Ruang Guru, Ruang Hati
Hari-hari setelah percakapan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengendap di dalam diriku, semacam gema yang terus berulang. Aku tidak lagi memandang ruang guru dengan cara yang sama. Setiap kali melangkah masuk, selalu ada harapan kecil harapan untuk sekadar melihatnya, mendengar suaranya, atau mungkin, jika beruntung, kembali larut dalam percakapan yang panjang seperti kemarin.
Namun aku sadar betul, rasa itu tak boleh menguasai. Ada garis yang tak bisa kulangkahi. Aku bukan siapa-siapa baginya. Ia hadir dengan kehidupannya sendiri, dengan dunia yang mungkin tak ada hubungannya denganku.
Tapi begitulah, kedekatan itu tumbuh pelan-pelan, seperti tanaman liar yang tak pernah ditanam namun tiba-tiba menjalar ke setiap sudut hati. Kami sering duduk berdekatan saat rapat guru, atau saling menyapa lebih hangat dari biasanya. Kadang hanya sekadar bertukar komentar tentang kelas, atau berbincang singkat di depan perpustakaan. Namun bagi diriku, percakapan-percakapan sederhana itu terasa lebih dari cukup seperti air yang menenangkan dahaga.
Meski begitu, selalu ada rasa takut. Takut jika aku menafsirkan terlalu jauh. Takut jika kedekatan ini hanya kebetulan. Takut jika aku mulai berharap pada sesuatu yang sebenarnya tak pernah dijanjikan.
Aku hanya menyibukkan diri. Mengajar dengan sungguh-sungguh, membenamkan diri dalam tumpukan tugas murid, bahkan melibatkan diri dalam kegiatan sekolah yang melelahkan. Namun tetap saja, di sela-sela kesibukan itu, bayangannya muncul. Kadang saat menulis catatan di papan tulis, kadang saat pulang sore dan melihat bangku kosong tempat ia biasa duduk.
Ada perasaan yang ingin kucegah, tapi semakin kutahan semakin ia merembes keluar.
Aku pernah menatapnya tanpa sengaja, dan ketika ia membalas tatapan dengan senyum kecil, jantungku seakan kehilangan ritme. Namun setelah itu, ada gelombang rasa bersalah, apakah aku terlalu larut? Apakah aku sedang menjerumuskan diri sendiri?
Aku tahu, berharap pada sesuatu yang belum jelas hanya akan melahirkan kecewa. Tetapi bukankah hati manusia tak bisa begitu saja diatur dengan logika?
Hari-hari pun berlalu dengan cara yang aneh aku merasa dekat dengannya, tapi di sisi lain selalu menegur diriku sendiri untuk tidak terlalu jauh. Antara ingin menikmati kebersamaan yang sederhana, ingin menjaga jarak agar tidak hancur oleh ekspektasi.
Dan di tengah tarik ulur perasaan itu, aku mulai belajar satu hal bahwamungkin bukan cinta yang sedang tumbuh di sini, melainkan keinginan untukmerasa berarti.
Namun aku sadar betul, rasa itu tak boleh menguasai. Ada garis yang tak bisa kulangkahi. Aku bukan siapa-siapa baginya. Ia hadir dengan kehidupannya sendiri, dengan dunia yang mungkin tak ada hubungannya denganku.
Tapi begitulah, kedekatan itu tumbuh pelan-pelan, seperti tanaman liar yang tak pernah ditanam namun tiba-tiba menjalar ke setiap sudut hati. Kami sering duduk berdekatan saat rapat guru, atau saling menyapa lebih hangat dari biasanya. Kadang hanya sekadar bertukar komentar tentang kelas, atau berbincang singkat di depan perpustakaan. Namun bagi diriku, percakapan-percakapan sederhana itu terasa lebih dari cukup seperti air yang menenangkan dahaga.
Meski begitu, selalu ada rasa takut. Takut jika aku menafsirkan terlalu jauh. Takut jika kedekatan ini hanya kebetulan. Takut jika aku mulai berharap pada sesuatu yang sebenarnya tak pernah dijanjikan.
Aku hanya menyibukkan diri. Mengajar dengan sungguh-sungguh, membenamkan diri dalam tumpukan tugas murid, bahkan melibatkan diri dalam kegiatan sekolah yang melelahkan. Namun tetap saja, di sela-sela kesibukan itu, bayangannya muncul. Kadang saat menulis catatan di papan tulis, kadang saat pulang sore dan melihat bangku kosong tempat ia biasa duduk.
Ada perasaan yang ingin kucegah, tapi semakin kutahan semakin ia merembes keluar.
Aku pernah menatapnya tanpa sengaja, dan ketika ia membalas tatapan dengan senyum kecil, jantungku seakan kehilangan ritme. Namun setelah itu, ada gelombang rasa bersalah, apakah aku terlalu larut? Apakah aku sedang menjerumuskan diri sendiri?
Aku tahu, berharap pada sesuatu yang belum jelas hanya akan melahirkan kecewa. Tetapi bukankah hati manusia tak bisa begitu saja diatur dengan logika?
Hari-hari pun berlalu dengan cara yang aneh aku merasa dekat dengannya, tapi di sisi lain selalu menegur diriku sendiri untuk tidak terlalu jauh. Antara ingin menikmati kebersamaan yang sederhana, ingin menjaga jarak agar tidak hancur oleh ekspektasi.
Dan di tengah tarik ulur perasaan itu, aku mulai belajar satu hal bahwamungkin bukan cinta yang sedang tumbuh di sini, melainkan keinginan untukmerasa berarti.
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...