8. Terjebak Rasa
Sudah hampir satu jam aku menatap refleksi diriku di hadapan cermin. Entah berapa helai kemeja kubongkar pasang hingga semua berserakan di atas ranjang. Sial! Seharusnya kemarin aku sempatkan membeli sehelai kemeja yang pas untuk kupakai. Kenyataannya, aku masih terpaku dengan hanya berbalut kaos singlet.
Lamunanku tersadar saat terdengar bunyi bel di luar sana. Sontak aku menatap jam dinding. Sudah jam tujuh malam rupanya. Itu pasti Nadya. Bergegas kukenakan t-shirt seadanya lalu bergegas membuka pintu.
Benar juga. Saat kubuka pintu kayu ini, nampak Nadya yang sudah berdandan rapi sekali. Gaun berwarna merah mudanya pas dengan kulit dia yang putih bersih. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bergelombang hingga batas punggung.
“Abang kok belum bersiap-siap?” perempuan itu mengerutkan dahinya.
“Abang…” aku hanya bisa menggaruk hidungku yang tidak gatal. “Abang bingung mau pake baju apa.”
“Yaelah…” seru Nadya gemas. “Ayo sini aku bantu Abang cariin baju. Perasaan koleksi baju Abang bagus-bagus kok,” gumamnya. Sementara aku seperti anak bodoh yang membuntutinya dari belakang. Rupanya kebiasaan lamaku belum juga hilang. Setiap kali akan menghadiri suatu pesta, aku selalu mengandalkan Teresa untuk memilihkan pakaian yang pas untuk kukenakan. “Ya ampun, Bang! Ini kamar apa kapal pecah?” persis seperti ibuku setiap kali melihat kamarku yang berantakan.
Aku tertawa malu. “Iya. Tadi Abang abis gonta-ganti baju. Gak ada yang cocok.”
“Hm…” gumamnya. “Ok. Aku cariin ya, Bang,” tanpa menunggu banyak waktu, Nadya tangkas memilihkan kemeja dan celana yang pas untuk dipadupadankan. “Nah ini aja!” Ia memungut sehelai kemeja merah muda berukuran slim fit dan celana kaki berwarna krim.
“Merah muda?”
“Iya,” tukasnya mantap. “Biar kembaran gitu, Bang. Kan biar kelihatan kalau kita ini pasangan.”
Lagi-lagi celotehan Nadya membuatku ingin tertawa. “Terserah tuan putri saja,” perempuan itu menghampiriku lalu membantu memasangkan kemeja yang ia pilih ke badanku. “Sudah, biar Abang aja yang pasangkan,” ujarku kikuk. Namun bagaimanapun kami sudah terlanjur sedekat ini. Riasan make-up minimalis membuat Nadya terlihat istimewa. Dan sungguh, aku ingin menaklukkan lagi bibir ranum yang sejak tadi mengganggu konsentrasiku. Ia menyunggingkan senyuman, dan aku semakin tak berdaya oleh pesonanya. Selama beberapa saat kami saling bertatapan tanpa satu patah katapun yang terucap di sana.
“Ayo ah Bang, kita gak ada waktu lagi!” Nadya memecah keheningan di antara kami. Tak bisa dipungkiri, ia pun menyimpan gelisah di sana. “Sisiran yang bagus terus pake parfum yang kemarin itu. Aku suka parfum yang Abang pakai kemarin,” Ya, Hugo Boss selalu menjadi andalanku dalam berpenampilan.
***
“Kamu bawa kado atau amplop?” ujarku seraya mengendalikan kemudi mobil. Pemandangan indah pesisir pantai membuat mataku sedikit rileks. Sungguh, Kota Dili terlihat cantik dengan gemerlap lampu warna-warninya yang menghiasi malam. Malam yang sesuai untuk mengadakan pesta—di bawah sinar rembulan dan gemintang yang bertebaran di langit bulan Juli.
“Aku sudah siapkan kado dari jauh-jauh hari,” ia memperlihatkan sebentuk bungkusan yang ditata cantik dengan sehelai pita.
“Nanti dampingi Abang kalo ada yang ajak ngobrol ya? Abang takut gak bisa jawab pertanyaan mereka.”
Nadya memukul lembut bahuku. “Ah, biasa aja kali, Bang. Teman-temanku kan kebanyakan orang Indonesia juga. Masa iya gak bisa jawab pake bahasa Indonesia?” ujarnya seraya terkekeh.
“Siapa tahu, ada beberapa warga asli yang nyapa Abang pake bahasa Tetun,” timpalku.
“Bukannya Abang suka bawa kamus ke mana-mana?” candanya.
