Rasa Mulai Menyapa
Hari-hariku yang perlahan mulai terasa lebih ringan. Aku sudah mulai terbiasa dengan ritme mengajar, sudah mulai mengenal wajah-wajah murid, bahkan sudah bisa bercakap lebih akrab dengan beberapa rekan kerja. Namun, di antara semua itu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa kuabaikan kehadirannya.
Awalnya, aku hanya menganggapnya sebagai rekan biasa. Seseorang yang kebetulan duduk di seberang meja ruang guru, yang sesekali menyapaku dengan senyum singkat. Tapi entah sejak kapan, setiap kali ia lewat di depan pintu kelasku mengajar, langkahku terasa ikut berhenti sejenak. Ada semacam jeda kecil dalam diriku, seakan seluruh rutinitas yang biasa bergerak cepat tiba-tiba melambat.
Aku masih ingat suatu siang ketika ia menunduk serius menulis sesuatu di buku catatannya. Jari-jarinya bergerak cepat, wajahnya tampak lelah tapi fokus. Saat itu, aku mendapati diriku hanya duduk diam memperhatikan, tanpa alasan jelas. Tidak ada percakapan, tidak ada momen besar, hanya kesunyian ruang guru yang diisi oleh bunyi pena dan napas pelan. Namun, justru dari kesunyian itulah sesuatu mulai tumbuh.
Rasa itu bukan ledakan besar, melainkan seperti tetes air yang jatuh perlahan. Tidak langsung terasa, tapi lama-lama mengisi ruang yang sebelumnya kosong. Aku mulai menunggu momen-momen kecil saat ia tersenyum pada muridnya, saat ia tertawa pelan mendengar gurauan teman sejawat, atau bahkan saat ia sekadar meletakkan buku di meja dengan rapi.
Aku tahu, ini bukan rasa yang bisa kuucapkan begitu saja. Terlalu dini, terlalu samar, dan mungkin hanya ilusi sesaat. Tapi diam-diam aku mulai menikmati perasaan itu. Ada sesuatu yang hangat setiap kali ia ada di dekatku, seakan hari-hariku yang tadinya terasa datar perlahan mendapatkan warna yang berbeda.
Dan di titik itu, aku menyadari mungkin aku sedikit merasakannya dalam hati. Tidak banyak, tidak dengan brutal sebab aku harus menjaga batasan, hanya secuil rasa yang muncul di sela-sela rutinitas. Tapi justru karena kecil dan sederhana, rasa itu terasa begitu nyata.
Awalnya, aku hanya menganggapnya sebagai rekan biasa. Seseorang yang kebetulan duduk di seberang meja ruang guru, yang sesekali menyapaku dengan senyum singkat. Tapi entah sejak kapan, setiap kali ia lewat di depan pintu kelasku mengajar, langkahku terasa ikut berhenti sejenak. Ada semacam jeda kecil dalam diriku, seakan seluruh rutinitas yang biasa bergerak cepat tiba-tiba melambat.
Aku masih ingat suatu siang ketika ia menunduk serius menulis sesuatu di buku catatannya. Jari-jarinya bergerak cepat, wajahnya tampak lelah tapi fokus. Saat itu, aku mendapati diriku hanya duduk diam memperhatikan, tanpa alasan jelas. Tidak ada percakapan, tidak ada momen besar, hanya kesunyian ruang guru yang diisi oleh bunyi pena dan napas pelan. Namun, justru dari kesunyian itulah sesuatu mulai tumbuh.
Rasa itu bukan ledakan besar, melainkan seperti tetes air yang jatuh perlahan. Tidak langsung terasa, tapi lama-lama mengisi ruang yang sebelumnya kosong. Aku mulai menunggu momen-momen kecil saat ia tersenyum pada muridnya, saat ia tertawa pelan mendengar gurauan teman sejawat, atau bahkan saat ia sekadar meletakkan buku di meja dengan rapi.
Aku tahu, ini bukan rasa yang bisa kuucapkan begitu saja. Terlalu dini, terlalu samar, dan mungkin hanya ilusi sesaat. Tapi diam-diam aku mulai menikmati perasaan itu. Ada sesuatu yang hangat setiap kali ia ada di dekatku, seakan hari-hariku yang tadinya terasa datar perlahan mendapatkan warna yang berbeda.
Dan di titik itu, aku menyadari mungkin aku sedikit merasakannya dalam hati. Tidak banyak, tidak dengan brutal sebab aku harus menjaga batasan, hanya secuil rasa yang muncul di sela-sela rutinitas. Tapi justru karena kecil dan sederhana, rasa itu terasa begitu nyata.
Other Stories
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...