Deska

Reads
4.1K
Votes
1
Parts
27
Vote
Report
Penulis Pale

Mungkin Besok

Ada sesuatu yang paling melelahkan dari rasa yang tak terucap, benar itu adalah menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pernah dijanjikan, menunggu seseorang yang tak pernah tau bahwa dirinya sedang ditunggu.

Hari-hari di sekolah baru ini terasa berjalan lambat. Bukan karena pekerjaan menumpuk, tetapi karena setiap detik diwarnai oleh harapan yang entah kemana jelas arahnya. Setiap pagi, ada dorongan samar untuk segera tiba, hanya agar bisa melihatnya. Setiap pagi, ada penantian tak kasat mata apakah ia akan lewat, apakah aku akan menemukan sosoknya sekilas? Dan setiap siang, ada kecewa kecil yang tak pernah sempat diakui, ketika hari berlalu tanpa ada satu pun interaksi.

Aku tidak tahu sejak kapan hal ini mulai terasa. Yang jelas, ada ruang kosong yang diam-diam kubiarkan dipenuhi oleh kehadirannya. Padahal, ia tak pernah menawarkan apa-apa. Ia hanya hadir, tanpa sengaja, tanpa maksud. Sedangkan aku, yang terlalu banyak berdiam, malah sibuk menafsirkan setiap gerak yang bahkan mungkin tidak ditujukannya padaku.

Menunggu yang tidak pasti itu seperti berjalan di padang luas tanpa tanda arah. Kau tahu kau sedang bergerak, tetapi entah menuju ke mana. Kau merasa sedang melangkah, tapi tak tahu kapan akan tiba. Setiap langkah hanyalah repetisi dari harapan yang sama, semoga ada sesuatu yang terjadi.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa menunggu? Namun, seperti kebanyakan hati yang keras kepala, aku selalu menemukan alasan baru untuk bertahan.“Mungkin besok atau mungkin nanti kalau ada kesempatan.”

Dan begitulah, aku terus bertahan, meski dalam diam aku sadar tidak ada yang benar-benar pasti. Namun, bukankah hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian? Barangkali menunggu bukan soal kepastian, melainkan soal kesediaan hati. Kesediaan untuk berharap, meski tahu harapan itu bisa saja patah kapan saja. Kesediaan untuk diam, meski tahu mungkin selamanya tidak ada jawaban.

Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah aku seseorangyang menunggu, bukan karena janji, bukan karena kepastian, melainkan hanyakarena perasaan yang tak sanggup padam.



Other Stories
Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Download Titik & Koma