Tea Love

Reads
3.3K
Votes
0
Parts
26
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

11. The Date Share

\"Wow anak Mama cantik banget! Hmmm yang mau ketemuan Fabian?\" tegur Mama Miranda wajahnya tampak senang.
Naura tengah berdandan ketika Mama Miranda masuk ke kamar dan wajahnya bahagia sekali melihat Naura yang bersemangat akan ketemuan dengan Fabian.
\"Anak siapa dulu dong?\" Naura menjawab teguran Mama.
\"Iyalah pastinya anak Mama,\" Mama Miranda menatap putrinya yang tanpa terasa sudah tumbuh menjadi gadis dewasa.
\"Hubungan kalian gimana Nau? Sudah ada kemajuan belum? Mama yakin kalian pasangan yang sangat serasi.\" Mama Miranda bertanya ingin tahu sudah sejauh mana hubungan Naura dan Fabian sebulan ini.
\"Aku dan Fabi baik kok Mah, dia asik diajak ngobrol dan cakep,\" Naura berpendapat asal-asalan.
\"Nah Mama ingin banget kamu bisa jadian sama anak sahabat Mama. Nau, orang tua Fabi itu baik dan mapan, Mama harap kamu tidak kecewain Mama ya,\" Mama mengelus rambut putrinya.
Naura terdiam dalam hatinya berkata kalau dirinya suka Fabian sebatas pertemanan saja dan yang ada di hatinya adalah Arjuna. Tapi untuk mengungkapkan kejujuran ini tentu saja tidak Naura lakukan. Naura menunggu waktu dan situasi yang tepat agar mamanya tidak marah dan kecewa.
\"Hmmm tapi Mah, Naura menganggap Febi hanya teman dulu soalnya ee...\"Belum selesai Naura berbicara mamanya sudah memotongnya.
\"Iya Mama setuju kok pelan-pelan saja, lagian jalan kalian masih panjang. Berteman dulu saja Sayang. Oke tuh ada suara klakson mobil pasti Fabian sudah jemput.\" Tampak wajah mama Miranda bersemangat menyambut kedatangan Fabian.
\"Oiya Mah tadi Naila bilang ada perlu ke Gramedia jadi dia ikutan numpang sekalian nggak apa-apakan?\" tanya Naura hati-hati.
\"Iya bolehlah Sayang,\" jawab Mama Miranda dengan tetap tersenyum.
Mama berlalu dari kamar Naura untuk menyambut Fabian terlebih dahulu
***
Sebuah mobil jazz biru sport berwarna biru tengah parkir di halaman rumah mama Miranda yang cukup luas. Siapa lagi kalau bukan Fabian yang malam Minggu memakai kaos biru dongker dipadu hem biru muda dan celana jins. Sepatu kets sebagai pilihan kelihatan sangat sportif.
\"Malam Tante?\" Fabian menyalami tangan tente Miranda.
\"Malam Fabi, gimana kamu sehat?\" Tante Mirnada balik bertanya keadaan Fabian.
\"Baik Tante. Nau sudah siap Tan?”
\"Sudah sebentar lagi juga muncul.\"
Sesaat kemudian dua gadis cantik muncul. Naura dan Naila berbasa-basi berpamitan dengan Tante Miranda, Fabian menatap kagum pada kedua gadis yang tampak sama-sama menawan dengan penampilannya.
Naura dengan baju blouse kuning muda bersaku motif bunga biru dongker dipadu legging hitam dan sepatu treples berwarna emas, dipermanis tas cangklong coklat mini menampakan kebeliaannya. Rambut sebahunya di kuncir tinggi.
Sementara Naila lebih santai hanya berkaos gombrang dengan gambar wajah Albert Enstain berwarna cream dengan celana jins tiga perempat dan sandal treples dengan tas semplang jeans. Gadis ini meskipun modis tetap tampak tomboy dan sportif. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai.
“Mah Nau jalan dulu ya sama Fabi,” bergantian Naura dan Naila mencium pipi mama Miranda.
Fabian membukakan pintu untuk Naura sementara Naila cuek buka pintu sendiri dan menghempaskan tubuhnya ke jok belakang kiri.
