3. Menjaring Impian
Berjalan ke arah selatan dari Poskamling setelah menyeberangi jalan raya, terus menyusuri jalan berbatu tempat truk-truk biasa lalu lalang mengangkut pasir dan batu kali hasil tambangan para penduduk desa. Aku, ibuku, dan Ayudyah akan pergi ke Pantai Pebuahan untuk mencari ikan.
Jalanan berbatu itu ditutupi oleh pepohohan bayur di sisi kanan dan kiri jalan. Walaupun saat ini adalah siang hari, namun terik mentari tidak memanasi kami yang sedang berjalan kaki karena rimbunnya dahan pepohonan bayur dengan daunnya yang lebat membuat teduh sepanjang jalan. Di ujung jalan ini ada sungai yang menjadi pembatas desaku dengan desa tetangga.
Tidak ada jembatan yang menghubungkan dua desa di jalur ini. Namun di bagian ini, air sungai memang tidak terlalu dalam, apalagi kalau sedang musim kemarau seperti sekarang ini, warga di dua desa ini bisa leluasa berlalu-lalang menyeberangi sungai dengan berjalan kaki, maupun membawa kendaraan bermotor seperti mobil ataupun sepeda motor. Kami tinggal memilih saja bagian air yang beriak kecil menembus bebatuan, tanda sebagai air dangkal di bagian itu.
Ibu menuntun aku dan Ayudyah menyeberangi sungai. Meskipun dangkal, namun bebatuan cukup licin di sini, sehingga ibuku memegangi tangan kami berdua. Air sungai yang jernih dan dingin membuat aku dan Ayudyah ingin untuk tidak segera beranjak dari sungai ini. Kami ingin bermain air dulu. Namun apa boleh buat, ibuku sudah mengingatkan agar kami segera melanjutkan perjalanan menuju pantai, agar tidak terlambat membantu para nelayan menarik jaring ke tepian. Para nelayan akan memberikan kami beberapa ikan secara cuma-cuma jika kami membantu menarik jaring ikan ke tepian. Demikianlah cara ibuku mendapatkan ikan sebagai lauk kami sehari-hari. Aku dan Ayudyah menuruti saran ibuku. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju pantai.
Dari desa kami kira-kira ada 3 kilometer jarak perjalanan menuju pantai pelabuhan. Selepas menyeberangi sungai, perjalanan kami berubah panas karena tidak ada lagi pepohonan bayur di tepi-tepi jalan. Di sini kami mulai melewati jalur rumah-rumah penduduk dan juga persawahan. Ibuku sangat lihai dalam mencarikan jalan pintas, melintasi halaman rumah dan kebun penduduk agar kami bisa tiba di pantai lebih cepat.
Setiba di pantai, matahari masih sangat terik. Ibuku memilih memunguti daun-daun kelapa kering dan kayu bakar di tepi pantai untuk memasak besok dini hari. Sedangkan aku dan Ayudyah berteduh di bawah pohon waru. Perahu nelayan belum juga datang, kami bisa beristirahat dulu di sini.
Aku membuka tas kain kecil dan lusuh yang kami bawa tadi. Ada rebusan pisang kapok dan sebotol besar air minum. Aku minum sedikit kemudian merebahkan tubuhku bersandar di batang pohon waru yang berdiri agak miring sehingga sangat enak dijadikan tempat bersandar setengah rebahan di sini. Aku tidak lagi memperhatikan entah apa yang dikerjakan Ayudyah. Aku hanya menatap ke arah atas, bunga-bunga pohon waru berwarna kuning dan daunnya begitu rimbun, menari-nari dihempas keras angin Samudera Hindia. Ya, ini adalah pantai selatan Pulau Bali yang eksotik, seeksotik kulitku yang agak kecokelatan karena sering diterpa terik mentari.
Walaupun dedaunan waru ini cukup rimbun, namun mataku tetap silau, karena terik mentari siang ini tetap bisa menembus sela-sela dedaunan tepat menerpa wajahku. Aku sedikit menggeser posisi badanku mencari tempat yang agak teduh, kemudian menutupi wajahku dengan topi yang terbuat dari anyaman daun kelapa.
