Chapter 2
Seorang pria berkepala plontos dengan kaca mata tebal masuk ke dalam kelas. Adalah pak Susilo guru bahasa Inggris yang terkenal gila hormat dan arogan. Tak ada satu orang siswa pun yang belum pernah dihukum olehnya.Kecuali siswi-siswi yang cantik dan keponakannya yang bernama Samsul Si Ketua Kelas.
“Morning every body!” sapanya.
Serempak kami berdiri,”Morning Sir.”
“Ok, sit down, please...” Ucap pak Susilo.
Pak Susilo duduk di kursi kebesarannya. Membolak-balik absensi.Kembali menatap wajah anak didiknya satu-persatu. Kebetulan saat itu aku sedang menunduk, sehinga pak Susilo mungkin tak melihatku.
“Dita?”
“Yes, Sir!” Dita kaget.
“Where is Gama?”
“I am here, Sir! Masa orang seganteng saya kagak keliatan!” sahutku.
“Huuu...” anak-anak menyorakiku.
Aku berdiri, “Terima kasih atas pujiannya teman-teman. Nanti pasti gue kasih tanda tangan kalian.”
Aku membungkukkan badan layaknya seorang artis yang baru menerima piala Oscar. Teman-teman tambah keras menyorakiku.
“Sudah sudah, kamu memang paling senang bikin ribut dikelas, Gama!” seru pak Susilo
Aku nyengir dan duduk kembali.
“Hari ini kita ulangan! Buatlah sebuah prosa dengan menggunakan bahasa Inggris!”seru pak Susilo lagi.
“Yaah...” Seru anak-anak hampir serempak.
“Why?” seru pak Susilo
“No why why sih, Sir!” sahutku nyengir kuda.
“Grrr...” anak-anak kembali tertawa.
“Boleh saya usul Pak?” seru Samsul sang ketua kelas sambil berdiri.
“Apa Samsul?” Pak Susilo terdengar lembut.
“Bagaimana kalau prosanya jangan pake bahasa Inggris, tapi pakai bahasa daerah, Jawa atau Sunda. Bukankah itu lebih akan membuat generasi muda mengenali budayanya!” seru Samsul penuh percaya diri.
“Eh, sendok kerak telor. Lu kira kelas ini panggung ludruk ape!”tukasku.
“Grrr...” Suara tawa kembali memenuhi kelas. Samsul merengut. Di kelas Samsul memang selalu jadi bahan ejekanku. Aku tidak suka dengan gayanya yang sok dan penjilat. Dia akan sangat senang jika ada salah satu temannya yang dihukum. Dia juga sering melaporkan jika ada anak-anak melanggar aturan-aturan. Untung saja dia ponakannya pak Susilo, hingga tak ada yang berani menyentuhnya. Jika bukan, aku yakin dia udah abis digebukin.
“Kerjakan sekarang! Bapak kasih waktu 2 kali 45 menit untuk mengerjakannya!” seru pak Susilo. Sambil melihat jam tangan.
“Udah kayak sepak bola aje 2 x 45 menit!”sahutku lagi.
Tawa kembali meledak memenuhi kelas. Namun seketika senyap ketika pak Susilo menggebrak meja. “Kerjakan sekarang!” Jiwa killer pak Susilo keluar.
Anak-anak pun segera mengeluarkan buku tulis. Kemudian segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak Susilo. Slamet membuka handphone-nya melihat Google translate, beberapa orang lain mengikutinya. Aku hanya nyengir kuda. Dita nampak serius meski sesekali keningnya terlihat berkerut. Namun dalam pandanganku, Dita selalu terlihat cantik dan menggemaskan.
Suasana kelas tenang semua tengah memikirkan pekerjaan masing-masing yang tidaklah mudah. Terdengar suara pintu diketuk. Secara serempak kami menoleh. Ternyata pak Bambang Sang Kepala Sekolah berdiri dimuka pintu.
Di sampingnya berdiri seorang siswi berambut panjang dan...
“Anjrit! Makan apa tu cewek, cakepnye pake banget. Tapi tunggu! Dia kan?” seruku dalam hati.
Tanpa diminta, otakku segera memutar kejadian dua hari yang lalu ketika itu sedang berkeliling mendatangi setiap penjual bubur ayam untuk mengambil tulang-tulang ayam yang telah aku pesan.
