Ayudiah Dan Kantini

Reads
117
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Ni Putu Trisna Sulistyan

2. Mendulang Prestasi

Mentari sudah mulai beranjak semakin ke barat, siang akan segera menjelma menjadi sore, namun panas teriknya tengah hari masih terasa menyengat. Ibuku duduk di balai bambu emperan rumah sedang menjahit tamas, dibantu oleh kakakku, Karyati. Tamas adalah sejenis alat untuk upacara adat di Bali, terbuat dari daun kelapa dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi alas tempat sesajen berbentuk bundar.
Ibuku akan menjualnya nanti untuk menambah uang dapur yang biasanya diberikan oleh kakak sulungku yang bekerja di sebuah perkebunan ayam sebagai juru bersih-bersih kandang, dan juga dari kakak keduaku yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota lain. Sebagai seorang ayah, aku harus jujur mengakui bahwa ayahku terlalu malas. Ayah boleh dikatakan tidak menanggung ekonomi keluarga, sesekali memperoleh upah dari hasil kerja serabutan, lebih sering digunakannya untuk membeli minuman keras dan main judi.
Saat ini pun ayahku sedang tidak di rumah. Ibu bilang, ayah sedang memetik kelapa di kebun Pekak Mangku, namun aku sangat yakin kalau sudah dapat hasil buruhan begini, nanti malam ayahku akan bermain judi di rumah sarang judi milik Pak Adia di sebelah selatan pos kamling sana. Daripada bengong menunggu sore, aku lebih memilih pergi ke rumah Ayudyah. Kami ada janji akan mengerjakan PR di sana pada sore hari. Dan aku rasa, tidak ada salahnya kalau aku ke sana sebelum sore. Kami biasa bermain terlebih dahulu sambil menunggu teman-teman yang lainnya datang, demikian pikirku. Aku berpamitan pada ibu, sembari ke dalam rumah untuk mengambil tas sekolahku.
“Hey... kenapa kamu tidak makan dulu, Tini? Nasi dan sayur bayam sudah matang. Ibu baru saja selesai memasak, jadi masih hangat,” kata ibuku.
“Tidak, Bu. Nanti saja,” jawabku singkat sambil berlari menuju gang depan rumah kami dan bergegas menuju rumah Ayudyah.
Ibu membiarkan saja aku pergi karena sudah tahu betul bahwa seperti hari-hari lainnya, aku akan makan di rumah Ayudyah.
Ayudyah rupanya telah menunggu kedatanganku. Dia menengok-nengok ke arah selatan di depan gang, tepatnya di bawah pohon mangga yang rimbun di depan rumahnya. Dia tersenyum lebar ketika melihat kedatanganku.
“Tini, lama sekali kau datang. Perutku sudah lapar,” Ayudyah langsung nyerocos di hadapanku.
“Hai, hai... kenapa kau tidak makan saja duluan, Yud?” aku mencoba mengembalikan senyum di wajah manisnya yang kini tengah berubah masam karena cemberut.
“Huh... nggak asyik kalau makan nggak sama kamu,” katanya lirih sambil menunduk seolah ingin menyembunyikan raut wajah cemberutnya.
“Ya sudah, ayo kita makan,” kataku pada Ayudyah, “Akan kuhabiskan semua bagianmu, biar kau tetap kelaparan sampai sore nanti,” aku melanjutkannya.
Kata-kataku itu rupanya berhasil membuat Ayudyah tertawa dan dia pun terus menggandeng tanganku menuju ruang makan yang letaknya bersebelahan dengan dapur, hanya berbatas dinding penyekat di bagian bawah, sementara di bagian atasnya adalah bilah-bilah bambu kuning yang disusun berjejer rapi dan diberi vernis sehingga warnanya kuning indah berkilauan.
Rumah kediaman keluarga Ayudyah memang sederhana, namun jauh lebih baik daripada rumahku. Apalagi Ibu Nyoman Widiani memang cekatan sekali mengurus rumah dan mengatur tata letak barang-barang, sehingga semua ruangan di rumah setengah dinding bata dan setengah lagi anyaman bambu kuning ini sangatlah rapih dan sedap dipandang mata.