“Sebentar,” aku mengerayangi beberapa benda di atas dashboard. “Nah ini dia,” seruku bangga saat memperlihatkan sebuah kamus bahasa Tetun berukuran kecil.
“Ya Ampun!!” takjub Nadya. Kami tertawa di sepanjang perjalanan.
***
Hingar bingar di pesta pernikahan kawan Nadya. Perempuan itu berbohong. Kenyataannya banyak sekali para tamu yang bukan berasal dari Indonesia. Kebanyakan adalah warga lokal dan beberapa orang Portugis yang merupakan kerabat dekat si mempelai laki-laki. Namun yang menarik dari pesta ini tentu saja makanannya. Mereka menyajikan makanan khas Portugis. Dan sungguh lidahku tak henti-henti bergoyang setiap kali mengecap rasa Bacalhau A Carmelita—makanan serupa casserole berbahan ikan, sayuran dan gandum. Hingga tanpa sadar seseorang menghampiriku tepat saat Nadya berlalu untuk bertegur sapa dengan beberapa kawannya.
“Bon Noite,” tegur seorang perempuan berkulit cokelat itu. Dia memakai gaun panjang berwarna biru yang nampak kontras dengan warna tubuhnya.
“Ya?” sontak jawabku tanpa persiapan kata. “Bon Noite,” jawabku sekenanya tanpa peduli jawabanku salah atau benar. Namun lewat tawa kecilnya bisa kupastikan aku telah salah menjawab sapaannya.
“O di\'ak ka lae?”[1]
“Di’ak obrigadu[2].” baiklah, kurasa itu adalah jawabannya. Bibirku tersungging sekedar menghilangkan rasa nervous.
“Hau nia naran Maria[3].” Ia menjulurkan tangannya. Sementara aku hanya bisa tersenyum seraya membalas jabatan tangan itu. “Ita nia naran saida[4]?” waduh, dia tanya apa sih?
“Hau nia naran Shandi[5],” aku sedikit membuka kamus tetun yang sempat kusimpan di saku kananku.
“Ita ko\'alia Inggris[6]?”
Sedikit bingung akhirnya aku membuka-buka lagi kamusku. “Hein lae, hau hare’e kamus uluk.”[7]
“Husi nebe[8]?” sepertinya perempuan itu tidak sabaran.
Aku mendongak. “Husi Indonesia,” jawabku simpel.
Lagi-lagi perempuan gelap itu menyunggingkan bibirnya. “Oh, kamu orang Indonesia rupanya? Sekilas wajahmu seperti orang Korea. Kupikir kamu tak bisa bahasa Indonesia,” aku tersenyum lega. “Liburan di sini? Atau sekedar menghadiri pesta pernikahan kawan?”
“Sebenarnya…”
“Maria…” belum sempat kulanjutkan kalimatku, Nadya datang dengan membawakan dua gelas minuman.
Perempuan itu menoleh dan tersenyum tipis pada Nadya. “Hei kejutan sekali?” dia mencium pipi Nadya.
“Kamu sudah kenalan sama Bang Shandi?”
“Hm? Him? Are you with him?” ujung matanya sempat menoleh ke arahku. “Jangan bilang kalau lelaki ganteng ini pacar barumu?” selidik Maria.
“Maria!” Nadya menggenggam pergelangan tangan temannya itu.
‘It’s ok, Dear. Sudah saatnya kamu move on. Biar Phillipe tenang di alam sana. Dia takkan marah kamu memiliki pacar baru.”
Dahiku mengerut. Phillipe? Pacar Nadya kah?
“Maria!’ tegas Nadya. Dahinya mengerut pertanda amarah.
“Kamu tidak usah pedulikan orang tuanya yang selalu menuduhmu sebagai penyebab kematian Phillipe. Itu memang sudah takdirnya, kamu ha…
Sepertinya Nadya mulai kehabisan kesabaran. Tanpa ragu menutup mulut Maria dengan jemarinya. “Sebentar ya Bang, kayaknya temenku ini sedang mabuk,” sementara Maria memberontak dari jemari yang membungkam mulutnya, namun Nadya tak peduli, ia terus menyeret Maria hingga bayangan keduanya menghilang dari pelupuk mata.
