Bab 1 – Luka Yang Tak Terlihat
Pagi itu, suara alarm berbunyi keras. Arka membuka mata dengan berat, tubuhnya terasa lelah meski ia tidur semalaman. Ia menatap langit-langit kamar kos yang catnya mulai mengelupas.
“Kos ini dulu cuma tempat singgah sebentar,” pikirnya. “Tapi entah kenapa aku masih di sini, seakan terjebak.”
Hari-harinya terasa hampa. Ia hanya bangun, makan seadanya, lalu kembali berbaring. Terkadang ia melamar pekerjaan, tapi balasan yang datang hanyalah email penolakan. Semakin lama, ia merasa tak ada lagi gunanya mencoba.
Suatu siang, ia memutuskan keluar sebentar untuk membeli makan di warung dekat kos. Di sana, ia bertemu dengan seorang ibu paruh baya bernama Bu Ningsih, pemilik warung.
“Mas Arka, sudah lama nggak kelihatan. Sehat, kan?” tanya Bu Ningsih ramah.
Arka tersenyum kaku. “Iya, Bu. Cuma agak sibuk.”
Padahal, kenyataannya ia tidak sibuk sama sekali. Namun, senyum itu hanyalah topeng. Luka yang ia rasakan tidak terlihat dari luar, tapi hatinya remuk.
Setelah makan, ia kembali ke kamar dan teringat pada ayahnya yang masih dirawat. Uang tabungan sudah hampir habis, sementara biaya pengobatan terus bertambah. Rasa bersalah menekan dadanya. Ia merasa gagal menjadi anak yang bisa diandalkan.
Malam itu, ia menuliskan sesuatu di buku catatan:
“Aku ingin berhenti. Tapi di dalam hati, ada bagian kecil yang masih ingin melawan. Entah untuk siapa, entah untuk apa.”
Tulisannya bergetar, tinta menetes karena tangis yang tak tertahan. Ia sadar, luka yang ia rasakan bukan hanya karena kehilangan pekerjaan atau orang yang ia cintai. Luka terdalamnya adalah kehilangan dirinya sendiri.
“Kos ini dulu cuma tempat singgah sebentar,” pikirnya. “Tapi entah kenapa aku masih di sini, seakan terjebak.”
Hari-harinya terasa hampa. Ia hanya bangun, makan seadanya, lalu kembali berbaring. Terkadang ia melamar pekerjaan, tapi balasan yang datang hanyalah email penolakan. Semakin lama, ia merasa tak ada lagi gunanya mencoba.
Suatu siang, ia memutuskan keluar sebentar untuk membeli makan di warung dekat kos. Di sana, ia bertemu dengan seorang ibu paruh baya bernama Bu Ningsih, pemilik warung.
“Mas Arka, sudah lama nggak kelihatan. Sehat, kan?” tanya Bu Ningsih ramah.
Arka tersenyum kaku. “Iya, Bu. Cuma agak sibuk.”
Padahal, kenyataannya ia tidak sibuk sama sekali. Namun, senyum itu hanyalah topeng. Luka yang ia rasakan tidak terlihat dari luar, tapi hatinya remuk.
Setelah makan, ia kembali ke kamar dan teringat pada ayahnya yang masih dirawat. Uang tabungan sudah hampir habis, sementara biaya pengobatan terus bertambah. Rasa bersalah menekan dadanya. Ia merasa gagal menjadi anak yang bisa diandalkan.
Malam itu, ia menuliskan sesuatu di buku catatan:
“Aku ingin berhenti. Tapi di dalam hati, ada bagian kecil yang masih ingin melawan. Entah untuk siapa, entah untuk apa.”
Tulisannya bergetar, tinta menetes karena tangis yang tak tertahan. Ia sadar, luka yang ia rasakan bukan hanya karena kehilangan pekerjaan atau orang yang ia cintai. Luka terdalamnya adalah kehilangan dirinya sendiri.
Other Stories
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Love Of The Death 2
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...