Chapter 1 Pindah Ke Rumah Tua
Angin sore berhembus, namun terasa lengket, tapi buat Saretha dan Mario sepasang suami-istri, rasanya kayak angin surga. Akhirnya, setelah berbulan-bulan nabung mati-matian, mereka pindah ke rumah tua warisan kakek-nenek Saretha.
Rumahnya berdiri kokoh di pojok jalan dengan cat putih yang sudah mengelupas di sana-sini dan jendela kayu jati yang besar. Kuno banget, tapi juga punya daya tarik tersendiri.
"Lihat deh, Yang! Kayak rumah hantu di film-film," celetuk Mario sambil menurunkan kardus berisi buku-buku. Ia mengusap dahinya yang berkeringat, "Tapi aku suka! Ada aura damai gitu."
Saretha tertawa, "Aura damai apaan? Aura debu ini mah."
Ciit!
Ia membuka pintu kayu yang berat mengeluarkan bunyi derit panjang yang membuat mereka berdua saling pandang.
Di dalam, ruang tamu terasa dingin meskipun di luar matahari masih terik. Udara di dalam rumah berbau apak dan kayu tua. Jaring laba-laba ada di mana-mana, seolah menyambut kedatangan mereka.
"Kamu yakin kita bisa betah di sini, Mario?" tanya Saretha sambil mengelus dinding yang terasa dingin.
"Yakin banget! Kita kan pasangan petualang!" Mario memeluknya dari belakang, "Anggap aja ini tantangan. Kita sulap rumah hantu ini jadi sarang cinta kita. Kamu bagian bersih-bersih, aku bagian main games."
Saretha memukul pelan tangan Mario, "Enak aja! Bantu, lah!"
Mereka mulai memindahkan barang-barang. Setiap sudut rumah punya ceritanya sendiri. Ada lukisan pemandangan sawah yang usang, jam dinding besar yang sudah berhenti berdetak, dan tumpukan koran lama yang menguning. Saretha membayangkan kakek dan neneknya duduk di sini sedang membaca koran sambil minum teh. Ia merasa hangat, seolah-olah mereka masih ada di sana sedang mengawasi.
"Ada banyak barang antik di sini," kata Mario sambil menunjuk ke sebuah lemari ukir yang besar, "Kita bisa jual buat beli perabotan baru."
"Jangan, Mario," jawab Saretha cepat, "Ini barang peninggalan. Kakek pasti nggak mau kalau kita jual. Aku mau pertahankan semua, persis seperti aslinya."
Mereka menghabiskan sore itu dengan menyapu dan mengepel. Rumah itu mulai terasa lebih hidup, meskipun bau apak masih sulit hilang. Langit di luar berubah oranye, dan mereka memutuskan untuk istirahat. Di teras depan, mereka duduk di anak tangga sambil menatap rumah yang kini menjadi milik mereka.
"Akhirnya ya, Yang," bisik Saretha, menyandarkan kepalanya di bahu Mario, "Rumah ini terasa seperti pulang."
Mario mengangguk, "Iya, Sayang. Rumah ini bakal jadi saksi petualangan kita."
Saretha hanya tersenyum.
Other Stories
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...