11. Setiaku Dan Setiamu
Waktu berlalu seiring kisah yang tak berkesudahan. Tentang rasa kecewa yang seolah tak mau pergi dari hidupku, tentang rasa sepi yang hinggap tanpa tahu sejak kapan rasa itu menghampiri, dan tentang mimpi yang hingga kini tak pernah menjadi nyata. Di sinilah aku berada, di sudut ruang penuh hingar bingar suasana pesta. Aku memang seorang kawan yang tak tahu diri. Saat seorang sahabat tengah merayakan hari pernikahannya, aku dengan egoisnya masih memelihara rasa sepi seorang diri.
“Lo kenapa sih, Bro? kayak gak bisa liat situasi aja. Lihat di sana sahabat kita sedang merayakan hari bahagianya. Lo gak berhak membuat Riza dan Nita bersedih melihat tampang memelas lo itu. Sebaliknya, lo harusnya terlihat ceria. Beri aura kebahagiaan untuk mereka.”
Aku mengangguk perlahan. “Sorry, Bro. Gue merasa gak enak sama mereka. Tapi sungguh, mood gue lagi gak bagus hari ini.”
“Kapan mood lo bagus? Semenjak kembali dari Dili, gue kayak kehilangan sosok Shandi yang gue kenal. Lo berubah terlalu drastis, Bung!”
“Benarkah gue seberubah itu?”
Restu menggelengkan kepalanya. “Keluar yuk, gue pingin merokok.”
Tanpa satu anggukan setuju aku mengekor lelaki itu menuju teras di gedung resepsi ini.
“Jadi ini masih tentang Teresa?” terka Restu setelah menyalakan sebatang rokok. “Gue kadang heran sama lo. Waktu Teresa gak ada, lo uring-uringan bukan main. Eh, setelah Teresa balik lo kayak hidup tersiksa kayak gini.”
Aku enggan menjawab, yang kulakukan hanya menyalakan sebatang rokok lalu menghirupnya dalam-dalam.
“Lo udah gak cinta lagi sama dia?” aku mendongak. Restu memang selalu menebak-nebak hal yang di luar dugaan. Dan sungguh terkaannya barusan tepat sasaran menusuk hatiku.
“Ini bukan masalah perasaan gue. Tapi tentang Teresa,” gumamku. “Lo tau? Anthony datang ke Jakarta.”
“Oya? Ngapain?”
“Ngakunya sih urusan pekerjaan. Tapi gue yakin dia ada niat terselubung di balik itu. Mereka ketemu intens. Coba bayangin, Res, siapa yang nggak cemburu?” aku menghela napas panjang. “Dan lo tau? Semenjak kembali dari Dili tiga bulan yang lalu, ia seperti enggan membahas rencana pernikahan kami.”
“Dan lo menyangkutpautkan Anthony di balik perubahan sikap Teresa?”
“Ya. Karena sejak bertemu dengannya, Teresa menjadi berubah.”
“Lalu lo sendiri? Lo nggak merasa berubah sejak ketemu Nadya? Sorry Bro, kali aja Teresa melihat hal yang sama sepertimu.”
“Seandainya benar Teresa selingkuh. Berarti kami melakukan kesalahan yang sama. Tapi meski seperti itu, seharusnya ia mampu memilih. Seperti gue… yang akhirnya melepas Nadya.”
“Dari nada suara lo, gue bisa tebak lo nyesel tinggalin Nadya, benar?”
“Meski nyesel, gue memang gak layak buat Nadya. Dia gak pantas disakiti seperti ini.”
“Entahlah saran apa yang harus gue beri. Tapi cobalah lo bangun komunikasi sama Teresa. Sepertinya selama ini kalian sudah tidak bicara lagi dari hati ke hati. Cari waktu yang tepat lalu bicarakan semuanya baik-baik. Lo ajak dia dinner, mungkin?”
***
Kuikuti saran Restu. Aku mengajak Teresa makan malam di Love Hurt Café. Sengaja kupilih tempat ini sebagai satu-satunya saksi akan cinta kami. Tempat di mana aku pernah melamar Teresa dan melakukan hal konyol sebelum pernyataan lamaranku.
“Kamu masih ingat kejadian waktu aku melamar kamu?” kugenggam jemari perempuan itu.
Teresa tertawa kecil. “Mana mungkin aku lupa.”
“Ya… ya… ya, tertawakan aku terus! Hari itu aku terlalu gugup sampai-sampai lupa di mana kuletakkan cincinnya. Untung kamu menyimpannya untukku,” aku ikut tertawa. “Aku rindu Es Krim Patah Hati. Mungkin setelah makan aku pingin pesan. Kamu mau?”
“Nggak, aku lagi diet,” timpal Teresa.
Hening. Aku kehabisan objek pembicaraan. Dan sialnya Teresa seperti malas berbicara panjang lebar denganku. Biasanya dia selalu cerewet berbicara segala hal. Kawan-kawannya, pekerjaan, bahkan ibunya—Tante Monica.
“Sayang…”
“Hm?”
“Mari kita segera menikah.”
“…”
“Selama ini kita menyia-nyiakan banyak waktu. Seandainya kita persiapkan sejak tiga bulan yang lalu. Hari ini kita sudah berada di depan penghulu,” ujarku lembut.