Di ruang makan, aku dan Ayudyah sudah menghadapi piring makan kami masing-masing, duduk menghadap ke timur ruangan yang dibatasi kaca dengan ukuran lebar, gorden berwarna merah jambu menggantung terikat pita di sisi kiri dan kanannya, membuat kami bebas menikmati keindahan taman di depan rumah Ayudyah.
Ayah Ayudyah, Bapak Wayan Sukarta memang dikenal bertangan dingin. Beliau lihai sekali dalam bertanam berbagai tanaman hias. Selain itu, beliau juga rajin dan terampil dalam menata taman. Kombinasi tanaman dan rumput menghiasi taman, membuat halaman rumah Ayudyah selalu nampak asri, rindang dan sejuk.
Menikmati masakan Ibu Nyoman Widiani sambil menikmati pemandangan halaman rumah yang asri, ditambah lagi dengan keramahtamahan keluarga Ayudyah menerimaku di sini, membuat aku tidak pernah merasa bahwa keluarga ini adalah keluarga orang lain. Ini adalah keluargaku. Begitulah yang diucapkan oleh hatiku.
Nikmat sekali masakan Ibu Nyoman Widiani, walaupun nasi putih bercampur jagung, sayuran dan lauk tempe yang sederhana bagi orang lain, tapi bagiku ini semua adalah sebuah kebahagiaan yang mewah. Sangat bersyukur aku berteman dengan Ayudyah. Selesai makan, aku dan Ayudyah mencuci piring dan peralatan makan yang lain, kemudian meniriskannya di rak piring.
Teman-teman yang hendak mengerjakan PR bersama belum juga datang, aku dan Ayudyah membuka-buka buku pelajaran terlebih dahulu. Aku membacanya dengan asyik, begitu pula dengan Ayudyah. Koleksi buku bacaan milik Ayudyah memang lumayan lengkap, bukan hanya buku pelajaran yang ia miliki, namun juga buku-buku penunjang pelajaran lainnya, seperti atlas, ensiklopedia, buku-buku cerita, dan buku-buku agama. Orang tua Ayudyah memang sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya, dan di sinilah letak keberuntunganku bersahabat dengan Ayudyah, aku juga bisa ikut menikmati fasilitas belajar yang ia miliki.
Tengah asyik membaca, teman-teman sekelas kami mulai berdatangan. Bukan hanya teman satu kelompok seperti yang telah dibentuk di sekolah, tapi teman-teman dari kelompok belajar yang lain juga datang dan bergabung bersama kami. Hampir sekelas datang, hanya beberapa orang saja yang tidak datang ke mari. Ini bukan pemandangan yang aneh sebenarnya, karena ini bukan kali pertama hal ini terjadi, melainkan sudah menjadi kebiasaan kami sekelas. Kalau membuat PR kami akan berbondong datang berkumpul di rumah Ayudyah. Ya, semua pasti senang membuat PR di sini karena suasananya nyaman, buku-buku tersedia lengkap, ada balai tempat kami bisa belajar bersama yang cukup luas, ada banyak tanaman mangga yang sedang berbuah ranum di kebun sekitar rumah Ayudyah, dan keluarga Ayudyah yang ramah menerima kami.
Meski demikian, Ayudyah selalu menolak setiap kukatakan teman-teman sangat suka datang belajar ke mari setiap sore adalah karena suasana rumahnya yang nyaman dan buku yang ia miliki ada banyak. Ayudyah malah berbalik mengatakan bahwa teman-teman suka belajar bersama di sini adalah karena ada aku yang sangat pintar dan bisa menjawab hampir semua pertanyaan dalam tugas yang diberikan guru. Demikian dia suka menggodaku dengan senyumnya yang manja. Membuatku tersipu malu mendengarnya. Entahlah mana yang benar, entah teman-teman sangat suka belajar di sini karena fasilitas belajar milik Ayudyah atau seperti perkataan Ayudyah bahwa mereka suka karena bisa mencontek dariku, yang jelas aku sangat senang. Senang karena hampir setiap sore bisa belajar bersama dengan teman-temanku.
Setelah mengerjakan tugas sekolah, kami biasa menyambung kegiatan kebersamaan kami dengan bermain. Ya… kami suka sekali melakukan berbagai permainan tradisional seperti bermain lompat karet, ular naga, petak umpet, dan masih banyak lagi permainan seru yang biasa kami mainkan bersama di halaman rumah Ayudyah. Di bawah pohon mangga yang rimbun selalu memberikan rasa teduh dan sejuk bagi kami di kala bermain.
