Chapter 3
“Saya butuh laporan tiga bulan terakhir, sebelum makan siang ini!”
Hanya sebaris kalimat dan Aria kembali membalikkan badan. Meninggalkan Rhe dan kedua temannya saling bertukar pandangan sesaat dan kemudian melakukan high five di udara tanpa suara.
“Kamu yang maju,” kata Dhika sambil menunjuk tumpukan berkas di sebelah kakinya.
Mereka sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk prosedur stock opname. Memang menyenangkan ketika bisa bekerja dalam tim yang sama-sama solid soal pekerjaan. Demi kelancaran bekerja? Bukan. Mereka sepakat bahwa pekerjaan yang ditunda akan menyebabkan waktu bersenang-senang ikutan tertunda.
Rhe memutar matanya. Dia sudah mengira tapi dengan keadaan hatinya yang baru saja mengalami serangan asing sepertinya dia tidak siap. Tapi tidak mungkin juga untuk berkelit.
Di depan pintu, Rhe berhenti. Dia tahu di belakangnya Jihan dan Dhika sedang mengawasi gerak-geriknya. Mereka berdua lupa kalau kaca di jendela ruangan Supervisor bisa memantulkan bayangan wajah mereka.
Sebuah helaan napas sudah diambil dengan keyakinan penuh dan dihembuskan dengan khusyuk pula. Cukup? Tidak. Rhe butuh menarikhembuskan napas sampai lima kali, sampai terdengar suara-suara sebal dari belakangnya dan ketika akhirnya dia yakin pintu ruangan admin tertutup lagi, Rhe mengetuk pintu.
Tanpa menunggu jawaban, Rhe membuka gerendel dan melangkah masuk. Aria mengabaikannya tentu saja. Wajahnya tertunduk, mencermati kertas di hadapannya.
Rhe mengangsurkan berkas di tangannya ke meja. Wajah Aria mendongak. Mata mereka bertemu.
Rhe menahan napas. Mata itu lagi-lagi mengoyak kedamaian jantungnya.
“Laporannya, Pak,” kata Rhe kemudian.
Aria membalasnya dengan melirik ke jam meja. Badannya dimundurkan ke sandaran kursi, tangan kiri di atas perut ratanya dan Rhe merasa mual membayangkan betapa ratanya perut itu pastinya, sementara tangan kanan Aria memijat tengkuk. Rhe ingin sekali segera keluar. Akhirnya Rhe memutuskan mengalihkan pandangannya ke berkas yang tadi dia bawa.
Kebisuan itu membuat Rhe tidak nyaman. Dia tahu Aria sedang mengawasinya.
“Kalian sudah siap-siap ternyata,” suara itu terdengar dingin.
Rhe mengangguk kecil. Sesaat dia tergoda untuk beradu pandang lagi tapi akhirnya dia memutuskan tetap menatap ke meja.
“Tapi ceroboh...” sebuah tangan bergerak cepat di atas meja dan lembaran kertas yang tadi dihadapi Aria sudah berada di hadapan Rhe.
Rhe spontan mundur ke belakang.
“Siapa yang menyiapkan laporan penjualan bulan ini?”
“Saya.”
Dan tepat di hadapan Rhe, dengan cepat Aria membagi kertas itu menjadi delapan bagian dan melemparnya ke udara. Lalu kembali duduk, kali ini kursi diputar dan membelakangi Rhe.
“Sebelum makan siang, revisinya sudah ada di meja!”
Tanpa berpikir panjang, Rhe segera menunduk dan balik badan. Membuka pintu dan menutupnya dengan pelan. Lalu bergegas masuk ke ruangannya. Mengambil bantal sandaran kursi, membenamkan wajahnya di sana dan berteriak sekeras-kerasnya.
***
“Makan dulu,” Jihan menyodorkan bungkusan di meja.
Rhe menggeleng.
“Nggak perlu segitunya kali, Rhe. Kamu sudah bolak balik revisi tiga kali. Sudah lewat makan siang. Nggak akan dibunuh kali kalau kamu nyela waktu buat makan bentar.”
Rhe memasang earphone. Dan kembali menatap layar komputer. Jihan mengangkat bahu dan kembali ke komputernya.
Tiga kali bolak-balik revisi dan belum beres juga, rasanya Rhe ingin melemparkan dirinya ke dalam kolam renang. Mungkin dua kali putaran bisa mengencerkan otak bebalnya. Masalahnya dia nggak tahu salahnya di mana dan Aria sama sekali tidak memberikan petunjuk apa-apa. Main sobek kertas di hadapannya.
Dhika. Sejak jam sebelas siang tadi anak itu pamit keluar dan belum kembali.
Rhe melihat sekelilingnya. Sepi. Di layar komputer Jihan yang sudah gelap, tertempel kertas bertuliskan,
Pulang duluan, ya. Jangan lupa makan.
Kertas itu diambil Rhe dan ditempelkan di meja. Dia melirik jam dinding. Setengah enam sore. Pantas saja sudah sepi.
Rhe mendengar suara orang bercakap-cakap. Perlahan dia berjalan keluar ruangan dan mengarahkan langkah ke ruangan sales. Pintu terbuka dan Rhe melihat Dhika di sana. Dhika melirik sebentar ke arahnya sebentar lalu kembali fokus ke orang di hadapannya yang duduk membelakangi pintu.
“Jadi, laporan itu nggak ada yang salah?”
Terdengar tawa kecil. Kursi itu bergerak ke kanan kiri sedikit. “Enggak.”
“Kenapa disobek? Tiga kali dan Rhe sedang membuat revisinya lagi.”
“Dhik, kamu punya teman potensial tapi tidak tahu apa yang dia kerjakan.”
Dhika spontan terbahak-bahak. Tanpa melihat Rhe. Dan Rhe sudah cukup melihatnya.
***
Other Stories
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...