Mungkin Besok
Ada sesuatu yang paling melelahkan dari rasa yang tak terucap, benar itu adalah menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pernah dijanjikan, menunggu seseorang yang tak pernah tau bahwa dirinya sedang ditunggu.
Hari-hari di sekolah baru ini terasa berjalan lambat. Bukan karena pekerjaan menumpuk, tetapi karena setiap detik diwarnai oleh harapan yang entah kemana jelas arahnya. Setiap pagi, ada dorongan samar untuk segera tiba, hanya agar bisa melihatnya. Setiap pagi, ada penantian tak kasat mata apakah ia akan lewat, apakah aku akan menemukan sosoknya sekilas? Dan setiap siang, ada kecewa kecil yang tak pernah sempat diakui, ketika hari berlalu tanpa ada satu pun interaksi.
Aku tidak tahu sejak kapan hal ini mulai terasa. Yang jelas, ada ruang kosong yang diam-diam kubiarkan dipenuhi oleh kehadirannya. Padahal, ia tak pernah menawarkan apa-apa. Ia hanya hadir, tanpa sengaja, tanpa maksud. Sedangkan aku, yang terlalu banyak berdiam, malah sibuk menafsirkan setiap gerak yang bahkan mungkin tidak ditujukannya padaku.
Menunggu yang tidak pasti itu seperti berjalan di padang luas tanpa tanda arah. Kau tahu kau sedang bergerak, tetapi entah menuju ke mana. Kau merasa sedang melangkah, tapi tak tahu kapan akan tiba. Setiap langkah hanyalah repetisi dari harapan yang sama, semoga ada sesuatu yang terjadi.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa menunggu? Namun, seperti kebanyakan hati yang keras kepala, aku selalu menemukan alasan baru untuk bertahan.“Mungkin besok atau mungkin nanti kalau ada kesempatan.”
Dan begitulah, aku terus bertahan, meski dalam diam aku sadar tidak ada yang benar-benar pasti. Namun, bukankah hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian? Barangkali menunggu bukan soal kepastian, melainkan soal kesediaan hati. Kesediaan untuk berharap, meski tahu harapan itu bisa saja patah kapan saja. Kesediaan untuk diam, meski tahu mungkin selamanya tidak ada jawaban.
Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah aku seseorangyang menunggu, bukan karena janji, bukan karena kepastian, melainkan hanyakarena perasaan yang tak sanggup padam.
Hari-hari di sekolah baru ini terasa berjalan lambat. Bukan karena pekerjaan menumpuk, tetapi karena setiap detik diwarnai oleh harapan yang entah kemana jelas arahnya. Setiap pagi, ada dorongan samar untuk segera tiba, hanya agar bisa melihatnya. Setiap pagi, ada penantian tak kasat mata apakah ia akan lewat, apakah aku akan menemukan sosoknya sekilas? Dan setiap siang, ada kecewa kecil yang tak pernah sempat diakui, ketika hari berlalu tanpa ada satu pun interaksi.
Aku tidak tahu sejak kapan hal ini mulai terasa. Yang jelas, ada ruang kosong yang diam-diam kubiarkan dipenuhi oleh kehadirannya. Padahal, ia tak pernah menawarkan apa-apa. Ia hanya hadir, tanpa sengaja, tanpa maksud. Sedangkan aku, yang terlalu banyak berdiam, malah sibuk menafsirkan setiap gerak yang bahkan mungkin tidak ditujukannya padaku.
Menunggu yang tidak pasti itu seperti berjalan di padang luas tanpa tanda arah. Kau tahu kau sedang bergerak, tetapi entah menuju ke mana. Kau merasa sedang melangkah, tapi tak tahu kapan akan tiba. Setiap langkah hanyalah repetisi dari harapan yang sama, semoga ada sesuatu yang terjadi.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa menunggu? Namun, seperti kebanyakan hati yang keras kepala, aku selalu menemukan alasan baru untuk bertahan.“Mungkin besok atau mungkin nanti kalau ada kesempatan.”
Dan begitulah, aku terus bertahan, meski dalam diam aku sadar tidak ada yang benar-benar pasti. Namun, bukankah hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian? Barangkali menunggu bukan soal kepastian, melainkan soal kesediaan hati. Kesediaan untuk berharap, meski tahu harapan itu bisa saja patah kapan saja. Kesediaan untuk diam, meski tahu mungkin selamanya tidak ada jawaban.
Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah aku seseorangyang menunggu, bukan karena janji, bukan karena kepastian, melainkan hanyakarena perasaan yang tak sanggup padam.
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...