Matahari sangat terik hari itu. Padahal baru jam 10 pagi. Ya, inilah Jakarta. Untung saja sejak kecil aku tinggal di sini, jika tidak mungkin aku akan sangat tersika dengan panasnya. Hanya tinggal satu orang tukang bubur ayam di kawasan Depok yang belum aku datangi. Aku pun segera meluncur. Sesampainya di Depok aku segera menuju warung bubur ayam bang Somad. Aku memarkir motorku dibahu jalan. Di samping sebuah motor gede berwarna merah.
”Keren bener ni motor!” gumamku.
Lalu menatap Vespa bututku. “Tapi, meskipun motor gue butut, motor ini telah menaklukan beberapa orang cewek!” Aku nyengir sendiri.
Sebenarnya aku agak segan masuk ke warung bubur bang Somad. Tapi karena aku ingin cepat pulang, juga takut ada guru atau teman yang kebetulan lewat sana, maka aku pun segera masuk. Bang Somad menyambutku dengan senyum khasnya.
“Duduk aje dulu, Gama!” serunya.
Aku menjawab dengan anggukan. Kemudian duduk di kursi plastik berwarna merah. Tak jauh dariku, seorang gadis cantik sedang asik menikmati semangkok bubur. Wajahnya yang putih nampak kemerahan dan berkeringat akibat kepedasan. Tapi sepertinya dia sangat menikmatinya.
“Ini, Tong!” Bang Somad memberikan aku sekantong plastik tulang-tulang ayam berbagai ukuran.
“Makasih ye Bang. Berape?”
“Udah, bawa aja. Cuma tulang ini,” jawab bang Somad.
Dengan ekor mata, aku melihat gadis itu memandang ke arahku.
“Si Abang baik bener, gue doain masuk surga deh!” seruku.
Bang Somad tertawa kecil sambil menuangkan air ke dalam sebuah gelas dan menaruh di depan gadis itu.
“Punya minuman dingin nggak, Bang?” tanya Gadis itu.
“Ada, Non!” jawab bang Somad.
Aku kembali menatap gadis itu sekilas. Mata kami bertemu sesaat. Seperti ada setrum dalam dadaku.
“Anjrit, bening bangget ni cewek kayak kobokan pecel lele!” seruku dalam hati lalu garuk-garuk kepala dan nyengir.
Bang Somad mengambil sebotol teh manis dalam pendingin dan langsung membukanya.“Lu mau minum kagak, Tong?”
“Kagak, Bang. Makasih. Gue pamit ya Bang!”
“Hati-hati ye!” sahut bang Somad sambil memberikan botol minuman dingin kepada gadis itu.
“Oke, Bang!”
Aku segera keluar menuju motorku. Kantong kresek hitam berisi tulang-tulang ayam aku masukan ke dalam tas gendong. Lalu duduk di atas Vespa dan langsung menyelahnya. Namun hingga keringatku bercucuran sebesar biji jagung bakar, entah kenapa Vespaku tak mau hidup.
“Ah, kenapa pula kau, Nak?” Aku turun dari motor. Berdiri di samping, menatap motor kesayanganku.
Motor peninggalan ayahku ini memang sering mogok. Belum lagi catnya yang sudah mengelupas di sana-sini seperti orang kena kusta. Tapi meskipun begitu aku sangat sayang kepadanya. Kuusap-usap jok Vespaku beberapa kali. Tak lupa merapalkan doa makan. Setelah itu, aku menyelahnya kembali. Namun, hingga keringatku bercucuran sebesar biji jagung, Vespa peninggalan almarhum ayah ini tak jua menampakan kehidupan.
“Udah, kilo aja tu motor!” Tiba-tiba seseorang berseru di belakangku.
Kata-katanya makin membuat aku panas. Segera kuputar tubuhku. Ternyata gadis cantik yang tadi kutemui dalam warung bubur bang Somad kini berdiri berkacak pinggang tersenyum sinis mengejek.
“Heh! Jaga mulut lu itu gadis cantik, atau kujahit sekalian!” Aku memang sangat gampang tersulut emosi. Namun, gadis itu malah tertawa. Renyah sekali tawanya.
“Kok jadi sewot sih! Lagian aku bicara fakta kok, kalau motor itu sudah terlalu tua untuk ditunggangi. Apa nggak kasian. Udah kilo aja, atau tuker aja ama beras! Lumayankan, daripada lu tiap hari keliling nyari tulang kayak kucing hehehe!” Si Gadis malah semakin mengejek. Bukan, itu bukan ejekan, tapi hinaan.