Naila merasa malas sekali harus mengawal kencan perdana mereka yang tercipta ala mama Miranda, tapi demi sebuah kebersamaan dalam segelas teh sejak kecil, demi apa yang telah Naura dan keluarganya lakukan dengan menganggap dirinya menjadi keluarga dan entahlah demi apalagi Naila menyanggupi konspirasi atas inisiatif Naura.
Sepanjang jalan menuju mall Junction Naila coba memejamkan mata apalagi Sabtu malam Minggu toll Jagorawi selalu macet.
Tanpa sepengetahuanNaila, mata coklat Fabian melirik dirinya dari kaca spion tengah.
Sebenarnya dalam hati Fabian merasa tidak enak karena pertemuan pertama dengan gadis yang sekarang tampaknya tengah benar-benar terlelap tidur, dia spontan berkata kasar saat Naila tidak sengaja bersin tepat di mukanya sebulan lalu.
Fabian merutuk kebiasaan berkata kasar yang belum bisa sepenuhnya lenyap setelah empat bulan menetap di Indonesia.
Fabian membiarkan Naura yang tengah sibuk dengan telepon genggamnya menginformasikan posisinya sampai mana dengan pacarnya.
Fabian tahu ini adalah kencan bohongan dirinya dengan Naura. Hal yang sama dilakukan demi menyenangka nmutternya yang ingin dirinya bisa jadian dengan putri sahabatnya.
Saat bertemu Naura, Fabian sudah feeling kalau gadis yang dijodohkan dengannya cantik dan pasti sudah pacar.
Ternyata benar feelingnya Naura terang-terangan mengatakan sudah jadian dengan Arjuna sahabat Naila.
Dari awal pertemuan Naura langsung to the point tidak memberi kesempatan dirinya dekat. Bahkan sampai akhirnya Fabian sadar melakukan kesalahan dengan menyetujui konspirasi mereka dengan cara berpura-pura dekat dengan Naura demi menjaga perasaan kedua orang tua mereka berdua.
\"Ah kasian Naila jadi ikut direpotkan urusan aku danNaura,\" bisik hati Fabian dengan hati-hati menyalakan sign ke kanan memasuki pelataran mall Cibubur Junction.
Naila tampak tidur pulas, gadis ini memang tidak berminat sama sekali untuk jalan. Kebiasaan dirinya malam Minggu tidur cepat setelah seharian berlatih pencak silat. Apalagi tadi siang dia habis latihan pencak silat jurus-jurus baru sudah pasti cukup menguras tenaganya.
Akhir-akhir ini Naila menyukai pencak silat bukan untuk kelas beradu seperti biasa tapi mulai lebih suka pada keindahan seni gerakan jurus-jurus dengan penghayatan untuk menimbulkan efek kekuatan dalam. Butuh konsentrasi tinggi dan kesabaran. Sangat berbeda bila dia mengutamakan pencak silatnya untuk mengalahkan musuh. Menghayati keindahan gerak mengalirkan aura kedamaian.Naila butuh semacam terapi penenangan hati apalagi bila mengingat Arjuna yang perlahan selalu dihindari.
Lagipula Arjuna masih lebih senang berada pada kelas bertanding atau beradu jadi kesempatan buat Naila dengan memilih kelas seninya bisa menjauh dengan Arjuna.
***
Naura menengok ke bangku belakang, \"Yah Nai tidur nih Fabi! Dasar pelor!\"Naura berkata lirih sambil geleng-gelengkepala.
\"Apa itu pelor Nau?” Fabian bertanya ingin tahu.
\"Asal Nempel Molor deh! alias asal ada sandaran pasti tidur,\" jawab Naura asal-asalan.
\"Nai…Nai...” Naura coba membangunkan.
Tapi tampaknya Naila benar-benar kelelahan dengan latihan pencak silatnya. Tidak berkutik sedikitpun dengan panggilan Naura.
\"Pssst Nau nggak usah dibangunin, kasihan nyenyak banget tidur nyabiarin aja aku tungguin dia sampai bangun lagian film Fast and Furious Enam masih empat puluh lima menit lagi,\"kata Fabian yang merasa kasihan melihat raut kecapaian di wajah Naila.