Kegiatan sore beramai-ramai bersama para sahabat akan kami akhiri dengan prosesi ngerujak. Ayah dan ibu Ayudyah tidak pernah keberatan kami memetik buah mangganya yang belum matang itu untuk dijadikan rujak. Kami bekerja sama dalam membuat rujak mangga. Ada yang bertugas memetik, ada yang dapat bagian mengupas, mencuci, dan ada pula yang membuat bumbu rujaknya. Tak jarang kami suka berdebat tentang komposisi bumbu rujak. Ada yang ingin pedas, ada yang ingin manis, ada yang ingin ditambahkan asam agar lebih nikmat katanya. Ah, pokoknya selalu riuh oleh perdebatan. Tapi itu semua justru membuat kami semakin dekat dan semakin akrab. Riang gembira menghabiskan hari bersama-sama, lalu pulang ke rumah masing-masing dengan penuh rasa bahagia.
Kalau teman-teman sudah pulang, aku tidak langsung ikut pulang. Sepertinya di sini adalah rumahku sendiri saja, bukan rumah temanku. Membantu Ayudyah mengerjakan tugas-tugasnya di sore hari sudah menjadi kebiasaanku. Aku selalu melakukannya dengan senang hati, gembira bersama Ayudyah. Kami bersama-sama menimba air di sumur, menyiram tanaman di halaman rumah, memasukkan kayu bakar ke dapur untuk persediaan besok dini hari Ibu Nyoman Widiani akan memasak, lalu setelah itu kami akan mandi bersama-sama lagi.
Sejujurnya aku sangat tidak enak kepada keluarga Ayudyah. Untuk urusan uang saku ke sekolah, hampir setiap hari orang tua Ayudyah memberikannya untukku, makan sehari-hari juga aku lebih sering di sini. Ya, di tempat Ayudyah. Bahkan kalau saatnya tahun ajaran baru tiba, ayah dan ibu Ayudyah juga membelikan aku seragam sekolah, tas, sepatu, buku, serta alat tulis. Mungkin karena mereka kasihan dengan keadaan ekonomi keluargaku. Atau mungkin karena aku sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Yang jelas aku merasa keluarga Ayudyah sangat menyayangiku. Aku jadi merasa wajar kalau aku bisa membantu tugas-tugas Ayudyah membantu orang tuanya di rumah. Aku justru jarang mengerjakannya di rumahku sendiri.
Belajar bersama teman-teman, melewati sore yang ceria, hingga menginap di rumah Ayudyah melewati malam demi malam sudah menjadi bait-bait indah dalam barisan cerita masa kecil yang takkan terlupakan. Sahabat terasa seperti keluarga sendiri, akrab dan bahkan lebih dekat dan melekat di hatiku. Tak terasa lamunan membawaku ke penghujung senja yang nampak memerah dari balik rimbunnya daun-daun mangga yang menari-nari lemah gemulai diterpa angin semilir. Ayudyah mengajakku masuk ke dalam rumahnya.
Sebelum sampai di kamar Ayudyah, kami melewati ruang keluarga yang mungil dengan rak kayu berisi televisi 14 inchi lengkap dengan seperangkat alat elektronik pemutar video di sana. Ayudyah menggiring langkahku menuju rak kayu berpintu kaca lumayan tinggi yang berada tepat di samping rak televisi. Kemudian tangan mungilnya menunjuk ke arah rak berpintu kaca itu, mencoba membuka kuncinya lalu menunjukkan isinya yang sebenarnya sudah telihat dari luar walaupun pintunya tidak dibuka tadi, karena kacanya bening dan bersih, selalu dibersihkan dari debu oleh Ibu Nyoman Widiani. Namun Ayudyah sengaja membukanya, sepertinya ia ingin menunjukkan isinya secara lebih jelas kepadaku. Hanya saja, aku tidak terlalu paham, apa sebenarnya tujuan Ayudyah menunjukkan isi rak kayu itu padaku, padahal dia sendiri tahu bahwa aku juga sudah hafal betul isi rak itu.