***
Siapa yang menyangka waktu berlalu demikian cepat. Aku berdiri di panggung dalam acara resepsi perpisahan kelas 6 dengan memegang piagam dan piala juara 1 nilai ujian sekolah berstandar nasional tertinggi. Tak terasa aku sudah menamatkan pendidikanku di Sekolah Dasar. Aku akan melanjutkan sekolah di jenjang SMP. Aku bersekolah SMP di desa sebelah. Bersama dengan Ayudyah dan teman-teman lainnya berangkat ke sekolah setiap hari.
Namun kini sudah berbeda, kami tidak lagi berjalan kaki menuju sekolah, melainkan naik sepeda. Aku menumpang di sepeda Ayudyah, jika Ayudyah merasa lelah maka aku akan menggantikannya mengayuh sepeda dan dia duduk di belakang, kubonceng hingga kami sampai di sekolah bersama-sama. Dalam balutan seragam putih biru, rambut kami dikepang dua dengan pita warna hijau yang menandakan kami duduk di kelas satu SMP.
Kini aku dan Ayudyah tidak lagi teman sekelas. Kelas kami berbeda, namun kami tetap bermain dan belajar bersama seperti biasanya. Semester demi semester aku lalui di bangku SMP. Aku tetap dapat meraih juara di kelas, bahkan juara umum juga, meskipun dengan perjuangan yang tidak pernah mudah. Masalah ekonomi keluarga yang selalu menghimpit, tidak pernah mengurangi semangatku dalam meraih prestasi yang terbaik di bangku SMP. Sangat bersyukur aku karena bisa mendapat bantuan beasiswa dari program sekolah kami saat ini. Sehingga ada tambahan untuk biaya sekolah setiap semesternya.
Bukan hanya prestasi dalam bidang akademik yang kuraih setelah duduk di bangku SMP, melainkan juga prestasi dalam bidang yang lain. Aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, bukan hanya karena semata-mata itu adalah kegiatan yang wajib diikuti siswa, melainkan karena aku ingin melanjutkan hobiku yang sudah kugeluti semenjak di bangku SD dulu. Semakin banyak keterampilan dalam pramuka yang aku kuasai kini seperti tali temali, semaphore, morse, menembak, baris-berbaris, dan lain sebagainya tentang teknik-teknik kepramukaaan. Aku bahkan berhasil terpilih sebagai pemimpin regu utama (Pratama) untuk gugus depan kami. Banyak juga prestasi yang dapat kuraih dalam kegiatan Pramuka ini.
Saat duduk di kelas dua SMP, aku berhasil menjadi juara dalam story telling contest di tingkat kabupaten dengan menyisihkan begitu banyak lawan yang tangguh, termasuk para siswa dari sekolah-sekolah unggulan di kota kabupaten. Sungguh bangga rasanya.
Seperti mengulang kenangan semasa bersekolah di SD dulu, saat ini aku juga mengalaminya lagi, saat ditunjuk menjadi perwakilan SMP tempatku bersekolah untuk mengikuti ajang lomba murid teladan dan aku pun berhasil meraih kemenangan sebagai juara pertama di tingkat kabupaten.
Rak kayu berpintu kaca di rumah Ayudyah kini sudah tidak mampu lagi menampung koleksi piala kami. Sehingga ayah Ayudyah, Bapak Wayan Sukarta, memesankan sebuah lemari piala yang baru untuk kami. Dan saat duduk di kelas tiga SMP, aku dan Ayudyah pun kembali bersama-sama berdiri di atas panggung sebagai peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolah kami. Gelar juara umum satu untukku dan gelar juara umum dua untuk Ayudyah, sungguh merupakan hadiah yang manis sebagai penutup kisah perjalanan kami sebagai anak SMP yang manis.
Setelah menamatkan belajar di SMP, aku melanjutkan sekolah di salah satu SMA favorit di kabupaten tempat tinggalku. Dikatakan SMA unggulan oleh masyarakat namun bukan itu alasanku memilih SMA ini untuk tempatku bersekolah. Aku memilih SMA ini karena ada salah seorang bibiku, adik kandung ibuku yang tinggal di kota kabupaten, dekat dengan lokasi SMA ini.