\"Hmmmn gak apa-apa kalian aku tinggal. Soalnya Arjuna sudah nunggu aku nih di Bakmi GM,\" kata Naura resah.
“Gak apa-apa go away, meet your boy friend, I’ll wait for Nai...Nai ...sudah biarin aja dia tidur!” kata Fabian tersenyum tipis.
\"Naila...saudaraku ini namanya N-A-I-L-A,\" Naura mengingatkan Fabian yang masih saja susah menyebut nama Naila.
Sejujurnya Fabian mengingat nama Nailabaik di hati apalagi ada rasa bersalah di perjumpaan pertama mereka. Fabian sadar telah memberikan kesan yang kasar akan dirinya dengan kata-kataDamn!Shit! saatNaila menyemprot wajahnya dengan bersinnya yang sangat tidak sopan.
Samar terdengar Naura yang menelepon Arjuna.
\"Sabar ya Juna aku baru sampai diparkiran.Nailatertidur lagi. Tunggu ya Say,\"
\"Baiklah aku akan kesana see you...\"
Naura tampak panik karena Arjuna sudah menunggu dirinya cukup lama.
\"Fabi seperti kesepakatan kita, aku tetap ngedate dengan Arjuna dan dirimu ditemani Naila ya. Dia baik kok cuma awas hati-hati dia petarung tangguh lho!\" Naura pura-pura menakuti Fabian akan sosok kakaknya.
\"Iya pergilah Nau, aku tungguin Si Tukang Tidur ini,\" Fabian sok cuek.
\"Oke nanti habis nonton kita kontak-kontak ya, aku jalan dulu, bye Fabi. Enjoy your Saturday night!\" Naura dengan langkah ceria keluar dari jazz biru sport Fabian dan menuju bakmi GM tempat Arjuna menantinya.
***
Naila benar-benar kecapaian tidak tahu Fabian memandangi wajahnya yang terlelap dan tampak lelah.
\"Wajahnya manis, memang sih tidak seputih Naura tapi gurat wajahnya tegas dan hmmm gadis yang eksotis!\" Diam-diam Fabian mengagumi wajah Naila yang tengah terlelap.
Fabian menurunkan sandaran mobil dan meletakan dua tangannya dibelakang kepala sementara suara radio Jakarta FM dengan lagu-lagu hits menemaninya.
Tigapuluh menit berjalan dan setengah sadar Naila mendengar suara pelan-pelan lagu Payphone nya Maroon Five tengah diikuti suara Fabian pelan, “I\'m at a payphone trying to call home...All of my change, I
spent on you...Where have the times gone? Baby, it\'s all wrong...Where are the plans we made for two?“
Naila suka sekali lagu dan soundtrack lagu Payphone ini, dirinya kerap memutar bolak-balik di you tube.
\"Wah bule ini enak juga suaranya,\" bisik hati Naila yang mulai sadar kalau dirinya tertidur.
Naila memincingkan mata dan ternyata wajah Fabian tidak terlalu jauh. Sialnya Fabian pas juga menatap tajam wajahnya.
\"Yaaa kamu pura-pura tidur yah! Jangan-jangan kamu lagi ngerjain aku!\" teriak Fabian.
Sontak Naila memundurkan tubuhnya dan menegakkan diri, wajahnya serasa panas karena tadi wajah bule blasteran Jerman sangat dekat dengannya.
\"Ih ngapain kamu deket-deket aku?\" Naila membentak judes ke Fabian.
\"Siapa lagi yang deke-deket kamu! Aku tadi mastiin kamu tidur beneran apa bohongan, jangan-jangan kamu memang sengaja ngerjain aku gara-garaaku bilang kasar sebulan lalu. Emang enak nungguin orang tidur!” Fabian tidak kalah sengit menjawab bentakan Naila.
Naila otomatis memonyongkan bibirnya.
\"Ups jangan bersin sembarangan lagi ya!\" Fabian menutup wajahnya dengan telapak tangan kananya.
