Bab 9 – Suara Di Ruang Yang Lebih Besar
Hari itu, Arka menerima sebuah pesan singkat di ponselnya.“Mas Arka, kami dari sebuah kampus ingin mengundang Mas untuk berbagi cerita tentang perjalanan hidup. Mahasiswa kami sedang butuh inspirasi.”Arka menatap layar cukup lama. Tangan kirinya sedikit bergetar. Dulu ia hanya berbicara di depan belasan orang di warung kopi kecil. Sekarang, ia diminta untuk berdiri di depan ratusan mahasiswa.Keraguan menyelinap. “Siapa aku? Aku kan bukan motivator terkenal. Apa yang bisa aku kasih buat mereka?”Namun, ingatan tentang malam-malam gelap yang pernah ia lewati muncul kembali. Suara hatinya berbisik: Jika satu cerita kecil bisa menyalakan harapan, kenapa harus takut?Hari acara itu pun tiba. Aula kampus dipenuhi ratusan mahasiswa. Suara riuh mereka membuat jantung Arka berdetak lebih cepat. Tangannya dingin, kakinya terasa berat melangkah.Ketika namanya dipanggil, Arka menarik napas panjang. Ia berdiri di podium, menatap lautan wajah muda yang penuh rasa ingin tahu.“Selamat siang,” ucapnya pelan. Suaranya sempat bergetar, tapi perlahan stabil. “Aku nggak akan kasih kalian teori, aku cuma mau berbagi cerita cerita tentang bagaimana hidup bisa membuat kita jatuh… dan bagaimana kita bisa memilih untuk bangkit.”Arka mulai bercerita: tentang kehilangan pekerjaan, patah hati, titik terendah, hingga keberanian membangun Komunitas Cahaya. Ia tidak menyembunyikan air matanya ketika mengenang masa sulit. Ia juga tak lupa menekankan bahwa bangkit bukan berarti segalanya langsung membaik, tapi berani berjalan meski masih gemetar.Ruangan hening. Mahasiswa-mahasiswa itu menyimak dengan tatapan penuh perhatian.Ketika Arka mengakhiri dengan kalimat:
“Kalau aku bisa melewati gelapku, aku percaya kalian juga bisa melewati gelap kalian. Jangan takut meminta pertolongan. Jangan takut mencari cahaya,”
suara tepuk tangan bergema memenuhi aula.Usai acara, seorang mahasiswa menghampiri. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ada secercah lega di sana.
“Mas, terima kasih. Saya… saya hampir nyerah sama hidup saya. Tapi setelah dengar cerita Mas, saya mau coba sekali lagi.”Arka terdiam sejenak, menahan haru. Ia menepuk bahu mahasiswa itu lembut.
“Kamu nggak sendiri. Ingat, selalu ada orang yang peduli, meski kadang kamu nggak melihatnya.”Malam itu, ketika Arka pulang, ia menatap langit yang penuh bintang. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa hidupnya bukan lagi tentang dirinya sendiri, melainkan tentang menyinari jalan orang lain.“Cahaya bukan untuk disimpan sendiri,” bisiknya sambil tersenyum.Dan ia tahu, langkah berikutnya sudah menantinya.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...