Erase

Reads
141
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Lia Soeparno

3. Delia

Gadis berbaju seragam itu berjongkok di sudut taman. Wajahnya ia benamkan di antara kedua tangan yang memeluk erat kaki yang terlipat. Rambut ikal panjang mengurai menutupi hampir separuh tubuhnya. Sunyi. Isak tangis si gadis merupakan satu-satunya pertanda ada kehidupan di taman itu.
\"Halo. Siapa namamu?\" Devi berusaha keras agar intonasi suaranya terdengar ramah dan lembut. Ia menawarkan persahabatan. Berharap si gadis mau memulai pembicaraan.
Namun si gadis tidak menjawab pertanyaan Devi. Tubuhnya masih terguncang sisa tangis hebatnya tadi. Tangan Devi terjulur, hendak membelai punggung si gadis, namun urung dilakukan.
Kepala si gadis sedikit terangkat. Matanya nyalang mencari pendar cahaya dari balik jeruji rambut yang merekat erat akibat peluh bercampur air mata. Saat tepat bertatapan dengan mata Devi, pandangannya meredup. Wajahnya kembali menunduk.
Dengan percaya diri, tangan Devi mengusap kepala gadis itu. Dibelainya perlahan, \"Aku Devi, kalau aku sedang sedih, aku ingin mendekap sahabatku dan berbagi cerita padanya. Maukah kau menjadi sahabatku?\"
Gadis itu mengangkat kepala sekali lagi. Disibakkan rambut yang kusut tak karuan, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan yang juga basah. Tak puas, ia gunakan lengan baju serta ujung kemeja demi membersihkan sisa-sia air mata. Terakhir, ia mencoba mengeringkan telapak tangan yang tak kuat lagi menampung limpahan cairan kesedihan, dengan rok seragamnya.
Setelah membersihkan diri, gadis itu mengulurkan tangan menawarkan perkenalan. Devi menyambutnya segera, senyum tulus terlukis sebagai hadiah awal persahabatan.
\"A-aku, aku Delia, Kak,\" ucapnya singkat.
\"Berapa usiamu, Delia?\" selidik Devi lebih lanjut, ia tak mau menyia-nyiakan waktu.
Delia seperti mencoba mengingat tanggal lahirnya. \"Lima belas.\"
\"Mengapa kau menangis, Delia? Apa yang terjadi?\"
Delia diam tak berkata-kata. Tatapan matanya kosong. Raganya memang terjangkau, namun sukmanya berkelana tak menentu. Wajah teramat pucat dengan peluh yang belum lelah membanjiri, suara yang sangat pelan keluar dari bibir Delia yang bergetar. \"A-akupa-yah.\"
Devi menghela napas, direngkuhnya tubuh Delia ke dalam dekapannya. Gadis itu tak menolak. Ia pasrah karena membutuhkan perlindungan dan kehangatan. Delia merasa aman dalam pelukan Devi.
Lima menit berlalu dalam keheningan. Delia mulai mendapatkan sukmanya kembali. Dilepasnya pelukan Devi, ia mencoba duduk dengan sikap tubuh yang lebih baik. Kembali ia rapikan wajah, rambut, serta pakaian. Sejenak, ia menatap Devi. Tersenyum,\"Terima kasih,\" ucapnya.
\"Apa yang terjadi di sana, Delia?\" Devi mengambil berkas catatannya kembali. Memeriksa catatan yang tadi ia buat dengan cepat. Beberapa tulisan tangannya hampir tak terbaca oleh dirinya sendiri. Aku harus menulis ulang lagi nanti.
\"Bu Irma.\"
Devi memalingkan wajah dari catatannya. Memperbaiki letak kacamata frame hitam berlabel Nike, \"Ya?\"
\"Bu Irma, pelajaran sejarah. Beliau senang memberikan tugas debat,\" kata Delia perlahan.
\"Tugas debat? Maksudnya seperti apa, Delia?\"
\"Ya, kau tahu kan. Kita membuat grup dengan opini yang sudah ditentukan. Lalu wakil grup maju ke depan kelas. Menyampaikan pendapatnya. Grup lain bertindak sebagai oposisi. Kami harus berdebat untuk mempertahankan pendapat yang telah kami sepakati,\" papar Delia panjang lebar. Ia merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Tampak sangat kelelahan.
\"Baik, lalu apa yang terjadi tadi di taman? Mengapa kau tidak berada di kelas Bu Irma?\"
