Suffer Alone In Emptiness

Reads
956
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
suffer alone in emptiness
Suffer Alone In Emptiness
Penulis L.d Lustikasari

7. Sebundel Kunci Penyelamat

Sebagian orang beranggapan buah hati adalah harta yang paling berharga. Celakalah ia jika terlalu memamerkan hartanya hingga membuat beast iri dan hendak mencurinya.
Senin pagi identik dengan sekolah-sekolah yang mengadakan upacara bendera sebagai wujud pemupuk rasa cinta untuk NKRI tercinta. Pula sebagai sarana untuk menghargai para pahlawan yang telah memerdekakan negara.
Namun tidak pada sekolah yang terletak di dekat kantor pemerintahan kota itu. Tempat di mana Pinka, Shion dan Esa bersekolah.
Pagi itu warga sekolah digegerkan dengan hilangnya dua siswa dari orang tuanya. Di awali dengan Esa yang dikabarkan tidak kembali ke rumah dari jumat sore sepulang sekolah. Lalu disusul dengan hilangnya Pinka pada sabtu petang sesaat setelah terjadi kecelakaan tunggal bersama ibunya.
“Breaking news pagi ini. Dua orang siswa korban penculikan yang berasal dari SMA Tauladan Bangsa hingga kini masih belum ditemukan. Polisi dan penyidik hingga kini masih menelusuri petunjuk dan motif penculikan.Untuk sementara waktu murid-murid sekolah lain diliburkan dan tidak diperkenankan mendekati area sekolah hingga waktu yang tidak ditentukan.” Sang pembawa acara menayangkan langsung dari depan sekolah yang dimaksud.
“Ya pemirsa. Kedua anak itu berinisial MA dan PR hilang dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Menurut penuturan saksi, MA terakhir terlihat saat jam pulang sekolah. Sementara PR hilang setelah mengalami kecelakan lalu-lintas bersama ibundanya. Sampai saat ini belum ada keterangan dari pihak terkait mengenai peristiwa ini.”
***
“Pinka!” Seru Esa nyaris menjerit. Terkejut sekaligus tidak menyangka akan menemukan seorang teman sekolah lainnya dalam keadaan mengenaskan.
Entah apa yang telah gadis itu alami. Tapi yang jelas penampilannya amat berantakan. Dengan pakaian yang robek di beberapa tempat. Warna dasar pakaiannya juga sudah tidak terdeteksi akibat terkena kotoran dan debu yang berlebihan. Rambut panjangnya kusut masai dengan wajah kuyu dan luka memar dan lecet di beberapa bagian tubuh.
“E-esaaa. Kamu, Esa.” Desis gadis itu dalam posisi tergeletak tak berdaya. Suaranya parau tidak mampu membendung rasa haru.
“Ba-bagaimana kamu bisa ada di sini?”
Tadinya Esa nyaris berlari ketika mendengar suara pintu kayu yang diantuk sesuatu. Mengira hal yang tidak-tidak. Namun laki-laki itu akhirnya memilih untuk mencocokan salah satu kunci yang ia pegang sebab mendengar rintihan seorang anak perempuan.
Esa siap mengunci pintu itu lagi seandainya yang ia temukan adalah sosok Shion. Persetan dengan alter Shi yang polos dan menyedihkan itu. Yang jelas orang yang harus sekali ia hindari saat ini adalah Shion itu sendiri.
“Seseorang membawaku ke sini setelah aku dan Mama mengalami kecelakaan. Entah bagaimana, aku tidak sadar. Dan dia mengunciku di sini.” Bertemu Esa membuat keyakinan di dalam diri Pinka tumbuh. Ia yang sebelumnya lemah tak berdaya karena mencoba keluar dari ruangan itu kini kembali memiliki energi baru.
“Ayo, kita harus segera pergi.”
Setelah membimbing gadis itu berdiri, keduanya berjalan bersisian sembari tertatih-tatih. Keduanya dalam keadaan ketakutan dan keletihan dalam porsi yang nyaris seimbang. Jiwa, tenaga dan pikirannya terkuras habis untuk berusaha menyelamatkan diri. Dua orang bocah remaja yang tengah bahu-membahu mempertahankan hidup.
Hingga akhirnya Esa bersama dengan Pinka berhasil menemukan ruang tamu, tempat awal di mana awal mula ia masuk melalui pintu utama. Tapi sepertinya sang semesta benar-benar sedang menguji kedua anak remaja itu. Buktinya saat melewati ruang tamu, mereka dihadang dengan suara seseorang yang sedang mengerang kesakitan. Di atas salah satu sova beludru.
“Shi!” Esa tiba-tiba memekik. Tak percaya mendapati gadis polos itu lagi.
Pinka yang berjalan atas bimbingan Esa, semakin mempererat pegangan tangannya pada bahu Esa. Amat ketakutan.
“E-sa. Esa yang baik.” Tegurnya sembari memaksa tersenyum di sela-sela erangan kesakitan.
“Ce-cepat kalian pergi. Kalian harus segera pergi. Tante Elsa murka. Dan Beast akan segera datang.”
Namun Esa tidak sampai hati menyaksikan Shi yang seperti sedang menahan rasa sakit yang amat sangat. Sesuatu, semacam jiwa lain seperti sedang bertarung dengannya untuk mengambil kendali atas tubuh kecil itu.
Alih-alih menrutui perkataan Shi, Esa justru melepaskan pegangan pada Pinka dan mendekat pada Shi.