Setelah terdiam beberapa saat, kuputuskan untuk mengekor mereka. Penasaran juga kenapa sikap Nadya seagresif itu saat menyinggung nama lelaki yang mungkin kekasihnya. Aku ingat mereka berjalan ke sisi kanan menuju taman belakang. Maka kuikuti petunjuk itu. Semakin dalam suasana berangsur sepi. Benar dugaanku. Kedua perempuan itu beradu mulut di dekat sebuah patung tepat di tengah taman tersebut. Sepertinya Nadya marah gara-gara Maria menyebut nama Philipe di depanku. Tapi kenapa? Toh aku sendiri tak merasa terganggu atau cemburu. Kecuali jika dia memang ingin merahasiakan soal Philipe yang katanya sudah meninggal. Oh iya! Mungkin Nadya ingin melupakan masa lalunya dan tak ingin siapapun menyibak kembali kenangan itu, analisaku dalam hati.
Tak sengaja kakiku menginjak sebuah kaleng bekas minuman, mereka akhirnya memergokiku.
“Bang Shandi?” lirih Nadya dari jarak sepuluh meter.
“Ah… maaf. Tadi Abang niatnya mau ke toilet. Tapi gak tau ada di mana tempatnya. Eh, malah nyasar ke sini,” timpalku linglung. “Ya sudah, Abang kembali lagi ya?” tak menunggu lama aku bergegas berbalik arah meninggalkan mereka.
“Bang! Tunggu sebentar, Bang!” mungkin Nadya merasa tidak enak dengan sikapnya sendiri hingga ia berinisiatif mengejarku.
“Ada apa?” aku tersenyum seolah tak tahu apa yang terjadi.
“Maaf soal kelakuanku barusan. Aku…”
“Hei… itu bukan urusan Abang. Kamu selesaikan saja dulu urusanmu dengan Maria,” Aku memotong ucapannya. “Kamu tenang aja, Abang ada di depan sambil nyicip-nyicip makanan yang mereka hidangkan.”
“Gak kok, urusanku sudah selesai dengan Maria,” balas Nadya. “Ayo ah Bang, ke depan lagi. Ia mengaitkan lengannya ke sikuku.
See? Nampaknya mood Nadya semakin memburuk sejak pertengkaran tadi. Entah berapa gelas ia meminum gelas beralkohol itu. Namun sepertinya ia menikmati minuman yang ia genggam, meski seraya berdansa denganku.
“Nad, istirahat dulu. Abang capek dansa terus,” aku melepas dekapan dari tubuh Nadya lalu melangkah menuju kursi. Iyalah, acara puncak pesta ini diakhiri dengan acara dansa yang entah sampai kapan berakhir. Padahal waktu telah menunjukkan ke arah jam satu pagi. Nadya membuntutiku dari belakang. “Emangnya acaranya berakhir jam berapa sih? Kok tamunya gak pulang-pulang?”
“Ini bisa sampai pagi, Bang. Ya begitulah kebiasaan mereka. Menghabiskan malam sambil berdansa sampai pagi.”
“Tapi kita gak bakal pulang pagi kan? Abang capek, pingin tidur,” alasanku.
Perempuan itu tertawa renyah. Ya Tuhan! Efek mabuknya belum juga berakhir. “Ya udah, kita pulang sekarang aja,” ujarnya seraya meraih segelas alkohol di meja sebelah.
Belum juga sempat Nadya menenggaknya, aku refleks merebut gelas itu. “Sudah! Sudah! Kamu kebanyakan minum, Nad,” aku mengembalikan minuman itu ke tempat semula. “Ayo kita pulang,” kutarik paksa jemari tangannya. Perempuan itu sempat berontak, namun aku tak peduli. Sudah cukup hingar bingar musik dansa ini, kepalaku pusing dibuatnya.
***
Malam yang sangat sunyi. Aku dan Nadya diam terpaku seraya menatap jalanan yang lengang di depan. Jauh dalam hati aku ingin membahas soal lelaki bernama Phillipe. Entah kenapa, aku sedikit penasaran dengan lelaki itu. Lelaki yang katanya telah meninggal dan menjadikan Nadya sebagai penyebab kejadian tersebut.
“Kamu sudah baikan?”
“Hm?” Ia menoleh ke arahku. “Ya, aku baik-baik aja,” ujarnya seraya meyunggingkan bibirnya. “Maaf ya, Bang. Kayaknya malam ini aku merusak suasana,” aku tak menjawab, hanya memberi seulas senyuman. Hingga akhirnya mobil kami melintasi pesisir pantai. “Bang, boleh berhenti dulu gak? Aku pingin jalan-jalan di pantai.”
Aku menoleh dengan dahi mengerut, menyiratkan keengganan. “Ini udah mau pagi loh, Nad!” seruku. “Kamu gak takut, apa?”
“Bentaar aja,” pintanya.
Aku menghela napas. Energiku telah habis walau hanya sekedar mengadu argumen dengannya.