\"Hem!\"
Naila memelototkan matanya, tapi tidak bisa disangkal dia malu juga mengingat peristiwa bersin yang membuat Fabian merasa illfeel pada dirinya.
\"Iya sorry aku terserang flu waktu itu,\" Naila meminta maaf terlebih dahulu.
\"It’s ok aku juga minta maaf mengucapkan kata-kata yang kasar. Itu otomatis, hmmm kebiasaan lama belum hilang!\" Fabian juga tersenyum bersahabat.
Mau tak mau Naila mengucapkan terima kasih karena Fabian memaafkannya,\"Thank you forgive me.\"
Naila tersenyum bersahabattidak disangka ternyata cowok yang diduga tengil masih memiliki sifat sopan juga. Mungkin maminya yang sempat mencekoki budaya Timur, mengingat mengalirdarah bangsa Indonesia yang terkenal dengan adat sopan santunnya.
\"Yuk nonton Nai aku sudah nungguin film Fast and Furious Ke Enam. Masih ada waktu lima belas menit. Kereeen banget filmnya kata temen-temenku!” Ajak Fabia bersemangat.
Naila langsung mengangguk setuju. Naila sudah lama juga menunggu film action yang dibintangi Vin Diesel ini segera diputar di Indonesia.
Naila selalu mengikuti film Fast and Furiuos pertama sampai kelima. Rasa penasaran Fast and Furious keenam karena melibatkan aktor Indonesia yang Naila baca dari review film kehadiran aktor Indonesia Joe Taslim menjadi faktor perhatian utama penonton tanah air untuk tidak melewatkan film action ini. Apalagi aktingnya dinilai tidak mengecewakan sama sekali.
Sebagai peran pendukung sebagai anggota kelompok Shaw bernama Jah, Joe Taslim menunjukkan ia tidak demam panggung walau berada di bawah nama-nama besar aktor Hollywood. Ia bahkan mendapat cukup banyak dialog dan sebuah pertarungan seru 1 vs 2 melawan Han dan Roman yang ia menangi.
\"Wah kamu memang macho ya suka film action balap!\" Fabian berkomentar.
“Hehe he iya aku nggak suka film-film drama dan komedi seru nonton film action atau horor sekalian,” ungkapNaila tersenyum manis.
\"Wow keren! ekstrim girl!\"Fabian kembali berkomentar.
Tanpa sadar mereka sudahmengantri di studio 21, limabelas menit film akan diputar beruntung Fabian dan Naila masih kebagian tiket.
\"Fabi, by the way Naura dan Arjuna kemana ya?\"Naila teringat Naura yang pastinya sudah duluan turun. Malu juga setengah jam dia tertidur di mobil Fabian, duh tampangnya kaya apa waktu tidur, mengingat kebiasaan tertidurnya membuat muka Naila memerah.
\"Sudah biarin ajalah mereka udah besar, paling ngedate sambil makan atau mungkin duduk-duduk menikmati kopi,\" jawab Fabian tenang.
\"Hmmm, iya soalnya aku harus jagain Naura.\" Sejurus Naila berkata.
\"Jagain gimana?\" Fabian tidak tahu apa yang dimaksud Naila.
\"Ya karena Naura adikku jadi aku harus melindunginya dan bertanggung jawab keselamatannya. Kalau ada apa-apa dengan dia aku akan kena marah,\" Nailatergagap.
\"Oo I see but she adult girl! Don\'t worry she can take care herself!\" Fabian kembali menenangkan Naila yang memang menyayangi Naura walau hatinya terluka bila mengingat cintanya yang sebelah tangan akan Arjuna.
“Yuk masuk, sudah enggak usah mikir Naura dia pasti lagi enjoy dengan cowoknya,” kata Fabian santai.
Film Fast and Furious keenam ternyata memang sangat seru. Adegan-adegan tidak masuk akal dan membuat kening berkerut tersaji lengkap sepanjang film, seperti saat Dom menjadi ‘Superman’ ketika berusaha menyelamatkan Letty. Atau landasan pacu pesawat yang seolah tanpa akhir ketika pengejaran Shaw mencapai klimaks. Adegan-adegan semacam itu yang memang penonton harapkan dari seri Fast and Furious, ridiculous but fun to watch.