“Jangan! Jangan mendekat! Cepat Pergi!” Shi memperingatkan dengan galak. Seolah setiap langkah Esa yang semakin medekat akan berkaibat sangat fatal.
Sedetik kemudian Shi mengerang lagi, berguling di atas sofa hingga tubuh kecil itu terjatuh dan berdebun di lantai. Tapi bukan rasa sakit terantuk tegel yang membuat gadis itu mengerang, tapi rasa sakit lain yang timbul dari dalam tubuhnya. Berasal dari jiwa yang tengah membelah diri.
Detik berikutnya Shion sudah berceloteh dengan suara berat Papa Jhonson. “Ia kembali, ia benar benar kembali! Tidak ada yang bisa mencegahnya! Purnama ini, seseorang akan matiii!!!”
“Bunuh Shi, cepat bunuh! Shi sudah tidak kuat lagi! Cepat Esa, cepatttt….”
“Kalian anak nakal! Tidak mau menghabiskan spaghetti buatan Tante. Kalian harus dihukum!”
‌“Cepat tembak Shi. Kamu memiliki pistol Papa Jhonson. Cepat Esa, cepat! Sebelum ...”
Semua alter ego seperti sedang unjuk gigi di hadapan Pinka dan Esa. Semuanya seolah ingin menguasai tubuh mungil Shion tanpa mau mengalah. Seolah sedang mengadu jiwa mana yang paling kuat dan sanggup bertahan dalam tempo yang paling lama.
Pada erangan terakhir, Shion benar-benar tidak memiliki kendali lagi atas tubuhnya. Seluruh cachan jia itu seperti sedang menyerangnya dari segala penjuru. Membuat siapa pun merasa ngeri dan teriris hatinya menyaksikan seorang anak perempuan yang kesakitan yang teramat sangat tanpa tahu harus melakukan apa.
‌Alter terkuat yang sanggup menguasi penuh atas diri Shion adalah sosok yang Shi dan Papa Jhonson selalu bicarakan. Sosok yang tidak kedua alter itu hendaki bertemu dengan Esa. Sosok yang dikatakan akan membunuh siapapun yang ia temui. Sosok yang akan menjadi kuat dan amat buas saat malam purnama.
Menyaksikan Shion yang benar-benar berbeda membuat Pinka amat ketakutan dan berteriak, berharap Esa sadar dan keduanya bisa segera pergi. “Esaaa!!! Ayo kita pergi!”
Setitik harapan yang terbit dalam jiwanya, membuat Esa tidak mengindahkan rasa takut lagi. Dalam hati laki-laki itu masih berharap agar Shion atau Shi mampu mengambil alih tubuh itu dari sosok beast. Agar tubuh Shion mampu selamat. Agar gadis bisa bertahan ada bersamanya.
Dengan menatap lekat manik mata alter ego paling mengerikan dari Shion, Esa mencoba berkomunikasi pelan-pelan Dari hati-ke hati. “Shi, itu kamu. Kamu ada bersamaku. Shi, kumohon jangan menyerah.”
Sosok beast yang sempat merayap cepat ke tembok dan melmpat pada langit-langit ruangan itu sempat terdiam sejenak. Hanya napas terengah-engah dengan bahu naik turun yang terdengar. Seolah mengerti permohonan Esa.
Namun detik berikutnya usaha Esa mengembalikan alter Shi atau Shion gagal. Sebab ia sudah keburu ditikam oleh sosok Beast yang pergerakannya amat cepat itu. Serupa peluru yang mendesing.
Saat sosok itu melesat ke atap sembari membawa Serta Esa, sesuatu terjatuh dari tubuh remaja laki-laki itu dan mendarat tepat di dekat kaki Pinka yang menonton sembari menahan rasa takut yang memuncak.
‌Di atas sebuah sova yang senderannya telah robek terkena cakaran sosok beast, Esa tertindih sosok kuat itu dengan posisi siap mencekik laki-laki itu.
Tapi sedikitpun Esa tidak gentar. Dengan sisa-sisa napas dan oksigen di paru-parunya, Esa masih berusaha memangil nama Shion. Meski terbata-bata.
Pinka yang merasa memiliki kesempatan, sudah tidak tahan lagi. Tidak mungkin ia mampu melanjutkan hidup jika Esa mati tepat di depan matanya tanpa ia melakukan apa-apa. Maka diraihnya benda yang tergeletak di dekat kaki.
Refleks saja, tiba-tiba ia telah menarik tuas senjata yang telah dikokang itu. Satu sosok mengerang sebelum nyawa melayang. Sosok itu sempat berbicara kepada orang yang berada di posisi paling dekat dengannya sebelum sang Kematian benar-benar menjemput ruhnya.
‌“Terimakasih kamu orang pertama yang mau berbicara dengan Shion. Terimakasih sudah mengabulkan harapan Shi. Jangan membenci Shion, ia gadis yang baik. Namun sayang, ia tidak mampu mengendalikan jiwanya.”
Persetan dengan darah yang memercik dan mengalir ke wajahnya. Persetan dengan sosok yang terkulai di atas tubuhnya. Remaja laki-laki itu berteriak sekencang yang ia bisa. “Tidak! Tidak! Tidak mungkin! Shi bangun Shi. Shiooonnn!!! Tidakkk!” Tidak percaya bahwa cahaya telah hilang dari manik mata gadis itu.
Yang tidak pernah sang Kematian pedulikan adalah usia yang terlampau muda untuk meregang nyawa. Jika sudah waktunya, cahaya kehidupan itu pasti di ambilnya. Tanpa ampun.
***

Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Download Titik & Koma