3. Senja Merona Di Largo De Lacider
Dalam kerinduan yang menahun, aku menapaki tanah Timor Lorosae. Perlahan kuhirup udara memenuhi rongga paru-paru, menghempas penat setelah terkungkung di dalam Boeing B-734 Merpati Nusantara MZ-8480. Meskipun sempat transit sebentar di Denpasar. Tapi sungguh, perjalanan beberapa jam ini sangat melelahkan. Presidente Nicolau Lobatu International Airport terlihat lebih tenang dibandingkan bandara di Jakarta. Sangat lengang untuk ukuran sebuah bandara internasional. Yang ada hanyalah beberapa helikopter yang konon milik PBB untuk mengawasi daerah perbatasan.
Meski lelah, raga ini terus kupaksakan menuju kantor imigrasi untuk mengurus Visa yang berlaku selama 30 hari keberadaanku di Republica Democratica de Timor Leste. Lamat-lamat kudengar sebuah lagu daerah saat berhadapan dengan seorang perempuan berseragam di meja costumer service.
Bolelebo ita nusa lelebo
Bolelebo ita nusa lelebo
Malole simalole ita nusale malole
Malole simalole ita nusale malole
“Selamat siang, Kakak!” ujar perempuan itu ramah. Aku memberi seulas senyum seraya menyerahkan kartu pengenal—mencoba berinteraksi sebisa mungkin. Pada awalnya aku sempat bingung. Bahasa apa yang harus kupakai. Inggris atau Portugis? Untung saja sisa-sisa budaya Indonesia masih melekat di negara ini, jadi aku tak perlu susah payah dengan bahasa Inggrisku yang berantakan.
Dengan modal USD 30, aku telah menyelesaikan urusanku dengan petugas imigrasi. Entah berapa lama aku akan tinggal di sini. Tak mungkin satu bulan menetap. Dua atau tiga bulan, mungkin. Berharap saja bulan depan aku masih ingat untuk memperpanjang Visa, sebelum mereka akhirnya mengusirku seperti penjahat.
Dengan pengetahuan yang terbatas—kalau tidak mau dibilang bodoh—aku menyusuri sepanjang jalan di area depan bandara. Apa utusan dari Timor Development terlambat datang? Sialnya aku sama sekali tidak tahu seperti apa tampang orang yang akan menjemputku. Yang pasti lelaki itu bernama Juan Carlos Filippe Belo. Ya sudahlah. Kunikmati saja teriknya matahari yang membakar wajahku—semoga Teresa tidak kecewa melihat mukaku yang mulai kusam.
“Bom Dia[1]!” seorang lelaki berkulit gelap tak lama menghampiriku. Sebenarnya aku sudah menyadari keberadaannya sejak tadi. Tapi melihat tampangnya yang aneh, membuatku sedikit takut dan berusaha menghindar.
“Are you Maha Shandi Istanzia?” ujar lelaki itu.
“Sure,” masih dengan tatapan tanda tanya. Kuperhatikan lagi raut wajahnya. Jangan-jangan lelaki aneh ini adalah si Carlos itu? “Juan Carlos Filippe Belo?” tebakku.
“Benar!” dia terlihat senang saat kusebut namanya yang super panjang itu. Tak lama dia menyalamiku.
“Maaf, seharusnya sejak tadi saya menghampiri Anda,” Puji Tuhan dia bisa bahasa Indonesia.
“Nggak apa-apa. Malah tidak enak merepotkan Pak Juan Carlos.”
“Carlos,” sanggah lelaki itu. “Panggil saya Carlos saja.”
“Shandi. Panggil saya Shandi saja,” kutiru kalimatnya.
***
Carlos adalah tipe yang sama dengan Restu. Mulutnya seolah tak pernah lelah berkoar. Cerita sana-sini yang membuatku kesulitan untuk menimpal pertanyaannya. But, its ok. Sepertinya aku tak akan terlalu kesepian di kota ini. Sepanjang perjalanan kami yang super lambat—kudengar orang-orang di sini tidak pernah ngebut berkendara—Carlos bercerita tentang asal usul nama Lorosae yang berarti Matahari terbit. Tapi anehnya bendera kebangsaan mereka malah bergambar bintang yang baru terlihat setelah loromulu[2].
