Kehadiran Yang Hilang
Setelah hari akhir pembagian rapor semester, libur panjang akhirnya tiba. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu bisa pulang kampung, bisa beristirahat tanpa dikejar bel, tanpa catatan administrasi, tanpa suara murid yang kadang riuh melebihi batas.
Namun bagiku, libur panjang justru menghadirkan ruang kosong. Ada hening yang terasa aneh. Seperti kehilangan sesuatu, padahal aku tak benar-benar harus merasa kehilangannya.
Bukan cinta dan aku tahu itu pasti. Rasanya tidak menggebu, tidak menuntut kepemilikan, tidak juga membuatku ingin terus mendekat. Lebih mirip pada sebuah kerinduan ringan terhadap suasana yang biasa mengisi hari-hariku.
Rindu pada rutinitas, pada lingkungan sekolah yang ramai, pada papan tulis dengan sisa coretan, bahkan pada ruang guru yang kadang terlalu sesak oleh tumpukan buku.
Dan tentu saja, tanpa bisa kuingkari, rindu pada sosok yang biasanya hadir di tengah-tengah itu semua. Ia tak melakukan apa-apa yang istimewa, hanya lewat di depan pintu atau duduk di seberang meja. Tapi ketidakhadirannya kini membuat ruang menjadi terasa lebih sepi.
Setiap pagi di libur panjang ini, aku bangun tanpa arah yang jelas. Tak ada persiapan pelajaran, tak ada murid yang harus dikendalikan, tak ada alasan untuk menata kemeja rapi-rapi. Ada waktu luang berlimpah, tapi terasa seperti ruang kosong yang membesar setiap hari.
Kadang aku berpikir, mungkinkah aku hanya rindu pada ritme itu? Pada kehidupan sekolah yang memberi alasan bagiku untuk terus bergerak. Karena saat sosok itu tidak hadir, barulah kusadari bahwa ternyata aku terbiasa mengaitkan banyak hal dengan kehadirannya.
Di malam hari, saat suara jangkrik mengisi kesunyian, aku sering mengulang potongan-potongan kecil yang terjadi beberapa waktu terakhir tawa kecilnya di ruang guru, cara ia membawa buku-buku tebal di tangannya, atau sekadar langkahnya di halaman sekolah yang cepat namun tenang.
Semua itu hanya potongan, serpihan kecil, bukan cerita utuh. Tapi entah mengapa, justru serpihan itulah yang kini sering kutemukan kembali di kepalaku.
Aku tahu ini bukan cinta. Tidak ada hasrat untuk memiliki, tidak ada perasaan untuk mengucap janji atau menuntut balas. Yang ada hanyalah rasa rindu yang samar, ringan, dan diam-diam. Rindu yang sekadar mengingatkan bahwa ternyata hidupku tak lagi benar-benar netral sejak aku mengenalnya.
Libur panjang ini menjadi cermin sebagai bentuk betapa sebuah kehadiran sederhana bisameninggalkan kekosongan saat absen, betapa rindu bisa tumbuh tanpa harusbernama cinta.
Namun bagiku, libur panjang justru menghadirkan ruang kosong. Ada hening yang terasa aneh. Seperti kehilangan sesuatu, padahal aku tak benar-benar harus merasa kehilangannya.
Bukan cinta dan aku tahu itu pasti. Rasanya tidak menggebu, tidak menuntut kepemilikan, tidak juga membuatku ingin terus mendekat. Lebih mirip pada sebuah kerinduan ringan terhadap suasana yang biasa mengisi hari-hariku.
Rindu pada rutinitas, pada lingkungan sekolah yang ramai, pada papan tulis dengan sisa coretan, bahkan pada ruang guru yang kadang terlalu sesak oleh tumpukan buku.
Dan tentu saja, tanpa bisa kuingkari, rindu pada sosok yang biasanya hadir di tengah-tengah itu semua. Ia tak melakukan apa-apa yang istimewa, hanya lewat di depan pintu atau duduk di seberang meja. Tapi ketidakhadirannya kini membuat ruang menjadi terasa lebih sepi.
Setiap pagi di libur panjang ini, aku bangun tanpa arah yang jelas. Tak ada persiapan pelajaran, tak ada murid yang harus dikendalikan, tak ada alasan untuk menata kemeja rapi-rapi. Ada waktu luang berlimpah, tapi terasa seperti ruang kosong yang membesar setiap hari.
Kadang aku berpikir, mungkinkah aku hanya rindu pada ritme itu? Pada kehidupan sekolah yang memberi alasan bagiku untuk terus bergerak. Karena saat sosok itu tidak hadir, barulah kusadari bahwa ternyata aku terbiasa mengaitkan banyak hal dengan kehadirannya.
Di malam hari, saat suara jangkrik mengisi kesunyian, aku sering mengulang potongan-potongan kecil yang terjadi beberapa waktu terakhir tawa kecilnya di ruang guru, cara ia membawa buku-buku tebal di tangannya, atau sekadar langkahnya di halaman sekolah yang cepat namun tenang.
Semua itu hanya potongan, serpihan kecil, bukan cerita utuh. Tapi entah mengapa, justru serpihan itulah yang kini sering kutemukan kembali di kepalaku.
Aku tahu ini bukan cinta. Tidak ada hasrat untuk memiliki, tidak ada perasaan untuk mengucap janji atau menuntut balas. Yang ada hanyalah rasa rindu yang samar, ringan, dan diam-diam. Rindu yang sekadar mengingatkan bahwa ternyata hidupku tak lagi benar-benar netral sejak aku mengenalnya.
Libur panjang ini menjadi cermin sebagai bentuk betapa sebuah kehadiran sederhana bisameninggalkan kekosongan saat absen, betapa rindu bisa tumbuh tanpa harusbernama cinta.
Other Stories
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...