Bibiku sudah lama ditinggal menikah lagi oleh suaminya, dan suaminya lebih memilih tinggal bersama istri mudanya di kecamatan yang lain. Bibiku memiliki seorang putri yang telah menikah dan diajak merantau ke daerah Papua oleh suaminya yang bekerja sebagai karyawan PT. Freeport di Papua. Dan seorang putra yang sudah bekerja di kota lain sebagai karyawan di sebuah hotel ternama. Jadi sekarang, di rumah yang lumayan besar ini, bibiku tinggal sendiri.
Hanya sekali dalam sebulan kakak sepupuku yang laki-laki datang untuk menengoknya di rumah, itupun hanya satu hari lalu kembali lagi ke luar kota untuk bekerja. Maka dari itulah bibiku meminta kepada ayah dan ibuku agar mengizinkan aku tinggal bersamanya selama menempuh pendidikan di SMA.
Tentu saja aku sangat senang menerima tawaran dari bibiku ini. Lagi pula aku tidak enak juga terus menerus numpang berangkat sekolah bersama Ayudyah. Ayudyah sahabat karibku juga bersekolah di SMA yang sama denganku, tapi kami duduk di kelas yang berbeda. Namun demikian, Ayudyah masih sering mampir ke rumah bibiku, tempat tinggalku sekarang untuk sekedar ngobrol atau mendiskusikan tugas sekolah. Apalagi kalau sedang ada jam pelajaran Olahraga, Ayudyah akan mengganti pakaian di tempat bibiku. Katanya jauh lebih nyaman daripada ganti di toilet sekolah, lagi pula kalau pulang terlalu jauh, perlu waktu sekitar 20 menit naik motor, jadi waktu akan habis di perjalanan sebelum memulai pelajaran berikutnya.
Sebagai seorang siswa baru di sekolah unggulan ini yang berhasil masuk lewat jalur tes potensi akademik, aku berhasil menduduki kelas unggulan. Dengan bantuan dari Pak Wayan Sukarta, ayah dari Ayudyah, aku berhasil pula membawa surat keterangan miskin dari kantor desa dan kelengkapan surat-surat yang lain, sehingga di SMA pun aku meraih beasiswa. Sehingga untuk uang sekolah aku sudah tidak perlu lagi memberatkan kedua orang tuaku.
Di waktu senggang, aku selalu menyempatkan diri membantu bibiku mengurus rumah, membersihkan kebun, memasak, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Bibiku setiap hari memberikanku uang saku untuk bekal ke sekolah. Namun uang saku yang diberikan bibi tidak pernah aku belanjakan. Setiap jam istirahat di sekolah, aku pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, tidak seperti teman-temanku kebanyakan yang akan pergi ke kantin untuk makan dan minum. Bagiku, sarapan rutin setiap pagi di rumah bibi saja sudah cukup untuk mengisi perutku sampai tiba waktunya pulang sekolah di siang hari. Aku hanya membawa sebotol air minum dari rumah untuk kuminum di kala haus di sekolah.
Uang saku pemberian bibi aku kumpulkan dan aku tabung di sekolah setiap hari Senin. Nanti jika sudah tiba tahun ajaran baru, uang hasil tabungan itu akan kugunakan untuk membeli seragam atau keperluan sekolah lainnya, demikian pikirku. Aku cukup kuat mental saja, ketika teman-temanku mengajak aku pergi ke kantin, aku akan menjawab sedang ada novel seru yang aku baca di perpustakaan sehingga aku lebih memilih pergi ke perpustakaan sekolah.
Sangat bersyukur aku punya sahabat karib yang sangat memahami diriku, Ayudyah, dia sering membeli dua buah roti dan beberapa makanan ringan di kantin, lalu membawakannya untukku. Kami sering makan bersama di taman depan perpustakaan saat jam istirahat sekolah. Meskipun kini dia duduk di kelas yang berbeda denganku, dia selalu ingat aku.