“Songong bener ni cewek!” gerutuku. Mataku menatap tajam. Napasku sudah mulai tak teratur menahan ledakan amarah.
“Saranku bagus kan! Atau kamu kubur aja tu motor sebelum dia mengubur harapanmu,” katanya lagi.
“Eh, tu mulut ape knalpot bajai sih!” Aku sudah tak mampu menahan emosi. Kusimpan tas di atas jok. Kemudian melangkah mendekatinya. Tinjuku sudah mengepal.
“Udeh, Gama! Dia kan cuma cewek!” tiba-tiba bang Somad datang melerai.
“Iya nih Bang. Pengecut banget sih ni cowok beraninya ama cewek!” Gadis itu seolah mendapat bantuan.
“Lu juga gua hajar, Bang!” Begitulah kalau aku sedang marah, semua bisa jadi sasaran. Aku memang tak pernah takut pada siapa pun.
“Sori deh kalo Abang ikut nimbrung, Gama. Dan Non juga sebaiknya cepet pergi dari sini,” tukas bang Somad.
“Dari tadi juga aku mau pulang, Bang. Tapi orang ini malah ngajak ribut!” serunya.
“Anjrit! Lu sendiri yang mulai, brengsek!” bentakku. Maju selangkah lagi. Bang Somad menahanku.
“Sabar Gama. Kemarin lu bilang sama Abang mau jadi orang sabar,” ucap bang Somad.
“Tapi dia keterlaluan, Bang!”
“Iye iye.” Bang Somad menyahut.
”Non cepet deh minggat dari sini!” seru bang Somad kepada gadis itu.
Gadis itu tersenyum sinis. Dan aku baru tahu kalau motor sport merah yang ada di samping Vespaku itu adalah tunggangannya ketika dia menstarter motornya. Sebelum pergi, ia sempat memainkan gas terlebih dahulu sambil terus terse-nyun mengejekku.
***
“Akhi... Akhi Gama!” Slamet mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahku. Menyadarkan aku dari lamunan.
“Nah kalo ini benar-benar bahaya, Met!” bisikku.
“Memangnya siapa gadis itu, Akhi?”
“Tar juga lu tau sendiri. Yang pasti bakalan ada perang antara gue sama tu cewek!”Aku menatap tajam gadis itu.
Slamet terlihat bingung dengan kata-kataku.
Pak Bambang dan gadis yang ternyata siswi baru itu pun segera masuk setelah pak Susilo mempersilakan. Keheningan kelas segera berganti suara desis bisik-bisik. Sedang aku hanya melongo tak berkedip memandang gadis cantik itu. Matanya, hidungnya, bibirnya, Ah...benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Namun, tetap tak seindah dan secanik wanita yang akhir-akhir ini sering hadir di mimpiku.
“Mohon perhatian sebentar anak-anak!” seru pak Bambang.” Silakan memperkenalkan diri Lara,” sambung pak Bambang.
“Pagi teman-teman. Nama saya Laurin.”
“Pembalut dong!” seruku spontan.
“Eh, jerawat monyet! Itu mah Laurier!” sahut salah seorang lainya.
“Grrr...” anak-anak tertawa. Sementara Laurin hanya senyum. Matanya yang bulat bening menatapku. Dan, Deg! Dadaku seolah ditumbuk benda keras. Hingga aku tak dapat berkata lagi. Mata itu seolah langsung menghujam jantungku.
“Tapi teman-teman bisa panggil saya Lara. Dan semoga teman-teman semua berkenan untuk menjadi sahabatku,” sambung Lara.
“Mau-mau!” seru Samsul.
“Huuu...” anak-anak menyorakinya.
”Dasar mata keranjang telur asin lu!” seruku.
“Heh Gama! Maksud lu apa sih nyela gue terus!?” seru Samsul.
“Anjrit! Di depan cewek aja dianya ngedadak jadi Betmen. Hahaha..!” Aku tertawa. diikuti oleh tawa anak-anak lain.
Sepertinya Lara mulai mengenaliku. Matanya menatap sinis. Tapi aku tak gentar sedikit pun. Bahkan matanya itu, membuat emosiku dua hari yang lalu bangkit kembali. Aku balas menatapnya. Selama hampir satu menit kami saling tatap mengukur keberanian masing-masing.
“Nah Lara, silakan duduk bersama Dita,” ucap pak Susilo lembut. Tatapan matanya tak lepas dari wajah putih Lara.
