Takdir Cinta

Reads
757
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
takdir cinta
Takdir Cinta
Penulis Nenny Makmun

1. Napas Kajian

Sejak kecil aku selalu berharap bahwa apapun yang akan aku lewati selalu dalam petunjuk-Nya. Karena itu aku tak lelah untuk selalu mencari dan belajar ilmu agama.
Dengan mengikuti kajian aku banyak belajar memperdalam Al-Qur’an, Al-Hadits, yang mengandung akidah, ibadah, akhlak, hukum-hukum, peringatan atau tahdzir, sejarah-sejarah atau kiah-kisah sirah jaman dahulu dan juga dorongan untuk berpikir.
Kehidupan sekarang sesungguhnya sudah pernah terjadi sejak jaman Rasulullah. Dan semua juga sudah ada contoh-contoh penyelesaian yang terbaik, tinggal kita mau mencontoh dan mau mengkritiknya atau tidak.
Kehidupan masa kecil aku Alhamdulillah cukup membahagiakan. Sebagai anak perempuan satu-satunya yang diapait dengan dua saudara lelaki di pertama dan ketiga, kata orang Jawa disebut Sendang Kapit Pancuran.
Tentu saja kakak dan adik lelakiku mereka selalu siap siaga melindungi aku, ini sangat terasa sampai saat aku nantinya mengalami menjadi single parent.
Kedua orang tuaku memberikan nama yang indah Mayang Jasmine yang berati Bunga Melati. Aku kelahiran Palembang14 Juni 1993. Nama Ibu Tyas dan nama Ayah Dahlan. Kedua orang tuaku bekerja sebagai wiraswasta yang cukup berhasil.
Masa kecil aku habiskan di Palembang, jadi ceritanya orang tua merantau dari Jawa ke Palembang. Mereka menikah di Jawa lalu merantau ke Palembang jadi aku bisa disebut “Pujakesuma” artinya Puteri Jawa Kelahiran Sumatera.
Tinggal di Palembang sampai aku SMA kelas 2 lalu kita pindah ke Yogyakarta. Dan aku memutuskan berhijab sejak kelas 3 SMU.
Lulus SMU kelas 3 diterima di Universitas Mahardika untuk S1 Fakultas Psikolog dan D3 Komunikasi.
Aku menjalankan dua kuliah sekaligus dan ternyata terasa sangat berat. Setiap hari aktivitasku pagi kuliah D3 Komunikasi, siang-sore kuliah S1 psikologi dua-duanya di Universitas Mahardika dan malam masih mengikuti kajian.
Di kampus aku bertemu teman-teman yang juga haus ilmu agama seperti aku dan jadilah kami berkelompok dalam komunitas kajian yang waktu itu terkadang ada saja yang memandang aneh.
Tapi kajian bagiku adalah kebutuhan, bagai oksigen segar yang menjadi nafasku. Sejak kecil pendidikan orang tua juga sudah ketat untuk mengaji dan belajar ilmu agama jadi memang sudah terbiasa.
Selelah apapun dan belum lagi terkadang dipandang miring aku terus mengikuti kajian secara rutin. Di sini juga aku merasa menemukan teman-teman yang sejalan pandangan dan saling menyayangi tulus.
Sampai akhirnya aku merasa tidak sanggup untuk melanjutkan S1 Psikologi yang sudah aku tempuh tiga semester. Sayang sebenarnya memutuskan meninggalkan Fakultas Psikologi Universitas Mahardika yang merupakan fakultas favorit. Tapi aku harus memilih dengan keterbatasan fisik dan waktu.
Kuputuskan untuk tetap menyelesaikan D3 Komunikasi yang kuanggap lebih cepat dan aku masih bisa mengatur waktu tetap mengikuti kajian.
Perjalanan menempuh D3 Komunikasi Universitas Mahardika akhirnya selesai. Aku ingin meneruskan untuk meraih S1 Komunikasinya. Bersyukur aku diterima di Fakultas Komunikasi Universitas Tujuh Belas di Bandung.
Disini pun selain kuliah saya terlibat dalam kajian-kajian. Namanya anak muda aku sadar dalam hal ini aku terkadang merasa menjadi anak bandel, “Maafkan aku ...Ayah dan Ibu.”
Hingga pada suatu saat dalam sebuah kajian saya bertemu dengan satu pria. Aku menyukai pria itu tanpa aku sadar ternyata aliran kajian yang dia ikuti adalah aliran garis keras dan terlarang. Ayah dan ibu mengetahui, langsung aku mendapat peringatan.
Awal aku bersikeras untuk melanjutkan, tapi aku tersadar bahwa tidak boleh mengabaikan larangan orang tua dan tegas tindakan kedua orang tua! Saya ditarik kembali ke Palembang.
Sepertinya tidak ada pilihan ini sikap paling tegas yang mereka keluarkan untuk melindungi anak perempuan satu-satunya. Aku pasrah dan aku juga mencoba berpikir realistis! Agama yang baik pasti bukan aliran yang mengajarkan salah dan sesat.
Mau tidak mau selesai urusan aku di Bandung, kuliah yang baru dapat dua semester harus aku tinggalkan. Aku tidak diizinkan kembali ke Bandung untuk menyelesaikan S1 Komunikasi Universitas Tujuh Belas.
Sekarang saya sadar sikap tegas orang tua wujud perlindungan orang tua yang tentu saja tidak menginginkan aku tersesat dalam proses mendekatkan diri dengan Allah.
Setelah beberapa lama di Palembang aku merasa jenuh. Aku berusaha membujuk ayah agar diizin-kan
untuk bisa kuliah kembali. Alhamdulillah ayah dan ibu luluh dengan keinginanku untuk bisa menjadi Sarjana Komunikasi.
Aku diperbolehkan melanjutkan kuliah Fakultas Komunikasi di Universitas Al-Azhar mengambil program extention. Untunglah nilai-nilai dari Universitas Tujuh Belas selama satu tahun bisa ditransfer jadi aku tinggal menempuh kekurangannya.
Di sinipun aku tak pernah lepas dari namanya kajian. Sudah ditakdirkan merantau dimanapun aku akan selalu terhubung dengan kelompok-kelompok kajian, aku selalu haus ilmu dan setiap kajian selalu ada ilmu baru yang membuat aku semakin banyak tahu tentang agama Islam.
Waktu berjalan di Universitas Al-Azhar program extention aku bisa menyelesaikan S1 Komunikasi dengan IPK 3,45.

Other Stories
Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Download Titik & Koma