Rak kayu berpintu kaca di ruang keluarga Ayudyah itu adalah tempat kami. Ya, aku dan Ayudyah memajang piala-piala prestasi yang pernah kami raih. Di bagian bawah ada rak tempat menyimpan stopmap plastik. Ada dua buah stopmap plastik di sana, keduanya sama-sama berwarna merah. Ayah Ayudyah memberikannya masing-masing satu buah untuk aku dan Ayudyah. Satu stopmap plastik di sampulnya bertuliskan nama, Putu Pramita Ayudyah dan satu stopmap plastik lagi bertuliskan, Luh Kantini, namaku. Aku memang merasa lebih aman kalau piagam dan piala yang kupunya dititip di rumah Ayudyah, tidak ada tempat untuk menyimpannya di rumahku. Bisa-bisa mereka akan segera rusak termakan ngengat nanti. Kalau di sini aku yakin mereka aman.
Tiba-tiba Ayudyah nyerocos ngomong tepat di depan wajahku.
“Kamu Lihat ini, Tini! Betapa hebatnya dirimu. Lemari ini punyaku, tapi isinya lebih banyak punyamu,” katanya diikuti tawa jahil dan menggoda, membuatku tersipu malu.
“Ah, tidak juga, Yud. Punyamu juga banyak kan?” sahutku menimpalinya sambil pandangan mata melihat ke arah koleksi piala.
“Ah… tidak sebanyak kamu lah, Tini. Aku paling cuma sekali-sekali aja. Lagian kalau lombanya sama kamu, paling aku yang juara dua atau juara tiga, sedangkan juara pertamanya selalu kamu.”
Aku menatap wajahnya benar-benar malu, aku belajar di sini, di rumah Ayudyah, menggunakan fasilitas yang dia punya, namun aku meraih prestasi lebih sering daripada Ayudyah sendiri.
“Coba lihat, ini juara bercerita Tk. Kecamatan, juara menulis aksara Bali, juara melukis Tk. Kelurahan, Juara Cerdas Cermat Agama Hindu, ah... kamu keren deh pokoknya, Tini!” dia masih memujiku. “Aku masih ingat, bagaimana aku terkagum-kagum di bangku penonton saat melihatmu bersama tim sekolah kita menyapu bersih hampir semua pertanyaan dalam lomba cerdas cermat Agama Hindu di aula kantor camat waktu itu. Kamu keren sekali, Tini!” kata Ayudyah menyambung pujiannya terhadapku lagi.
“Yud, kamu terlalu memuji aku. Kalau saja waktu seleksi lomba itu kamu tidak sedang dirawat karena sakit tifus, aku yakin kamu juga akan berprestasi gemilang di ajang itu bersama tim sekolah kita. Lagi pula kamu kan sang bintang kelas setiap tahun di sekolah kita, semenjak kita masih sama-sama di kelas satu hingga sekarang sudah kelas 5, kamu tidak pernah absen jadi juara kelas kan Yud,” aku menunjukkan piagam-piagam juara kelas milik Ayudyah bermaksud untuk mengingatkannya bahwa bukan hanya aku, tapi dia juga berprestasi.
“Ah… kamu berlebihan, Tini! Bukan aku saja, tapi dengan kamu juga. Kita bergiliran menjadi ranking satu setiap semesternya. Ya kan?” kata Ayudyah menimpaliku. Lalu kami tertawa bersama sambil memangku stopmap plastik milik masing-masing.
Ayudyah melanjutkan perkataannya lagi, “Aku rasa, besok kamu akan menambah lagi koleksi piala kita di sini dengan piala murid berprestasi. Bukankah Pak Guru sudah bilang, besok akan diumumkan siapa yang mewakili sekolah kita.”
“Aku rasa, kamu yang akan dipilih oleh Pak Guru, Yud,” kataku pada Ayudyah.
“Tidak. Pak Guru akan memilih kamu, Tini. Kamu kan yang dapat juara satu di kelas kita semester kemarin,” Ayudyah menungkas perkataanku.
“Gini aja, Yud. Kalau Pak Guru memilih aku, aku akan mentraktir kamu semangkok bakso di warung Bu Mar yang dekat sekolah itu. Tapi kalau Pak Guru memilih kamu, kamu mau kasih aku apa?” aku mengajukan taruhan kepada Ayudyah.