“Shan…” perempuan itu terdiam lagi seolah menimbang-nimbang kalimat yang akan ia ucapkan. “Kita belum sesiap itu,” lirihnya.
“Aku siap Teresa.”
“Aku yang belum.”
“Lalu kapan kamu akan siap? Sampai aku bosan menunggu?”
“Shandi!” gertak Teresa.
“Apa ini karena si brengsek Anthony?” aku mulai kehabisan kesabaran.
Teresa menatapku tajam. “Kamu kelewatan Shan! Sudahlah aku pergi. Aku malas meladenimu!”
“Hahaha… selalu begitu. Kamu menghindar setiap kali terpojok,” seruku saat Teresa telah melangkah lima meter dari meja kami.
Teresa berbalik, terlihat amarah dari guratan dahinya. “Kamu jangan kayak anak ABG! Ngajak bertengkar di tempat umum seperti ini!”
Aku bangkit lalu mendekatinya. “Baik, ayo kita bicara di dalam mobil saja.”
Aku melangkah cepat menuju pelataran parkir, diikuti oleh suara high heel Teresa. Mungkin inilah puncak amarahku saat Teresa terang-terangan menolak pinanganku. Kita lihat saja, benarkah Anthony penyebab perubahan sikap Teresa?
“Baik. Kita sudah di dalam. Sekarang ceritakan apa yang kamu lakukan bersama Anthony.”
Hening. Kucoba meredakan emosi ini dengan sebotol air mineral. Sialnya Teresa masih juga bergeming. Bisa kupastikan itu adalah isyarat bahwa ia melakukan pengkhianatan itu.
“Sudah berapa lama ini terjadi?”
“Enam bulan yang lalu.”
“Brengsek…” lirihku seraya mengusap kening. “Kamu tega sekali Teresa.”
“Maafkan aku, Shan. Aku…”
“Bisa kamu lepaskan dia buat aku,” potongku. “Lupakan semua masa lalu. Kita mulai lagi dari awal. Aku ikuti maumu jika memang belum siap untuk menikah. Tapi kumohon tinggalkan Anthony.”
“Aku tidak bisa, Shan.” Teresa akhirnya menangis.
“Kamu sepertinya sangat mencintai dia. Sampai tidak ingat siapa sebenarnya kekasihmu.”
“Lalu kamu sendiri? Apa benar kamu mencintaiku sebesar itu?”
“Demi Tuhan, Teresa! Aku mencintaimu. Untuk apa aku mendesakmu terus mengajak menikah!” gertakku.
Teresa merogoh sesuatu dalam tasnya. “Kalau begitu jelaskan ini?” beberapa helai foto ia lemparkan tepat di wajahku.
Aku memungut helai demi helai lembaran yang berserakan di sofa mobil. Astaga! Itu fotoku bersama Nadya.
“Sekarang kamu bungkam, bukan? Ayo jelaskan sebesar apa cintamu padaku?”
“Setiaku bersimpangan dengan setiamu. Mungkin harus kutunjuk dia untuk menilai siapa yang salah di antara kita,” lirihku.
“Siapa maksud kamu? Nadya?”
“Bisa juga Anthony!” timpalku.
“Tak perlu, sekarang semua telah jelas. Kita telah melakukan hal yang sama. Untuk apa kita lanjutkan hubungan yang saling menyakiti seperti ini?’
“Setidaknya aku telah melepaskan Nadya. Kamu pun bisa melepaskan Anthony.”
Teresa menggeleng. “Maaf aku tidak bisa.”
“Jadi, kamu memilih melepaskanku?”
***
Tak bisa selamanya aku menanggung amarah ini. Luka yang Teresa rajamkan memang tepat mengena di dasar hati. Yang perlu kulakukan saat ini hanyalah sekedar menyembuhkan luka, meski sebenarnya aku tak ada daya menangkal rasa sakit ini. Usaikan dendam ini, aku hanya ingin bahagia meski Teresa tak di sampingku lagi.
Sebentuk refleksi dirinya terbayang dalam lamunan. Wanita yang sempat kupermainkan hatinya. Rasanya tidak adil saat kupaksakan memilih di antara yang kucinta, namun tercipta sesal pada akhirnya. Kali ini sungguh tak bisa menopang rasa sakitku. Hati kukuh meminta Nadya tuk kembali, seyakin ia mencintaiku.
Sulit kutangkap dengan nalarku. Bagiamana hati berbelok arah dari poros yang seharusnya. Namun pada akhirnya kusadari ini adalah jawaban atas pengkhianatan kekasihku sendiri. Hidup akan selalu menuntunku pada kebaikan. Dan aku mulai memercayainya.
Dingin sekali malam ini. Aku yang menggigil hanya menggenggam sekaleng bir. Lukisan malam di Jakarta tak pernah sama lagi. Yang lekat dalam ingatan selalu tentang satu malam di Kota Dili. Ketika kami berdansa di antara gemintang dan rembulan yang mempercantik rona wajahnya. Dan kami semakin terbuai oleh buncahan cinta yang memabukkan.
Abang rindu kamu Nadya.
***
Other Stories
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...