“Kamu bisa bahasa Portugis?” tanya Carlos.
Aku mengulum senyum. Boro-boro bahasa Portugis, Inggrisku saja masih berantakan. “Nope,” jawabku. Kadang aku khawatir juga. Saat sadar semua kantor, bangunan, dan nama jalan ditulis dalam bahasa Portugis.
“Sebenarnya tidak terlalu berpengaruh sih. Toh orang sini bisa dan mengerti bahasa Indonesia. Tapi setidaknya kamu harus bisa mengucapkan ‘obrigado’[3] dan ‘nada’[4] biar terasa akrab dengan mereka.”
“Ok. Obrigado!” kupraktikkan seraya menjabat jemari Carlos.
“Nada,” responsnya.
Penyambutan Carlos memang luar biasa. Sebelum akhirnya check in di Hotel Dili, aku dijamu berbagai kuliner lezat membantu perutku yang sempat berontak tidak karuan minta diisi. Kami singgah di Pantai Kelapa yang menyuguhkan berbagai makanan khas ala Timor Leste. Good Job, Dude. Sungguh, kuacungi jempol atas usahanya menyenangkanku.
“Carlos, kamu tahu di mana kantor KBRI?” tiba-tiba teringat tentang rencanaku mencari keberadaan Teresa.
Carlos terdiam sejenak, mencoba berpikir. “KBRI ada di daerah Palapaso. Nggak jauh kok dari sini. Ada masalah apa?”
“Nope…” rasanya aku tak perlu mengumbar masalah pribadi di depan lelaki itu. Bagus, petunjuk pertama telah kudapatkan. Berharap petunjuk selanjutnya akan semudah seperti saat ini.
Sore menjelang saat aku check in di Hotel Dili. Syukurlah, badanku sepertinya sudah tidak bisa diajak kompromi. Aku ingin berendam air panas dan tertidur di sana. Hotel ini tidak terlalu mewah—walau mereka menyebutkannya paling bagus di Kota Dili—yang pasti semua kebutuhanku tersedia, terutama akses internet yang kelak kuperlukan untuk berinteraksi dengan orang-orang di Magellan Realty.
Beruntung, Carlos tidak mendesakku untuk langsung mengurus proyek kami. Besok dia mengajakku jalan-jalan di pesisir Pantai Dili dilanjut survei ke kawasan Kampung Alor, lokasi proyek perumahan yang akan kami bangun.
***
Aku menikmati fajar pertama di Kota Dili didampingi secangkir teh hangat dan surat kabar berbahasa Indonesia. Terdengar sebuah lagu berbahasa Tetun yang berasal di kamar sebelah. Tak lama aku tersenyum sendiri. Teresa pasti sudah mahir berbahasa Tetun.
Ponselku berbunyi. Tak lama kuraih gadget itu di saku kanan. Dahiku mengerut. Siapa yang menghubungiku? Semenjak Carlos membelikanku SIM Card baru—SIM Card lama tidak berlaku di Dili—kemarin, aku belum memberi tahu siapapun nomor ponselku.
“Shandi. Maaf sepertinya aku tidak bisa datang. Ada urusan mendadak di rumah. Nanti sore aku ke sana. Kamu istirahatlah sebentar atau jalan-jalan di sekitar hotel. Gak apa-apa kan?” suara Carlos terdengar tergesa-gesa.
“Oke Kamu selesaikan aja dulu urusanmu.”
Kuhela napas panjang. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Kembali aku menyesap teh hangatku. Bayangan Teresa membangkitkan kembali gairahku. Ah, benar juga ini waktu yang tepat mencari tahu keberadaan kekasihku.
This is my lucky day. Aku berhasil mendapatkan peta Kota Dili dari petugas hotel. Mereka bilang Palapaso tidak terlalu jauh. Aku bisa memakai jasa taksi. Tak perlu berpikir panjang aku segera kembali ke kamar untuk berkemas.