“Aku akan menggendongmu dari poskamling di pinggir jalan raya, melewati tanjakan gang hingga sampai depan rumahmu,” tukas Ayudyah spontan setelah yakin sekali kalau dia tidak akan melakukan hal itu.
Kami menyepakati taruhan kecil tersebut sambil terus bercanda kegirangan dan saling menggoda satu sama lain. Hingga kami lelah di penghujung petang yang sudah beranjak malam. Kami memutuskan untuk beristirahat lebih awal malam itu. Berbagi tempat tidur dan selimut bersama, membuat kehangatan persahabatan kami makin terasa hingga mengalahkan dinginnya malam di suatu pedusunan di antara perkebunan mangga dan kakao.
***
Hari berganti, ternyata tebakan Ayudyah memang benar. Aku dipilih oleh pak guru untuk mewakili sekolah kami dalam ajang lomba murid berprestasi bersama seorang teman untuk perwakilan putra, Arya namanya. Seorang anak pengusaha salon kecantikan lumayan terkemuka di desa kami. Arya biasanya lebih sering meraih juara ketiga di kelas kami, setelah aku dan Ayudyah. Seorang perwakilan putri dan seorang perwakilan putra untuk sekolah kami telah ditetapkan.
Ayudyah mengerlingkan matanya sambil tertawa manja, mengisyaratkan agar aku ingat tentang semangkok bakso di warung Bu Mar yang aku janjikan untuknya. Aku hanya bisa tersenyum menimpali kerlingan matanya yang bersinar turut bahagia atas terpilihnya aku menjadi perwakilan murid teladan untuk sekolah. Pikiranku sama sekali tidak kepada bakso yang aku janjikan kepada Ayudyah, melainkan pengarahan tentang lomba yang disampaikan pak guru. Jujur itu membuatku sedikit grogi memikirkan lombanya. Pak guru memang sudah membina kami sejak sekitar dua minggu yang lalu. Hari ini hanya tinggal pengarahan teknis untuk siswa yang resmi terpilih, menjelang tiba waktunya lomba murid teladan itu.
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, kini saatnya aku berangkat untuk mengikuti lomba murid teladan di salah satu sekolah dasar inti di kecamatan kami.
Begitu besar dukungan keluarga Ayudyah untukku dalam persiapan mengikuti lomba ini. Ada sahabatku Ayudyah yang selalu memberikanku semangat, membantuku belajar, meyakinkan kemampuanku sehingga aku bisa mengatasi rasa grogi. Ada ayah Ayudyah, Pak Wayan Sukarta, yang membantu menyediakan contoh-contoh tes lomba murid berprestasi di tahun-tahun yang lalu. Bagi Pak Wayan Sukarta yang adalah pegawai negeri staf tata usaha di kantor UPT. Dinas Pendidikan di kecamatan kami, tentu mengumpulkan soal-soal lomba tahun-tahun sebelumnya tidaklah sulit, mengingat soal-soal tersebut setiap tahun diarsipkan di kantornya. Aku jadi ada bahan untuk belajar dalam menghadapi lomba ini.
Ada ibu Ayudyah, Bu Nyoman Widiani, yang selalu membantu menyiapkan segalanya saat aku belajar, bahkan hari ini, menjelang aku berangkat ke tempat lomba, beliaulah yang mendandani aku rapi dengan kepangan rambut dan pita merah putih yang sangat cantik. Entah apa jadinya aku tanpa bantuan dari keluarga Ayudyah. Sementara keluargaku sendiri? Ibuku hanya bisa mendukungku dengan doa, aku sangat menghargainya, karena doa adalah dukungan yang utama. Sedangkan ayahku? Hanya sebuah tanggapan sinis yang kudapat darinya. Katanya, “Kalau lombanya gratis silakan kamu ikut. Tapi kalau lombanya bayar tidak usah ikut.”
Aku ingat sekali roman muka masam ayahku saat mengatakan itu. Tapi aku tidak peduli, semangatku tetap bergelora untuk mengikuti lomba ini. Agar aku mendapatkan pengalaman dan juga demi mengharumkan nama sekolahku, aku bertekad akan mengerjakan yang terbaik, sebaik mungkin dengan segenap kemampuanku.