“Terima kasih, Pak,” jawab Lara. Ia berjalan menuju bangku Dita yang kebetulan berada tepat di sampingku.
“Aha!” Aku tersenyum karena mendapatkan kesempatan membalas hinaannya tempo lalu.
“Kelas ini akan menjadi neraka buat lu cewek sombong!” kataku dalam hati sambil terus menatap Lara.
Begitu pun dengan Lara. Dia terus menatapku dengan sinis. Ketika semakin dekat dia padaku, Lara tersenyum sinis.
“Ternyata kita jumpa lagi ya!” ucapnya.
“Iye, gua seneng banget lu bisa sekolah di sini. Moga betah ye,”jawabku tak kalah sinis.
Lara tersenyum pada Dita. Kemudian menyalaminya. Dita pun menyambut perkenalan itu dengan hangat sembari heran dengan potongan dialog kami tadi. Saat Lara membelakangiku, secepat kilat aku taruh permen karet yang sejak tadi aku kunyah di tempat duduknya. Dengan anggun dan selalu menatap sinis padaku, Lara pun duduk. Aku tersenyum pemuh kemenangan.
“Satu kosong!” bisikku.
***
Bel pertanda istirahat berbunyi. Aku segera keluar dari kelas diikuti Slamet. Tebayang dalam benak reaksi Lara ketika mengetahui kalau diroknya ada permen karet. Aku tertawa sendiri.
“Kalau tidak kuat lambaikan tangan saja Akhi!” tiba-tiba Slamet berkata. Mulutnya komat-kamit.
“Maksud lu!” aku mengerutkan kening
“Akhi barusan tertawa sendiri. Kata guru Ana, itu adalah tanda orang yang kesurupan,” jawab Slamet tenang.
“Lu kira gua lagi ikut uji nyali apa!” Seruku. Namun tak urung aku tertawa. “Lu kayaknya lebih baik jadi pelawak dari pada ustad, Met!” seruku.
“Tidak, Akhi! Ana sudah memantapkan jalan hidup untuk selalu berdakwah menegakan agama Allah.”
“Ck ck ck...mulia bener hidup lu, Met. Asal jangan jadi ustad cabul aja lu!”
“Insya Allah Akhi, Ana tak secabul yang Akhi bayangkan. Hehehe...”
“Hahaha...makan yu, Met!”
“Ayo Akhi, hari ini biar Ana yang teraktir.”
“Wah, lu emang mengamalkan agama dengan baik, Met. Harusnya tiap hari lu traktir gua.” Kupeluk bahu sahabatku itu.
“Insya Allah, Akhi,” jawab Slamet.
“Ayo Akhi, sebaiknya kita cepat, karena Ana harus shalat Dhuha.”
“Lu aje deh yang shalat, gua lagi males, Met!”
Slamet geleng-geleng kepala. Entah apa maksudnya. Mung-kin mengira aku ini orang yang malas dalam beribadah. Dan itu memang benar. Jika bukan karena terpaksa shalat lima waktu pun aku masih sangat malas.Tapi kemalasanku bukan karena kuatnya godaan setan. Aku mengakui kelemahan imanku sendiri.
“Ah, masa bodoh lu mau nganggep gua ape Met, yang pen-ting hari ini gue makan gratis!” kataku dalam hati.
Seperti biasa di kantin telah banyak siswa yang mengisi waktu istirahat dengan mengobrol becanda sambil makan. Bahkan kantin sekolah juga adalah tempat paling asik untuk ngegosip bagi cewek-cewek dan ngegebet bagi cowok. Namun, ada juga yang menggunakan kantin sesuai dengan fungsinya. Dan itulah aku.
“Siomay sama teh botol, Mpok. Yang dingin ye!” seruku pada penjaga kantin.
“Kagak! Bayar dulu yang kemaren. Lu kira kantin ini milik buyutmu!” seru mpok Leha.
“Tenang Mpok, ni hari gua ditraktir sama Si Slamet. Calon ustad terkemuka di sekolah kita ini.”
“Heh! Lu sama Si Slamet itu sebelas dua belas. Utang dia juga belum dibayar. Bisa-bisanya sok mau traktir lu!” seru mpok Leha.
“Anjrit juga lu, Met. Bener itu?”