Teman-teman baruku yang lain juga banyak sekali yang baik hati dan sangat perhatian padaku. Ada Fani, putri salah seorang guru di SMA ini, dia sangat cantik, ramah, dan baik hati. Fani sering memberikanku tumpangan saat ada kegiatan sekolah di tempat lain. Ada Intan, seorang putri petani yang sukses dari kecamatan lain di kabupaten ini. Setiap tiba musim durian, Intan mengajakku ke rumahnya, berjalan-jalan di perkebunan milik ayahnya yang sangat luas.
Perkebunan itu berisi sangat banyak pohon durian, manggis dan ada juga tanaman cengkeh serta kelapa. Sangat puas aku bisa menikmati buah durian di sana, bahkan saat aku akan pulang, ayah dan ibu Intan memberikanku buah durian dan manggis untuk dibawa pulang juga. Yang membuat sangat berkesan adalah perjalanan menuju rumah Intan yang terletak di dataran tinggi itu sangat seru, jalan kecil berkelok dan menanjak dengan jurang yang cukup curam di sisi jalan, membuat rasa ngeri saat menoleh ke samping, namun pemandangan yang sangat indah dan udara yang sejuk menciptakan kenangan tersendiri yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Di bangku SMA kini, aku pun tetap menekuni kegiatan Pramuka, aku senang sekali bisa terlibat dalam berbagai kegitan sebagai seorang Pramuka Penegak. Dilantik sebagai anggota Pramuka Penegak Bantara, lalu 1 tahun kemudian dilantik pula menjadi Pramuka Penegak Laksana membuatku merasa senang, haru sekaligus bangga. Ikut serta dalam Dewan Kerja Ranting memberikanku begitu banyak pengalaman yang berharga.
Menjadi panitia dalam berbagai ajang Pramuka di tingkat kabupaten dan provinsi membuat seolah-olah masa remajaku sangat jarang aku habiskan di rumah. Aku lebih sering berasa di sekolah, di bumi perkemahan dan di alam bebas. Sampai-sampai bibiku sering menggodaku, mengatakan aku anak yang besar di jalan. Aku tersenyum saja mendengar candaan bibiku itu.
Belum lagi dengan kesibukanku sebagai pengurus OSIS. Saat masa tahun pelajaran baru dimulai, kami semua pengurus OSIS dilibatkan dalam masa orientasi siswa baru, mulai dari pengenalan lingkungan sekolah, sampai mengurus kegiatan perkemahan orientasi mereka.
Saat sekolah mengikuti berbagai ajang lomba, tentulah kami para pengurus OSIS yang menjadi ujung tombak persiapan dan pelaksanannya. Terlebih lagi sekolahku ini adalah sekolah unggulan di kabupaten kami, sehingga ada begitu banyak kegiatan lomba yang harus diikuti.
Terlebih pada saat ikatan alumni bekerja sama dengna pihak sekolah menyelenggarakan acara reuni akbar lintas angkatan, kami pengurus OSIS dilibatkan pula sebagai panitia pelaksana. Tak jarang, beberapa hari sebelum acara berlangsung, kami harus lembur di sekolah hingga petang, bahkan pernah hingga malam hari. Kalau sudah demikian ceritanya, aku pasti akan meminta salah seorang teman perempuan untuk mengantarku pulang agar bibiku tidak salah paham mengira aku keluyuran saja sampai malam hari.
Dengan sangat sabar aku selalu menjelaskan tentang kegitan yang harus kuikuti di sekolah kepada bibi. Itu memang bukan hal yang mudah karena bibiku hanya seorang lulusan Sekolah Dasar dan zamannya juga sudah jauh berbeda dengan zaman bibiku remaja kala itu. Beruntung juga aku karena bibiku selalu mau mengerti dan mendukung kegiatan-kegiatanku di sekolah, beliau hanya sering berpesan agar aku baik-baik dalam menjaga diri sebagai seorang gadis. Tentu saja aku menghargai nasihat bibiku itu. Beliau sangat perhatian dan sayang padaku. Apalagi beliau juga harus bertanggung jawab mengajak aku tinggal di sini, kepada ayah dan ibuku di kampung.
