Chapter 1
Apa yang lebih menyenangkan ketika berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya? Jalanan yang masih lengang. Udara yang masih bersih. Laju kendaraan yang bisa dipacu dengan jarum kilometer menyentuh angka enam puluh, tanpa interupsi.
Yap, itu yang sedang Rhe nikmati saat ini. Ketika dia bisa melaju di atas Honda Beat hitamnya, nyaris tanpa bergantian mengendurkan gas dan menarik tuas rem. Jalan arteri Soekarno Hatta pagi ini benar-benar menyenangkan perjalanannya. Rhe tersenyum di balik kaca helm. Tidak sia-sia berangkat dua jam lebih awal dari jam masuk kantor. Kelengangan jalanan ternyata bisa menjadi sebuah kemewahan baginya. Mengingatkan dirinya di awal-awal dia bekerja di kantor yang sekarang.
Maklum anak baru, dia harus meninggalkan kesan yang baik, bukan? Setelah satu tahun setengah, mengetahui ritme dan sedikit mempelajari karakter orang-orang di kantor, dia memutuskan bahwa berangkat dua jam sebelum masuk, satu setengah jam menunggu orang-orang berdatangan itu telah meninggalkan kesan mendalam pada orang-orang kantor. Bahwa mereka berbaik hati, Rhe memiliki panggilan kesayangan: Anak TK. Iya Anak TK.
Dan sejak Dhika memberitahukan hal itu, di sela tawa menggelegar dari seisi ruangan dengan sepuluh sales, seorang supervisor, dan Jihan, admin lainnya, di hari yang sudah menjelang jam krisis menuju jam pulang, Rhe memutuskan bahwa berangkat terlalu pagi bisa mengurangi kredibilitasnya sebagai seseorang bertitel Sarjana Ekonomi Akuntansi. Akhirnya dia memutuskan bermacet-macet di jalan, dan menekan finger print lima belas menit sebelum jam kantor dimulai. Dan dia merasa menjadi seorang Sarjana Ekonomi Akuntansi sejati.
Khusus hari ini, dia punya alasan khusus mengapa berangkat seperti “Anak TK” lagi. Semalam Dhika memberi kabar.
Bencana. Stock opname-nya sama Pak Aria. Bu Kinar lagi ke New York.
Sudah sejak awal bekerja di kantor ini, nama Pak Aria seperti sebuah momok baginya. Ini gara-gara teman-temannya yang pernah bertemu selalu menceritakan dengan bahasa yang absurd.
“Orang kejam,” kata Jihan. Dia sudah pernah ikut magang di kantor pusat di Bandung, sebelum akhirnya menjadi admin di kantor Semarang sini.
Sekejam apa? Jihan lebih banyak mengibaskan tangan. “Males ngomongin,” katanya.
Dhika yang lebih santai menanggapi. “Baik. Cumaaaan...”
“Cuman?” Rhe mengulang.
“Dia nggak suka orang salah. Hahaha...”
“Maksudnya?”
“Ntar kalau ketemu kamu tahu sendiri,” kata Dhika sok bermisteri.
Itu percakapan hampir setahun yang lalu. Ketika ada kabar Pak Aria yang akan melakukan stock opname. Tapi nyatanya yang datang Bu Kinar. Manajer Keuangan. Putri pemilik perusahaan. Tuan Putri, kata teman-teman kantor.
Gerbang kantor sudah terlihat. Pak Dimin membukakan gerbang dengan senyum cerahnya.
“Tumbeeeeen,” sapanya. Rhe tergelak sambil melambaikan tangan kirinya. Mengarahkan motor langsung ke area parkir di belakang.
Baru ada tiga motor di sama. Pak Dimin dan Adi, Office boy. Sementara motor Honda Astrea Prima yang teronggok di sudut itu inventaris kantor yang orang sudah malas memakainya, kecuali terpaksa.
Sambil bersenandung, Rhe berjalan menuju pintu masuk saat dia melihat mobil Pajero Sport hitam memasuki gerbang. Posisi menunduk Pak Dimin yang demikian takzim membuat Rhe spontan melihat plat nomornya. Bandung.
Busyet, Rhe terlonjak. Bergegas dia membuka pintu dan setengah berlari menuju ruangannya di lantai dua. Tangga ini sudah dua tahun dia lewati. Dia hafal berapa anak tangganya. Biasanya juga dia menaikinya dengan langsung dua anak tangga sekali lompatan sampai ke atas. Tapi kali ini, dia menaikinya dengan napas tersengal. Tangannya dingin. Berkeringat.
Gila, aku bahkan belum pernah melihatnya secara langsung, gerutu Rhe. Sampai di tangga paling atas, dia melesat ke ruangannya di sebelah kiri anak tangga. Membuka pintu. Meraup remote AC di meja. Melihat sekeliling ruangan. Masih rapi seperti kemarin. Ada tiga orang admin di ruangan ini. Dia, Jihan, dan Dhika. Dan Dhika punya kecenderungan pulang paling telat dengan menyisakan berupa bungkus makanan ringan, kulit kacang yang tersebar di meja juga lantai. Dhika tahu kapan Pak Aria akan datang, jadi dia membersihkan ruangan ini, putus Rhe dalam hati.
Rhe berjingkat menuju jendela. Kenapa dia harus berjingkat, nggak ada yang tahu. Rhe menepuk keningnya sendiri. Dibukanya tirai sedikit. Mengamati Pajero yang masih tertutup rapat itu.
Other Stories
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...