Youtube In Love

Reads
525
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Titin Patimah

Chapter 2

Sekitar jam tujuh, Asep sudah di rumah Wahyu. Semalam Wahyu tak mengangkat teleponnya. Hari ini Asep berencana membuat video lagi. Mumpung libur panjang. Beberapa hari yang lalu ujian semester.
Asep mendapati Wahyu yang masih tidur. Asep kembali keluar. Menanyakan sapu lidi ke Emak. Ia butuh seukuran satu jengkal. Setelah dapat, Asep ke belakang rumah. Ada kandang ayam milik tetangga. Dicoleknya tai ayam yang masih mengepul. Lalu buru-buru kembali ke kamar. Emak yang melihat, sedikit pun tak mencegah. Sibuk menata dagangan.
Tak ada kesempatan lagi!
Asep berjalan mengendap-endap. Tangannya menempelkan ujung lidi ke hidung Wahyu. Segera saja Asep keluar. Mengintip di depan pintu. Wahyu belum bereaksi. Tak lama, hidungnya bergerak-gerak. Mencium udara. Asep tertawa. Dengan mata setengah terbuka, Wahyu mencium punggung tangan. Hidungnya makin bergerak-gerak.
Dengan ogah-ogahan Wahyu mengangkat badan. Beringsut turun. Cepat, Wahyu ke kursi. Pura-pura menonton televisi. Wahyu keluar kamar, bermaksud ke kamar mandi.
“Yu?” tanya Asep pura-pura tidak tahu.
“Hm?” suara Wahyu serak. “Kenapa? Pagi-pagi udah di sini.”
“Mau bikin video lagi. Nunggu kamu nggak bangun-bangun.”
“Ya,” ucapnya sambil berjalan. “Ke kamar mandi dulu!”
Asep tak kuat menahan tawa. Wahyu keluar. Tangannya basah. Pasti sudah dicuci. Kemudian duduk di samping Asep.
Asep yang sudah tahu Wahyu, sangat sadar menempelkan tai ayam di hidung. Posisi tepat, katanya. Buktinya ke kamar mandi, cuci tangan, santai saja muka tak dicuci. Lagi, hidungnya bergerak-gerak. Diciumnya udara, mencoba mencari sumber bau.
“Kenapa?”
“Bau tai ayam.”
Wahyu mencium bajunya. Bau.
Sebentar, Wahyu ke kamar. Mengganti baju dengan yang bersih. Lagi, hidungnya bergerak-gerak. Diciumnya udara, mencoba mencari sumber bau.
“Kenapa, sih?” tanya Asep.
“Bau tai ayam,” hidungnya masih mengendus-endus.
“Mungkin di rambut!”
“Ah, masa sih? Aku nggak main ayam, kok!”
Wahyu kembali ke kamar. Mengambil handuk. Kemudian ke kamar mandi. Tak lama, kembali. Rambutnya basah. Pasti sudah dicuci. Tapi tunggu! Wajahnya masih saja kering. Aaaahh.. Wahyu! Masih belum cuci muka-kah?
Dengan rambut terlilit handuk, kembali Wahyu duduk di samping Asep. Sayangnya, bau tak kunjung hilang. Lagi-lagi hidungnya bergerak-gerak. Mengendus udara, mencari sumber bau.
Tak ada kompromi!
Wahyu lari ke kamar mandi.
“Nah, gitu, dong! Kalau mandi kan ganteng!” ujar Asep ketika Wahyu keluar.
“Sialan tuh tai ayam!”
“Sorry, Yu! Aku yang nempelin tai ayam itu di hidung kamu!” lalu Asep tertawa lepas sampai perutnya sakit.
Wahyu melotot. Sayangnya tak bisa berkutik. Sudah mandi, mau apalagi?
Emak tak kalah geli. Dari depan, Emak memegang perut. Tertawa sangat puas. Akhirnya, Wahyu mandi juga.
Wahyu manyun ketika Asep terus saja tertawa.
“Jadi jauh-jauh ke sini cuma mau nempelin tai ayam, toh?” sindir Wahyu.
“Aduh, Wahyu jadi galak,” goda Asep. “Masih marah? Udah, dong, jangan marah! Begini-begini, kan, aku baik. Buktinya kamu jadi mandi.”
Wahyu mengangkat bahu. Wajahnya masih ditekuk.
“Salah siapa susah bangun?”
“Udah, jangan dibahas! Punya ide apa?” tanya Wahyu ogah.
