Chapter 2
Pintu bagian kanan terbuka. Tampak lengan yang terjulur seiring melebarnya pintu. Kaca kantor yang bening menjelaskan bahwa tangan itu begitu bersih dan kukuh. Disusul kaki kanan berbalut celana hitam dan bersepatu hitam licin mengkilat dengan mantap menjejak tanah. Separuh badan mulai muncul. Berbalut kemeja biru laut lengan pendek. Rhe menahan napas.
Dia belum pernah melakukan hal seperti ini. Mengintip orang lain. Rasanya seperti mengintip orang mandi. Eh, ini juga dia belum pernah. Rasanya seperti apa, ya? Ah entahlah. Aneh dan justru dia sendiri yang jengah. Tapi keingintahuan tentang sosok absurd itu mengalahkan perasaan jengahnya.
Akhirnya tubuh itu keluar sempurna dari badan mobil. Berdiri tegap di samping mobil. Rhe nyaris memekik. Spontan tangannya menutup mulut. Bagaimana dia harus menggambarkan sosok absurd yang menjadi bahan obrolan teman-temannya.
“Orang jahat” versi Jihan itu di pikiran Rhe, badannya tinggi besar cenderung berotot gede kayak centheng, mukanya lebar dengan kumis melintang, mata bulat besar berwarna kemerahan karena sering marah-marah, ada cincin besar di jari-jarinya yang segede lengkuas, baju berwarna norak, kancing baju terbuka... Baiklah itu terlalu berlebihan. Tapi setidaknya gambaran Rhe bertolak belakang dengan apa yang dia lihat di bawah sana.
Tangan kukuh putih itu sepadan dengan badan tegap yang menjulang di samping mobil yang dikenal gagah itu. Perpaduan serasi antara pemilik dan propertinya. Berapa tingginya? Pasti lebih dari 170 senti meter. Rambut yang dipotong rapi. Dengan sisiran rapi.
Ups, dia berkacak pinggang. Melihat sekeliling. Rhe pernah mendengar Pak Aria pernah ke sini tapi itu sebelum dirinya kerja di sini. Mungkin dia sedang membandingkan suasana sekarang dengan dulu.
Kepala itu mendongak. Tepat ke jendela di mana Rhe berdiri lalu beralih ke arah kanan. Selain ruangan admin, ada ruang rapat yang jendelanya menghadap ke area parkir mobil. Rhe merapatkan tubuhnya di dinding dan kembali melihat ke bawah.
Gambaran “orang jahat versi Jihan” itu benar-benar lenyap dari pikiran Rhe. Lihatlah wajah itu. Bersih. Bercahaya. Oh itu karena sinar matahari pagi yang tepat mengenai puncak kepalanya. Tapi memberi efek yang menghipnotis di wajah itu. Dari jarak sejauh ini, Rhe menyimpulkan proporsi antara kening, alis, mata, hidung, bibir, dan dagu itu pas ada di wajah itu. Pak Aria mulai berjalan menuju pintu. Langkah-langkah yang diayun begitu tegap. Dengan lambaian tangan mantap.
Rhe membuka tirai penuh. Membiarkan cahaya matahari menerobos jendela ruangannya. Berpindah-pindah menata tumpukan buku yang berserakan di meja. Merapikan filling kabinet. Terakhir dia duduk di tempatnya. Menyalakan komputer. Dan merutuki dirinya, bahwa seharusnya komputer itu dia nyalakan pertama. Bukan ketika Pak Aria saat ini tengah meniti tangga ke atas.
Tapi apakah dia langsung naik ke atas? Bisa saja dia melihat-lihat lantai bawah dulu. Selain gudang hanya ada ruang sales. Jam segini ruang-ruang itu kosong.
Rhe teringat sesuatu. Dia melesat keluar ruangan. Hampir menabrak pot bunga di samping pintu ruangannya. Sejak kapan ada pot bunga di sini? Kenapa saat masuk tadi dia tidak menyadarinya?
Lantai dua ini jika dibagi menjadi dua baris, maka baris pertama ada ruang admin, anak tangga, dan ruang rapat. Ruang admin di sebelah kiri tangga. Sebelah kanan tangga ada ruang rapat, dengan balkon yang akan memberi efek pemandangan indah kalau malam. Karena kantor ini ada di wilayah Semarang atas. Cahaya lampu di Semarang bawah terlihat eksotis.
Baris kedua ada ruang tamu, ruang supervisor, dan pantry. Ruang tamu ada di depan ruang admin. Ruang supervisor ada di antara ruang tamu dan pantry.
Rhe perlu ke ruang supervisor. Dengan anak kunci yang bergetar, karena tangannya sekarang gemetar, membuka pintu sepertinya lama sekali. Ayolah Rhe, kamu ini kenapa? desisnya geram. Terbuka. Rhe bergegas menuju brankas di dalam lemari di samping meja. Tugas rutinnya setiap hari ya begini. Menghitung penjualan sales di hari kemarin. Ada sepuluh kantong di sana, sejumlah sales. Rhe menaruhnya di meja. Menyatukannya dalam satu kantong plastik yang paling besar. Menutup kembali pintu brankas. Menutup pintu lemari. Menaruh kunci di mulut dan membopong plastik keluar ruangan. Pandangannya tidak fokus ke depan.
“Belum ada yang datang?”
“HUAAAA!!”
Anak kuncinya jatuh. Sementara dia kepayahan dengan plastik di pelukannya karena ada recehannya juga.