Slamet tak menjawab. Dia malah berdiri kemudian me-langkah tenang menghampiri mpok Leha yang sedang sibuk menyiapkan pesanan anak-anak. Setelah dekat, Slamet langsung mengucapkan salam kepada mpok Leha. Kening mpok Leha langsung berkerut dengan sikap Slamet.
“Rasain lu, diceramahin sama ustad stres!” gerutuku.
Tak jelas apa yang diucapkan Slamet kepada mpok Leha, karena selain jarak kursiku dan etalase kantin cukup jauh, kantin juga sangat berisik oleh cekikik cewek-cewek yang sedang ngegosip. Tapi keningku sedikit berkerut ketika mpok Leha terlihat menundukan kepalanya di depan Slamet.
“Anjrit! Si Slamet punya ilmu hipnotis juga rupanya. Mpok Leha bisa dibikin tak berkutik gitu!” seruku dalam hati.
Tak lama Slamet pun kembali menghampiriku. Namun kini dibarengi oleh mpok Leha yang membawa semangkok siomay dan segelas teh manis.
“Terima kasih, Mpok. Semoga kebaikan Mpok Leha mendapat balasan yang setimpal,” ucap Slamet lembut.
“Sama-sama Kang Mas Slamet!” jawab mpok Leha.
“What! Kang Mas!” aku sangat terkejut mendengar mpok Leha menyebut Slamet kang mas. Sedikit pun otakku tak mampu menduga apa yang telah terjadi beberapa menit tadi ketika Slamet dan mpok Leha bicara.
“Nggak usah kaget, Akhi! Inilah bukti bahwa jika kita mengamalkan ajaran agama, maka Allah akan mempermudah segala urusan kita. Dan ingat! Allah lah yang mengatur hati seluruh manusia. Sangat mudah baginya untuk mengubah hati seorang manusia.” Slamet menjelaskan dengan mantap.
Aku manggut-manggut. Semua yang dikatakan Slamet memang sangat benar. “Tapi kalau boleh gua tahu, lu tadi ngo-mong apa sama mpok Leha, Met?” Aku masih tetap penasaran.
“Akhi Gama ingin tahu bagaimana caranya orang yang kita utangin menjadi baik?” tanya Slamet.
“Woow...mau dong, Tad!” Aku sangat penasaran.
Slamet senyum.”Mudah.”
“Gimana?”
“Bicara yang baik dan bayar utangnya,” jawab Slamet sungguh-sungguh.
Aku garuk-garuk.”Kalau begitu sih nenek nenek sakit tipes juga tahu, Met.” Aku kesal.
“Tapi benarkan apa yang Ana katakan?”
“Bener banget, Met. Benerrr...lu mah emang kagak pernah salah.” Aku semakin kesal.
Slamet senyum.
“Ah, bodo amat yang penting ni hari gua makan gratis.” Aku berkata dalam hati, lalu melahap somay yang telah sejak tadi tersaji di depanku.
“Jangan lupa Bismillah, Akhi!” Slamet mengingatkan.
“Udeh dalam hati, Tad!”singkatku.
”Malah seribu kali,” aku tak ingin berdebat dengannya.
“Lu kagak makan, Met?” tanyaku.
“Ini kan hari Senin, Akhi. Mulai sekarang Ana berniat puasa SeninSabtu.”
“Senin Kamis kalii...”
“O, udah ganti jadi Senin Kamis ya?”
“Hadeeuhh...lu ini gimana sih, Met. Dari zaman Abu Lahab asam urat juga puasa sunah itu Senin Kamis. Bukan Senin Sabtu. Emang guru lu kagak ngasih tahu ape?”
“Ana kagak punya guru Akhi. Karena belajar dari buku juga Ana anggap sudah lengkap!” seru Slamet.
“Wah...bahaya nih Si Slamet kalau hanya belajar dari buku doang. Pantesan aja ngawur. Lawong semua keterangan dipaha-mi dengan otaknya sendiri,” gumamku dalam hati.
Belum sempat aku berkata kembali, tiba-tiba di depanku kini telahada Dita dan Lara. Dita tersenyum padaku. Lara pun tersenyum, cuma senyumnya tetap mencerminkan permusuhan.
“Siomay, Dit!” sapaku pada Dita tanpa pedulikan Lara.
“Nggak ah, makasih,” jawab Dita singkat.
“Eh! Jangan sok nggak bersalah deh! Kamu kan yang naruh permen karet di kursiku!” Tiba-tiba Lara membentakku.