Dengan diantar bapak guru, kami sudah tiba di tempat lomba digelar. Panitia mengarahkan kami untuk memasuki ruangan dan mengatur tempat duduk kami sesuai dengan nomor peserta yang sudah tertera. Aku dan Arya berada di ruangan yang berbeda kini. Di ruangan tempatku akan berlomba, aku meihat banyak teman dari sekolah lain yang juga akan berlomba, aku melihat penampilan mereka keren-keren, sehingga aku sempat menjadi gugup dalam beberapa saat. Namun segera aku bisa mengendalikan rasa gugupku itu setelah melakukan hening sejenak membenamkan diri dalam lantunan Gayatri Mantram yang kuucapkan di dalam hatiku. Suasana menjadi tenang kembali.
Soal dan lembar jawaban untuk lomba sudah dibagikan, panitia mempersilakan kami membaca petunjuk pengerjaan soal terlebih dahulu. Kemudian semua peserta lomba dipersilakan mulai mengerjakan soal. Suasana ruangan ini berubah menjadi sangat hening, sampai-sampai aku bisa mendengar detak jantungku bertalu berirama mengikutiku selama pengerjaan tes lomba.
Tepat seperti yang sudah diberitahukan oleh pak guru bahwa tes pertama ini akan terdiri dari lima mata pelajaran, yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sebanyak 20 soal, Bahasa Indonesia sebanyak 20 soal, mata pelajaran Matematika sebanyak 20 soal, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 20 soal, dan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial juga sebanyak 20 soal.
Satu demi satu soal sudah kukerjakan, sementara soal yang kuanggap sulit aku lampaui terlebih dahulu. Kemudian aku kembali lagi ke soal yang kulampaui di saat waktu masih tersedia. Akhirnya semua soal sudah kukerjakan kini. Aku menyempatkan diri membaca ulang hasil pekerjaanku untuk memastikan semua sudah kukerjakan dengan baik, demikian juga dengan kolom identitasku tak lupa kuperiksa ulang.
Saat yang sungguh mendebarkan tiba. Panitia lomba akan mengumumkan peringkat sepuluh besar dari hasil tes tertulis yang akan bertarung lagi di babak berikutnya besok hari. Perasaanku mengatakan bahwa sepertinya aku akan masuk peringkat sepuluh besar ini. Namun meski dengan rasa keyakinan yang besar, hatiku tetap saja gugup menunggu kalau-kalau namaku disebut. Kudengar dengan cukup jelas dari pengeras suara, panitia mengumumkan para pemenang peringkat 10 besar mulai dari kelompok peserta putra. Satu demi satu peserta putra bersorak kegirangan saat nama mereka disebut oleh panitia.
Tak lama kemudian kudengar nama temanku, Arya diumumkan menduduki peringkat kelima. Aku sudah tidak sabar menunggu giliran diumumkannya pemenang untuk peserta putri dan ini membuatku sangat nervous. Hingga giliran itu pun tiba, tanganku terasa semakin dingin hingga kugosok-gosokkan saja kedua telapak tanganku saat peringkat sepuluh besar untuk peserta putri mulai dibacakan. Dimulai dari peringkat sepuluh, sembilan, delapan, dan astaga... jantungku berdebar semakin kencang. Tak terasa aku bergerak mondar-mandir di depan ruang lomba tadi, tepatnya di emperan sekolah. Pak guruku ternyata memperhatikan tingkah lakuku dan segera menyadari bahwa aku tengah gugup, kemudian beliau menyapaku, “Kira-kira kamu peringkat berapa, Tini?”
Demikian Pak guru bertanya sambil tersenyum ramah padaku. Dengan optimis aku menjawab, “Mungkin peringkat ketiga, Pak Guru.”
Pak guru tersenyum lagi lalu menepuk pundakku, mengisyaratkan agar aku bersabar. Nama peserta yang menduduki peringkat ketiga telah disebutkan, dan ternyata… oh Tuhan, bukan namaku. Apakah peringkat kedua, dan ternyata peringkat kedua juga bukan aku. Aku mulai merasa ragu dengan sedikit campur sedih. Dalam hati berkata, “Masa iya aku peringkat pertama? Atau jangan-jangan aku tidak menduduki sepuluh besar? Aku harus mengakhiri perjuangan mengharumkan nama sekolah dalam lomba murid teladan sampai di sini saja?”