Pas pukul 22.00 film usai, saat menuju ke mobil ternyata Naura dan Arjuna sudah menunggu di parkiran.
\"Nai! Fabi! Kalian berdua dari mana sih, lama lho kita nungguin. Sepertinya asik nih?\" goda Naura.
\"Baru selesai nonton Fast and Furious ke enam,\" Naila menjawab santai tidak memedulikan Arjuna.
Naila memutuskan untuk menghindar dari Arjuna secara perlahan tapi pasti. Melupakan Arjuna adalah keputusan terbaik karena Nailasadar Arjuna telah menemukan sosok yang dicintai.Hatinya masih terluka tapi Naila sadar Juna tidak sepenuhnya bersalah.
Ini adalah masalah hatinya yang tidak pernah punya keberanian menyatakan perasaan sesungguhnya. Tentu saja Arjuna tidak pernah tahu akan perasaannya yang terpendam bertahun-tahun.
Arjuna merasa aneh melihat sikap Naila yang acuh terhadap dirinya. Arjuna juga memilih diam, tersadar dia masih menggenggam tangan Naura dan tidak berniat melepaskannya.
Tanpa sepengetahuan Naila dan Naura, Fabian sebenarnya mengamati Naila detail. Melihat ekor mata Naila yang tampak kecewa saat melihat Arjuna menggandeng mesra Naura. Dan tampak tidak peduli saat Arjuna pada akhirnya perlahan melepaskan tangan Naura juga dari genggamannya saat akan berpisah.
***
Tentang perasaan Fabian sendiri terhadap Naura, jujur Fabian sempat menyukainya di awal pertemuan mereka yang selama ini hanya lewat dunia maya.
Tapi Fabian sadar kalau Naura sudah menjatuhkan pilihan pada cowok yang sekarang tengah berhadapan dengan mereka.
\"Fabi ini Arjuna yang aku ceritakan,\" Naura memperkenalkan seorang cowok yang hampir sama tingginya dengan Fabian.
Baik Fabian dan Arjuna dua cowok yang mempunyai badan dan punya pesona yang berbeda. Tapi keduanya sama-sama tampan.
\"Fabian,” Fabian mengulurkan tangannya agak merundukan tubuhnya menyalami Arjuna.
“Arjuna.”
Keduanya berjabat tangan dan tersenyum hangat.
\"Baiklah Juna kita pulang dulu ya,\"Naura berpamitan.
\"Yakin aku tidak antar?\" tampak perasaan kecewa di manik mata Arjuna.
\"Hmmm maaf Juna belum saatnya, aku masih bingung sama mama menerangkan dirimu,\" Naura meminta pengertian Arjuna.
Sementara Fabian menatap Naila yang bersikap cuek.
***
Perjalanan menuju rumah bertiga lebih banyak diam. Naura, Naila dan Fabian asik dengan pikiran masing-masing.
Naura sesekali membalas SMS dan memainkan telpon genggamnya. Naila masih teringat serunya film yang barusan di tonton dengan Fabian memilih duduk santai di barisan belakang sambil melihat jalanan yang masih saja macet. Fabian sendiri sambil menyetir mobil jadi kepikiran dua cewek kakak beradik yang saling menyayangi tapi sepertinya dalam diri Naila ada sesuatu yang disembunyikan dan Fabian yakin itu adalah tentang Arjuna.
“Sepertinya Naila mempunyai perasaan khusus deh dengan Arjuna,soalnya dia tampak kaku saat Arjuna datang bersama Naura dengan bergandeng tangan? Dan tatapannya selalu menghindar dengan Arjuna. Jangan-jangan Naila memang sengaja mengalah karena demi Naura. Kenapa harus selalu Naila mengalah dengan Naura? Kasihan Naila kalau ternyata dia suka dengan Arjuna, celakanya Arjuna memilih adiknya. Tapi masa sih...” Fabian ternyata cukup peka dengan apa yang dia amati beberapa menit lalu. Sikap Naila yang berubah tiba-tiba jelang pulang.

Other Stories
Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Download Titik & Koma