Aku tersenyum.”Iye, emangnya kenape? Lagian permen karet ntu gua taroh sebelum lu masuk. Jadi bukan salah gua dong. Tapi salah lu, kenape lu duduk di kursi itu,” jawabku tenang.Dita tertawa kecil mendengar kata-kataku.
Sedang Slamet, “Maaf Akhi, Ukhty. Ana harus shalat Dhuha. Karena menurut Ana tak ada gunanya kita berlama-lama di tempat seperti ini,” katanya.
“Iya Ustaaadd...” Aku dan Dita serempak menjawab.
Sementara Lara hanya bengong. Mungkin baru pertama
kali ia bertemu dengan ustad kayak Slamet. Namun itu hanya sekejap karena pada detik berikutnya, Lara kembali menatapku dengan matanya yang menyala-nyala.
“Jangan bangga dulu, aku pasti balas!” serunya.
Aku senyum sinis,“Gua kagak pernah takut ame orang. Apalagi cuma cewek macam lu!”
“Kalian ini kenapa sih? Sepertimya udah kenal lama ya?”Dita menimpal.
“Tanya ajasama temen baru lu itu!” jawabku.
“O iya, Dit. Miniaturnye gua anterin ke rumah aja tar sore ye. Soalnya pulang sekolah gua mau ke rumahnye Si Apud.”
“Ok deh. E...tapi Si Apud kenapa?”
“Nah, ntu yang mau gue cari tahu. Gue duluan ye!”
“Tumben, biasanya kamu paling betah diem di kantin. Mau kemana?”
“Mau lihat Si Slamet. Takutnye die malah ceramah di mushola!”
“Kalau gue malah takut dia ngerakit bom, Gama!” sahut Dita.
“Emangnye die teroris ape? Ngebunuh kecoa aje dia kagak berani!”kataku.
Aku dan Dita tertawa. Sementara Lara hanya menatap, sepertinya dia tidak suka dengan kedekatan aku dan Dita. Aku pun segera beranjak meninggalkan kantin.
***
“Kok kamu bisa deket sama orang macam dia sih, Dit?” tanya Lara.
“Emangnya Si Gama kenapa? Jail! Hehehe. Memang itulah dia. Guru aja bisa dia kerjain apalagi kamu, Ra!” jawab Dita.
“Tapi sebenarnya dia baik kok, Ra. Percaya deh sama aku!” sambungnya.
“Kamu naksir dia kali, Dit!” tanya Lara.
Entah kenapa wajah Dita seketika merona.
“Emang! Sayangnya dari dulu hingga kini dia cuma anggep aku temen. Lagian aku juga udah mau tunangan kok!” jawab Dita terpaksa bohong untuk menutupi perasaan sebenarnya.
Lara terdiam. Sepertirya ia mulai penasaran sama Gama. Betapa tidak, meskipun tampang dan gayanya urakan, tapi dia banyak disukai cewek-cewek dan disegani para cowok. Tapi di sisi lain hatinya, ia tetap ingin membalas kejailan Gama.
“Kamu penasaran ya sama dia?” Dita tersenyum.
Lara hanya diam.
“Masuk yuk, Ra!”
“Duluan aja deh, aku masih ingin di sini,” jawab Lara.
“Ya udah, aku duluan ya!” Dita tersenyum menatap kebingungan di wajah teman barunya itu.
Lara hanya mengangguk. Dita pun segera beranjak. Dia memang kurang suka nongkrong di kantin. Selain karena dia memang suka membawa bekal dari rumah. Ia sangat menjaga kesehatan. Maklumlah dia bermasalah dengan pencernaannya. Disarankan dokter keluarga Dita harus hati-hati mengkonsumsi makanan.
Sepeninggal Dita, Lara pun beranjak medekati mpok Leha.
”Punya tambang atau tali nggak, Mpok?” tanya Lara.
“Ada juga tali rapia. Buat apa?” tanya mpok Leha.
“Ada deh...mana saya minta, Mpok!”
“Beli dong, di sini nggak ada yang gratis!”ketus mpok Leha.
“Iya udah sini!” seru Lara sambil menyerahkan uang sepuluh ribu kepada mpok Leha yang tersenyum menerimanya.
Lara segera melangkah menuju tempat parkir dan langsung menuju Vespa yang terparkir paling pojok. Setelah yakin tak ada yang memperhatikannya. Ia pun segera mengikat leher Vespa itu kepagar besi. Setelah itu segera meninggalkan parkiran
menuju kelas.
***
Other Stories
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...