“Pokoknya ide bagus,” jawab Asep sambil memberi jempol. Menggoda Wahyu yang masih bermuka masam. “Jadi, kita akan menjebak pocong.”
“Caranya?” potong Wahyu.
“Ada seorang laki-laki yang sedang duduk, diganggu pocong. Karena kesal, pas si pocongnya menghilang, ditempelilah lem di samping lelaki itu. Pas si pocong mau ganggu lagi, pantatnya tidak bisa diangkat.”
Sambil mendengar, pikiran Wahyu sudah terbang. Dibayangkannya Asep memakai kain kafan. Ditali tiga, kemudian klik, direkam. Asep akan berperan sebagai pocong iseng. Pocong tersebut mengganggu Wahyu yang sedang belajar. Di kanan kirinya terdapat kursi kosong. Kursi tersebut digunakan si pocong buat mengganggu Wahyu. Sekali di kanan. Ketika menoleh sudah di kiri. Terus saja begitu. Sampai dia punya cara buat menjebak si pocong.
Wahyu mengoleskan lem di kursi itu. Jelas terbayang si pocong mengaduh kesakitan karena tidak bisa menghilang. Pantatnya kena lem. Wahyu makin cengengesan. Saatnya balas dendam! Rasakan kamu, Sep!
Naasnya, Asep menolak jadi pocong. Enak saja, katanya. Capek-capek cari ide malah jadi pocong. Lagipula wajahnya kan lumayan tampan. Ya, mirip-mirip Anjasmara, lah. Meskipun cuma rambut.
Sangat lumayan jika dibanding Wahyu. Si rambut ijuk itu bagai langit dan bumi jika berbarengan dengan Asep. Coba saja nilai sendiri!
Kulitnya jelas bersihan Asep. Ini bukan hitam-cokelatnya, ya! Soalnya dua-duanya sawo matang. Rambut Asep pendek rapi. Wahyu; hitam, kasar, lebat. Wajah Asep bersih. Meski berminyak, sama sekali tak ada jerawat. Pokoknya agak terawat. Sedangkan Wahyu, brewokan, jerawatan. Meski begitu, Wahyu punya kelebihan. Hehe, kelebihan daki. Dia kan jarang mandi. Hiiii...
“Kalau kamu terus-terusan mau jadi pemeran utama, mendingan nggak jadi. Males, ah!” ucap Asep ketus. Sebenarnya sih tidak ketus. Hanya siasat supaya Wahyu mengalah.
Wahyu panik. Daripada gagal, dia terima permintaan itu. Tak apa jadi pocong. Meskipun cuma sedikit wajah yang dilihat, yang penting masuk Youtube.
“Terus, kalau kita main, yang rekam siapa?” tanya Wahyu mendadak pintar.
Jelas saja, ini kan bukan kamera semacam handycam yang bisa pakai tripod. Cuma kamera HP. Tak begitu jelas. Ya, lumayan lah buat iseng. Mudah-mudahan saja ada yang pasang iklan. Wahyu bisa beli kamera.
Sebenarnya ada kamera yang agak bagusan. Bersih dan pastinya kualitas gambarnya lebih bagus dari HP jadulnya Wahyu. Sayangnya kamera di laptop. Masa iya shooting sambil pegang laptop?
“Tenang! Hari ini kakak mau ke rumah. Mau main, katanya. Jadi kita bisa minta tolong.”
“Cerdas kamu, Sep!” puji Wahyu. “Jadi sekarang ke rumah kamu?”
Asep mengangguk. Keduanya lalu pergi.
***
Butuh kira-kira enam jam buat shooting. Hal ini mengingat Wahyu yang tidak biasa di depan kamera. Bisanya rekam orang. Giliran direkam, cengengesan terus. Malu, katanya. Nggak pe-de. Membuat Asep dan kakaknya ingin muntah. Huh! Sadar kurang ganteng, mungkin.
Setelah melewati rangkaian pengeditan-yang tentu saja dilakukan Asep karena Wahyu malah tidur-video di-upload. Lumayan butuh waktu agak lama. Jaringan lemot, tidak bersahabat. Sementara Wahyu, sedari Isya asyik tiduran di kursi. Laptop, chargeran, ponsel, tertumpuk di meja.
Melihat Wahyu tidur, Asep menghela napas panjang. Sudah dipastikan tak bisa dibangunkan. Sebentar, Asep memutar otak. Asep tersenyum sambil jempolnya mengutak-atik ponsel.
