20. The Decision
Sebulan sudah tercipta kekakuan dalam keluarga mama Miranda. Ibu Ratna mencari hari yang tepat untuk berpamitan. Sekarangyang terpikir oleh Ibu Ratna untuk menyelamatkan harga dirinya dan Naila sekaligus mengembalikan kebahagiaan keluarga Mama Miranda bila berdua sudah tidak berada di rumah ini lagi.
\"Nai ayahmu ingin sekali bertemu denganmu,\" wajah Ibu Ratna memelas.
Naila menghembus nafas panjang, mungkin orang akan menganggap dirinya aneh karena tidak ingin bertemu dengan ayah yang lima belas tahun meninggalkannya. Semua anak pasti ingin bertemu dengan ayahnya, bermanja-manja dan berbicara apapun antara hati ayah dan anak perempuannya. Tapi rasa itu sudah mati.
Sejak ibu bercerita ayahnya menghubunginya kembali setelah menjadi orang sukses di negri Arab dan sekarang hadir dengan kekayaan yang melimpah, tidak merubah Naila meninggalkan kebencian.
Seharusnya Naila bahagia karena mendadak jadi anak orang kaya sesungguhnya, mungkin Fabian dan keluarganya tidak perlu menyesal kalau mereka jadian karena dirinya bukan orang miskin yang hanya sebagai anak pembantu.
Tapi ternyata hatinya masih belum bisa terima, ayahnya meinggalkan dia dan ibunya tapi juga menikah dengan wanita lain dan mempunyai dua saudara laki-laki.
\"Nai gimana? Ayahmu menunggu besok sepulang sekolah. Kami jemput kamu ya?” tampak permohonan di mata ibu yang tidak mungkin bisa Naila tolak.
\"Baiklah demi Ibu, Nai mau betemu ayah,\" Naila menjawab pendek.
\"Naila...\" Ibu memeluk Naila bahagia.
Tanpa ibu tahu hati Naila berbisik bahagia,\"Ibu sebenarnya Naila sudah tidak perlu ayah lagi, cukup dekapanmu menguatkan Naila untuk melanjutkan hidup walau Fabian telah memutuskan meninggalkan Naila yang dianggap hanya anak pembantu.\"
***
Sebuah mobil kijang innova dark silver parkir tidak jauh dari sekolah Naila.
Kalau ibu tidak memanggil dari balik jendela mobil Naila tidak akan peduli dan jalan terus.
\"Naiiii, sini!\" wajah Ibu Ratna dari jendela mobil depan.
Seorang pria yang seumuran Papa Ramon turun dan Naila sempat kaget wajah itu mirip dengannya.
Naila tertegun terkesima, hatinya berdebar merambatkan aliran panas ke wajahnya. Kini wajahnya memanas dan air mata meleleh begitu saja.
Ayahnya merentangkan dua tangannya dan Naila mengikuti hatinya menyambutnya. Ego yang dari kemarin membuat dirinya marah entah menguap kemana. Mendekap lelaki yang ternyata dirindukan lima belas tahun ini.
Seakan sirna semua kesalahan ayah Awan yang meninggalkan dirinya dan ibunya. Naila saat ini tidak mau lagi menambah beban pikirannya. Naila yakin apa yang telah terjadi itu juga karena hasil kerumitan orang tua di waktu lalu. Dan sebagai seorang anak harus memberi kesempatan ayahnya untuk menebus rasa bersalahnya.
Biarlah kapasitas kerumitan itu tetap menjadi beban mereka. Naila hanya ingin memaafkan masa lalu mereka. Dan sepertinya saatnya dia dan ibunya menata hidup mereka.
Setelah makan siang di sebuah restoran Naila mengangguk-angguk tanda setuju saja saat ibu dan ayah merencanakan serumah kembali.
Kalau ibu menerima di poligami itu juga urusan hati ibu yang sudah pasrah menerima semuanya.
Dalam hal ini Naila tidak mau berpendapat, ini terlalu sensitif. Hanya Naila yakin mereka mau menjalani kehidupan satu atap pasti dengan alasan yang sudah dipikirkan dengan matang.
***
\"Ibu, Naila setuju ibu bersatu dengan ayah....”
Ibu Ratna dan Naila memutuskan untuk meninggalkan rumah mewah yang ditempati selama lima belas tahun.
\"Mama Miranda kami pamit dulu, maaf kalau banyak menyusahkan dan terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan pada kami bernaung di rumah yang tentu saja akan selalu kami rindukan,\" Bu Ratna memohon pamit.
Tanpa ada basa-basi mama Miranda membiarkan Naila dan ibu Ratna pergi dan tidak peduli saat lelaki berwajah kebapakan menemani mereka.
Lelaki yang meninggalkan Naila dari usia dua tahun itu terdiam seribu bahasa. Cukup hati Ayah Awan sekarang merasa lebih tenang karena isteri dan anak perempuannya telah memaafkan dirinya. Tidak ada lagi amarah dan dendam.
Mama Miranda tampak termenung, sebenarnya ada rasa salah menyelinap dalam hatinya atas kemarahan satu bulan ini.
Tapi rasa amarah atas kebohongan dua putrinya lah membuat harga dirinya merasa dijatuhkan.
***
Sebulanini Naura lebih kurus dan pucat. Mungkin saja demam asmara ala ABG yang tiba-tiba dilarang bertemu dengan pacar membuat Naura merasakan tertekan karena rasa rindu yang tak tertahan.
Naila pun benar-benar merasa kehilangan Fabian, tapi Naila berusaha tegar bagaimanapun dirinya dari kecil tebiasa mengalah dan sadar diri. Naila sudah terlatih untuk menerima keadaan dirinya yang serba terbatas.
Pedih dan sakit sekali bila alasan Fabian meninggalkannya karena dia tahu kalau dirinya hanyalah anak pembantu.
***
Rumah ayah Awan sangat besar dan terletak di perumahan elite. Saat pertama masuk rumah besar di luas tanah kurang lebih tujuh ratus meter persegi merayap rasa asing.
Bertemu dengan ibu tiri atau ibu keduanya yang ternyata berwajah sejuk membuat Naila merasa lebih damai.
Di awal Naila membayangkan kalau wajah ibu tirinya galak dan kejam. Mereka akan marah karena kedatangan dirinya dan ibunya. Ternyata Ibu Asih dan dua puteranya sangat welcome.
Entahlah rasa hati ibunya, Naila yakin bercampur aduk tidak karuan. Tapi sepertinya Ibu Ratna bersikap sabar dan tenang.
Sekarang Naila tinggal di kamar yang tidak kalah mewah dengan milik Naura, ayahnya seorang pembisnis bergerak di bidang traveling umroh dan haji.
Dia bukan lagi hanya anak pembantu seperti yang ditunding Tante Tiwi dan juga Mama Miranda.
Other Stories
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...