Jodoh Nyasar Alina

Reads
554
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Cjapter 7 Reihan Dan Rahasia Jalan Pulang

Sore hari, setelah kencan buta yang berakhir dengan tragedi lele, Alina duduk sendirian di warung kopi depan gang. Ia memesan es teh manis dan hanya bisa menghela napas panjang. Tiba-tiba, sebuah motor berisik berhenti di depannya. Reihan, sang kurir, tersenyum.

Reihan, "Mbak Alina? Kok sendirian? Nggak jadi mancing lele?"

Alina, "Mancing? Itu sudah selesai. Aku rasa yang dimancing sama ibuku sendiri. Buat dijodoh-jodohin."

Reihan tertawa, "Saya denger ceritanya dari Pak RT. Katanya calonnya kabur gara-gara digigit lele."

Alina, "Iya. Semuanya aneh. Ada yang bawa durian, ada yang nyasar, ada yang kesurupan ikan. Aku capek, Reihan."

Reihan duduk di kursi kosong di depannya. Ia memesan kopi susu.

Reihan, "Mbak Alina capek kenapa? Capek dicariin jodoh, atau capek dapet jodoh yang aneh?"

Alina, "Dua-duanya. Aku cuma pengen kerja. Aku pengen punya karier. Aku udah susah-susah sekolah di luar negeri, tapi ibuku cuma mikirin aku nikah."

Reihan, "Jadi, Mbak Alina mau balik lagi ke luar negeri?"

Alina, "Pengennya sih begitu. Tapi, aku juga nggak bisa ninggalin ibuku."

Reihan menyeruput kopinya. Ia menatap Alina dengan mata yang serius.

Reihan, "Mbak tahu nggak? Kita itu kalau cari jalan nggak selalu harus lurus. Kadang, kita harus belok. Kadang, kita harus muter. Tapi yang penting, kita tahu di mana jalan pulang kita."

Alina mengerutkan dahi, "Jalan pulang? Maksudnya?"

Reihan, "Iya. Jalan pulang itu bukan cuma rumah, Mbak. Jalan pulang itu bisa jadi orang. Atau bisa jadi tempat di mana kita ngerasa nyaman. Mbak Alina kan sekolah jauh-jauh. Itu juga jalan pulang, Mbak Alina. Begitu juga Mbak Alina sekarang. Mbak mungkin nggak sadar, tapi Mbak lagi di jalan pulang."

Alina terdiam. Kata-kata Reihan terasa sederhana, tapi begitu dalam.

Alina menggelengkan kepala, "Aku nggak ngerti."

Reihan menjelaskan, "Gini deh. Mbak Alina sekolah di luar negeri, terus sekarang balik ke rumah. Itu kan jalan pulang Mbak. Nah, sekarang Nyak mau jodohin Mbak. Mungkin itu bukan jalan Mbak. Tapi, Mbak ketemu sama saya. Mungkin itu jalan lain. Tapi tetap, tujuannya sama. Pulang."

Reihan tersenyum. Alina tidak bisa menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang yang mengerti perasaannya, tanpa harus menghakiminya.
Alina tersenyum, "Makasih, Reihan."

Reihan, "Sama-sama. Saya juga makasih sama Mbak. Gara-gara Mbak, saya jadi tahu kalau lele itu bisa gigit orang."

Keduanya tertawa. Di tengah tawa itu, Alina menyadari sesuatu. Mungkin, jalan pulang yang sebenarnya tidak perlu dicari dengan kencan buta yang konyol. Mungkin, jalan pulangitu sudah ada di depannya. Datang setiap hari dengan mengantar paket dan senyum.

Other Stories
Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Download Titik & Koma