Kriiiing!!!
Wahyu bangun. Terperanjat, kaget. Diraihlah ponsel.
Bangun! Video sudah di-upload!
Satu pesan masuk dibaca.
Asep tertawa. “Oh, jadi kalau sama ponsel langsung bangun?”
Lagi, Wahyu manyun. Enak-enak tidur, dibangunkan sesuka hati.
“Promo, gih!” perintah Asep enteng.
Tanggung sudah bangun, Wahyu menggeserkan laptop. Mumpung pakai hotspot dari ponsel Asep, masuklah ia ke akun facebooknya.
Hampir lupa posting.
Ini kegiatanku tadi siang. Shooting video terbaru. Ini asli ya tanpa editan. Yuk teman-teman yang mau lihat, boleh banget. Di sini aja!
Tak lupa Wahyu cantumkan alamat linknya.
Beberapa orang tertarik, mengisi kolom komentar. Wahyu tak mengindahkan. Biar penasaran, katanya. Sebagai calon artis, Wahyu mesti belajar bersikap layaknya artis beneran. Cool. Artis ibukota kan jarang komen. Bahkan mereka tak punya waktu barang sedikitpun sekadar me-reply pertanyaan para fans.
Kling.
Satu pesan diterima. Dudu.
Salam kenal, Kakak! Aku udah lihat videonya. Bagus. Lucu. Hebat!
Mendapat pujian, hidung Wahyu mengembang. Langsung saja dibalas.
Terima kasih. Salam kenal juga. Jangan lupa subscribed, ya! Biar nonton aku terus!
Dudu ingin muntah. Huh, ge-er! Dia kan cuma basa-basi.
Kling.
Satu lagi pesan masuk.
Didi: Alah, video apaan? Gambar nggak jelas. Ngak mendidik pula!
Satu lagi pesan masuk. Masih dari orang yang sama.
Didi: Jadi pocong aja bangga! Huh, merusak moral bangsa! Yang begini, nih, yang mesti dibasmi sampai akar-akarnya! Meresahkan!
Dua pesan. Orang yang sama.
Wahyu meradang. Enak saja. Ini hasil kerja keras. Daripada dia, bisanya komen, protes Wahyu.
Eits, namun, sebagai calon artis, Wahyu tak boleh emosi. Dia harus kelihatan tenang. Dia calon artis. Dia bakalan beken, katanya yakin.
Wahyu: Terima kasih Kakak sudah bersedia menonton. Terima kasih juga masukkannya. Insya Allah, bermanfaat. Akan kami tingkatkan lagi kualitasnya.
Tentu saja orang tersebut marah-marah. Hhh.. muka pas-pasan, sok sabar! katanya.
Kling. Satu pesan berikutnya. Nur.
Nur: Salam. Kak, aku udah lihat videonya. Bagus. Oh ya, Kak. Aku mau dong diajarin. Aku juga mau nampang di Youtube.
Merasa di atas angin, tentu saja Wahyu langsung membalas.
Wahyu: Waduh, terima kasih, cantik! Coba aja buka-buka google. Banyak kok ilmunya. Jangan malas baca, ya!
Pret!
Seperti menasihati diri sendiri. Jelas saja tak memberitahu rahasianya. Toh, selama ini, sampai tiga kali pengunggahan, peran Asep yang lebih banyak.
Satu lagi pesan dikirim.
Wahyu: Maaf. Kalau dijelaskan di sini panjang. Cari sendiri saja, ya!
***
Seperti hari-hari yang sudah dilalui, pekerjaan Wahyu hanya diam. Ongkang-ongkang kaki dengan tangan tak lepas dari handphone.
Lewat asar, tepatnya jam empat, Wahyu baru pulang diantar Asep. Emak tak banyak bertanya sebab sudah tahu pergi kemana dan dengan siapa. Selama dengan Asep, Emak tak khawatir. Toh, selama ini pun selalu berdua.
Asep pulang sebelum magrib. Setelah shalat, kembali Wahyu duduk di depan televisi. Tidak menonton, sekadar duduk. Menemani Emak menonton sinetron.
Wahyu membuka facebook. Sekalian melihat-lihat barangkali banyak orang yang membagikan video terbarunya itu. Atau mungkin ada yang berkomentar atau mengirim pesan. Sayangnya, ketika membuka beranda, tangan Wahyu malah membuka link orang yang isinya panassss. Wahyu melihat jumlah viewersnya. Lumayan banyak.