Baru kali ini aku menaiki taksi tanpa mesin argo. Hei? Lalu aku harus bayar berapa? Untung tadi petugas hotel lagi-lagi membantuku bernegosiasi berapa tarif yang harus kubayar.
USD 3 akhirnya menjadi kesepakatanku dengan si sopir taksi yang siap mengantarkan ke KBRI. Lumayan mahal, tapi ya sudahlah. Aku hanya berharap bisa segera ke tempat itu. Sempat kulewati kantor World Bank yang berdiri begitu kokohnya dan beberapa kantor penting lainnya di sepanjang Jalan Avenida Dos Direitos Humanos.
Taksi tiba di KBRI selang beberapa saat kemudian. Sebuah gedung dua lantai dengan gaya arsitektur kuno nampak dengan lambaian sang saka merah putih tepat di tengah-tengah halaman gedung itu. Selesai membayar uang taksi, bergegas kumasuki tempat itu. Kantor KBRI terasa ramai. Banyak sekali orang hilir mudik—entah itu orang Indonesia atau warga negara Timor Leste. Yang pasti membuatku kebingungan mencari petugas yang bisa membantuku mencari alamat Teresa.
Hingga akhirnya dengan pasrah aku hanya bisa duduk mengantri di meja costumer service dengan nomor tunggu tiga puluh. Sementara saat ini petugas baru melayani antrian nomor sepuluh. Tak ada yang bisa kulakukan selain membaca koran berbahasa Indonesia yang mereka sediakan di ruang tunggu.
“Pak… silakan sekarang giliran Anda,” seseorang membangunkanku saat tertidur dengan koran menangkup di atas kepala. Ah Tuhan, berapa lama aku tertidur?
“Ah.. oh, Terima kasih,” aku mengusap tengkuk lalu tersenyum sedikit, mencoba menahan malu. Tubuhku beranjak tak lama kemudian.
“Ada yang bisa kami bantu, Pak?” perempuan di balik meja itu tersenyum hangat padaku.
“Saya mencari tunangan saya,” si costumer service malah mengerutkan dahi seolah tak mengerti maksud kalimatku. Oh Damn! Bagaimana ya cara menjelaskannya? Tapi sungguh, aku terlalu bersemangat sehingga sulit bersikap santun di hadapan petugas itu. Perlahan kujelaskan semuanya. Tentang Mariana Teresa, seorang tenaga pengajar yang bekerja di Timor Leste. Kini sedang dicari calon suaminya yang tiba-tiba hilang tanpa informasi. Seperti itu kira-kira penjelasan yang kupaparkan ke si costumer service.
Akhirnya petugas itu memahami maksudku. Tidak lama dia memeriksa file di komputernya mencari daftar WNI yang bertugas di Timor Leste. “Ibu Mariana Teresa mengunjungi Timor Leste bersama rombongan tenaga pengajar bulan Mei tahun 2013.” Perempuan itu memperlihatkan deretan nama yang tentunya terdapat nama kekasihku di sana. Tepat di bawah nama Clara Nadya. Hm… Clara Nadya, aku pernah ingat nama itu. Teresa pernah mengenalkannya padaku. “Kebetulan data kami saat ini belum update. Boleh minta waktu beberapa hari lagi. Kalau kami sudah mendapatkan informasi terbaru, segera kami hubungi Pak Shandi.”
Kuanggukkan kepala tanda mengerti. “Terima kasih,” bibirku terpaksa menyunggingkan senyum, lalu bangkit meninggalkan KBRI. Sempat kecewa, tapi tidak apa-apa. Meski harus pulang tanpa hasil apapun, setidaknya mereka mau mencari keberadaan Teresa.
***
Berbekal peta yang tergenggam sejak di hotel tadi pagi, aku berhasil menapakkan diri di Largo de Lacidere. Berteduh di ruang terbuka dengan atap bergelombang menciptakan seni arsitektur yang indah. Semilir angin dari arah pantai membuai wajahku yang hampir kepanasan. Efeknya pandangan mataku perlahan meredup. Tiba-tiba aku terkesiap saat seseorang meminta izin berbagi meja denganku.
“Maaf, boleh saya ikut duduk di meja ini?”