Perkenalan dengan kakak kelasku, Yoda, yang juga aktif di Pramuka membawaku juga turut menggeluti bidang jurnalistik bersamanya. Yoda adalah seorang anak petani dari sebuah pedusunan di bagian utara kota kabupatenku ini. Yoda adalah seorang wartawan untuk harian lokal di kota ini. Beberapa kali Yoda mengajakku ikut dalam kursus dan pelatihan jurnalistik. Dia juga yang membimbingku untuk mulai menulis artikel-artikel untuk media massa.
Selain aktif sebagai jurnalis, Yoda juga menggeluti dunia seni peran, tepatnya seni teater. Dia sudah mulai mengikuti kegiatan teater di sekolah sejak duduk di kelas satu SMA.
Dia juga mengajakku latihan teater pada sebuah komunitas teater di kotaku ini. Dari pertemananku dengan Yoda, aku mulai mengenal seni peran, dunia jurnalistik, dan kesusasteraan. Kadang kalau sedang ada pekan apresiasi sastra di kota kabupaten ini, aku juga turut serta menjadi relawan.
Bagiku tempat untuk belajar tidak harus hanya di sekolah. Aku sangat senang punya banyak wadah untuk tempatku belajar dan terlebih lagi aku memiliki begitu banyak kesempatan untuk mengenal banyak teman baru. Tentu saja berbagai kesibukanku dalam kegiatan sekolah maupun di luar sekolah tersebut, tidak lantas membuat aku lupa untuk menjalani masa remajaku dengan bahagia. Aku tetap suka jalan-jalan dan sekedar nongkrong di kedai teh bersama teman-temanku. Menghabiskan akhir pekan di pantai, atau mengajak teman-temanku pulang ke kampung untuk berkenalan dengan ayah dan ibuku.
Terkadang banyak juga teman yang heran dan sangat penasaran bertanya padaku, bagaimana caraku yang dengan demikian banyak kesibukan itu tetap dapat meraih prestasi baik dalam belajarku di sekolah. Semester demi semester sudah kulalui di SMA, tak pernah sekalipun aku lepas dari peringkat sepuluh besar di kelasku. Bahkan terkadang aku juga meraih juara kelas dan juara umum di sekolah.
Duduk di bangku kelas tiga, aku bahkan pernah mewakili provinsi untuk mengikuti lomba mata pelajaran tingkat nasional yang diselenggarakan salah satu universitas ternama di ibu kota negara tercinta Indonesia ini. Dengan melewati rangkaian proses seleksi yang ketat, aku berhasil menjadi duta bagi provinsiku. Dan bukan main-main pula raihanku dalam ajang nasional tersebut, aku berhasil melaju babak demi babak hingga mampu berlaga di babak final. Meskipun belum berhasil membawa pulang gelar juara, namun aku cukup bangga dengan gelar finalis yang kusandang.
Universitas itu memberikan hadiah kepada para finalis sepaket buku referensi dan tiket masuk di universitas tersebut tanpa mengikuti tes seleksi lagi. Dengan kata lain, para finalis lomba tersebut dapat langsung diterima jika hendak kuliah di sana. Betapa aku tidak kegirangan dibuatnya, mengingat universitas penyelenggara itu adalah universitas bergengsi di negeri ini.
Keadaan ekonomi keluargaku yang serba terbatas, membuat aku terpaksa membuang peluang untuk kuliah di kampus nasional ternama tersebut. Ayahku menyarankan agar aku kuliah di Bali saja agar biayanya lebih irit, tidak usah kuliah jauh-jauh di ibu kota negara katanya. Jaraknya jauh, jadi ongkos perjalanan mahal dan biaya hidup di kota besar juga tinggi. Aku mengiyakan perkataan orang tuaku, aku memilih salah satu universitas di Bali yang khusus mencetak tenaga kependidikan dan guru.