Wahyu jadi berpikir, apakah dia juga harus memposting hal-hal panas biar banyak yang nonton?
“Makan, tuh!” Emak duduk di kursi sebelah. Tangannya menenteng piring. Isinya nasi hangat, ikan asin dan sambal hijau. Sebelum makan, Emak ambil remote. Klik. Emak pindahkan ke channel berikutnya. Sinetron yang Emak tonton terhenti iklan.
Wahyu tak merespon ucapan Emak. Emak yang penasaran, mendekatkan wajahnya ke ponsel. Kontan Wahyu menjauhkan. Kalau saja Emak tahu apa yang dilihat Wahyu, pasti berabe. Uang jajan distop. Beralasan, uang dipakai sembarangan. Nonton gak bener. Hal seronok.
Tentu saja kalaupun dijelaskan tak akan paham. Mana Emak tahu gadget? Internet apalagi. Soal Youtube, jangan ditanya. Sudah pasti geleng kepala. Emak kan cuma tahu ulekan.
Wahyu ingat, dulu ia minta dibelikan tablet. Si Emak malah jawab, kapsul aja, Yu! Yaa.. berasa obat kali! Pas Wahyu tunjukkan fotonya, Emak malah komen, “Itu talenan, Yu! Bisa pakai ngiris bawang.”
Haduuuhhh.. parah! Emak.. Emak! Dasar!
“Apaan sih Emak?” Wahyu sewot.
“Eeehh.. dari tadi disuruh makan malah anteng. Gih, makan!”
“Iya. Ntar aja. Tanggung lagi buka ini.”
“Apaan?”
Kesempatan! Biar Emak tahu pekerjaan Wahyu sekarang.
Wahyu yang hatinya sudah dikuasai sombong, segera menunjukkan video hasil shooting. Sebelumnya, Wahyu tunjukkan foto-foto. Emak manggut-manggut tak paham.
Klik. Play.
“Hai, penonton. Senang sekali, saya, Wahyu, bisa bertemu Anda lagi di channel kesayangan Anda semua. Hari ini, saya akan memberikan tips bagaimana cara menjebak pocong. Mau tahu videonya? Yuk, langsung saja! Jangan lupa subscribed, ya!”
Video terus berjalan.
Asep, pocong, kursi, buku, dan.. pocongnya kena lem.
Emak tertawa. “Tuh, ini Wahyu, Mak! Wahyu bisa terkenal, lho!”
“Terkenal apaan? Jadi pocong aja bangga! Terkenal tuh di tivi, bukan di hape! Jangan ngarang, kamu!”
“Yee.. si Emak gak tahu. Kalau ini nyebar, orang akan tahu Wahyu.”
“Mana mungkin mereka tahu kamu? Kamu kan pocong? Cuma hidungnya yang kelihatan.”
“Ah, nggak pa-pa,” ucap Wahyu sabar. Ia yakin, ia akan jadi orang terkenal. Dihalaunya komentar negatif dari Emak. Komentar Emak tidak bagus untuk alam bawah sadarnya. “Oh, ya, Mak. Ini video dosen yang waktu itu aku ceritakan.”
Emak yang penasaran segera mendekati Wahyu. Alangkah terkejutnya Emak. Lalu menggeleng kepala. “Yu, kamu itu bodoh atau gimana sih? Ini namanya penghinaan. Setres kali tuh orang ngasih selamat. Yang ada bakal jadi masalah.”
“Tapi aku serius, Mak! Aku dapat selamat dari rektor. Katanya sangat menghibur.”
“Iya. Selamat tinggal kampus kalau sekali lagi berulah!”
Wahyu melongo tak percaya. Kenapa bisa jawaban Emak jadi nyambung begitu?
“Emak bingung didik kamu, Yu! Kuliah kayak asal-asalan. Kerja nggak. Hobinya cengengesan depan hape. Ujung-ujungnya minta duit. Beli pulsaaaa terus. Kapan mandirinya?”
“Ini tuh kerja, Mak! Nanti kalau video Wahyu banyak yang nonton, bakalan ada yang masang iklan. Di situlah Wahyu dapat duit.”
Emak menggeleng. “Yu, kamu itu bodoh apa emang pura-pura pinter, sih? Dimana-mana, yang namanya kerja tuh berangkat pagi pulang sore. Nenteng tas, pergi ke kantor. Nah, kamu? Mustahil, Yu, dapat duit cuma ngutak-atik hape! Sadar, Yu!”
