Chapter 7
Sampai di rumah, tak ada kata-kata yang diucapkan Wahyu pada Emak. egitu sampai, kamar menjadi tujuannya. Lalu dikunci. Bahkan sampai malam, sampai Emak mengetuk untuk mengajaknya makan malam, Wahyu tak menyahut sama sekali.
Perasaan Emak semakin kacau. Ada apa dengan Wahyu? Kenapa semakin hari semakin murung?
“Yu, makan! Ayo, dong, keluar! Jangan di kamar terus!” ujar Emak sekali lagi mencoba membujuk.
Wahyu mengucek mata. Baru saja ia bangun. Hari sudah gelap. Lampu kamar belum dinyalakan. Juga gorden belum ditutup. “Ya,” jawab Wahyu pelan.
Hanya kata itu yang Emak dengar. Selanjutnya hening kembali. Emak menyalakan televisi. Dicobanya untuk tidak membujuk Wahyu terus-terusan. Bagaimana pun, Wahyu sudah besar. Kalau lapar, pastilah keluar, mencari makan. Lagipula Emak sudah bertekad bahwa Emak tidak akan terlalu mengganggu privasi Wahyu.
Di dalam kamar, Wahyu diam, mengumpulkan kesadaran. Tak lama, dia bengong. Masalah tadi siang teringat kembali. Janda anak lima? Melamar satu dapat enam? Kawin? Dalam waktu dekat?
Bukan.. bukan ingin menolak. Tapi, statusnya janda anak lima? Haruskah keperjakaannya direnggut janda anak lima? Apa kata orang nanti? Tak bisakah Wahyu dapatkan gadis?
Wahyu memang mencintai Yunita. Bisa saja dia terima Yunita dan anak-anaknya. Apalah arti status?
Tapi, bagaimana dengan Emak? Bisakah Emak menerima?
Wahyu mengacak rambut. Bingung.
Tak lama, Wahyu keluar. Lapar juga seharian di kamar. Emak yang melihat, pura-pura tak peduli. Biarkan saja. Kalau ditegur, takutnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Malu, misalnya.
“Mak, dimana teman nasinya?” tanya Wahyu setelah memindahkan nasi ke piring.
“Di lemari,” ucap Emak datar. Fokus ke sinetron.
Wahyu duduk di samping Emak. Emak yang melihat Wahyu lahap, dibiarkan.
“Mak,” tanya Wahyu.
“Hm?”
“Kalau Wahyu nikah gimana?”
“Ya nggak pa-pa. Bagus. Kan emang sudah waktunya,” Emak masih fokus ke sinetron.
“Kalau sekarang-sekarang gimana? Emak setuju?”
Emak luar biasa terkejut. Berbagai pertanyaan buruk memenuhi isi kepala. Lintasan pertanyaan itu datang jauh sebelum Emak menjawab pertanyaan Wahyu. “Secepat itu? Apa jangan-jangan..?”
“Nggak, Mak! Wahyu nggak ada apa-apa. Wahyu hanya bertanya.”
“Tapi benar kamu tidak menghamili anak orang?”
“Nggak!”
“Terus kenapa akhir-akhir ini sering menyendiri?”
“Karena pacar Wahyu menghilang. Setelah pertemuan itu, Yunita hilang entah kemana. Wahyu mencoba mencari sama Asep. Kenyataannya...”
“Ya?” Emak menunggu.
“Kenyataannya dia janda anak lima. Baru bercerai dan sekarang sedang masa ‘iddah. Kalau Emak setuju, dia mengajak Wahyu nikah selesainya masa ‘iddahnya.”
Belum reda keterkejutan Emak, Wahyu menyuguhkan info yang tak kalah heboh. Janda anak lima? Aahhh, Emak tak bisa membayangkan betapa jauhnya umur si wanita itu dengan Wahyu. Wahyu masih muda, masih 20 tahun. Wanita itu..?
“Memangnya kamu sudah siap?”
“Wahyu siap. Cuma untuk urusan nafkah, Wahyu memang belum punya pekerjaan. Emak tahu sendiri. Video di Youtube belum ada yang minat pasang iklan.”
“Nah, itu tahu. Emak sih terserah kamu. Cuma, kalau Emak bisa sarankan, sebaiknya kamu pikir lagi. Setahu Emak, wanita dalam masa ‘iddah tak boleh punya hubungan dengan lelaki lain. Mereka masih bisa rujuk. Lagipula kamu kan harus cari kerja dulu. Setampan apapun seorang lelaki, wanita pikir sepuluh kali buat menerima lamarannya jika dompetnya kosong.”
Wahyu menunduk, membenarkan.
“Jadi?” Emak menegaskan.
“Nggak tahu. Wahyu mencintainya, Mak! Tapi, untuk menerima anak-anaknya, perlu waktu. Lagipula mantan suaminya itu agak-agak galak gitu. Wahyu takut kalau Wahyu menikahi Yunita, Wahyu akan sering dapat masalah dengan dia.”
“Nah, Wahyu tahu. Emak terserah Wahyu saja.”
Sebentar, Wahyu mengangkat bahu. Lalu Emak bangkit, menyiman piring kotor ke belakang.
***
Sampai hari kelima, Wahyu belum juga masuk kampus. Asep yang meras akhawatir, takut terjadi apa-apa dengan Wahyu, segera ke rumahnya sepulang dari kampus. Pecel gratis sudah pasti disuguhkan Emak ketika Asep datang. Sambil menunggu pintu kamar Wahyu terbuka, santai saja Asep melahap sepiring pecel.
