Secercah Senyum Di Tengah Lelah
Beberapa hari di sekolah baru ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan. Pagi-pagi aku harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat, meski jarak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah. Setiap langkah menuju kelas selalu dibarengi rasa gugup, takut salah, atau bingung menghadapi murid yang karakternya beragam.
Hari-hari itu penuh dengan suara gaduh anak-anak yang bercanda, berlarian di halaman dan depan kelas.
Mungkin anak murid yang bertanya hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Pak, kenapa awan itu melayang?” atau “Pak, kenapa kita harus belajar kalau nanti kita ga ingat pelajarannya?”
Pertanyaan-pertanyaan polos itu membuatku selalu tidak siap menjawab, sekaligus membuat kepalaku bekerja lebih keras.
Di ruang guru, aku masih merasa asing. Suara tawa rekan-rekan kerja mengisi ruangan, tapi aku hanya menjadi pendengar. Aku tahu mereka tidak bermaksud membuatku terasing, hanya saja aku masih belum terbiasa masuk ke lingkaran percakapan itu. Kadang aku hanya duduk, membuka buku, pura-pura membaca sesuatu agar terlihat sibuk.
Lelah itu semakin terasa ketika siang datang. Tenagaku seolah terkuras habis, bukan hanya karena mengajar, tapi juga karena harus berusaha tampil percaya diri di depan murid dan guru lain. Aku sering pulang dengan kepala penuh pikiran, lalu merebahkan diri tanpa sempat menyentuh catatan pelajaran yang sudah kususun. Kemudian aku harus melanjutkan kuliahku pada sore hari.
Namun, di tengah rutinitas yang melelahkan itu, ada satu hal yang mulai berbeda. Aku mulai sadar bahwa ada satu sosok yang entah mengapa kerap muncul di sela-sela hariku. Awalnya hanya sekilas melihatnya membeli jajan di kantin ketika aku sedang terburu-buru ke kelas. Lalu suatu kali, aku melihatnya tersenyum pada murid yang berlari menyapanya. Senyum itu, anehnya, seperti memberi jeda kecil di tengah kepenatanku.
Aku tidak tahu namanya. Aku bahkan tidak berani menegur. Tapi keberadaannya seolah menandai titik-titik tertentu dalam hariku yang monoton. Saat aku lelah mengajar, tiba-tiba aku melihatnya di halaman sekolah. Saat aku bingung dengan penyampaian materi, ia tanpa sadar melintas dengan langkah cepat. Dan entah mengapa, meski tidak ada interaksi, momen singkat itu membuatku merasa sedikit lebih ringan.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, kenapa akumemperhatikan hal-hal sepele itu? Bukankah seharusnya aku sibuk dengan tugaskusendiri? Namun, rasa lelah yang menumpuk justru membuat detail kecil sepertiitu sedikit berarti. Seperti secercah cahaya yang menembus celah-celah di hari-hari yang melelahkan.
Hari-hari itu penuh dengan suara gaduh anak-anak yang bercanda, berlarian di halaman dan depan kelas.
Mungkin anak murid yang bertanya hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Pak, kenapa awan itu melayang?” atau “Pak, kenapa kita harus belajar kalau nanti kita ga ingat pelajarannya?”
Pertanyaan-pertanyaan polos itu membuatku selalu tidak siap menjawab, sekaligus membuat kepalaku bekerja lebih keras.
Di ruang guru, aku masih merasa asing. Suara tawa rekan-rekan kerja mengisi ruangan, tapi aku hanya menjadi pendengar. Aku tahu mereka tidak bermaksud membuatku terasing, hanya saja aku masih belum terbiasa masuk ke lingkaran percakapan itu. Kadang aku hanya duduk, membuka buku, pura-pura membaca sesuatu agar terlihat sibuk.
Lelah itu semakin terasa ketika siang datang. Tenagaku seolah terkuras habis, bukan hanya karena mengajar, tapi juga karena harus berusaha tampil percaya diri di depan murid dan guru lain. Aku sering pulang dengan kepala penuh pikiran, lalu merebahkan diri tanpa sempat menyentuh catatan pelajaran yang sudah kususun. Kemudian aku harus melanjutkan kuliahku pada sore hari.
Namun, di tengah rutinitas yang melelahkan itu, ada satu hal yang mulai berbeda. Aku mulai sadar bahwa ada satu sosok yang entah mengapa kerap muncul di sela-sela hariku. Awalnya hanya sekilas melihatnya membeli jajan di kantin ketika aku sedang terburu-buru ke kelas. Lalu suatu kali, aku melihatnya tersenyum pada murid yang berlari menyapanya. Senyum itu, anehnya, seperti memberi jeda kecil di tengah kepenatanku.
Aku tidak tahu namanya. Aku bahkan tidak berani menegur. Tapi keberadaannya seolah menandai titik-titik tertentu dalam hariku yang monoton. Saat aku lelah mengajar, tiba-tiba aku melihatnya di halaman sekolah. Saat aku bingung dengan penyampaian materi, ia tanpa sadar melintas dengan langkah cepat. Dan entah mengapa, meski tidak ada interaksi, momen singkat itu membuatku merasa sedikit lebih ringan.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, kenapa akumemperhatikan hal-hal sepele itu? Bukankah seharusnya aku sibuk dengan tugaskusendiri? Namun, rasa lelah yang menumpuk justru membuat detail kecil sepertiitu sedikit berarti. Seperti secercah cahaya yang menembus celah-celah di hari-hari yang melelahkan.
Other Stories
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...