Wahyu bingung. Benar kata Emak. Kerja emang mesti jelas pulang-perginya.
Eits, sorry. Tapi semua pendapat Emak kali ini tidak akan dipercaya begitu saja. Biarkan Emak bilang apa. Pokoknya Wahyu mesti dapat duit dari Youtube!
“Mak.. Wahyu mau kamera, dong!” Wahyu mencoba mengalihkan pembicaraan Emak yang terus menyudutkan.
“Sadar, Wahyu! Uang pangkal kuliah aja ngutang, belum kebayar. Sekarang malah minta kamera. Buat apa memangnya?”
“Ya buat bikin video, lah, Mak! Kamera HP kan kurang jelas. Wahyu aja buram. Gimana mau terkenalnya?”
Emak tak lagi peduli, tak mengerti dengan ucapan anaknya.
“Oh, begini saja, Mak! Gimana kalau setiap ada orang yang beli pecel, Emak bilangin ke mereka supaya ngasih tahu ke anaknya buat nonton Wahyu di youtube. Lumayan kan nambah viewers.”
Emak bergidik. Mulutnya komat-kamit, beristighfar. Dipikirnya Wahyu tidak waras. Makin hari makin ngelantur. Emak ke dapur, menyimpan piring kotor. Sementara Wahyu kembali fokus ke ponsel. Dilihatnya pemberitahuan. Banyak yang membantu menyebarkan. Ah, padahal baru kemarin diunggah.
Wahyu tidak sadar. Semua ini tidak lepas dari bantuan Asep. Dari Asep dibagikan ke teman-teman dekatnya. Lalu dibagikan lagi ke teman-teman-teman dekatnya. Kemudian teman-teman-teman-teman dekatnya. Saudara, tetangga, sahabat, dan terus saja sampai dalam waktu kurang dari seminggu, penonton mencapai seribu orang. Apalah perjuangan Wahyu. Jauh dibanding Asep.
Di tempat berbeda, Asep gencar promosi. Dari SMS, mulut ke mulut sampai semua media sosial. Asep kan ingin terkenal juga. Kali aja ada produser nonton. Ditawari main film, tak mungkin nolak.
Hasilnya?
Lumayan. Apalagi pemula. Satu dua orang berkomen. Beberapa di antaranya memilih subscribed.
Aneka komenan bermunculan. Dari pujian, celaan, sampai tawaran obat. Waduh, apa maksudnya itu? Apa mereka nyangka Wahyu gila?
Hahaha. Bodo amat, lah! Itu kan Wahyu, begitu komentar Asep ketika melihat Youtube. Di komen ke- 1..1.. eh nggak, ding.. 11 maksudnya, seorang perempuan berkomentar. Memuji bahwa video-video unggahan Wahyu lucu. Sangat menghibur.
Wahyu yang segera diberitahu Asep, senang. Apalagi yang berkomentar wanita. Kalau dilihat lebih jelas, sepertinya cantik. Sayangnya, di ujung kalimatnya terdapat kata-kata berikut, “Kunjungi punyaku ya.. ini link-nya. Kali aja dapat ide.”
Wahyu yang gampang percaya dan tidak sadar bahwa dia promosi, langsung saja meluncur ke link tersebut. Tidak ada niatan untuk menonton. Video yang sedang berputar bahkan di-pause. Tak ada maksud lain selain melihat jumlah viewers dan komentar para penonton.
Ada rasa iri ketika melihat jumlah penoton mencapai puluhan ribu.
Apa resepnya? Satu pertanyaan itu melingkar di kepala Wahyu. Oh My God, bagaimana kalau aku dekati saja? Mungkin ini jalannya. Sekalian cari jodoh. Kali aja cocok. Jodoh dapat, viewers nambah. Kan, lumayan.
Dia mengangguk-angguk membenarkan. Lalu kembali ke akunnya. Membalas komentar wanita tadi. Basa-basi ia ucapkan. Pujian. Tentu saja, karena dia ingin memikat wanita itu. Padahal ujung-ujungnya minta nomor handphone. Keajaiban datang. Tak diduga sama sekali. Dengan mudahnya wanita itu mencantumkan nomornya. Karena Wahyu gampang percaya, senang saja dia mendapatnya. Joget-joget tak karuan. Lalu bersiul. Ujung-ujungnya dilempar botol plastik. Berisik, kata Emak.

Other Stories
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Tes

tes ...

Download Titik & Koma