Asep mengetuk sekali melihat pintu kamar yang terus tertutup. Tak lama, Wahyu keluar. “Gimana? Jadi?”
Wahyu mengangkat bahu. “Kenapa? Enak tahu! Satu dapat enam.”
“Artinya aku harus mapan dulu. Mau dikasih makan apa?”
“Tanah,” jawab Asep santai.
“Tanah sekarang mahal-mahal. Tetap aja mesti beli.”
Asep tertawa. “Oh, ya, aku dapat kabar dari si Yudi yang kemarin itu. Katanya alasan perceraian Yunita dengan suaminya karena dia terlalu fokus ke handphone. Anak-anak tak diurusin.”
Wahyu mengangguk, seperti tak minat mendengarkan. “Kalau saran aku, sih, mending dipikir-pikir dulu. Aku nggak mau kalau kamu kena getahnya gara-gara hobi Yunita yang kurang manfaatnya itu.”
Sekali lagi Wahyu mengangguk. “Tapi aku mencintainya.”
Asep tertawa. Lagu lama!
“Cinta jadi percuma kalau sudah nikah. Cinta kan nggak dimakan. Tetap aja mesti cari duit. Masa iya mau minta terus ke Emak? Durhaka!”
“Sebagai teman, sih, cuma bisa kasih saran. Selanjutnya terserah kamu.”
Wahyu mengangkat bahu. Lalu kembali ke kamar. Meninggalkan Asep dengan dunianya sendiri. Melihat temannya yang tidak bisa diganggu, Asep pulang. Tujuannya sudah tercapai. Memang dia ke sana buat menyampaikan apa yang dia tahu dari Yudi.
***
Sedari magrib, Wahyu diam di kamar. Dikunci.
Tak lama, lampu kamar dimatikan. Juga HP. Malam ini, dia akan menyendiri. Berharap Tuhan segera memberi jawaban. Tidak ada ketokan Emak. Emak pasti sudah tahu dengan keadaan Wahyu.
Janda anak lima? Haruskah kuterima? Aku mencintainya. Aku memang bisa mencari kerja. Masih ada waktu. Tapi, kalau suatu hari berurusan dengan mantan suaminya yang galak? Kalau benar hobi Yunita yang aneh itu? Bagaimana dengan anak-anak? Apa iya dia yang harus mengerjakan segala pekerjaan sendirian?
Wahyu bingung. Berbagai pertanyaan hinggap. Ia mencoba memejamkan mata. Tapi, tak kunjung mengatup.
Aku tak bisa menerima. Bagaimanapun, menghidupi enam orang, rasanya belum sanggup. Apalagi sama sekali belum punya pekerjaan. Aku mesti mundur.
Wahyu mengangguk-angguk. Kembali ia berbaring. Menutup mata. Sayangnya, matanya enggan mengatup jua. Kesal. Diraihnya kembali handphone. Dihidupkan kembali. Ah, masih jam delapan. Bukan waktunya tidur. Wahyu iseng membuka Youtube.
Klik. Dia menonton film.
***
Wahyu tidak tahu kapan ia tidur. Yang pasti, handphone mati. Baterai habis semalaman dipakai nonton.
Buru-buru ia mandi ketika jam sudah menunjuk angka tujuh. Asep pasti akan datang tak lama lagi. Namun, Wahyu malah tergoda mengutak-atik handphone yang baru saja di-charger.
Tak terasa, jam sembilan lewat. Asep sudah datang. Sementara handuk masih di pundak.
“Belum mandi, Yu?”
Wahyu mengangkat bahu.
“Cepat, dong! Kita kan gak akan lama. Lagipula aku buru-buru. Ada tugas yang belum selesai.”
Wahyu mengangguk. Tapi diam di tempat, masih dengan handphone.
“Cepat!” Asep menarik lengan Wahyu.
Wahyu berdiri dan pergi.
“Sudah disiapkan kata-katanya?” kata Asep sebelum pergi.
“Enggak tahu.”
“Dih, aneh! Tapi udah tahu jawabannya apa?”
Wahyu mengangguk.
***
“Kakak?” tanya Yunita sumringah. Segera mereka diajak masuk. “Kakak jadi melamar aku?”
Asep yang tidak tahan ingin tertawa berusaha kuat menahan. Ge-er!
“Maaf, Yun! Aku nggak bisa. Aku belum punya pekerjaan. Apalagi harus menghidupi enam orang. Aku tak sanggup.”
Yunita memasang wajah sedih.
“Kakak boleh menentukan waktunya kapan. Asal mau menikahi Yunita.”
Asep malah nyinyir. Wanita murahan! Melas-melas begitu. Tak tahu malu! Sudah menggantung, sekarang memohon.
“Maaf, tidak bisa. Ayo, Sep, kita pergi!” ucap Wahyu tegas. “Kami permisi.” Ditinggalkannya Yunita sendiri.
Yunita melongo.
“Hebat, kamu, Yu!”
Wahyu tersenyum. “Makasih infonya. Nyaris aku terima. Tapi setelah tahu kelakuannya kayak apa, pikir sepuluh kali, deh!”
Giliran Asep tertawa. “Sekarang mending fokus kuliah sama Youtube.”
Wahyu tersenyum. Ada wajah Emak yang berkelebat.
Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...