Karena cita-citaku dari kecil memang ingin menjadi guru sekolah dasar, maka aku memilih Fakultas Ilmu Pendidikan untuk tempatku melanjutkan studi, tepatnya pada jurusan Pendidikan Dasar, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dengan menyandang jas almamater warna biru muda, aku sampai tersenyum-senyum sendiri membayangkan kelak tamat dari universitas ini aku akan menjadi seorang guru. Mengajar murid-muridku yang imut-imut dan manis, sungguh nyata tergambar dalam ingatanku.
Kuliah di Kota Singaraja, bagian utara Pulau Bali, beruntung aku masih memperoleh beasiswa. Modal awal untuk daftar kuliah ada beberapa rupiah dari hasil tabunganku sewaktu SMA dulu. Beruntung juga ada orang tua Ayudyah yang masih membantu dan beberapa keluarga yang peduli sehingga aku bisa melanjutkan studi sesuai dengan yang aku cita-citakan.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini, bisa kuliah di perguruan tinggi negeri yang aku idam-idamkan sejak kecil. Aku selalu belajar dengan tekun agar tetap bisa meraih hasil yang terbaik. Dengan tanpa mengesampingkan juga kegiatan ekstrakurikuler yang sudah menjadi kegemaranku, yaitu Pramuka dan teater.
Menjadi anggota Pramuka Racana dan juga menjadi anggota unit kegiatan teater di kampusku membuat aku sudah cukup sibuk. Belum lagi ditambah dengan kesibukanku menjadi pengurus himpunan mahasiswa jurusan dan pengurus senat, seolah masa-masa aku jarang tinggal di tempat kos dan lebih sering berada di kampus mengulang masa SMA-ku yang penuh dengan kesibukan, sekarang di bangku kuliah malah lebih sibuk lagi. Namun seperti biasa, nilai yang kuraih masih tetap bagus, sangat memuaskan, kadang juga bisa mencapai predikat pujian.
Sering kali dengan kaki lelah, dengan gontai menyusuri jalanan di Kota Singaraja dari kampus menuju tempat kos berjalan kaki, siang matahari menyengat, semangat yang berkobar di dalam dada adalah satu-satunya alasan aku untuk tetap bertahan dan terus melangkah.
Kalau pas selesai kuliah atau selesai kegiatan kampus bersamaan dengan teman satu tempat kos, biasanya akan ada saja yang memberikanku tumpangan. Maklum, merantau di kota ini kebanyakan teman-temanku memang dibelikan motor oleh orang tua mereka. Namun tidak demikian denganku, tidak menggunakan motor, dapat melanjutkan ke bangku kuliah saja sudah sangat luar biasa rasanya. Untuk sewa tempat tinggal pun masih dibantu oleh bibi yang dulu mengajak aku tinggal di rumahnya sewaktu SMA dulu.
Bibi sangat kasihan padaku karena nekat kuliah meski tanpa dukungan dana dari orang tua. Lagipula katanya, beliau sudah tidak ada yang ditanggung untuk bersekolah lagi, dan anak-anaknya pun selalu cukup bahkan sering berlebih dalam mengirimkan uang bulanan untuk bibiku itu. Jadi bibikulah yang berbaik hati membantu memberikanku uang untuk sewa tempat tinggal di kota ini setiap bulannya.
Untuk tambahan uang saku di tempat perantauan ini, di waktu senggang sering pula menjadi buruh cuci piring di sebuah rumah makan, atau membantu bersih-bersih rumah ibu kosku, dari sana ada saja rupiah demi rupiah yang dapat aku kumpulkan. Bersyukur juga harga makanan sehari-hari dan kebutuhan hidup masih tergolong murah di kota ini. Ya, pas dengan ukuran kantong mahasiswa yang selalu berusaha irit seperti diriku ini.
Apalagi kalau soal urusan pulang kampung. Selama masa perkuliahanku, jarang sekali aku merasakan pulang kampung menemui ayah, ibu dan keluargaku, kadang hanya sekali dalam satu semester, kadang juga bisa setahun aku tidak pulang ke kampungku. Tidak seperti teman-teman yang memiliki motor, mereka bisa pulang dan datang lagi ke kota ini kapan saja mereka mau. Sebulan sekali, seminggu sekali, terserah mereka. Atau mungkin setiap kali bekal habis, mereka pulang untuk minta tambahan. Ah, sudahlah, itu urusan mereka, aku sama sekali tidak iri.