Belum usai aku menghitung kekhawatiranku, ternyata namaku dipanggil di sana, di pengeras suara itu, kudengar namaku. Aku ada di peringkat pertama. Betapa sulit untuk dipercaya, aku sama sekali tidak menyangka sebelumnya.
Pak guru mengucapkan selamat untuk kami berdua. Aku dan Arya sama-sama berhasil masuk sepuluh besar, dan itu berarti kami akan berlomba lagi besok dalam mata pelajaran keterampilan, olahraga, dan kesenian.
Pak guru segera mengantar kami kembali ke sekolah untuk menyiapkan perlombaan esok hari. Setiba di sekolah, suasana sudah lengang karena teman-teman sekolahku sudah pulang. Ini memang sudah cukup siang dan sudah lewat waktu teman-temanku untuk pulang. Di sekolah hanya ada para guru dan bapak kepala sekolah yang memang sedari tadi sengaja menunggu kedatangan kami untuk mengetahui hasil perlombaan sekaligus mempersiapkan lomba kami esok hari. Seolah ada satu keoptimisan di kalangan bapak dan ibu guru bahwa kami berdua akan melaju ke babak selanjutnya, sehingga portofolio dan peralatan kami sudah dipersiapkan oleh mereka. Setelah diberi nasi bungkus, aku dan Arya diantarkan ke rumah kami masing-masing oleh bapak guru kami.
Sesampai di rumah, kudapati suasana rumah yang selalu berantakan ini, lebih berantakan daripada biasanya. Ibuku menangis sesenggukan di sudut rumah sambil menjahit tamas. Sama sekali tidak ada anggota keluargaku yang bertanya tentang bagaimana lomba yang kuikuti. Kuhampiri ibu lalu kuhapus air mata yang membasahi pipi keriputnya. Kutanya tentang keadaannya, lalu ibu bercerita tentang ayah yang baru saja pulang dari berjudi dalam kondisi mabuk dan marah karena kalah berjudi, kemudian memukul ibu lantaran ibu menanyakan uang hasil berjualan tamas yang diambil ayahku semalam telah raib di meja judi. Padahal uang tersebut tadinya untuk membeli beras agar di masak siang ini, tutur ibu sambil tersedu kepadaku.
Aku menyerahkan kepada ibuku uang pemberian bapak kepala sekolah yang diberikan tadi pagi kepada aku dan Arya sebagai uang saku mengikuti lomba. Aku berikan pada ibu untuk membeli beras, mungkin ini cukup. Lalu aku pun memberikan nasi bungkus dari bapak guru di sekolah tadi untuk ibu, aku meminta agar ibu makan terlebih dahulu sebelum pergi membeli beras.
Aku masuk ke kamar untuk mengganti baju, kulewati ayahku yang tidur mendengkur keras. Bau minuman keras sangat menyengat dari mulutnya. Aku sama sekali tidak ingin membangunkannya, jangankan untuk memberitahukan kabar kemenanganku dalam lomba tadi, untuk melihatnya saja aku enggan. Setelah mengganti pakaianku, aku segera pamit pada ibu untuk pergi ke rumah Ayudyah. Mereka pasti tengah gelisah menunggu kabar dariku.
Benar saja, Ayudyah sudah menungguku di bawah pohon mangga di depan rumahnya, ia segera berlari menyambutku. Mulutnya yang manis itu tak henti-hentinya bicara, bertanya ini dan itu. Dan ketika kukatakan bahwa aku menduduki peringkat pertama untuk sementara, wah… Ayudyah langsung berteriak kegirangan dan memelukku erat-erat sambil melompat-lompat. Ibu Ayudyah, Ibu Nyoman Widiani juga mengucapkan selamat padaku, bahkan sudah disajikannya masakan istimewa kesukaanku, khusus untuk menyambut kedatanganku dari berlomba. Kebaikan keluarga ini sungguh membuat aku terharu dan tersanjung.
Setelah menyantap makan siang bersama Ayudyah dan ibunya, aku meminta sahabatku, Ayudyah untuk mengajariku lagi tari Bali, yaitu Tari Puspanjali untuk lomba dalam mata pelajaran kesenianku besok. Sahabat karibku ini memang sungguh lihai menari Bali. Dia adalah anak pentolan sanggar tari Bali ternama di kota kecamatan kami. Sementara aku hanya beberapa kali mengikuti latihan karena sangat jarang aku punya uang lebih untuk biaya latihan menari di sanggar itu. Namun aku sangat beruntung karena Ayudyah selalu mau mengajariku menari di rumahnya. Dengan sabar Ayudyah membimbingku melakukan gerakan-gerakan tari sampai aku hafal betul. Dia juga selalu meyakinkan bahwa tarianku sudah bagus dan aku pasti bisa.
