Tatap Dan Diam Yang Hangat
Hari itu terasa berbeda sejak pagi. Agenda sekolah cukup padat mulai dari upacara, rapat guru, hingga kegiatan kelas yang mengharuskan sebagian besar dari kami berada di sekolah seharian. Aku datang lebih awal, duduk di ruang guru dengan setumpuk buku catatan. Tak lama kemudian dia masuk, membawa map merah muda di tangannya, lalu duduk di bangku yang hanya berjarak satu kursi dariku.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehadirannya begitu dekat hampir sepanjang hari.
Upacara berlangsung seperti biasa. Aku berdiri di sisi kanan lapangan, sementara dia berada di seberang. Sesekali kami berpapasan pandang, lalu sama-sama menunduk. Tidak ada kata yang terucap, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak menahan debar.
Siangnya, ada rapat guru. Ruang guru penuh dengan suara diskusi. Kami kebagian duduk di meja yang sama, saling berbagi kertas dan daftar siswa. Aku bisa merasakan betapa canggungnya diriku setiap kali tangan kami nyaris bersentuhan saat menukar berkas. Anehnya, meski singkat dan tanpa sengaja, momen-momen kecil justru lebih berkesan daripada rapat yang panjang.
Setelah rapat, murid-murid sibuk dengan kegiatan kelas, sementara para guru bergantian mengawasi. Siang hari, aku dan dia kebagian jadwal terakhir, mengawasi anak-anak yang berlatih untuk lomba cerdas cermat. Kami duduk di kursi panjang di belakang ruangan. Anak-anak sibuk berdebat tentang jawaban, dan di sela riuh itu, akhirnya kami sempat berbicara agak lama.
"Lucu ya mereka, kadang jawabannya ngawur tapi penuh keyakinan,” katanya sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum, “Iya, justru di situlah mereka belajar berani. Kadang saya merasa, kita juga butuh keberanian yang sama seperti mereka.”
Dia menoleh sebentar, seolah hendak menanggapi lebih jauh, lalu tersenyum tipis. Saat itu, sorot matanya sekilas membuatku lupa sedang duduk di ruang sekolah. Ada sesuatu yang menenangkan, tapi sekaligus membingungkan seakan dunia mengecil, menyisakan hanya kami berdua dan suara anak-anak yang riuh di latar belakang.
Hampir sore, hujan tiba-tiba turun deras. Anak-anak bubar, menyisakan kami yang terjebak di ruang kelas.
Dia menatap ke luar jendela, lalu berkata pelan, “Kayaknya kita harus nunggu reda dulu.”
Aku hanya mengangguk, tapi dalam hati justru bersyukur. Hujan memberi alasan untuk lebih lama berada di ruangan yang sama dengannya.
Di tengah hening, dia tiba-tiba batuk kecil. Refleks, aku menawarkan botol minumku, “Mau minum? Saya punya air.”
Dia sempat ragu, tapi akhirnya menerimanya, lalu tersenyum tipis sambil berkata, “Terima kasih.”
Hanya itu, sederhana. Tapi jujur, melihatnya minum dari botol yang barusan kugenggam membuat jantungku berdetak tak karuan.
Hujan mereda. Kami berjalan bersama menuju ruang guru, meski hanya beberapa meter, namun langkah itu terasa panjang. Sesekali kami bicara ringan, tapi lebih banyak diam. Anehnya, diam itu tidak canggung, justru hangat seperti ada sesuatu yang tumbuh tapi enggan diucapkan.
Aku pulang dengan tubuh letih, tapi hatiku justrupenuh. Sehari bersamanya mungkin terdengar biasa bagi orang lain, namun bagiku,itu adalah hari yang akan lama kusimpan. Hari di mana aku tidak hanyamelihatnya dari jauh, tapi merasakan ritme kehidupan yang entah bagaimana,terasa beriringan meski tanpa janji.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehadirannya begitu dekat hampir sepanjang hari.
Upacara berlangsung seperti biasa. Aku berdiri di sisi kanan lapangan, sementara dia berada di seberang. Sesekali kami berpapasan pandang, lalu sama-sama menunduk. Tidak ada kata yang terucap, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak menahan debar.
Siangnya, ada rapat guru. Ruang guru penuh dengan suara diskusi. Kami kebagian duduk di meja yang sama, saling berbagi kertas dan daftar siswa. Aku bisa merasakan betapa canggungnya diriku setiap kali tangan kami nyaris bersentuhan saat menukar berkas. Anehnya, meski singkat dan tanpa sengaja, momen-momen kecil justru lebih berkesan daripada rapat yang panjang.
Setelah rapat, murid-murid sibuk dengan kegiatan kelas, sementara para guru bergantian mengawasi. Siang hari, aku dan dia kebagian jadwal terakhir, mengawasi anak-anak yang berlatih untuk lomba cerdas cermat. Kami duduk di kursi panjang di belakang ruangan. Anak-anak sibuk berdebat tentang jawaban, dan di sela riuh itu, akhirnya kami sempat berbicara agak lama.
"Lucu ya mereka, kadang jawabannya ngawur tapi penuh keyakinan,” katanya sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum, “Iya, justru di situlah mereka belajar berani. Kadang saya merasa, kita juga butuh keberanian yang sama seperti mereka.”
Dia menoleh sebentar, seolah hendak menanggapi lebih jauh, lalu tersenyum tipis. Saat itu, sorot matanya sekilas membuatku lupa sedang duduk di ruang sekolah. Ada sesuatu yang menenangkan, tapi sekaligus membingungkan seakan dunia mengecil, menyisakan hanya kami berdua dan suara anak-anak yang riuh di latar belakang.
Hampir sore, hujan tiba-tiba turun deras. Anak-anak bubar, menyisakan kami yang terjebak di ruang kelas.
Dia menatap ke luar jendela, lalu berkata pelan, “Kayaknya kita harus nunggu reda dulu.”
Aku hanya mengangguk, tapi dalam hati justru bersyukur. Hujan memberi alasan untuk lebih lama berada di ruangan yang sama dengannya.
Di tengah hening, dia tiba-tiba batuk kecil. Refleks, aku menawarkan botol minumku, “Mau minum? Saya punya air.”
Dia sempat ragu, tapi akhirnya menerimanya, lalu tersenyum tipis sambil berkata, “Terima kasih.”
Hanya itu, sederhana. Tapi jujur, melihatnya minum dari botol yang barusan kugenggam membuat jantungku berdetak tak karuan.
Hujan mereda. Kami berjalan bersama menuju ruang guru, meski hanya beberapa meter, namun langkah itu terasa panjang. Sesekali kami bicara ringan, tapi lebih banyak diam. Anehnya, diam itu tidak canggung, justru hangat seperti ada sesuatu yang tumbuh tapi enggan diucapkan.
Aku pulang dengan tubuh letih, tapi hatiku justrupenuh. Sehari bersamanya mungkin terdengar biasa bagi orang lain, namun bagiku,itu adalah hari yang akan lama kusimpan. Hari di mana aku tidak hanyamelihatnya dari jauh, tapi merasakan ritme kehidupan yang entah bagaimana,terasa beriringan meski tanpa janji.
Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...