Selepas beranjak dari jok mobil, perempuan itu berlari kecil menuju gulungan ombak di pantai kelapa. “Malam ini cerah sekali, ya Bang?” serunya. “Lihat di atas sana! Bulan terbentuk sempurna ditemani bintang-bintang.”
Perlahan aku menghampiri seraya tersenyum menyetujui pendapatnya. “Langit malam ini memang romantis, Nad,” tambahku. Seketika perempuan itu menoleh kepadaku. Sesaat aku tertegun. Baru kusadari ia begitu mempesona. Matanya yang bulat sempurna dengan alis yang melengkung indah. Namun perlahan aku mulai menyadari ada bulir kristal di sudut matanya yang mungkin tak lama lagi mengalir di pipi. Ragu-ragu Nadya menyunggingkan senyumannya.
“Namun langit tak pernah romantis kepadaku,” lirihnya.
“Maksud kamu?” aku semakin mendekat.
“Aku tidak pernah beruntung meski cinta berulang kali menghampiri,” benar juga, kantung matanya tak sanggup menampung luapan butiran kesedihan di sana. “Dunia tak pernah adil padaku, Bang. Ketika aku mulai mencinta, begitu ia menghempaskannya kembali.”
“Nadya…” aku semakin bingung bagaimana harus bersikap. Perlahan jemariku bergerak membelai pipinya, mencoba menyapu air mata yang terlanjur berjatuhan. “Tak mungkin dunia berlaku tak adil padamu. Kamu gadis baik, Nad,” hiburku. “Coba terima semua anugrah hidup ini dan nikmati. Kamu akan sadar ucapanmu adalah salah.” tambahku. Aku menyunggingkan seulas senyum. “Lihatlah Abang. Abang mungkin memiliki masalah yang sama denganmu. Ketika wanita yang Abang nanti menghilang tanpa jejak. Hati Abang sungguh pilu. Tapi Abang tidak mungkin terus berputar di zona kesedihan ini hingga berlarut-larut. Abang harus mencari jalan keluar. Ya, datang ke negara ini demi mencari tahu semua misteri yang membelenggu hati Abang.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan Bang? Saat semua orang mengucilkanku bahkan menyalahkanku seperti seorang penjahat! Aku harus berdiam diri terus?” bela Nadya. Air mata perempuan itu tak kunjung juga berhenti.
Tak ada yang bisa kulakukan selain memeluknya. Entah kenapa aku mulai peduli pada perempuan ini. Seolah kebahagiaan dan kesedihannya menjadi tanggung jawabku. Kami berpelukan lama mencoba saling mengisi kekosongan hati aku dan dia. Hangat, semua menjalar perlahan hingga menembus palung hati terdalam.
Tak lama aku melepaskan dekapanku. Air mata mulai berhenti mengalir di pipinya. Aku mencoba tersenyum namun perempuan itu hanya menatap ke kedalaman mataku. Tuhan! entah kali ke berapa kami begitu dekat. Seperti saat ini, hatiku bergejolak luar biasa. Sebuah perasaan yang sungguh tak berani kuartikan, namun sangat kunikmati desirannya. Tak lama Nadya menyunggingkan bibirnya. Sungguh aku tak kuasa menahan rasa ini. Perlahan wajah kami semakin mendekat, hingga akhirnya bibir kami saling mengadu dan mulai menikmati sensasi manisnya.
“Maafkan aku, Bang. Tanpa sengaja aku mulai mencintai Abang,” lirihnya saat kami melepas ciuman.
Aku bergeming. Karena satu sisi di hatiku tak bisa kupungkiri. Ada rasa yang tak berani kuungkapkan. Meski pada akhirnya dia mengucap cinta terlebih dahulu. “Abang tak ingin membuatmu sedih. Entah kenapa Abang ingin menjagamu. Memastikan semua baik-baik saja. Di sini, di samping Abang,” tanpa sadar aku meletakkan jemari perempuan itu di dadaku.
Langit Kota Dili menjadi saksi kisah cinta terlarang ini. Saat kusadari hatiku terjebak rasa, kalah dari keyakinan yang kugenggam, untuk setia pada satu nama. Kenyataannya aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok, lusa atau di masa depan. Yang kuyakini aku ingin bersamanya malam ini, terjaga hingga fajar menyongsong.
[1] Hai apa kabar?
[2] Baik-baik saja. Terima kasih.
[3] Nama saya Maria
[4] Siapa namamu?
[5] Namaku Shandi.
[6] Anda Berbahasa Inggris?
[7] Sebentar, saya buka kamus dulu.
[8] Berasal dari mana?
Other Stories
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...