Benar saja, keesokan harinya saat berlomba, setelah mengikuti penilaian dalam senam kesegaran jasmani untuk mata pelajaran Olahraga, aku menarikan Tari Puspanjali dengan percaya diri di depan tim juri. Aku selalu terbayang gerakan Ayudyah saat menari, dan aku teringat juga akan kata-katanya yang selalu meyakinkan rasa percaya diriku. Selanjutnya, penilaian keterampilan pun telah aku kerjakan dengan baik sesuai kemampuanku. Kulihat keluar jendela, pak guru masih setia menunggu kami yang sedang berlomba sembari mengobrol dengan teman-temannya sesama guru. Semua peserta loma telah selesai dinilai. Panitia mempersilakan kami menunggu di luar ruangan.
Aku sempat berkenalan dengan beberapa teman dari sekolah lain yang juga berlomba, kami menikmati kudapan yang disediakan panitia bersama-sama. Ngobrol ke sana ke mari dengan teman-teman baru sungguh asyik, sehingga kami lupa bahwa kami sedang menanti pengumuman kejuaraan lomba. Tiba-tiba panitia sudah mengumumkan kejuaraan untuk kami.
Seperti biasa pengumuman ini dinilai dari pengumuman untuk anak putra terlebih dahulu. Sayang sekali rekan seperjuanganku, Arya, belum berhasil meraih peringkat 3 besar yang akan dikirim sebagai duta dari kecamatan kami untuk melaju di tingkat kabupaten. Kini tiba saat pengumuman untuk para peserta putri. Entah kenapa, aku sudah tidak terlalu gugup. Kini aku justru lebih memikirkan janjiku untuk mentraktir Ayudyah semangkok bakso di warung Bu Mar.
Aku juga ingat doa Ayudyah tadi pagi sebelum aku berangkat berlomba, dia mengatakan bahwa aku akan menang, dan dia juga berkata bahwa dia sudah menyiapkan satu tempat lowong di rak kayu berpintu kaca di ruang keluarga untuk tempat pialaku hari ini katanya. Ada-ada saja Ayudyah itu, demikian pikirku. Padahal aku kan belum tentu akan menang lomba. Eh, kenapa dia justru sudah menyiapkan tempat piala? Aku tersenyum sendiri mengingat tingkah lucu sahabatku itu.
Benar saja, ternyata doa Ayudyah dikabulkan Tuhan, aku didaulat sebagai pemenang dalam lomba ini. Suara lantang dari pengeras suara di meja panitia yang mengumumkan namaku sebagai juara pertama telah menjadi pemecah lamunanku siang ini. Aku, Arya, bapak guru dan seorang ibu pengawas sekolah dengan bangga ikut berfoto bersamaku dengan piala emas berpitakan merah putih di tanganku. Sungguh sebuah pengalaman berarti bagiku.
Selesai sudah semua rangkaian kegiatanku di tempat lomba hari ini. Aku meminta tolong kepada pak guru agar langsung saja diantarkan ke rumah Ayudyah. Ayudyah menggenggam tanganku erat, matanya berkaca-kaca terharu mengucapkan selamat kepadaku. Aku pun merasa tengah menitikkan air mata haru. Kalau bukan karena dukungan Ayudyah dan keluarganya, maka apalah artinya diriku ini. Ayudyah membukakan pintu kaca rak kayu di ruang keluarga, aku meletakkan piala juara 1 lomba murid teladan di sana, dalam hatiku aku merasa setengah dari piala ini adalah milik Ayudyah. Dengan senyum lembutnya, Ayudyah berkata, “Bulan depan akan ada satu piala juara lomba murid teladan tingkat kabupaten di sini.”
Ucapan lembut dari bibir manis sahabatku ini terdengar bagai rapalan doa di hatiku. Aku berjanji pada diriku sendiri, akan berbuat yang terbaik dalam lomba di tingkat kabupaten nanti.

Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Love Of The Death 2

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Download Titik & Koma