\"Aku-aku.. selalu menghindar menjadi wakil grup untuk maju menyampaikan opini.\"
\"Lalu?\" kejar Devi.
\"Bu Irma tadi memaksaku untuk menjadi wakil grup. Karena aku belum pernah sama sekali.\"
\"Dan?\"
\"Ya. kau pasti tahu kan apa yang terjadi? Maksudku... eh-emm...aku... eh,\" Delia tampak kesulitan mengungkapkan isi hatinya.
Tangan Devi menepuk pundak Delia, \"Katakanlah, tak perlu ragu.\"
Hening sesaat. Delia terdiam. Dalam pikirannya mengulang kembali kejadian enam tahun silam. Saat ia masih berseragam putih abu-abu. Seorang anak tunggal terlahir dari keluarga broken home. Hidup bersama seorang ibu otoriter, menuntut Delia untuk selalu hebat dalam segala hal. Berhasil dalam akademik, namun payah urusan pergaulan dengan teman sebaya.
Delia tumbuh menjadi introvert sejati. Ia hanya memiliki April, sahabat satu-satunya. Walaupun April kerap membawa Delia untuk bergabung dengan gadis-gadis lain, hasilnya tetap sama. Delia tetap menjadi Delia. Gadis kikuk, out of date, dan old fashioned. Dengan casing rambut ikal yang lebat panjang terurai, kacamata tebal, serta deretan gigi terpasung behel. Tak perlu menghindar dari tatapan nakal teman laki-laki, bahkan tak ada seorangpun teman laki-laki yang menyadari keberadaan Delia di muka bumi ini.
Perasaan rendah diri dan antisosial semakin membenamkan dunia Delia. Jauh dari jangkauan manusia normal. Nilai akademik tak bisa membantunya. Delia selalu gagal saat berbicara kepada selain April. Suaranya hilang, bukan gagap, melainkan bisu. Benar-benar bisu. Tak ada satu patah kata yang sanggup dihasilkan dari pita suara yang sebenarnya cukup merdu itu.
Kejadian buruk di kelas Bu Irma menambah daftar panjang alasan Delia menjadi semakin rendah diri. Tapi bukan hanya itu saja penyebab Delia keluar kelas dan menangis di taman. Saat berada di depan kelas, saat ia berusaha mengumpulkan keberanian mengeluarkan suara, saat ia bertekad mengusir kupu-kupu yang menggelitik perutnya, saat ia mengganti wajah teman-temannya dengan gambar tokoh kartun yang lucu, mata Delia beradu pandang dengan Rafly. Rafly, ketua Paskibraka, duduk di deret kedua baris keempat. Makhluk Tuhan paling tampan, tersenyum padanya.
Senyum Rafly sungguh membawa petaka. Mengandung racun mematikan. Kupu-kupu di dalam perut Delia berhasil terusir pergi. Namun, ribuan semut menyerang kaki Delia. Ia tak sanggup berdiri tegak. Belum lagi, ratusan ulat menggerogoti perutnya, naik ke ulu hati. Delia mual, ulat-ulat itu harus dikeluarkan. Kunang-kunang menyelubungi kepalanya. Pandangannya kabur, Delia tak lagi dapat melihat dengan jelas. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Samar ia mendengar suara Bu Irma, hanya gaung tanpa arti. Nalurilah yang menuntun Delia berlari keluar kelas menuju taman. Mengeluarkan ulat-ulat brengsek yang mengganggu anugerah senyum Rafly untuknya.
***
Devi menyodorkan tisu dan teh manis hangat pada Delia. Calon guru sekaligus penyandangglossophobia. Phobia berbicara di depan umum. Delia meminta bantuan Devi untuk menghilangkan trauma ini. Dalam beberapa bulan ke depan, Delia wajib mengikuti praktik lapangan. Itu berarti dirinya harus bisa bicara di depan umum. Simulasi kelas sebelum benar-benar terjun berprofesi sebagai guru.
\"Apakah kejadian di kelas Bu Irma adalah kejadian yang pertama kali? tanya Devi melanjutkan sesi konsultasinya.
Delia kembali diam. Membuka laci-laci file memori otaknya. Mencari runtutan kejadian. Kepalanya menggeleng perlahan.
\"Berapa usiamu, Delia?
Ada linangan air mata saat Delia menutup matanya. Bibirnya bergetar, suara yang keluar seperti suara anak kecil, \"Sembilan tahun, Tante.\"
