mampu, mengembalikan kemurnian jiwa seseorang yang telah tiada.
Laki-laki itu menatap lekat rangkaiannya yang tampak amat lembut dan damai berpadu dengan gelapnya batu nisan. Dibacanya deretan huruf yang tertulis di sana dengan perasaan sedingin tekstur batu yang sempat ia usap. Cukup lama. Esa membeku di sisi makam.
Entah, sudah berapa puluh kali sepasang burung pipit terbang berkejar-kejaran dari satu dahan ke dahan lain di atasnya dengan berisik. Entah, sudah berapa puluh kali suara klakson memekik dan mesin kendaraan meraungan dari jalan rayayang terletak di depan pemakam. Esa tidak peduli.
Bahkan lelaki itu tidak peduli bahwa tanah berumput yang ia injak masih berembun. Atau sinar mentari yang belum sempat menghangat dan belum sanggup mengangkat kelembaban dari permukaan bumi. Hari masih terlalu pagi untuk sekadar berkunjung ke tempat sesendu pemakam umum. Tapi sekali lagi, Esa tidak peduli. Toh siapa pula yang akan peduli?
Sebab yang lelaki itu pedulikan hanya satu. Ya, rasa rindu. Pada gadis kecil yang jasadnya terbaring tenang pada gundukan tanah di hadapannya. Pada gadis kecil yang selama sepuluh tahun terakhir ini sangat memengaruhi hidupnya akibat rasa bersalah. Pada gadis kecil yang mampu bertranformasi menjadi penyemangat untuk menyelesaikan studinya sesegera mungkin. Pada gadis kecil yang ia hidupkan abadi di dalam pikiran.
Sepuluh tahun telah berlalu, tanpa terasa. Entah kan tumbuh dan dewasa dengan rupa yang seperti apa sosoknya sekarang. Cantik dan lincah dengan tubuh kecilnya namun pemalu, atau mungkin gadis biasa, dengan tampilan fisik tidak dominan, namun pandai dan periang yang senang berceloteh tentang banyak hal.
Memikirkan itu, membuat rasa rindu Esa pada sosok Shion buncah. Serupa permen soda yang meledak-ledak di mulut pada sesapan pertama. Lantas meninggalkan selasar rasa nyeri yang membuat dadanya sesak hingga menjalar ke ulu hati.
“Shi—,” bisiknya parau. Tanpa air mata. Hanya hujaman yang terasa semakin menyesakkan dada. Esa tidak akan menangis. Ia tidak akan menjadi lelaki lemah. Tidak di hadapan Shion.
***
Sore itu, tepat setelah hujan turun dengan amat deras. Ketika orang-orang yang terjebak hujan memulai kembali pada aktifitasnya.Ketika dedaunan sibuk meneteskan air kala diembus angin, Ketika awan kelabu mulai memutih. Esa tengah duduk gamang di deretan bangku kuliah paling belakang. Sendiri. Menyepi.Seperti biasa.
Suara Bu Dwi yang sedang menjelaskan slide demi slide presentasi kuliah menggema di seluruh penjuru ruangan. “Dissociative Identity Disorder (DID) yang selama ini kita kenal sebagai kepribadian ganda atau kepribadian majemuk,merupakan kondisi ketika seseorang mengalami gangguan di mana terdapat dua atau lebih kepribadian pada satu individu. Masing-masing kepribadian memiliki karakternya masing-masing dan dapat mengambil kontrol penuh atas perilaku si individu.”
Meski dominasi suara sang dosen tertangkap jelas di telinga Esa. Namun mata lelaki itu tidak sedikitpun menancapkan pandangan ke arah sana. Lelaki itu malah menatap nanar pada lapangan parkir sisi gedung yang tampak tergenang di sana-sini sebab sisa air hujan. Lelaki itu sadar, cepat atau lambat materi itu akan ia dapatkan di bangku kuliah. Sebab ia sejak awal sudah mengambil risiko dengan kuliah di jurusan psikologi.
“Pada dasarnya, kepribadian ganda merupakan mekanisme pertahanan diri individu dari peristiwa traumatik,” lanjut sang dosen yang sukses membuat Esa seperti tersengat. Bersamaan dengan momen-momen fatal yang telah lama ia kunci rapat di memori terdalam muncul.
“Ketika seorang anak menghadapi penyiksaan, dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, ia harus keluar dari situasi tersebut.” Lidah lelaki itu terasa kelu, mendadak sesuatu seperti mengganjal tenggorokannya. Sensasi tertusuk-tusuk belati tajam yang berasal dari kemunculan ingatan terdalamnya tidak mampu dielaknya.
“Cara untuk menyelamatkan dirinya yaitu dengan bersembunyi agar tidak ditemukan oleh penyiksanya. Pengertian bersembunyi yang dimaksud di sini bukan secara fisik, tetapi secara psikologis—.” Dan pada detik itu, Esa sudah tidak lagi sanggup mendengar materi dari sang dosen.
Memilih membereskan diktat kuliah dan mencangking ransel dengan segera,lantas keluar dari dalam kelas lebih cepat dari yang lain. Membuat beberapa teman yang duduk tak jauh darinya menaruh sedikit perhatian, untuk kemudian saling bersitatap keheranan. Sementara sang dosen terlampau fokus pada tugasnya, hingga tidak menyadari seorang mahasiswanya telah mengendap-endap meninggalkan jam kuliahnya.
Kuliah sore itu lebih seperti tiket yang akan melemparkannya menuju medan perang, tanpa dirinya dibekali persenjataan mumpini. Sebab ketimbang sebuah materi kuliah, penjelasan demi penjelasan itu lebih serupa bara api yang dibentangkan pada jalan yang harus ia lalui, tanpa ia pernah belajar ilmu kebal. Esa belum siap.
***
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...