Saat liburan semester, ketika teman-teman lebih memilih pulang ke rumah orang tua mereka, aku tetap bertahan di kota ini. Bekerja di restoran bisa ambil waktu penuh, mulai hanya sekedar menjadi juru cuci piring, atau juru bersih-besih hingga lama kelamaan sudah mulai diizinkan menjadi juru saji di restoran itu. Mumpung sedang liburan, nah dari sana tentu berlipat juga uang yang bisa kukumpulkan. Lumayan di semester baru nanti bisa untuk uang modul.
Kadang juga saat musim mahasiswa lain sedang liburan semester atau libur tahun ajaran baru, aku bersama rekan-rekan yang menjadi pengurus senat akan sibuk melaksanakan kegiatan kampus, seperti menjadi panitia pelaksana berbagai perlombaan untuk anak SD, SMP, ataupun SMA di tingkat provinsi, atau terkadang mempersiapkan kegiatan orientasi kehidupan kampus bagi para mahasiswa baru, adik-adik tingkat kami yang baru.
Saat melepas penat, tempat kesukaanku adalah pantai di belakang kampus kami, berjalan agak ke barat menyusuri bibir pantai, di sana ada sebuah pohon mahoni yang cukup rindang. Betapa damai duduk di bawah pohon itu, memandang lepas ke arah pantai utara Pulau Bali yang tengah berpadu dengan keindahan rona jingga sang senja di cakrawalanya, dari mentari yang hendak menuju ke peraduan. Di tepian senja menghempaskan lelah raga pada indah pandangan tentang masa depan, menghanyutkan kedukaan hati kepada luas lautan, menghempaskan rindu akan ayah ibu kepada sang ombak yang beriak manja menyapa bibir pantai bersolek serpihan karang.
Perjalanan waktu sungguhlah tidak pernah terlalu lambat atau pun terlalu cepat. Hanya alunan perasaan senandungkan lirik tentang sulit, pahit dan kerasnya perjalanan hidup yang harus dilalui membuat laju roda sang waktu terasa demikian lambat bergulir. Dan hanya nada-nada lirih dari sebuah perasaan bersyukur akan persahabatan yang terukir, kebahagiaan dari segala capaian, dan kobaran api semangat merajut cita-cita yang membuat lajunya perputaran roda waktu bisa terasa demikian cepat berlalu.
Semester demi semester telah kulalui di kota kecil ini, menjadi mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar sudah tiba di penghujung masanya. Rentetan masa pelatihan praktik mengajar di sekolah dasar, ujian kelulusan telah kulalui. Kini tiba saatnya aku berdiri di panggung berkarpet merah yang tergelar mewah, mengenakan pakaian kebanggaan seorang sarjana, merasakan luapan bahagia dan bangga demikian mendalam dalam suatu acara yang disebut wisuda.
Bergetar dadaku penuh semangat menyandang gelar sebagai seorang sarjana pendidikan yang lama sudah diidamkan dan diperjuangkan dengan tetesan keringat dan air mata. Rona bahagia tetap tersirat meski hanya teman-teman yang memberiku ucapan selamat, di sini tanpa orang tua. Ya, orang tuaku tidak hadir dalam acara wisudaku. Sembunyi-sembunyi dan diam-diam di ujung pelupuk mata, mengalir juga air mata kesedihan ini, namun segera kuseka dengan lembaran tisu di genggaman tangan agar tidak ketahuan oleh teman-temanku. Tekad bahwa ini adalah permulaan dari sebuah pengabdian yang membuatku sungguh tegar berdiri menghadapi hari itu.
Pulang ke kampung halaman membawa oleh-oleh sebuah gelar sarjana pendidikan dan segenggam tekad untuk mengabdi turut membangun desa, menuntun langkahku untuk mengamalkan ilmu yang telah kudapat di Sekolah Dasar tempat aku menimba ilmu ketika kecil dulu.