***
Pak Iwan, guru IPS memegang daftar absensi, berteriak kencang, \"Delia Rahmawati!\"
Delia memaksa tubuhnya yang terasa lebih berat daripada gajah untuk bergerak maju ke depan kelas. Ia tahu Pak Iwan tak akan sabar bila ia berjalan bak peragawati, namun kedua kaki terasa terbelenggu bola besi. Hatinya bergemuruh kencang.
\"Ceritakan pada kami semua tentang suku keluargamu dan kebudayaannya!\" perintah Pak Iwan.
\"Eh, emm, saya-saya tidak punya suku dan eh... um… tidak berbudaya, p-pak,\" jawab Delia. Sontak seisi kelas tertawa dengan ucapan Delia, juga Pak Iwan.
Tangan Delia saling meremas, hatinya gemas. Ia sudah menghafalkan jawaban yang seharusnya ia ucapkan sejak dua hari lalu di depan cermin. Tapi entah mengapa, suara yang keluar menghasilkan kalimat yang berbeda. Tawa teman-teman tak berkurang.Saat mata Delia mencari perlindungan dari orang yang dianggapnya dewasa, Pak Iwan justru ikut serta dalam lelucon yang dilontarkan Ardi, \"Delia tak berbudaya!\" Ruang kelas tak lagi aman untuk tubuh mungil Delia. Kakinya berinisiatif membawa Delia berlari menuju taman. Di sanalah tempat teraman menumpahkan air mata yang tak lagi tertahankan.
***
Suara-suara itu datang lagi. Suara teriakan yang saling bersahutan. Suara laki-laki dan perempuan. Mengapa mereka tak pernah berhenti mengganggu tidurku? Tak tahukah mereka, aku membutuhkan suara lembut yang menenangkan? Aku membutuhkan kalimat-kalimat kasih sayang, bukan teriakan, saling memaki, dan menghardik.
Selubung ini terlalu tipis menyelimutiku. Suara-suara itu masih kerap mengganggu tidurku.
\"Kau bodoh! Kau hancurkan usaha yang susah payah kubangun hanya dengan presentasi gagapmu itu!\" teriak si wanita.
\"Aku sudah berulang kali minta maaf padamu. Tak bisakah kita berpikir mencari solusi?\" sahut si laki-laki.
\"Solusi katamu? Pekerjaan apapun yang kuberikan padamu pasti gagal. Gagal karena gagapmu yang tak pernah usai!\"
\"Aku gagal karena kau terlalu banyak menuntut padaku. Tidak semua orang sempurna seperti kau!\" si laki-laki melempar kesalahan. Ia tak ingin terus memegang bola api di tangannya. \"Tiap kali aku presentasi, tiap kali aku bicara dengan klien, kau selalu memotong ucapanku. Dan bahkan mengucapkan kata-kata yang menjatuhkanku. Kau sendiri yang menghancurkan usaha kita ini!\" lanjut laki-laki itu, kali ini seluruh emosi ia tumpahkan. Ia tak menahan diri lagi.
\"Oh, sekarang kau menyalahkan aku? Coba jelaskan padaku, mengapa gagapmu tak pernah keluar saat kau merayu Leni, Tamara, Avinta, dan perempuan lainnya yang mungkin tak kuketahui?\"
Ah, suara-suara itu semakin kencang. Terus bersahut-sahutan tak berkesudahan. Aku ingin keluar. Aku ingin melihat wajah laki-laki dan perempuan itu. Wajah-wajah pemilik suara keras. Wajah-wajah yang saling melemparkan kesalahan. Wajah-wajah penuh kebencian. Wajah-wajah yang membuatku ada.
Tolong! Tolong bantu aku. Aku ingin segera keluar dari selubung ini. Di sini tak lagi hangat. Di sini tak lagi nyaman. Aku ingin keluaarr ...!
.***
Tim dokter RSIA Sayap Ibu tak mampu menahan agar janin berusia 26 minggu itu tidak lahir sebelum waktunya. Sang ibu sudah bermandi peluh, darah mengalir deras membasahi area pangkal paha, napasnya tersengal, tangannya meremas erat lengan suster di samping kiri kanannya. Rabu Pon, 6 Agustus 1997, lahir prematur.Bayi keras kepala yang belum matang organ tubuhnya. Delia Rahmawati.
***

Other Stories
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Testing

testing ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Tes

tes ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Download Titik & Koma