“Ya, silakan,” aku mengusap wajah, mengenyahkan kantuk yang hampir mempermalukanku. Perempuan itu duduk lalu mulai membuka laptopnya. Aku baru sadar tempat ini menyediakan akses wifi untuk publik. Dan ternyata bukan hanya dia, pengunjung lainnya pun tampak antusias dengan laptop yang mereka bawa dari rumah.
“Hm…” aku berdehem. Perempuan itu melirikku sedikit. “Wajah Anda familiar sekali. Anda orang Indonesia kan?” kataku.
Kali ini dia menatapku penuh. Mungkin sedikit menganalisa wajahku, siapa tahu diapun mengenal sosok lelaki di depannya. “Benar, saya orang Indonesia. Anda juga, bukan?” tebaknya. “Perkenalkan nama saya Clara Nadya,” dia menjulurkan lengannya.
Mataku mengerjap. Clara Nadya dia bilang? Pantas wajahnya tidak asing. “Clara Nadya? Ini Nadya temannya Teresa kan? Mariana Teresa,” kuperjelas nama kekasihku.
Perempuan itu menunjuk ke arahku seraya mengerutkan dahinya. “Bang Shandi?” tebaknya.
Aku mengangguk senang.
“Ya Ampun, Bang! Kapan datang ke Dili? Kejutan banget kita ketemu di sini,” tidak kalah senangnya, dia bersikap seolah baru bertemu kawan lamanya. Dan tentunya itu membuatku kikuk sendiri—aku tak begitu dekat. Hanya tahu Nadya adalah kawan Teresa.
“Abang baru tiba kemarin, ada proyek di kota ini,” Damn! Sejak kapan aku meng’abang’kan diri? umpatku dalam hati.
“Oh gitu. Berarti bakal lama ya?” aku menganggukkan kepala. “Seru dong bisa ketemu sama Teresa.”
Baru kali ini kuhentikan senyumku. Dan sialnya aku seperti tersekat kata. Bingung bagaimana harus menjelaskannya. “Abang… Abang belum ketemu Teresa.”
“Loh? Kok bisa gitu?”
Sungguh, aku malu kalau harus menjelaskan kebenarannya pada Nadya. Namun bila kusembuyikan keresahan ini. Kesempatanku mencari informasi keberadaan Teresa cuma jadi isapan jempol belaka. Ya sudahlah, akhirnya kuceritakan apa adanya pada Nadya.
“Aku gak tau harus bilang apa, Bang. Aku dan Teresa sudah lama berpisah. Kami ditempatkan di dua distrik yang berbeda,” lirihnya. “Tapi jangan khawatir. Aku pasti bakal bantu Abang. Nanti aku cari tahu ke teman-teman sesama guru. Siapa tahu mereka punya petunjuk,” Nadya kembali memperlihatkan wajah cerianya. Dan sungguh, aku sedikit terpesona dengan bibir ranum yang selalu menebar senyum itu. “Pinjam ponsel Abang,” pintanya.
Eh, apa maksudnya? “Hm… buat apa?”
“Buat simpen nomor aku lah. Siapa tahu Abang nanti pingin ketemu aku lagi,” ujarnya genit. Dan sumpah aku semakin gemas dibuatnya. Dengan sukarela kuserahkan ponselku. Bisa kulihat gerakan mulutnya saat membaca deretan nomor ponselku lalu menyimpan di ponsel miliknya sendiri. Perempuan polos seperti dia kok bisa ya jauh-jauh dari rumah? Aku tidak habis pikir.
Akhrinya sore ini kuhabiskan waktu berdua dengan Nadya. Menikmati senja merona di Largo de Lacidere. Ah,Teresa. Seandainya perempuan di sampingku ini adalah kamu.
Senja membawaku pada sebaris kenangan
Ketika wangi tubuhmu melekat pada raga
Terpadu sudah rangkaian kisah kita
Melekat erat seiring bayang jingga menyambut malam
[1] Bahasa Portugis ; Halo.
[2] Matahari terbenam
[3] Terima kasih
[4] Terima kasih kembali
Other Stories
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Dentistry Melody
Stella hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter gigi, bermain biola, dan bersama Ron ...