Ada beberapa orang guruku yang masih bertugas hingga saat ini, dan kini menjadi teman kerjaku. Rasa bangga mengalir memenuhi senyum di wajahku hingga menghasilkan kobaran semangat yang luar biasa untuk mulai berkarya. Mengajar, mendidik, dan melatih anak-anak, dengan senyum manis dan polos mereka memberikan semangat bagi pengabdianku.
Anak-anak didik yang selalu ceria saat aku memasuki ruang kelas mereka, menyapaku dengan panggilan ‘Ibu Guru’. Tatapan mata mereka yang tak pernah luput memandangiku dari ujung rambut yang kuikat rapih dengan jepit rambut bertatahkan mutiara, wajah yang sudah kudandani cantik di pagi buta, seragam putih hitam dibalut blazer hitam yang sudah kusetrika hingga licin, dan kaki bersepatu vantofel berhak 5 cm membungkus kaki, tentu saja aroma wangi dari parfum mewah yang telah kusemprotkan sebelum berangkat ke sekolah tadi pagi. Betapa cantiknya diriku sebagai seorang guru di mata murid-muridku. Dan tiba-tiba entah kenapa bau wewangian parfum di tubuhku kini berubah menjadi bau amis.
***
Kubuka mataku perlahan, sinar mentari sudah agak condong ke barat menerpaku dari sela dedaunan waru. Sepintas kulihat, dan kini makin jelas dan semakin jelas, ada bau amis menusuk hidungku.
Sesosok ikan lemuru bergantung di depan hidungku. Oh, ternyata ulah Ayudyah. Dia sengaja menaruh ikan lemuru di depan hidungku. Jahil sekali sahabatku itu, apalagi ketika melihatku terbangun kebingungan karena bau amis, dia langsung tertawa terkekeh-kekeh meledekku lalu berlari. Aku kejar dia tanpa alas kaki, melewati hamparan pasir yang sebenarnya masih cukup panas di terpa panas matahari kala itu. Sesekali dia menghampiri ombak, aku terus mengejarnya, kami berdua tertawa riang. Dia terus mengolok-olokku, “Wei... ada yang lagi mimpi di siang bolong!” katanya sambil terus tertawa meledekku.
Kami sudah sama kelelahan berlari dan kami pun berhenti di sebelah ibuku yang tengah memasukkan ikan-ikan lemuru ke dalam tas plastik berwarna hitam yang memang dibawanya sedari rumah tadi. “Kapan perahunya datang? Kenapa tidak membangunkanku untuk turut membantu menarik jaring?” tanyaku pada ibu yang sesekali menyeka keringat di dahi keriputnya yang terpapar panas mentari.
“Ibu kasihan saja membangunkan kamu, Tini. Ibu lihat kamu tengah tertidur pulas sekali di bawah pohon waru,” sahut ibu sambil mengikat tas plastik warna hitam yang sudah penuh dengan ikan lemuru pemberian para nelayan.
“Bu... sebenarnya aku bukan sedang tidur tadi,” aku mencoba menjelaskan.
Sahabatku Ayudyah lalu tertawa menggodaku lagi, “Nggak tidur, cuma ngorok!” demikian katanya. Segera ibuku menghentikan candaan kami dan mengajak kami bergegas pulang.
Langkah kaki menyusuri pasir pantai nan hangat bersama terpaan angin dengan tatapan masih tersangkut di jaring para nelayan. Semangat para nelayan dalam menjaring ikan di lautan lepas menjadi teladan bagiku dalam menjaring impian yang kusebut sebagai cita-cita.
Keyakinan terpatri dalam hati tentang bagaimana aku telah melukiskan cita-citaku dalam pikiran pasti, bukan dengan cara tidur lalu bermimpi, namun dengan cara bertindak dan berusaha nyata selalu meraihnya dalam jaring-jaring usaha yang telah dan akan selalu kubuat. Tanpa ada kata menyerah pada lelah ataupun aral melintang. Akan kuraih cita-citaku itu dengan jaring usaha yang telah dan masih selalu ketebar. Teladan semangat dari para nelayan yang tiada pernah patah semangat dalam menjaring ikannya, aku pun tidak akan pernah patah semangat dalam menjaring impianku.
Other Stories
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...