Aria sudah berdiri di depan ruangannya. Dengan sikap tegap tangan berada di samping tubuh, kaki berdiri tegak seperti mau upacara. Rhe tidak menyangka, inilah sosok yang tadi diam-diam diamatinya. Seperti tidak nyata. Dia pasti bermimpi.
Tubuh jangkung itu menjulang di hadapannya. Hanya berjarak tidak lebih dari dua meter. Rhe harus mendongak. Dan menemukan dia sedang ditatap dengan pandangan datar.
Rhe terpaku. Matanya tertanam di tatapan itu. Desiran menyergap kuat dadanya. Lutut melemas. Keseimbangannya hilang. Perasaan apa ini? Rhe limbung. Tapi dia tidak bisa bergerak. Tatapan mata itu mengunci gerak. Aliran darahnya seperti membeku.
Tidak ada pancaran keramahan sama sekali. Alis tebal yang bertengger di atasnya menambah kesan keangkeran. Sepasang bola mata Aria bahkan tidak berkedip. Rhe tersesat.
“Belum ada yang datang?” suara bariton yang tegas dan dingin.
Menyentakkan kesadaran Rhe. Dia berkedip-kedip sesaat. Seperti baru menjejakkan kaki di bumi setelah melambung ke alam antah berantah. Yang pertama dilakukan Rhe adalah menganggukkan kepalanya. Spontan. Tanda hormat, seperti setiap kali dia bertemu Pak Dandy.
“Belum, Pak,” jawab Rhe akhirnya. Dia yakin, suaranya bergetar.
“Ruang Supervisor?” kepala Aria menunjuk ruang yang barusan ditinggalkan Rhe. Rhe mengangguk. “Saya menunggu di sana saja.”
Rhe jongkok mengambil kunci yang jatuh. Tepat ketika Aria melintas melewatinya. Langkahnya tertata. Samar harum minyak wangi menyapa hidung Rhe. Rhe terpejam. Jantungnya berdebar. Perutnya bergolak. Tapi kesadaran bahwa dia sedang ditunggu membuatnya segera menyambar kunci yang tergeletak di lantai. Dia mengangsurkannya ke arah Aria, tanpa menatap wajah.
Rhe mengamati punggung Aria. Tegap. Baju itu masih terlihat rapi. Apakah dia menyetir sendiri dari Bandung? Kenapa tidak terlihat kelelahan di wajahnya? Apakah semalam dia sudah ada di sini sehingga dia bisa terlihat begitu segar? Pinggang itu menopang celana panjang kainnya dengan sangat pas. Rhe menahan napas.
Aria melangkah masuk. Menutup pintu tanpa menoleh ke arah Rhe. Rhe bergegas berbalik dan berjalan ke ruangannya sambil merutuki dirinya sendiri.
***
Setengah jam kemudian Pak Dandy muncul di depan pintu dengan senyum geli. Rhe membalasnya dengan pandangan ada_apa_ya.
“Sudah ketemu?” tanya Pak Dandy berbisik.
Rhe nyengir, mengerti yang sedang jadi bahan pembicaraan.
“Menurutmu?”
Rhe mengangkat bahunya.
“Ganteng, kan?”
Rhe mendelik. Pak Dandy tertawa lepas lalu berbalik badan.
Tidak lama terdengar suara ceria Pak Dandy.
“Waaah, pagi sekali. Nggak kerasan di hotel sendirian?”
Tawa renyah terdengar. “Bisa saja. Bisa dijelaskan ini pengeluaran apa, ya?”
Workaholic, gumam Rhe. Ah, kenapa mikirin dia.
Pandangannya kembali ke layar komputer dan faktur penjualan yang menjadi tugas pekerjaannya hari ini.
Tidak lama terdengar suara beberapa langkah kaki berbarengan menaiki tangga. Jihan disusul Dhika muncul di pintu. Dengan ekspresi sama dengan Pak Dandhy.
“Sepertinya hanya aku yang tidak tahu tentang kunjungan hari ini, ya?” bisik Rhe.
Jihan tertawa kecil. Menaruh tas dan langsung menyalakan komputernya.
“Kamu kemarin pulang duluan. Pak Dandy ngasih tahu, kok.”
“Kok nggak WA?”
“Nggak penting ini. Kan sudah tahu kalau hari ini ada stock opname,” Dhika yang menjawab.
“Tapi kan, aku bisa siap-siap,” suara Rhe memelan di kata terakhir.
“Memang mau siap-siap apa? Dandan? Eh, sudah ketemu, ya? Gimana? Ganteng?”
“Apaan, sih. Kan...”
“Selamat pagi, Pak Aria,” Jihan yang sadar duluan.
Dan yang sedang dibicarakan sudah ada di pintu.
“Pagi, Pak,” sapa Dhika sambil beranjak dari tempat duduknya. Mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Jihan mengikuti di belakangnya. Rhe melakukan hal yang sama. Oh ya, ritual salaman masih diperlukan, ya. Biasanya di kantor ini tidak ada salam-salaman di pagi hari. Paling banter hanya ucapan “Pagi”.
Tangan itu terasa hangat, dalam pengertian harfiah. Dan balasan uluran tangannya kukuh menggenggam telapak Rhe. Rhe tersentak. Membuatnya spontan menatap ke pemilik tangan kuku itu yang sedang menatapnya. Ada yang mencelos di dada Rhe. Serangan getaran itu datang lagi.
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...